cover
Contact Name
Komang Ayu Sari Galih
Contact Email
komanggalih@unhi.ac.id
Phone
+6282236166369
Journal Mail Official
space@unhi.ac.id
Editorial Address
Jln Sangalangit, Tembau, Penatih, Denpasar - Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Sustainable, Planning and Culture (Space) : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
ISSN : 24610941     EISSN : 26567415     DOI : -
Core Subject : Engineering,
SPACE merupakan singkatan dari Sustainable, Planning and Culture. Menjadi nama Jurnal dari Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Hindu Indonesia. Keberadaan Jurnal Space bertujuan sebagai media komunikasi ilmiah dalam ranah keilmuan, khususnya bidang perencanaan wilayah dan kota. Jurnal ini diharapkan menjadi wadah dialog untuk membangun konsep keberlanjutan dalam konsep perencanaan dan kebudayaan sehingga menjadi katalisator bagi munculnya pemikiran secara terpadu dan komprehensif dalam menyelesaikan masalah dan konflik berkaitan dengan penataan ruang yang ada. Jurnal SPACE terbit 2 kali dalam setahun, pada awal dan pertengahan tahun.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 1 (2019): Transformasi Ruang Budaya" : 6 Documents clear
PROBABILITAS PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN BERDASARKAN KEBERADAAN LOKASI WISATA DI WILAYAH PESISIR SARBAGITA Kurniawan, Wayan Damar Windu
Sustainable, Planning and Culture (SPACE) : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 1 No 1 (2019): Transformasi Ruang Budaya
Publisher : UNHI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/space.v1i1.262

Abstract

he availability of land for fulfillment of space in the Sarbagita coastal area is increasingly limited. This iscaused by the rapid development of tourism in the Sarbagita coastal region, which can eliminate a large portion ofproductive agricultural land. This study specifically examines the probability value of land cover change, especially fromnon-built up area to built up area, in the Sarbagita coastal area until 2030. Calculation of the probability of land coverchange is done through fuzzy set logic which is assessed based on 1 main parameter, namely tourist location and 2supporting parameters, namely accessibility and service facilities, and also limiting factors. The value of the fuzzymembership is taken from Landsat images from 1995 to 2015. The results show the probability of changes in land coverhas values from 0 (very low) to 0.97 (very high). This means that there is no one land that must change (value 1) fromnon-built land to being built. The probability of a high land cover change tends to follow the road network pattern.
PERUBAHAN POLA RUANG DESA BALI AGA BELANDINGAN KINTAMANI, BALI Kardinal, Ni G.A Diah Ambarwati; Santhyasa, I Komang Gede
Sustainable, Planning and Culture (SPACE) : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 1 No 1 (2019): Transformasi Ruang Budaya
Publisher : UNHI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/space.v1i1.263

Abstract

i Aga Villages are also known to have unique settlement patterns in Bali. Each village has its own characteristics.Like those found in Bali Aga Belandingan Village, located in the Kintamani Mountains, Bangli. Its location in themountains with steep topography influences its village settlement pattern so that the settlement pattern is different fromother Balinese aga mountain villages both in the Kintamani region itself and when compared to the Balinese agamountain villages in other districts such as Tigawasa or Sembiran. At present there is very little information aboutBelandingan village. Its status as 15 villages supporting the Geopark makes the community want to make BelandinganVillage a Tourism Village. Without documentation accompanied by feares that planning will eliminate the uniqueness ofBelandingan village as Bali Aga Village. Changes in the pattern of village space have occurred. Important searches arecarried out to understand the current context of spatial patterns for future planning. The method used in finding changesin spatial patterns is by tracing the history of the village which is then evaluated for changes that occur so that it can beseen whether these changes have damaged the traditional village structure of Bali Aga or have no effect on the patternof village space. From this evaluation, it can also be seen how the village community views the changes that occur.
PEMANFAATAN BALE BANJAR SEBAGAI RUANG KREATIVITAS ANAK MUDA DI KOTA DENPASAR Sanjaya, Anak Agung Ngurah Anom; Juliarthana, I Nyoman Harry
Sustainable, Planning and Culture (SPACE) : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 1 No 1 (2019): Transformasi Ruang Budaya
Publisher : UNHI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/space.v1i1.261

Abstract

Ruang publik merupakan salah satu ruang yang bisa dimanfaatkan sebagai wadah aktivitas kreatif warga kota.Landry, (1995) berpendapat bahwa ruang publik dapat menjadi salah satu tempat mengakomodasi kreativitas. KotaDenpasar dengan pemanfaatan ruang yang cukup beragam sejatinya banyak memiliki ruang-ruang publik yang belumterpikirkan dan dapat dimanfaatkan fungsinya sebagai wadah aktivitas kreatif warga kotannya. Bale banjar merupakansalah satu ruang publik yang dimiliki di Kota Denpasar selain ruang publik berupa ruang terbuka hijau yang dapatdimanfaatan sebagai wadah aktivitas kreatif warga Kota Denpasar khususnya anak-anak muda. Dilihat dari fenomenayang sudah dijabarkan sebelumnya, tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi lebih mendalam mengenai sejauh manaruang di bale banjar bisa dimanfaatkan sebagai ruang kreativitas dan apa saja bentuk kreativitas yang dapat ditampungdi bale banjar serta bagaimana arah pengembangan pemanfaatan ruang di bale banjar sebagai ruang kreatif anak-anakmuda di Kota Denpasar, dan nantinya dapat dilihat juga sejauh mana peranan Banjar sebagai ruang kreativitas dalammenunjang Kota Kreatif di Kota Denpasar. Cakupan amatan penelitian ini nantinya akan difokuskan di beberapa titiktitik kawasaan yang mencakupi beberapa bale banjar yang mengalami fenomena pemanfaatan fungsi ruang banjarsebagai ruang kreativitas sesuai dengan spasial tata guna lahan di Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan metode delphi, dengan mengambil beberapa titik-titikbale banjar yang mencakupi beberapa kawasan berdsarkan spasial tata guna lahan di Kota Denpasar. Teknik analisisdeskriptif kualitatif dan analisis metode delphi dimana pada prinsipnya metode delphi merupakan teknik peramalanintuitif yang digunakan untuk mencapai suatu konsesus dari suatu kelompok ahli (expert). Berdasarkan hasil penelitianditemukan bahwa (1), Dari 9 (sembilan) titik bale banjar yang diteliti menunjukan bahwa keberagaman aktivitas/kegiatan kreatif anak muda sangat beragam hal ini dikarenekan oleh pemanfaatan lahan dan pengaruh aktivitasdilingkungan sekitar kawasan bale banjar, seperti ; Bale banjar di kawasan permukiman, Bale banjar di KawasanPariwisata, Bale banjar di Kawasan Perdagangan Jasa dan Pemerintahan /Perkantoran. (2), Wantilan dan natahmerupakan ruang-ruang yang lebih sering dimanfaatkan sebagai wadah kreativitas anak-anak muda. (3), Bale banjarsangat berperan sebagai wadah aktivitas kreatif anak-anak muda di Kota Denpasar. Dilihat dari banyaknya aktivitasdan proses kreatifitas yang dapat ditampung didalam ruang bale banjar berupa aktivitas-aktivitas kreatif menunjukkanbahwa bale banjar mewadahi dan menyedikan ruang-ruang aktivitas kreatif anak-anak muda di Kota Denpasar
PENGARUH ELEMEN-ELEMEN RANCANG KOTA DI KAWASAN JALAN GAJAH MADA DENPASAR BALI Mahendra, I Made Agus
Sustainable, Planning and Culture (SPACE) : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 1 No 1 (2019): Transformasi Ruang Budaya
Publisher : UNHI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/space.v1i1.260

Abstract

Elemen-elemen rancang kota merupakan bagian-bagian yang membentuk karakteristik kawasan. Elemenelemenrancangkotadapatdikategorokanberdasarkanjenis,bentuk,ukuran,sifat,hinggapadapenggunannya.Elemen rancang kota pada umumnya dibagi berdasarkan sifatnya yaitu elemen rancang kota bersifat fisik maupun elemenrancang kota bersifat aktivitas. Elemen fisik rancang kota cenderung bersifat ragawi (tangible) dan elemen aktivitascenderung bersiat non-ragawi (intangible) Kawasan Jalan Gajah Mada di Denpasar merupakan kawasan pusat kota yang padat dalam kapasitas penghunidan pengguna jalan. Sehingga menimbulkan berbagai masalah berupa kemacetan dan tingkat polusi yang tinggi.Ditambah dengan kurang tertatanya tata hijau dalam kawasan dan peraturan bangunan setempat yang dilanggar.Sehingga ruang jalan dalam kawasan perlu dihijaukan karena fungsi ruang jalan sangat vital dan tidak dapat berubahmaka penataan tata hijau perlu ditinjau kembali. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui dan menemukan pengaruh elemen fisik terhadap elemen aktivitaspada “kehidupan” fungsi kawasan Jalan Gajah Mada Denpasar serta memberikan arahan penataan pada elemen fisikdan aktivitas yang dapat menghidupkan kawasan Penelitian ini menggunakan pendekatan rasionalistik dengan data yang diolah secara kualitatif. Data berupaliteratur dan peta dikumpulkan untuk melihat tanda-tanda dan temuan di lapangan. Kemudian menyusun konsepsualisasiteoritik berdasarkan teori-¬teori yang ada dari variabel penelitian.Dalam penelitian ini juga dilakukan proses MetodeAnalisa deduksi yaitu usaha menjelaskan atau meramalkan tentang adanya fakta/ kejadian di lokasi penelitian menurutlandasan teori yang sudah diperoleh. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada penggal amatan pertama dan ketiga sudah memiliki tata vegetasiyang baik pada sisi sebelah timur, terlihat dari jenis, fungsi, tajuk dan ketinggian, serta ketersediaan lahan yang baikserta memenuhi peraturan bangunan setempat. Dan pada penggal amatan kedua memiliki tata vegetasi yang kurang,dikarenakan tidak adanya ketersediaan lahan yang baik pada kedua sisi, serta tata vegetasi kurang terlihat dari jenis,fungsi, tajuk dan ketinggiannya.
KUALITAS FUNGSI SOSIAL TERHADAP KEBERADAAN TAMAN KOTA PUBLIK DI KOTA SURAKARTA Febriarto, Prasetyo
Sustainable, Planning and Culture (SPACE) : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 1 No 1 (2019): Transformasi Ruang Budaya
Publisher : UNHI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/space.v1i1.259

Abstract

The purpose of this study was to find out the utilization of green open space by looking at the aspects of socialfunctions in the form of recreational activities of park users towards the existence of Taman Monumen 45 Banjarsari(Monjari) city park in Surakarta City. The object of this research is users with various social functions in the form ofactivities in City Parks in Surakarta City, namely, Taman Monumen 45 Banjarsari (Monjari). Data retrieval techniquesuse information collected, namely information and data relating to social functions of City Parks in Surakarta City. Thisinformation and data is obtained from various sources, in the form of magazines, scientific journals, websites (internet)and books that are relevant to the object of research. The analytical method used in this study uses explorative descriptiveanalysis. Conducted by observation, observation of the social function of the existence of city parks on user activities byanalyzing user activity activities that occur outside and inside the city park in the monument of Taman 45 Banjarsari(Monjari). The study was conducted to find out the social functions (user activity) that occur for five days (Tuesday toSunday) starting from morning (07.00 - 09.00 am), afternoon (12.00-14.00 am), and afternoon (15.00 - 17.00 pm) to showthe city park good quality and ideal in the city park.
ASIMILASI ARSITEKTUR DI LASEM JAWA TENGAH Haryati, Sophia Ratna
Sustainable, Planning and Culture (SPACE) : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 1 No 1 (2019): Transformasi Ruang Budaya
Publisher : UNHI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/space.v1i1.257

Abstract

The process of cultural acculturation and archipelago architecture began since the entry of traders who bring valueand cultural elements which then synergize with local culture. From history, we can see, many forms of archipelagoarchitecture has since opened up to the influence of the outer culture that comes in. The cities of Lasem, Tuban and Gresikin the North Coast in the Eastern part of Java Island are the cities that became the starting point of entry of foreigntraders. So do not be surprised if the shape of the architecture of the North Coast area in the eastern part of Java isheavily influenced by Chinese, Arabic, and Colonial cultural values. This is reinforced by historical data about the entryof 13th century Chinese culture, Arabic in the fifteenth century and the Dutch (VOC) in the 17th century. The entry ofChinese, Arab, and Dutch Culture to Indonesia in the glorious period of the Majapahit Kingdom gave a touch of changeand continuity in various cultural activities. Traces of relations between these cultures that eventually create a form ofacculturation of architecture that appears from the shape and meaning of existing buildings in the area of the North Coastin the Eastern part of Java Island. From the exploration process conducted by phenomenological approach that focuseson the process of acculturation of architecture, will be able to prove that Lasem Region is an expression of acculturationbetween Chinese culture, Middle East, Colonial, and Java through its concepts.

Page 1 of 1 | Total Record : 6