cover
Contact Name
Syamsul Arifin
Contact Email
mahadalyalfithrah99@gmail.com
Phone
+6285103006049
Journal Mail Official
mahadalyalfithrah99@gmail.com
Editorial Address
Jl Kedinding Lor 99 Surabaya 60129, Kel. Tanah Kali Kedinding Kec. Kenjeran Kot. Surabaya Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH
Published by Ma'had Aly Al Fithrah
ISSN : 25987607     EISSN : 2622223x     DOI : -
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Hikmah (PUTIH) Naskah merupakan tulisan konsepsional atau hasil penelitian kajian ke Islaman bernuansa Tasawuf dan Thoriqoh dengan pendekatan yang bervariatif dan belum pernah diterbitkan dalam media lain baik cetak maupun Online. Dan dipandang memberikan kontribusi bagi pengembangan studi dan pemikiran Tasawuf da Thoriqoh. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia baku, atau bahasa asing (Arab atau Inggris) spasi 1,5 cm, jenis front Times New Roman Arabic, ukuran front 12, dan ukuran Erta A4, serta dikirim email jurnal PUTIH, putih99@gmail.com, serta paling lambat dua bulan sebelum jurnal diterbitkan. Panjang tulisan adalah 20-25 halaman atau 7000-9000 kata. Nama penulis naskah (tanpa gelar, jabatan, atau kepangkatan) dicantumkan disertai dengan nama lembaga tempat bekerja, alamat lembaga tempat bekerja, alamat korespondensi, alamat e-mail, nomor telepon kantor, rumah, atau seluler.
Articles 41 Documents
TERAPI SPIRITUAL MELALUI TAZKIYAH AL-QALB PERSPEKTIF ULAMA SHUFIYYAH Fajriansyah, Moch. Anas
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 2 No 1 (2017): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1370.495 KB) | DOI: 10.51498/putih.v2i1.50

Abstract

Tasawuf adalah cara untuk membersihkan hati dariapa yang telah menggangu, memadamkan sifat-sifat kelemahan sebagai manusia biasa, menjauhi segala sesuatu yang berkaitan dengan hawa nafsu dan mendekatkan kepada sifat-sifat suci kerohanian.159 Al-Tazkiyah bermaksud pembersihan atau penyuburan, dalam konteks ahli tasawuf Tazkiyah merujuk kepada bersih daripada segala sifat keji dalam diri atau hati yang memerlukan usaha gigih dan bersungguh-sungguh bagi sesorang menyingkirkan sifat tercela. Ia juga boleh dikatakan sebagai suatu peralihan daripada jiwa yang tercemar dengan dosa kepada jiwa yang suci. Proses Tazkiyah al-qalb perlu melalui beberapa fasa secara konsisten dalam mencapai ma?rifatullah. Fasa-fasa tersebut adalah altakhalli, al-tahalli dan al-tajalli. Tulisan ini berusaha menelusuri tazkiya al-qalb menurut ulama sufiyyah dengan berfokus pada maknatazkiyah alqalb, urgensi tazkiyah al-qalb, metode tazkiyahal-qalb, sarana tazkiyah al-qalb, dan buah tazkiyah al-qalb.
RELEVANSI AJARAN BUDHA DAN TASAWUF Arista, Mohammad
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 2 No 1 (2017): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.232 KB) | DOI: 10.51498/putih.v2i1.49

Abstract

Tasawuf ibaratnya adalah ruh dari sebuah agama khusunya agama islam. Dengan tasawuf-lah seseorang dapat mengenali siapa dirinya dan dapat dijadikan sebagai refleksi degredasinya Akhlak seperti zaman sekarang. Tasawuf Dari segi linguistik (kebahasaan) dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak yang mulia. Tasawuf beresensi pada hidup dan berkembang mulai dari bentuk hidup zuhud (menjauhi kemewahan duniawi) sehingga pada hidup yang modern. Dalam rangka menyucikan jiwa demi tercapainya kesempurnaan dan kebahagiaan hidup tersebut, diperlukan suatu riyadhah (latihan) dari satu tahap ke tahap yang lain yang lebih tinggi. Jadi, kesempurnaan rohani tidaklah dapat dicapai secara spontan dan sekaligus. Semua sufi sependapat bahwa untuk mencapai tujuan dekat atau berada di hadirat Allah swt. Satu-satunya jalan hanyalah dengan kesucian jiwa. Untuk mencapai tingkat kesempurnaan dan kesucian jiwa diperlukan pendidilan dan latihan mental yang panjang dan bertingkat. Masyarakat modern sering digolongkan sebagai the post industrial society, suatu masyarakat yang telah mencapai tingkat kemakmuaran hidup material yang sedemikian rupa, dengan perangkat teknologi yang serba mekanik dan otomat, manusia modern bukannya semakin mendekati kebahagian hidup, melainkan sebaliknya seringkali dihinggapi rasa cemas, tidak percaya diri dan krisis moral akibat mewahnya gaya hidup marealistik yang didapat., maka pelarian dan pencarian kepada kehidupan lain sebagaimana yang terdapat dalam tasawuf atau mistik adalah hal yang mungkin saja terjadi. Karena di sini mereka akan dapat melepaskan kejenuhan atau mengisi kekosongan jiwa setelah dunia modern mereka gapai dengan terpenuhinya kebutuhan materi yang didapat dengan mudah tersebut. Dalam kehidupan modern, tasawuf menjadi obat yang mengatasi krisis kerohanian manusia modern yang telah lepas dari pusat dirinya, sehingga ia tidak mengenal lagi siapa dirinya, arti dan tujuan dari hidupnya. Ketidak jelasan atas makna dan tujuan hidup ini membuat penderitaan batin. Mereka lewat spritualitas islam lading kering jadi tersirami air sejuk dan memberikan penyegaran serta mengarahkan hidup lebih baik dan jelas arah tujuannya. Namun menurut sebuah ungkapan ulama mengatakan ilmu tasawuf juga harus beriring imbang dengan syariat begitu sebaliknya, tidak patut hanya bertasawuf tanpa bersyariat terlebih dahulu. Ukuran bersyariat ini. Menurut Syaikh Ahmad Asrori adalah jika kau sudah paha akan hukum yang saat ini dibutuhkan bukan kok harus hatam fathulk muin atau kitab-kitab fiqih yang besar-besar. Maka dari itu tolok ukur bertasawuf ialah jika kau sudah mampu memahami apa itu yang membatalkan wudhu. Inilah yang di sebut sudah bersyariat. Karena memandang tasawuf merupakan unsur inti dari agama islam serta memberikan dampak yang jelas akan kemajuan islam maka Belajar tasawuf yang sangat penting bagi umat Islam bukan pekerjaan yang mudah dilakukan. Dari segi asal-muasal kata saja, sering terjadi pro dan kontra. Belum lagi aplikasi praktisnya untuk menjalani kehidupan ala tasawuf itu sendiri. Ilmu tasawuf bukan hanya teori, melainkan juga praktik. Berbagai pendapat yang sering membingungkan adalah apakah tasawuf itu sesat (mistik dari luar Islam) atau sebuah jalan yang hak sebagai ajaran Islam. Tulisan ini mengajak pembaca untuk bersama-sama meyakinkan bahwa ajaran tasawuf itu murni dari ajaran Islam bukan pengaruh dari luar Islam. Pemikiran dan praktek tasawuf yang dihasilkan dari pemahaman terhadap al-Qur’an dan al-Hadits berbeda dengan pemikiran bebas yang tidak bersumber dari keduanya. Dari sinilah para orientalis mencoba menyusupi pemikiran para generasi muda bahwa ajaran tasawuf hanyalah adopsi dari ajaran Budha dan agama lain, dengan cara yang sangat rapi dan terkesan bahwa itu sungguhan mereka juga meneragkan berbagai dalil yang dibua-buat untuk mendukung rencana akbar ini.
RELASI ANTARA AKAL DENGAN HATI PERSPEKTIF KH. ACHMAD ASRORI AL-ISHAQY -, Irwanto
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 2 No 1 (2017): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1484.175 KB) | DOI: 10.51498/putih.v2i1.48

Abstract

Manusia merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dengan keadaan yang paling bagus dan sempurna, dibandingkan makhluk lainnya baik malaikat, jin, ataupun binatang. Manusia diberi keistimewaan berupa akal yang mampu menuntun setiap tingkah lakunya dalam mengerjakan sesuatu. Sehingga manusia mengerti dan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Dan dengan akal-lah yang mampu membedakan kedudukan apakah lebih tinggi dari malaikat, atau malah lebih rendah dari pada hewan. Manusia yang mampu mengalahkan syahwatnya dan meluruskan akal ke jalan yang benar, maka derajatnya lebih tinggi dari malaikat. Sebaliknya, manusia yang menuruti hawa nafsunya tanpa menggunakan akalnya dengan benar, maka derajatnya lebih rendah dari pada hewan. Selain akal, manusia juga dikarunia oleh Allah SWT berupa hati, dimana keadaan manusia mampu merasakan keagungan sang penciptanya. Dimana hati-lah yang mampu mengendalikan akal dengan jalan yang lurus. KH. Achmad Asrori menjelaskan dalam kitabnya bahwa ketika manusia dapat memusatkan pikirannya (akalnya) dan hatinya dalam menghamba kepada Allah SWT maka orang tersebut mampu bermakrifat kepada Allah SWT. Dalam artian seorang hamba mampu merasakan getaran-getaran sifat-sifat Allah SWT dalam dirinya. Bahkan sifat-sifat-Nya pun mampu merasuk ke dalam setiap prilakunya. Dalam hal ini Beliau lebih fanatik menukil dari Imam Ghozali selaku Imam Hujjatul Islam, dan juga para tokoh-tokoh tasawuf terkemuka.
HAKIKAT DOA Basofi, Muhammad Husein
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 2 No 1 (2017): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1241.508 KB) | DOI: 10.51498/putih.v2i1.45

Abstract

Doa atau berdoa menurut Imam al-Thibi adalah “memperlihatkan sikapberserah diri dan rasa butuh kepada Allah swt”, Tujuan dari penelitian ini ialah untuk memberikan gambaran lebih mendalam tentang doa dari sudut pandang ilmu Tasawuf yang menitik beratkan bagaimana sepantasnya kondisi hati ketika berdoa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitiaan kepustakaan (library research). Data yang diambil bersumber dari kitab-kitab klasik, buku-buku, dokumen hingga majalah-majalah terkait pembahasan yang ada. Hasil dari penelitian ini bahwasanya doa diartikan bukan hanya sebagai sebab demi tercapainya suatu hajat atau keinginan dari manusia, melainkan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seseorang dalam kondisi apapun yang menyandang kedudukan sebagai seorang hamba yang lemah dan butuh. Dalam pandangan ilmu Tasawuf, ada yang jauh lebih penting difahami selain dari ungkapan doa sendiri, melainkan adab hati ketika menghadap dalam berdoa kepada Allah swt.
MANAQIB SYEIKH ABDUL QADIR SEBAGAI MEDIA SULUK Hasanah, Durrotun
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 2 No 1 (2017): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1363.881 KB) | DOI: 10.51498/putih.v2i1.46

Abstract

Salah satu program religius untuk mencapai sebuah suluk yakni dengan adanya majelis manaqiban yang mana majelis tersebut salah satu aktivitas jama?ah Al-Khidmah. Dan dalam majeis manaqiban tersebut ada beberapa isinya seperti tawassul yang ditujukan kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, kemudian dilanjutkan dengan Istighosah bersama, dan dilanjutkan dengan pembacaan manaqib yang di lengkapi dengan nasyid-nasyid juga dilengkapi dengan bacaan Maulidur Rasul.Dan motivasi dari adanya majelis ini yakni untuk menyambung silaturruhiyah kepada Guru, dan untuk mendekatkan diri kepada Allah.dengan adanya majelis ini seseorang yang ingin mencapai sebuah suluk sangat tepat sekali untuk mengikutinya. Karena setelah mengikuti majelis tersebut jiwa ini akan merasakan ketenangan. adapun persoalan ini termasuk persoalan yang bersifat perilaku manusia, oleh karena itu, untuk mengungkap persolan tersebut secra menyeluruh dan mendalam, maka dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif. Kenapa penulis memilih metode yang kualitatif?, karena mnurut penulis metode ini lebih dapat beradaptasi dengan keadaan lingkungan.
QIRA’AH SHADHDHAH IBN MUHAISIN Bashori, Achmad Imam
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.034 KB) | DOI: 10.51498/putih.v4i1.44

Abstract

Pada masa sahabat sebelum terbentuknya rasm utmany banyak sekali muncul qira’ah mutawatirah dengan hitungan yang tak terbatas, karena pada saat itu al-qira’ah al-sahihah hanya disyaratkan memenuhi dua syarat; pertama, qiraat harus memenuhi salah satu diantara dialek bahasa Arab yang ada (wafqu ihda al-lahajat al-arabiyyah), kedua, banyaknya kelompok besar para sahabat yang mendapat qira’ah secara langsung dari nabi, atau pun dari sahabat kepada sahabat yang lain. Kemudian, pada saat munculnya rasm mushaf atau yang dikenal dengan nama mushaf uthmaniy, yang terjadi pada awal pemerintahan khalifah Uthman baru muncul syarat yang ketiga yaitu qira’ah harus sesuai atau mencocoki salah satu dari mushaf uthman, sehingga qiraat yang yang tidak sesuai dengan salah satu mushaf uthman dikenal dengan nama qira’ah syadhah. Seiring dengan perkembangan waktu, maka muncul penyempitan ketetapan bahwa qira’ah yang bersumber setelah hitungan sepuluh dari imam qurra’ yang masyhur (ma wara-a al-qira-at al-‘ashr) termasuk bagian dari qira’ah syadhah, yang tidak diperkenankan dibaca ketika salat atau di luar salat, walapupun masih terdapat perselisihan pendapat di antara para ulama dalam ketetapannya. Qira’ah shadhdhah adalah salah satu bagian yang menarik untuk dikaji dalam kajian ilmu qira’ah. Diantara qira’ah shadhdhah yang cukup terkenal adalah qira’ah yang dibawakan oleh Ibn Muhaisin. Jurnal ini akan membahas tentang qira’ah Ibn Muhaisin, diawali dengan membahas seputar pengertian, hukum qira’ah shadhdhah dan dilanjutkan dengan membahas qira’ahnya Ibn Muhaisin serta beberapa contoh sebagai bahan pertimbangan kajian.
SINERGI SHARI‘AH, TARIQAH DAN HAQIQAH Musyafa’, Muhammad
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.764 KB) | DOI: 10.51498/putih.v4i1.42

Abstract

Shari’ah is knowledge, thariqah is applying the knowledge and haqiqah is the result of knowledge application that is reaching the mercies of Allah. Haqiqah is devided into three part. First, easy to do good action (Amal Shalih).Second, al-takhalli ‘an radzail wa al-tahalli bil mahamid. Third, disclosure of someone self separation with everything he believe in, as if he sees and witnesses directly. Shariah is like a ship it has function as transpotation medium to reach the destination, while thariqah is like the ocean, it is the place to reach the destination, and haqiqah is like the prisious gemstone. Every application of shari’ah without implementing Tasawuf, thariqah will lead to be fasik and will be empty from the heart beahviour as like sincerity. Every tariqah gainst the shariah will lead to be kufur. Every haqiqah which unable to be corrected by quran and sunnah will lead to deviation, liberalis and zanaqiah. Takamul al-shari‘ah wa al-tariqah wa al-haqiqah build a perfect soul and personality.
RISALAH TASAWUF: KAJIAN TENTANG PERJALANAN TASAWUF Syatori, Ahmad
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.503 KB) | DOI: 10.51498/putih.v4i1.43

Abstract

Kajian ilmiah ini di dalamnya memuat berbagai ulasan tentang penjelasan seputar ruang lingkup tasawuf. Dalam uraian pembahasannya tidak hanya membahas tentang satu sisi atau satu hal saja, akan tetapi mencakup berbagai sisi dan hal yang ada dalam ruang dimensi tasawuf. Paradigma tasawuf dalam kajiannya juga tidak bisa terlepas dari sudut pandang yang ada dalam kajian keislaman. Adapun sudut pandang tasawuf orientasinya lebih menitik beratkan pada nilai-nilai ajaran Islam secara substantif dan esensial, sedangkan sudut pandang keislaman secara umum lebih menitik beratkan pada bentuk sisi secara lahir. Namun demikian, secara prinsip antara sisi dan sudut pandang yang berbeda tersebut tetap memiliki hubungan kedekatan dan keterkaiatan yang saling mengikat diantara semuanya.
AIR MANAQIB Nashiruddin, Nashiruddin
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.171 KB) | DOI: 10.51498/putih.v4i1.38

Abstract

<p><Font face="Times New Arabic" size="2"><div style=text-align:justify;> One of the religious programs aimed to improve Santri Al Fithrah 's spiritual potential in particular, and Jama'ah or followers of Shaykh Achmad Asrori Al-Ishaqy by General, is the Manaqiban Council, that is a religious ritual containing the recitation of pray together, Istighatsah, reading Yasin letter, Reading manaqib (Biography) of Shaykh Abdul Qodir al-jilany, then completed by the reading of the Prophet's maulid. The purpose of this event is doing tawassul with teachers in trying to get closer to Allah SWT. So kind of the activities is also called Shilaturruhiyyah. There is something interesting in the event, that is every activity of the Council Manaqiban can be ascertained that Jama'ah who follow The event surely will bring or put mineral water on surrounding with the bottle cap opened condition. Apparently, the water has own special value for them, it was proved that the water then called "Air Manaqib." This issue includes to the Humanities issue (the matter of human behavior), therefore, to reveal the matter deeply and thoroughly, then the study used qualitative method. Because Qualitative methods are more adaptable to the Environment condition.</br>From the research findings it was found that Santri or Jama'ah of the Manaqib event assumed that the water of manaqib can be used as: (1) Media of various medications of physical diseases, (2) Facilitate labor process, (3) Supernatural protect from bad influence and as a trading master.</br>Otherwise, the way of usage according to them is no standard method or rule, but the method frequently tobe used is by drinking.</br>After the research was done more deeply, it was found that such behavior, the treatment uses Water media has also been carried out by some Salaf scholars even though it is not called water of manaqib, but it has same substance, namely tabarrukan Judging from the view of science (scientific), with reference to the discovery of Masaru Emoto, that the nature of water can respondan information, instruction or prayer, and water that has been received message or prayer, the quality is getting higher, it means the quality of the Manaqib water is also higher. Thus, the utilization of Manaqib water is good judged from religious or science point of view can be accounted for the truth.</br> .</font></div>
KONTAMINASI AL QUR’AN DENGAN BAHASA-BAHASA KABILAH ARAB DAN NON ARAB (‘AJAM) MENJADI METODE PEREKAT UMAT Mustofa, Ahmad
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.792 KB) | DOI: 10.51498/putih.v4i1.39

Abstract

Before Islam came the Arab nation was a nation branch out that has a diversity of languages, civilization and culture. In the time of their glory they were known with their hard, fanatical character and pleasure in poems (Poetry) that have literary values High language. The poems are made as their expertise and honor in pride proud of his own tribe by holding it the beauty poetry contest on the market known as Suqu ‘Ukaz where each of the most beautiful poems will be posted on the wall ka'bah besides that the world criticizes each other Language is not a thing the taboo at that time but is a necessity that has been entrenched. Language and literary criticsvery fond of criticizing every occurrence of language and poetry just as An Nabighah Al Dzibani got it the nickname of Hamra 'Qubbah (Red Dome) in judgment a literary work1. The world criticizes it as it continues continued until Al Quran was revealed to the prophet Muhammad SAW so it cannot be denied if the Qur'an also received scathing criticism from infidels Makkah. With so many tribes there is dialegpun diverse where each tribe has a language difference and dialeg, this diversity of languages ??continues to stick from time to time the time until Islam came. Some of the prophet's friends read Al The Quran with the dialeg of their own tribe is this is the reason for the emergence of differences in reading in Al The Quran but despite this every narrated passage from friends is true the law is due to them reciting the reading before the prophet directly. Indications that say that the Qur'an is contaminated with the languages ??of the Arabic (local) tribe and the Non Arabic Language (‘Ajam) is a prophetic hadith which reads" Sab'atu Ahruf ". many interpretations are appreciated by the figures and Islamic scholars regarding the words of the prophet however diatntara the most opinion is that opinion said that what was meant by "Sab'atu Ahruf" are some of the most eloquent Arabic languages while the number seven in the editor of the hadith is only as a sign of the number of languages ??loaded. .