cover
Contact Name
Gusstiawan Raimanu
Contact Email
g.raimanu@unsimar.ac.id
Phone
+6281354205726
Journal Mail Official
jurnalagropet@unsimar.ac.id
Editorial Address
Lt. Dasar Gedung Rektorat, Fak. Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso Jl. P. Timor No. 1. Poso
Location
Kab. poso,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Agropet
ISSN : 46939158     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Agropet (Agropet) is a journal published by Faculty of Agriculture, Universitas Sintuwu Maroso, Indonesia. It is a scientific journal dedicated to publishing the manuscript of the research in the field of agricultural technology, such as agricultural product technology, agricultural engineering and agricultural industries technology. Agropet also publishing various disciplines of animal science, such as animal feed and nutrition; animal reproduction, genetics, and production; social and economic; and animal products science and technology. Agropet has p-ISSN 1963-9158. Jurnal Agropet publish two times per year on June and December.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Ilmiah AgroPet" : 7 Documents clear
UJI DAN IDENTIFIKASI SIFAT FISIK DAN KIMIA BUAH MANGGIS DI DESA OLUMOKUNDE KECAMATAN PAMONA TIMUR Tanari, Yulinda
Agropet Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Ilmiah AgroPet
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.687 KB)

Abstract

Sifat fisik dan kimia buah merupakan indikator terhadap kualitas buah manggis. Sifat fisik buah manggis meliputi bobot buah dan bagian-bagiannya, diameter buah serta edibel portion, sedangkan sifat kimia buah meliputi asam padatan terlarut total, asam tertitrasi total dan skoring rasa buah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan mengidentifikasi sifat fisik dan kimia buah. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode uji deskriftif untuk sifat fisik; metode titrasi asam, pengujian brix dan uji skoring rasa buah untuk uji kimia buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manggis di desa Olumokunde adalah buah dengan kualitas super II,  dengan bagian buah yang dapat dimakan sebesar + 25.89%. Padatan terlarut total buah adalah + 15 brix dengan kandungan asam tertitrasi total sebesar 0,76% dengan rasa manis sedikit asam.
SAMBUNG PUCUK DINI PADA 5 JENIS KLON KAKAO (THEOBROMA CACAO L.) DENGAN UMUR BATANG BAWAH YANG BERBEDA Ridwan, Ridwan
Agropet Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Ilmiah AgroPet
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.391 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui umur batang bawah yang tepat untuk setiap klon pada sambung pucuk dini tanaman kakao, mengetahui jenis klon yang baik terhadap keberhasilan sambung pucuk dini tanaman kakao dan mendapat umur batang bawah yang lebih baik terhadap sambung pucuk dini tanaman kakao.  Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu-Ilmu kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Tadulako, Palu, dimulai dari bulan Januari sampai April 2015.  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan yang disusun secara faktorial.  Perlakuan yang dicoba terdiri dari dua faktor yaitu faktor pertama adalah klon unggul sebagai batang atas (entries) dan faktor kedua adalah umur batang bawah yang berbeda.  Data diolah dengan analisis sidik ragam dan untuk mengetahui adanya perbedaan antar perlakuan, maka dilakukan uji lanjut dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat umur batang bawah yang tepat untuk setiap klon pada sambung pucuk dini tanaman kakao.  Klon MO1 memberikan tingkat keberhasilan yang lebih baik terhadap semua variabel pengamatan, dimana rata-rata kecepatan tumbuhnya yaitu 10,44 hari setelah penyambungan, persentase sambungan tumbuh yaitu 100%, jumlah tunas yaitu 6,22,  jumlah daun yaitu 11,33 helai dan diameter tunas yaitu 0,40 mm dan batang bawah umur 2 minggu memberikan tingkat keberhasilan yang lebih baik terhadap semua variabel pengamatan, dimana rata-rata kecepatan tumbuhnya yaitu 10,40 hari setelah penyambungan, persentase sambungan tumbuh yaitu 100%, jumlah tunas yaitu 5,20,  jumlah daun yaitu 10,67 helai dan diameter tunas yaitu 0,33 mm. 
PENGARUH DOSIS PUPUK KALIUM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI PADA LAHAN KERING Ridwan, Ridwan; Hanifa, Hanifa
Agropet Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Ilmiah AgroPet
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.391 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Dosis Pupuk Kalium Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kedelai Pada Lahan Kering. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lape, kecamatan Poso pesisir kabupaten Poso, di mulai dari bulan januari sampai apri 2016Penelitian ini disusun dengan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan yang dicobakan terdiri atas 5 perlakuan yaitu K0: tanpa pupuk, K1: dosis 50 kg/ha, K2: dosis 100 kg/ha, K3: dosis 150 kg/ha dan K4: dosis 200 kg/ha. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variable aktivitas pertumbuhan kedelai dan komponen hasil kedelai yang dihasilkan. Data yang telah diperoleh selanjutnya di analisis varian (ANOVA), dan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ).Berdasarkan hasil analisis sidik ragam yang berpengaruh tidak nyata pada tanaman kedelai yaitu tinggi tanaman umur 3 MST, 4 MST, 5 MST, 6 MST. Jumlah daun tanaman umur 3 MST, 4 MST, 5 MST, 6 MST. Berat kering akar tanaman umur 8 MST, 9 MST. Berat kering batang tanaman umur 7 MST, 8 MST, 9 MST. Berat kering daun tanaman umur 7 MST, 8 MST, 9 MST. Jumlah polong isi, bobot 100 butir, bobot biji perpetak dan bobot biji per hektar. Selanjutnya yang berpengaruh nyata yaitu berat kering akar 7 MST dan jumlah polong hampa.Hasil uji BNJ menunjukkan bahwa perlakuan dengan dosis 100 kg/ha menunjukkan hasil terbaik pada pertumbuhan dan hasil kedelai dibandingkan dengan perlakuan lainnya. 
PREVALENSI PENYAKIT SCYSTOSOMIASIS PADA TERNAK KERBAU DI KECAMATAN LORE UTARA KABUPATEN POSO Loliwu, Yan Alpius; Ngkiro, Dolvi
Agropet Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Ilmiah AgroPet
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.165 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi penyakit Schystosomiasis pada ternak kerbau di Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso. Metode penelitian ini menggunakan metode Sensus dimana ukuran populasi sebesar 40 ekor.Pengambilan sampel  dilakukan dengan cara mengambil  feses kerbau yang masih segar dengan menggunakan sarung tangan dan selanjutnya  dimasukan dalam  plastik serta diberi label. Kemudian sampel di bawa ke laboratorium Scystosomiasis Desa Wuasa untuk dilakukan pemeriksaan.  Apabila hasil pemeriksaan secara mikroskopis ditemukan adanya telur-telur cacing Scystosoma japonicum maka  diberi tanda positif (+) dan jika tidak ditemukan  telur-telur cacing tersebut maka diberi tanda negatif (-).Hasil pemeriksaan Laboratorium Scystosomiasis Desa Wuasa Kecamatan Lore Utara, diperoleh data jumlah kasus positif (+) Scystosomiasis pada ternak kerbau di Kecamatan Lore Utara berjumlah 3 ekor yang berasal dari Desa Sedoa, sedangkan sampel feses kerbau dari Desa Wuasa dinyatakan tidak terinfeksi Scystosomiasis (-) atau tidak ditemukan adanya telur-telur cacing Scystosoma japonicum. Bersasarkan hasil analisis data menggunakan rumus Gasperaz (1991), diperoleh  prevalensi penyakit  Scystosomiasis di Kecamatan Lore Utara sebesar 7,5%.Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa prevalensi penyakit Scystosomaisis di Kecamatan Lore Utara sebesar 7,5%. Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya kasus penyakit Scystosomaisis antara lain dikarenakan sistim pemeliharaan masih bersifat ekstensif/tradisional, sistim pemberian pakan belum memperhatikan kuaiitas dan kuantitas pakan yang baik, masih rendahnya pengetahuan tentang  manajemen kesehatan  yang baik dan masih banyak  lahan-lahan yang tidak termanfaatkan sehingga terjadi genangan air sebagai media hidup dari keong Oncomelania huspensis dimana keong tersebut merupakan hospes terjaddinya infeksi penyakit Schystosomiasis.
AGROFORESTRI DAN PENGELOLAAN KEBUN KAKAO BERKELANJUTAN Saleh, Abdul Rahim
Agropet Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Ilmiah AgroPet
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.175 KB)

Abstract

Kakao, salah satu tanaman tahunan penting di dunia, hampir secara eksklusif dieksplorasi untuk pembuatan coklat. Habitat asli tanaman kakao yaitu tumbuh di bawah naungan tegakan hutan, karena tanaman kakao merupakan spesies yang toleran naungan, di mana naungan yang tepat mempengaruhi laju fotosintesis relatif tinggi, yang akhirnya mempengaruhi pertumbuhan dan hasil biji. Cahaya yang tinggi memicu serangan hama dan penyakit, sehingga akan menurunkan hasil biji. Produksi kakao yang tinggi pada sistem monokulttur membutuhkan input tinggi dalam hal proteksi dan nutrisi tanaman.  Manajemen agroforesri kakao yang tepat, mempu menciptakan iklim mikro yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kakao berupa mengurangi intensitas penyinaran yang diterima kanopi daun, menurunkan suhu yang mempu menekan laju evapotranspirasi. Pohon naungan dalam sistem agroforestri menjadi inang bagi serangga hama maupun predator serta serngga penyerbuk. Selain itu, pohon naungan menyumbangkan seresah bahan organik tanah. Usaha budidaya kakao dengan sistem agroforestri dapat menjadi alternatif dalam mengolah lahan marjinal yang kurang subur menjadi lahan yang produktif dan berkelanjutan. 
IDENTIFIKASI DAN UJI EFEKTIVITAS CENDAWAN RHIZOSFER TANAMAN KAKAO POTENSINYA SEBAGAI ANTAGONIS PENGENDALI (PHYTOPHTHORA PALMIVORA BULT.) PENYEBAB BUSUK BUAH KAKAO Tambingsila, Meitry
Agropet Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Ilmiah AgroPet
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.994 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan 1) mengindetifikasi kerangaman cendawan rhizosfer pada tanaman kakao dengan pohon pelindung dan tanpa pohon pelindung; 2) aplikasi langsung suspensi spora cendawan dapat menghambat perkembangan P. palmivoran dalam perannya sebagai antagonis.Penelitian ini dilakukan di desa Paporang Kecamatan Batulapa Kabupaten Pinrang, dan dilanjutkan di laboratorium Identifiksi OPT dan Pengendalian Hayati, Jurusan Hama dan penyakit Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin Makassar. Isolasi cendawan rhizosfer menggunakan metode cawan pengenceran yang dilanjutkan dengan pengujian Bioassay.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan keragaman cendawan rhizosfer pada tanaman kakao dengan pohon pelindung dan tanpa pohon pelindung. Cendawan antagonis yang dominan adalah dari genus Trichoderma, Gliocladium and isolate Pm6 yang juga dapat menghambat infeksi dari P. palmivora dengan besaran penghambatan luas bercak masing-masing sebesar 51cm², 41,9cm² dan 20,2cm².Kata Kunci: Identifikasi, Rhizosfer tanaman kakao, Cendawan antagonis.
KANDUNGAN MINERAL DUCKWEED (LEMNA MINOR) SEBAGAI SUMBER HIJAUAN PAKAN ALTERNATIF TERNAK PADA INTENSITAS CAHAYA YANG BERBEDA Nopriani, Uti; Karti, P.D. M.H; Prihantoro, I
Agropet Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Ilmiah AgroPet
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.358 KB)

Abstract

Duckweed (Lemna minor) adalah tanaman air kecil yang ditemukan tumbuh mengapung diatas air dengan tingkat penyebaran yang sangat luas diseluruh dunia dan potensial sebagai sumber hijauan pakan yang berkualitas tinggi bagi ternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan mineral fosfor (P), kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan kalium (K). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap. Data dianalisis dengan metode analisis sidik ragam (ANOVA), jika terdapat perbedaan yang nyata dilakukan uji lanjut DMRT (Steel dan Torrie 1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan mineral P, Ca dan K pada berbagai level naungan berbeda nyata (P<0,05), sedangkan kandungan mineral Mg pada berbagai level naungan tidak berbeda nyata (P>0,05).

Page 1 of 1 | Total Record : 7