cover
Contact Name
Kuswantoro
Contact Email
kuswantoro@sci.ui.ac.id
Phone
+628159312360
Journal Mail Official
jglitrop@sci.ui.ac.id
Editorial Address
Department of Geography, FMIPA, Universitas Indonesia Building H, Kampus UI Depok
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Geografi Lingkungan Tropik (Journal of Geography of Tropical Environments)
Published by Universitas Indonesia
ISSN : -     EISSN : 25979949     DOI : http://dx.doi.org/10.7454/jglitrop
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Geografi Lingkungan Tropik (JGLITrop) specialized to publish scientific articles that reveal a uniqueness and dynamics of tropical geographic environments, including their physical and human phenomena and interaction between those components. JGLITrop welcomes to articles about physical and human geography development, as well the combination between both and those who highlight environment dynamics from multidisciplinary approaches. Team of editorial board and peer reviewers from Department of Geography University of Indonesia and other distinguished universities and institution (e.g., BPPT, LAPAN, BIG, LIPI) guarantee the scientific quality of the paper issued in the journal.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2018): February" : 5 Documents clear
WILAYAH POTENSI IKAN PELAGIS PADA VARIASI KEJADIAN ENSO DAN NORMAL DI SELAT SUNDA Nurkhairani, Yulianti; Supriatna, Supriatna; Susiloningtyas, Dewi
Jurnal Geografi Lingkungan Tropik Vol 2, No 1 (2018): February
Publisher : Open Journal System

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (942.041 KB) | DOI: 10.7454/jglitrop.v2i1.32

Abstract

Letak geografis Indonesia mengakibatkan perikanan di Selat Sunda turut terkena dampak dari dinamika iklim global. Salah satunya yaitu fenomena ENSO (El Nino-Southern Oscillation) di Samudera Pasifik yang mempengaruhi musim dan perairan laut di Indonesia. Perikanan di Selat Sunda memiliki komoditi berupa ikan pelagis yang wilayah potensialnya dapat diperkirakan dari parameter-parameter oseanografi berupa suhu permukaan laut (SPL) dan konsentrasi klorofil-a di perairan laut. Dinamika parameter oseanografi secara spasial dan temporal akibat variasi fenomena ENSO dapat diidentifikasi dari citra satelit Aqua yang membawa sensor MODIS. Informasi wilayah potensi ikan pelagis dibutuhkan untuk membantu efektifitas kegiatan perikanan dan menambah produksi perikanan tangkap. Parameter-parameter oseanografi bulanan di Selat Sunda ditampal berdasarkan 4 variasi musim dalam setahun pada setiap variasi fenomena ENSO dan diklasifikasikan berdasarkan kelas potensial sedang, potensial, dan sangat potensial. Hasilnya, wilayah potensi ikan pelagis yang sangat potensial di Selat Sunda pada fenomena La Nina dan El Nino lebih besar dibanding pada kondisi normal dan terjadi pada musim timur hingga peralihan II. Sebarannya berada di Samudera Hindia di sebelah barat Selat Sunda. Kata kunci: Pelagis, Potensial, La Nina, El Nino, Selat Sunda
PERSEBARAN TERUMBU KARANG DI WILAYAH PERAIRAN KARAWANG Fadhil, Rafdi; Pin, Tjiong Giok
Jurnal Geografi Lingkungan Tropik Vol 2, No 1 (2018): February
Publisher : Open Journal System

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1033.395 KB) | DOI: 10.7454/jglitrop.v2i1.33

Abstract

Terumbu karang merupakan salah satu potensi sumberdaya laut yang sangat penting di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh karakteristik fisik perairan terhadap persebaran terumbu karang di Wilayah Perairan Karawang pada tahun 2001, 2010 dan 2017. Metode yang digunakan adalah survei lapang dan pengolahan data citra menggunakan algoritma Lyzenga untuk mengetahui persebaran terumbu karang di Wilayah Perairan Karawang. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik fisik perairan ini mempengaruhi persebaran terumbu karang dalam jangka waktu lama yang dalam penelitian ini adalah tahun 2001 ? 2017, karena ketika karakteristik fisik perairan tidak sesuai dengan baku mutu, terumbu karang tidak langsung mati tetapi akan mengalami berbagai proses hingga akhirnya mati. Adapun suhu permukaan laut tidak mempengaruhi persebaran terumbu karang di wilayah perairan Karawang karena pada suhu yang sesuai dengan baku mutu air laut untuk terumbu karang, tidak semua terumbu karang dapat hidup di wilayah perairan Karawang. Sedangkan pada salinitas tinggi diluar nilai ambang batas baku mutu, terumbu karang tidak dapat tumbuh dan berkembang. Pada arus permukaan laut, terumbu karang hidup cenderung memiliki pola yang searah dengan rata-rata arah arus laut dalam waktu setahun. Kata kunci: Karakteristik Fisik Perairan, Lyzenga, Perairan Karawang, Terumbu Karang
VARIASI SPASIOTEMPORAL URBAN HEAT ISLAND DI KAWASAN PERKOTAAN YOGJAKARTA TAHUN 2015-2017 Zahro, Haura; Sobirin, Sobirin; Wibowo, Adi
Jurnal Geografi Lingkungan Tropik Vol 2, No 1 (2018): February
Publisher : Open Journal System

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.878 KB) | DOI: 10.7454/jglitrop.v2i1.35

Abstract

Keterbatasan Kota Yogyakarta untuk memenuhi permintaan akan lahan yang terbangun membuat perkembangannya meluas ke Kabupaten Sleman dan Bantul sehingga terbentuk Kawasan Perkotaan Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola suhu permukaan, hubungannya dengan kehijauan vegetasi dan terjadinya fenomena Urban Heat Island (UHI) di Kawasan Perkotaan Yogyakarta tahun 2015-2017. Temperatur permukaan tanah diperoleh dari pengolahan citra Landsat 8 OLI/TIRS dengan metode mono-window dan divalidasi dengan pengukuran temperatur udara langsung, greenness vegetasi dengan algoritma NDVI dan fenomena UHI ketika suhu permukaan di atas 30ºC. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin jauh dari pusat kota, suhu permukaan turun menjadi 0,93ºC per kilometer. Temperatur permukaan tertinggi terjadi pada bulan Oktober 2015 dan September 2017. Suhu permukaan memiliki nilai korelasi yang kuat dengan vegetasi hijau dengan koefisien korelasi hingga -0,709 yaitu semakin tinggi vegetasi greenness maka semakin rendah suhu permukaan. Fenomena UHI terjadi setiap bulan dengan variasi 11,85-4,01ºC dan fenomena UHI permukaan tertinggi terjadi pada bulan Oktober 2015 dengan 41,85ºC. Kesimpulannya, fenomena UHI terjadi setiap bulan dengan suhu tertinggi dan area paling intensif dari fenomena UHI adalah pada Oktober 2015. Kata kunci: Suhu Permukaan Daratan; Landsat 8 OLI/TIRS; Mono-Window; Urban Heat Island
WILAYAH INTENSITAS TINGGI SEBARAN HOTSPOTS DI PROVINSI RIAU TAHUN 2005 - 2014 Harahap, Rina M.
Jurnal Geografi Lingkungan Tropik Vol 2, No 1 (2018): February
Publisher : Open Journal System

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1952.805 KB) | DOI: 10.7454/jglitrop.v2i1.30

Abstract

Tulisan ini berupaya mengelaborasi data spasial faktor-faktor pemicu kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. Faktor-faktor tersebut diterjemahkan menjadi tiga variabel bebas yakni curah hujan, lahan gambut, dan penggunaan lahan. Curah hujan dan lahan gambut merupakan faktor pemicu alami sedangkan penggunaan lahan merepresentasikan faktor pemicu akibat aktivitas manusia. Kemudian, pada tulisan ini yang menjadi variabel terikat adalah hotspots (titik panas). Hotspots yang dihasilkan oleh sensor satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) akibat kenaikan suhu di atas 315° K atau 42°C pada luasan 1 km2 ini mengindikasikan adanya kebakaran hutan dan lahan. Selain bertujuan untuk mengetahui wilayah sebaran hotspots dengan intensitas yang tinggi selama 10 tahun (2005-2014), tulisan ini juga bertujuan melihat hubungan pola sebaran hotspots dengan ketiga faktor tersebut dalam konteks spasial dan temporal. Hasilnya, pola spasial kepadatan hotspots terkonsentrasi di Kota Dumai, Kabupaten Rokan Hilir, Bengkalis dan Pelalawan. Analisis temporal menunjukkan jumlah hotspots terbanyak pada periode 2005-2014 terjadi pada bulan Juni hingga Agustus dengan karakteristik wilayah curah hujan bulanan rendah yaitu 50 - 150 mm/bulan, lahan gambut dengan kedalaman lebih dari 4 meter (sangat dalam) dan jenis penggunaan lahan perkebunan, hutan lahan basah sekunder dan semak belukar Kata kunci: curah hujan, gambut, penggunaan lahan, hotspots
PEMODELAN DEBIT BANJIR SEHUBUNGAN DENGAN PREDIKSI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DI DAERAH ALIRAN CI LEUNGSI HULU MENGGUNAKAN HEC-HMS Marko, Kuswantoro; Zulkarnain, Faris
Jurnal Geografi Lingkungan Tropik Vol 2, No 1 (2018): February
Publisher : Open Journal System

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.195 KB) | DOI: 10.7454/jglitrop.v2i1.31

Abstract

DAS Cileungsi Hulu adalah salah satu DAS yang memiliki peran penting dalam menyumbang limpasan air ke daerah hilir, yakni Kota Bekasi. Pertumbuhan penduduk yang tergolong tinggi telah mendorong perubahan pemanfaatan lahan secara signifikan. Salah satu penyebab banjir yang terjadi di Kota Bekasi adalah karena meningkatnya debit sungai di hulu Kali Bekasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi debit banjir yang akan terjadi sehubungan dengan prediksi perubahan tutupan lahan pada tahun 2020, 2025, dan 2030. Metode SCS CN digunakan untuk perhitungan volume limpasan dan hidrograf satuan sintetis dengan menggunakan HEC-HMS. Nilai CN yang diperoleh pada data eksisting yakni 72,5; 74,4; dan 75,4 pada tahun 2005, 2010, dan 2014 secara berurutan, sedangkan hasil prediksi nilai CN pada tahun 2020, 2025, dan 2030 mengalami peningkatan yakni 77,2; 78,4; dan 79,4 secara berurutan. Penelitian ini menyimpulkan prediksi debit banjir pada tahun 2020, 2025, dan 2030 mengalami peningkatan, yakni dari 2020 ke 2025 sebesar 28,4%, dan dari 2025 ke 2030 sebesar 26.8%. Untuk periode ulang 25 tahun dengan curah hujan rancangan sebesar 197mm menghasilkan debit banjir sebesar 624,6; 653,0; dan 679,8 m3/dt pada tahun 2020, 2025, dan 2030 secara berturut-turut. Penelitian ini dapat bermanfaat bagi perencanaan pembangunan wilayah perkotaan, khususnya dalam mengantisipasi kerugian akibat adanya banjir di masa mendatang.Kata kunci: Pemodelan banjir, perubahan tutupan lahan, SCS-CN, HEC-HMS 

Page 1 of 1 | Total Record : 5