cover
Contact Name
Syamsul Arifin
Contact Email
mahadalyalfithrah99@gmail.com
Phone
+6285103006049
Journal Mail Official
mahadalyalfithrah99@gmail.com
Editorial Address
Jl Kedinding Lor 99 Surabaya 60129, Kel. Tanah Kali Kedinding Kec. Kenjeran Kot. Surabaya Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH
Published by Ma'had Aly Al Fithrah
ISSN : 25987607     EISSN : 2622223x     DOI : -
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Hikmah (PUTIH) Naskah merupakan tulisan konsepsional atau hasil penelitian kajian ke Islaman bernuansa Tasawuf dan Thoriqoh dengan pendekatan yang bervariatif dan belum pernah diterbitkan dalam media lain baik cetak maupun Online. Dan dipandang memberikan kontribusi bagi pengembangan studi dan pemikiran Tasawuf da Thoriqoh. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia baku, atau bahasa asing (Arab atau Inggris) spasi 1,5 cm, jenis front Times New Roman Arabic, ukuran front 12, dan ukuran Erta A4, serta dikirim email jurnal PUTIH, putih99@gmail.com, serta paling lambat dua bulan sebelum jurnal diterbitkan. Panjang tulisan adalah 20-25 halaman atau 7000-9000 kata. Nama penulis naskah (tanpa gelar, jabatan, atau kepangkatan) dicantumkan disertai dengan nama lembaga tempat bekerja, alamat lembaga tempat bekerja, alamat korespondensi, alamat e-mail, nomor telepon kantor, rumah, atau seluler.
Articles 29 Documents
TERAPI SPIRITUAL MELALUI TAZKIYAH AL-QALB PERSPEKTIF ULAMA SHUFIYYAH Fajriansyah, Moch. Anas
PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH Vol 2 No 1 (2017): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Ma'had Aly Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1370.495 KB)

Abstract

Tasawuf adalah cara untuk membersihkan hati dariapa yang telah menggangu, memadamkan sifat-sifat kelemahan sebagai manusia biasa, menjauhi segala sesuatu yang berkaitan dengan hawa nafsu dan mendekatkan kepada sifat-sifat suci kerohanian.159 Al-Tazkiyah bermaksud pembersihan atau penyuburan, dalam konteks ahli tasawuf Tazkiyah merujuk kepada bersih daripada segala sifat keji dalam diri atau hati yang memerlukan usaha gigih dan bersungguh-sungguh bagi sesorang menyingkirkan sifat tercela. Ia juga boleh dikatakan sebagai suatu peralihan daripada jiwa yang tercemar dengan dosa kepada jiwa yang suci. Proses Tazkiyah al-qalb perlu melalui beberapa fasa secara konsisten dalam mencapai ma?rifatullah. Fasa-fasa tersebut adalah altakhalli, al-tahalli dan al-tajalli. Tulisan ini berusaha menelusuri tazkiya al-qalb menurut ulama sufiyyah dengan berfokus pada maknatazkiyah alqalb, urgensi tazkiyah al-qalb, metode tazkiyahal-qalb, sarana tazkiyah al-qalb, dan buah tazkiyah al-qalb.
RELEVANSI AJARAN BUDHA DAN TASAWUF Arista, Mohammad
PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH Vol 2 No 1 (2017): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Ma'had Aly Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.232 KB)

Abstract

Tasawuf ibaratnya adalah ruh dari sebuah agama khusunya agama islam. Dengan tasawuf-lah seseorang dapat mengenali siapa dirinya dan dapat dijadikan sebagai refleksi degredasinya Akhlak seperti zaman sekarang. Tasawuf Dari segi linguistik (kebahasaan) dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak yang mulia. Tasawuf beresensi pada hidup dan berkembang mulai dari bentuk hidup zuhud (menjauhi kemewahan duniawi) sehingga pada hidup yang modern. Dalam rangka menyucikan jiwa demi tercapainya kesempurnaan dan kebahagiaan hidup tersebut, diperlukan suatu riyadhah (latihan) dari satu tahap ke tahap yang lain yang lebih tinggi. Jadi, kesempurnaan rohani tidaklah dapat dicapai secara spontan dan sekaligus. Semua sufi sependapat bahwa untuk mencapai tujuan dekat atau berada di hadirat Allah swt. Satu-satunya jalan hanyalah dengan kesucian jiwa. Untuk mencapai tingkat kesempurnaan dan kesucian jiwa diperlukan pendidilan dan latihan mental yang panjang dan bertingkat. Masyarakat modern sering digolongkan sebagai the post industrial society, suatu masyarakat yang telah mencapai tingkat kemakmuaran hidup material yang sedemikian rupa, dengan perangkat teknologi yang serba mekanik dan otomat, manusia modern bukannya semakin mendekati kebahagian hidup, melainkan sebaliknya seringkali dihinggapi rasa cemas, tidak percaya diri dan krisis moral akibat mewahnya gaya hidup marealistik yang didapat., maka pelarian dan pencarian kepada kehidupan lain sebagaimana yang terdapat dalam tasawuf atau mistik adalah hal yang mungkin saja terjadi. Karena di sini mereka akan dapat melepaskan kejenuhan atau mengisi kekosongan jiwa setelah dunia modern mereka gapai dengan terpenuhinya kebutuhan materi yang didapat dengan mudah tersebut. Dalam kehidupan modern, tasawuf menjadi obat yang mengatasi krisis kerohanian manusia modern yang telah lepas dari pusat dirinya, sehingga ia tidak mengenal lagi siapa dirinya, arti dan tujuan dari hidupnya. Ketidak jelasan atas makna dan tujuan hidup ini membuat penderitaan batin. Mereka lewat spritualitas islam lading kering jadi tersirami air sejuk dan memberikan penyegaran serta mengarahkan hidup lebih baik dan jelas arah tujuannya. Namun menurut sebuah ungkapan ulama mengatakan ilmu tasawuf juga harus beriring imbang dengan syariat begitu sebaliknya, tidak patut hanya bertasawuf tanpa bersyariat terlebih dahulu. Ukuran bersyariat ini. Menurut Syaikh Ahmad Asrori adalah jika kau sudah paha akan hukum yang saat ini dibutuhkan bukan kok harus hatam fathulk muin atau kitab-kitab fiqih yang besar-besar. Maka dari itu tolok ukur bertasawuf ialah jika kau sudah mampu memahami apa itu yang membatalkan wudhu. Inilah yang di sebut sudah bersyariat. Karena memandang tasawuf merupakan unsur inti dari agama islam serta memberikan dampak yang jelas akan kemajuan islam maka Belajar tasawuf yang sangat penting bagi umat Islam bukan pekerjaan yang mudah dilakukan. Dari segi asal-muasal kata saja, sering terjadi pro dan kontra. Belum lagi aplikasi praktisnya untuk menjalani kehidupan ala tasawuf itu sendiri. Ilmu tasawuf bukan hanya teori, melainkan juga praktik. Berbagai pendapat yang sering membingungkan adalah apakah tasawuf itu sesat (mistik dari luar Islam) atau sebuah jalan yang hak sebagai ajaran Islam. Tulisan ini mengajak pembaca untuk bersama-sama meyakinkan bahwa ajaran tasawuf itu murni dari ajaran Islam bukan pengaruh dari luar Islam. Pemikiran dan praktek tasawuf yang dihasilkan dari pemahaman terhadap al-Qur?an dan al-Hadits berbeda dengan pemikiran bebas yang tidak bersumber dari keduanya. Dari sinilah para orientalis mencoba menyusupi pemikiran para generasi muda bahwa ajaran tasawuf hanyalah adopsi dari ajaran Budha dan agama lain, dengan cara yang sangat rapi dan terkesan bahwa itu sungguhan mereka juga meneragkan berbagai dalil yang dibua-buat untuk mendukung rencana akbar ini.
RELASI ANTARA AKAL DENGAN HATI PERSPEKTIF KH. ACHMAD ASRORI AL-ISHAQY -, Irwanto
PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH Vol 2 No 1 (2017): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Ma'had Aly Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1484.175 KB)

Abstract

Manusia merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dengan keadaan yang paling bagus dan sempurna, dibandingkan makhluk lainnya baik malaikat, jin, ataupun binatang. Manusia diberi keistimewaan berupa akal yang mampu menuntun setiap tingkah lakunya dalam mengerjakan sesuatu. Sehingga manusia mengerti dan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Dan dengan akal-lah yang mampu membedakan kedudukan apakah lebih tinggi dari malaikat, atau malah lebih rendah dari pada hewan. Manusia yang mampu mengalahkan syahwatnya dan meluruskan akal ke jalan yang benar, maka derajatnya lebih tinggi dari malaikat. Sebaliknya, manusia yang menuruti hawa nafsunya tanpa menggunakan akalnya dengan benar, maka derajatnya lebih rendah dari pada hewan. Selain akal, manusia juga dikarunia oleh Allah SWT berupa hati, dimana keadaan manusia mampu merasakan keagungan sang penciptanya. Dimana hati-lah yang mampu mengendalikan akal dengan jalan yang lurus. KH. Achmad Asrori menjelaskan dalam kitabnya bahwa ketika manusia dapat memusatkan pikirannya (akalnya) dan hatinya dalam menghamba kepada Allah SWT maka orang tersebut mampu bermakrifat kepada Allah SWT. Dalam artian seorang hamba mampu merasakan getaran-getaran sifat-sifat Allah SWT dalam dirinya. Bahkan sifat-sifat-Nya pun mampu merasuk ke dalam setiap prilakunya. Dalam hal ini Beliau lebih fanatik menukil dari Imam Ghozali selaku Imam Hujjatul Islam, dan juga para tokoh-tokoh tasawuf terkemuka.
HAKIKAT DOA Basofi, Muhammad Husein
PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH Vol 2 No 1 (2017): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Ma'had Aly Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1241.508 KB)

Abstract

Doa atau berdoa menurut Imam al-Thibi adalah ?memperlihatkan sikapberserah diri dan rasa butuh kepada Allah swt?, Tujuan dari penelitian ini ialah untuk memberikan gambaran lebih mendalam tentang doa dari sudut pandang ilmu Tasawuf yang menitik beratkan bagaimana sepantasnya kondisi hati ketika berdoa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitiaan kepustakaan (library research). Data yang diambil bersumber dari kitab-kitab klasik, buku-buku, dokumen hingga majalah-majalah terkait pembahasan yang ada. Hasil dari penelitian ini bahwasanya doa diartikan bukan hanya sebagai sebab demi tercapainya suatu hajat atau keinginan dari manusia, melainkan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seseorang dalam kondisi apapun yang menyandang kedudukan sebagai seorang hamba yang lemah dan butuh. Dalam pandangan ilmu Tasawuf, ada yang jauh lebih penting difahami selain dari ungkapan doa sendiri, melainkan adab hati ketika menghadap dalam berdoa kepada Allah swt.
MANAQIB SYEIKH ABDUL QADIR SEBAGAI MEDIA SULUK Hasanah, Durrotun
PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH Vol 2 No 1 (2017): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Ma'had Aly Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1363.881 KB)

Abstract

Salah satu program religius untuk mencapai sebuah suluk yakni dengan adanya majelis manaqiban yang mana majelis tersebut salah satu aktivitas jama?ah Al-Khidmah. Dan dalam majeis manaqiban tersebut ada beberapa isinya seperti tawassul yang ditujukan kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, kemudian dilanjutkan dengan Istighosah bersama, dan dilanjutkan dengan pembacaan manaqib yang di lengkapi dengan nasyid-nasyid juga dilengkapi dengan bacaan Maulidur Rasul.Dan motivasi dari adanya majelis ini yakni untuk menyambung silaturruhiyah kepada Guru, dan untuk mendekatkan diri kepada Allah.dengan adanya majelis ini seseorang yang ingin mencapai sebuah suluk sangat tepat sekali untuk mengikutinya. Karena setelah mengikuti majelis tersebut jiwa ini akan merasakan ketenangan. adapun persoalan ini termasuk persoalan yang bersifat perilaku manusia, oleh karena itu, untuk mengungkap persolan tersebut secra menyeluruh dan mendalam, maka dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif. Kenapa penulis memilih metode yang kualitatif?, karena mnurut penulis metode ini lebih dapat beradaptasi dengan keadaan lingkungan.
QIRA’AH SHADHDHAH IBN MUHAISIN Bashori, Achmad Imam
PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Ma'had Aly Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.034 KB)

Abstract

Pada masa sahabat sebelum terbentuknya rasm utmany banyak sekali muncul qira?ah mutawatirah dengan hitungan yang tak terbatas, karena pada saat itu al-qira?ah al-sahihah hanya disyaratkan memenuhi dua syarat; pertama, qiraat harus memenuhi salah satu diantara dialek bahasa Arab yang ada (wafqu ihda al-lahajat al-arabiyyah), kedua, banyaknya kelompok besar para sahabat yang mendapat qira?ah secara langsung dari nabi, atau pun dari sahabat kepada sahabat yang lain. Kemudian, pada saat munculnya rasm mushaf atau yang dikenal dengan nama mushaf uthmaniy, yang terjadi pada awal pemerintahan khalifah Uthman baru muncul syarat yang ketiga yaitu qira?ah harus sesuai atau mencocoki salah satu dari mushaf uthman, sehingga qiraat yang yang tidak sesuai dengan salah satu mushaf uthman dikenal dengan nama qira?ah syadhah. Seiring dengan perkembangan waktu, maka muncul penyempitan ketetapan bahwa qira?ah yang bersumber setelah hitungan sepuluh dari imam qurra? yang masyhur (ma wara-a al-qira-at al-?ashr) termasuk bagian dari qira?ah syadhah, yang tidak diperkenankan dibaca ketika salat atau di luar salat, walapupun masih terdapat perselisihan pendapat di antara para ulama dalam ketetapannya. Qira?ah shadhdhah adalah salah satu bagian yang menarik untuk dikaji dalam kajian ilmu qira?ah. Diantara qira?ah shadhdhah yang cukup terkenal adalah qira?ah yang dibawakan oleh Ibn Muhaisin. Jurnal ini akan membahas tentang qira?ah Ibn Muhaisin, diawali dengan membahas seputar pengertian, hukum qira?ah shadhdhah dan dilanjutkan dengan membahas qira?ahnya Ibn Muhaisin serta beberapa contoh sebagai bahan pertimbangan kajian.
SINERGI SHARI‘AH, TARIQAH DAN HAQIQAH Musyafa?, Muhammad
PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Ma'had Aly Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.764 KB)

Abstract

Shari?ah adalah ilmu, tariqah adalah mengamalkan ilmu dan haqiqah adalah buah mengamalkan ilmu, yaitu sampai di hadirat Allah dengan rahmat Allah. Haqiqah terbagi menjadi tiga. Pertama, dimudahkan dalam amal salih. Kedua, al-takhalli ?an radzail wa al-tahalli bil mahamid. Ketiga, tersingkapnya hijab batin seseorang dengan segala yang diimani dan diyakini, seakan-akan ia melihat dan menyaksikan secara langsung. Shari?ah laksana kapal berfungsi sebagai sarana transportasi menuju pada tujuan, sedangkan tariqah laksana lautan sebagai tempat menuju tujuan, dan haqiqah laksana mutiara berharga. Setiap ber-shari?ah tanpa ber-tasawwuf - tariqah berpotensi fasik dan dikosongkan dari perilaku batin seperti ikhlas. Setiap tariqah yang berlawanan dengan shari?ah berpotensi kufur. Setiap haqiqah yang tidak dapat dibenarkan oleh al-Qur?an dan sunnah berpotensi penyimpangan, liberal dan zanadiqah. Takamul al-shari?ah wa al-tariqah wa al-haqiqah membentuk jiwa dan kepribadian yang sempurna.
RISALAH TASAWUF Syatori, Ahmad
PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Ma'had Aly Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.503 KB)

Abstract

Kajian ilmiah ini di dalamnya memuat berbagai ulasan tentang penjelasan seputar ruang lingkup tasawuf. Dalam uraian pembahasannya tidak hanya membahas tentang satu sisi atau satu hal saja, akan tetapi mencakup berbagai sisi dan hal yang ada dalam ruang dimensi tasawuf. Paradigma tasawuf dalam kajiannya juga tidak bisa terlepas dari sudut pandang yang ada dalam kajian keislaman. Adapun sudut pandang tasawuf orientasinya lebih menitik beratkan pada nilai-nilai ajaran Islam secara substantif dan esensial, sedangkan sudut pandang keislaman secara umum lebih menitik beratkan pada bentuk sisi secara lahir. Namun demikian, secara prinsip antara sisi dan sudut pandang yang berbeda tersebut tetap memiliki hubungan kedekatan dan keterkaiatan yang saling mengikat diantara semuanya.
AIR MANAQIB Nashiruddin, Nashiruddin
PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Ma'had Aly Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.171 KB)

Abstract

Salah satu program religius yang bertujuan untuk meningkatkan potensi speritualitas Santri Al Fithrah secara khusus, dan Jama?ah atau pengikut Syaikh Achmad Asrori Al-Ishaqy secara umum, adalah Majlis Manaqiban, yaitu ritual agama yang berisikan Do?a Bersama, Istighatsah, membaca surat Yasin, Membaca manaqib (Biografi) Syaikh Abdul Qodir al-jilany, kemudian disempurnakan dengan pembacaan maulid Nabi. Motivasi majlis ini adalah tawassul dengan para guru dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sehingga kegiatan semacam ini juga disebut Shilaturruhiyyah. Ada hal yang menarik dalam kegiatan tersebut, yaitu setiap kegiatan Majlis Manaqiban dapat dipastikan bahwa Jama?ah yang mengikuti mejlis tersebut mayoritas membawa atau menaruh air mineral di sekitarnya dengan kondisi tutup botol terbuka. Tampaknya, air tersebut ada nilai istimewa tersendiri baginya, terbukti air. tersebut kemudian disebut dengan sebutan ?Air Manaqib.? Persoalan ini termasuk persoalan Humaniora (persoalan yang bersifat prilaku manusia), oleh karena itu, untuk mengungkap persoalan tersebut secara menyeluruh dan mendalam, maka dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif. Karena metode kualitatif lebih dapat beradaptasi dengan keadangan lingkungan. Dari hasil penelitian yang ditemukan, Santri atau Jama?ah majlis manaqiban tersebut berasumsi bahwa air manaqib dapat digunakan sebagai: (1) Media pengobatan berbagai macam penyakit lahir, (2) Mempermudah proses persalinan, (3) Pagar gaib dari pengaruh buruk dan sebagai penglaris dagangan. Sedangkan cara penggunaannya menurut mereka tidak ada cara atau aturan yang baku, tetapi cara yang sering dipakai adalah dengan cara diminum. Setelah penelitian dilakukan lebih mendalam, maka ditemukan bahwa prilaku seperti itu, yaitu pengobatan menggunakan media air juga pernah dilakukan sebagian ulama salaf walaupun tidak disebut air manaqib, akan tetapi subtansinya sama, yaitu tabarrukan Ditinjau dari pandangan sains (ilmiah), dengan mengacu pada penemuan Masaru Emoto, bahwa sifat air itu dapat merespon sebuah informasi, instruksi atau doa, dan air yang telah menerima pesan atau doa tadi, kualitasnya semakin tinggi, berarti kualitas air manaqib juga semakin tinggi. Dengan demikian, pemanfaatan air manaqib, baik ditinjau dari pandangan agama atau sanis dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya..
KONTAMINASI AL QUR’AN DENGAN BAHASA-BAHASA KABILAH ARAB DAN NON ARAB (‘AJAM) MENJADI METODE PEREKAT UMAT Mustofa, Ahmad
PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Ma'had Aly Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.792 KB)

Abstract

Sebelum islam datang bangsa arab adalah bangsa yang berkabilah-kabilah yang memiliki keberagaman bahasa, peradaban dan budaya. Pada masa jahilyah mereka dikenal dengan wataknya yang keras, fanatik dan kesenangan mereka pada syair?syair (Puisi) yang memiliki nilai?nilai kesastraan Bahasa yang tinggi . Syair-syair tersebut dijadikan sebagai identitas keahlian dan kehormatan mereka dalam berbanggabangga dengan kabilahnya sendiri hal itu dengan diadakannya kontes keindahan syair dipasar yang dikenal Su>qu ?Uka>z| dimana setiap syair yang terindah akan ditempelkan di dinding ka?bah selain itu dunia saling mengkritisi Bahasa bukanlah hal yang tabu pada waktu itu melainkan adalah sebuah keharusan yang sudah membudaya. Para kritikus Bahasa dan sastra sangat gemar mengkritik setiap kemunculan Bahasa dan syair baru seperti An Nabighah Al Dzibani yang mendapatkan julukan Qubbah H}amra?(Kubah Merah) dalam menghakimi sebuah karya sastra1. Dunia mengkritisi seperti itu terus menerus berlalu sampai Al Quran diturunkan kepada nabi Muhammad SAW sehingga tidak bisa diingkari jika Al Quran juga mendapatkan kritikan pedas dari orang-orang kafir Makkah. Dengan banyaknya kabilah yang ada maka dialegpun beragam diamana setiap kabilah memiliki perbedaan Bahasa dan dialeg, keberagaman Bahasa ini terus melekat dari masa ke masa sampai islam datang. Beberapa sahabat nabi membaca Al Quran dengan dialeg kabilah mereka sendiri yang mana hal ini menjadi sebab musabab munculnya perbedaan bacaan dalam Al Quran namun kendati demikian setiap bacaan yang diriwayatkan dari sahabat adalah benar hukumnya dikarenakan mereka mentalaqqikan bacaan itu dihadapan nabi secara langsung. Indikasi yang menuturkan bahwa Al Quran terkontaminasi dengan Bahasa-Bahasa kabilah arab (lokal) dan Bahasa Non Arab (?Ajam) adalah hadits nabi yang berbunyi ? Sab?atu Ahruf ?. banyak interpretasi yang di apresiasikan oleh para tokoh dan cendekiawan islam mengenai sabda nabi tersebut namun diatntara pendapat yang paling banyak adalah pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ? Sab?atu Ahruf? adalah beberapa Bahasa kabilah arab yang terbilang paling fasih sedang angka tujuh dalam redaksi hadits itu hanya sebagai isyarat dari banyaknya jumlah Bahasa yang dimuat.

Page 1 of 3 | Total Record : 29