cover
Contact Name
Rasyid Ridha
Contact Email
rasyid7gal@gmail.com
Phone
+6285358792636
Journal Mail Official
jurnalscripta@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Medicine Universitas Sumatera Utara, Jalan dr. T. Mansur No. 5, Kampus USU, Medan 20155, Indonesia
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
ISSN : 20888686     EISSN : 26860864     DOI : https://doi.org/10.32734/scripta.v1i2
Core Subject : Health,
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal is a journal aimed to provide a forum for publishing scientific articles in the field of medical or health science. The main focus of SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal is tropical medicine and oncology medicine also the rest of medical fields as the additional focus. To achieve its aim, SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal publishes research articles, review articles, and case reports especially manuscript with a regional or national data to raise the interest of the reader in tropical medicine or oncology medicine as the main focus and the rest of medical fields as the addition focus.
Articles 50 Documents
VAKSIN PNEUMOKOKUS BERBASIS PROTEIN (PNEUMOCOCCAL PROTEIN VACCINE: PPRV) MODEL TRIVALENT TERKONJUGASI ADJUVAN ALUMINIUM DENGAN ADMINISTRASI INTRANASAL SEBAGAI METODE VAKSINASI TERBARU UNTUK PENCEGAHAN PNEUMONIA PADA BALITA Eddy Zulfikar; Farhan Naufal Arif; Imam Hermansyah
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2019): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.859 KB) | DOI: 10.32734/scripta.v1i`1.1158

Abstract

ABSTRAK   Pneumonia merupakan penyakit infeksi pernapasan akut yang menyerang alveoli paru-paru. Menurut WHO, Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada balita di seluruh dunia. Saat ini, vaksin pneumokokus konjugat (Pneumococcal Conjugate Vaccine: PCV) dijadikan sebagai vaksin utama yang direkomendasikan untuk mencegah pneumonia pada balita. Namun, nyatanya PCV masih memiliki banyak keterbatasan dikarenakan komposisi serotype-nya. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi terbaru terkait dengan vaksin beserta metode yang lebih efektif dalam program vaksinasi pneumonia pada balita. Untuk mengetahui jenis vaksin beserta metode administrasi yang efektif untuk mencegah pneumonia pada balita. Literature review ini disusun berdasarkan metode studi pustaka dengan cara mengumpulkan berbagai referensi yang valid mengenai efektivitas vaksin pneumokokus berbasis protein (PPrV) model trivalent (PhtD, PcpA, dan PlyD1) dengan adjuvan aluminium dengan metode administrasi secara intranasal sebagai metode vaksinasi terbaru untuk mencegah pneumonia pada balita. Pada bayi (42-49 hari) maupun batita (12-13 bulan), vaksinasi dengan PPrV mampu meningkatkan konsentrasi antibodi terhadap ketiga antigen protein yang diujikan. Untuk respon antibodi yang maksimal, pada bayi diperlukan adanya penambahan adjuvan aluminium dengan tiga kali tahapan vaksinasi menggunakan formula antigen protein sebesar 25µg atau 50µg. Sedangkan untuk batita, peningkatan antibodi yang signifikan dapat diperoleh melalui vaksinasi dosis tunggal dengan formula 50 µg dengan adjuvan yang sama. Administrasi PPrV secara intranasal dipilih karena mampu menginduksi imunitas mukosa dengan respon memori sel B dan sel T dalam jangka waktu yang lebih lama, serta meminimalisir efek samping dan rasa sakit. Penggunaan PPrV model trivalent (PhtD, PcpA, dan PlyD1) dengan adjuvan aluminiumdengan metode administrasi secara intranasal, mampu meningkatkan konsentrasi antibodi bayi maupun batita sebanyak dua hingga empat kali lipat, mampu menginduksi sistem imun mukosa dengan respon sel memori yang lebih lama, juga minim efek samping dan rasa sakit saat vaksinasi. Kata Kunci: administrasi intranasal, aluminium, pneumonia, PPrv, trivalent   ABSTRACT   Pneumonia is an acute respiratory infection that attacks the lung alveoli. According to WHO, pneumonia is the main cause of death in children under five years old in the world. Currently, pneumococcal conjugate vaccine (PCV) is used as the main vaccine that recommended for preventing pneumonia in infants. However, in fact PCV still has many limitations due to its serotype composition. Therefore, the latest innovations related to vaccines are needed along with more effective methods in pneumonia vaccination programs in infants. To find out the type of vaccine and the effective method of administration to prevent pneumonia in infants. Literature review was compiled based on literature study method by collecting valid references on the effectiveness of trivalent model (PhtD, PcpA, and PlyD1) protein-based pneumococcal vaccine (PPrV) with aluminum adjuvant by intranasal administration as the latest vaccination method to prevent pneumonia in infants. In infants (42-49 days) and toddlers (12-13 months), vaccination with PPrV is able to increase the concentration of antibodies against all three protein antigens that tested. For the maximum antibody response, an infant is required to add aluminum adjuvants with three stages of vaccination using a formula of 25µg or 50µg protein antigen. Intranasal administrationPPrV is chosen because it is able to induce mucosal immunity with a longer memory response of B cells and T cells in a period of time, and minimize the side effects and pain. As for toddlers, the significant increase in antibodies can be obtained through a single dose vaccination with a 50 µg formula with the same adjuvant. The use of trivalent PPrV models (PhtD, PcpA, and PlyD1) with aluminum adjuvants by intranasal administration method, can increase the concentration of antibodies in infants and toddlers from two to four times, able to induce the mucosal immune system with a longer memory cell response, and make minimum side effects also pain during vaccination. Keywords: aluminum,intranasal administration, pneumonia, PPrV,trivalent
OPEN REDUCTION INTERNAL FIXATION (ORIF) PADA FRAKTUR KOMINUTIF PARASIMFISIS MANDIBULA Rahma Fridayana Fitri; Emil Akmal
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2019): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1666.859 KB) | DOI: 10.32734/scripta.v1i`1.1161

Abstract

ABSTRAK   Terdapat kurang dari 15% kasus fraktur wajah pada kelompok usia anak yang mana kejadiannya semakin meningkat disaat anak mulai sekolah dan mencapai puncaknya saat anak memasuki masa remaja. Fraktur mandibula merupakan fraktur yang paling sering diantara semua fraktur wajah pada anak. Seorang anak perempuan berusia 10 tahun dengan penurunan kesadaran disertai dengan perdarahan aktif yang keluar dari mulut setelah kecelakaan lalu lintas. Kurang lebih dialami 3 jam sebelum masuk Rumah Sakit saat pasien menyeberang jalan tiba-tiba datang sepeda motor dengan kecepatan tinggi menabrak pasien, lalu pasien terjatuh dengan mekanisme yang tidak diketahui. Riwayat mual dan muntah disangkal, ditemukan perdarahan dari mulut, tidak ditemukan perdarahan hidung dan telinga.  Dari hasil pemeriksaan primary survey, dijumpai gargling, bentuk dan gerak dada simetris Vesicular Breath Sound kanan sama dengan kiri, respirasi 22 kali per menit nadi 90, GCS 9 (E2M4V3). Pasien didiagnosis dengan cedera kepala sedang dengan fraktur mandibula. Penatalaksanaan yang diberikan adalah Intra Vena Fluid Drip (IVFD) Ringer Solution 10 tetes/menit (makro), mannitol drips 70cc/6jam, inj. Ceftriaxon 500mg/12jam, inj. ranitidine 25mg/12jam, paracetamol drips 500mg/8jam dan ORIF sebagai penatalaksanaan fraktur mandibula. Diagnosis fraktur mandibula ditegakkan berdasarkan temuan klinis. Tujuan penatalaksanaan fraktur mandibula adalah mengatur oklusi gigi, memerlukan stabilisasi dan mengembalikan maksilomandibular pretraumatik. ORIF pada kasus fraktur simfisis dan parasimfisis berupa pemasangan miniplat dan skrup untuk fiksasi berhasil mengembalikan fungsi estetik dan pengunyahan. Kata kunci: anak, cedera kepala, fraktur mandibula, penatalaksanaan   ABSTRACT   There are less than 15% cases of facial fractures in  childen where the incidence increases when the child starts school and reaches its peak when the child enters adolescence. Mandibular fracture is the most common fracture among all facial fractures in children. A 10-years-old girl with decreased consciousness with active bleeding from mouth after a traffic accident. Approximately 3 hours before entering the hospital when the patient crossed the road suddenly came a motorcycle with high speed crashing into the patient, then the patient fell with an unknown mechanism. History of nausea and vomiting is denied, bleeding from mouth detected, no sign of nose and ear bleeding. From the results of the primary survey, there were gargling, Vesicular Breath Sound, right and left chest symmetrical movement, respiration 22 times per minute, pulse 90, GCS 9 (E2M4V3). Patients are diagnosed with moderate head injury with mandibular fractures. Management given is IVFD Ringer Solution 10 drops / minute (macro), mannitol drips 70cc / 6 hours, inj. Ceftriaxon 500mg / 12h, inj. ranitidine 25 mg / 12 hours, paracetamol drips 500 mg / 8 hours and ORIF as a mandibular fracture management. Diagnosis of mandibular fractures is based on clinical findings. The purpose of managing mandibular fracture is to regulate dental occlusion, requiring stabilization and restoring pretraumatic maxillomandibular. Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) in the case of symphysis and parasymfisis fractures in the form of miniplate and screw for fixation managed to restore aesthetic and masticatory functions. Keywords: child, head injury, mandibular fracture, management.
PENGARUH KONSUMSI JAMU KUNYIT TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PADA KEJADIAN DISMENORA PADA SISWI SMA NEGERI 2 MEDAN TAHUN 2015 Yudha Prasetya; Riza Rivany
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2019): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.62 KB) | DOI: 10.32734/scripta.v1i`1.1162

Abstract

ABSTRAK   Dismenorea aadalah nyeri selama haid yang dirasakan di perut bawah atau di pinggang. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi nyeri haid adalah mengkonsumsi minuman kunyit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsumsi minuman berbahan dasar kunyit terhadap penderita dismenorea pada siswi sekolah menengah atas. Penelitian ini menggunakan desain penelitian one group pretest-posttest design dengan responden sebanyak 60 orang siswi yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dipilih dengan metode simple random sampling bertempat di SMA Negeri 2 Medan yang dilaksanakan selama Oktober-November 2015. Dari hasil penelitian ini dengan menggunakan metode statistika non-parametrik Wilcoxon Signed-Rank Test didapatkan bahwa ada pengaruh konsumsi minuman kunyit terhadap responden (p<0,05) yang dimana rata-rata hasil pretest (5,02) lebih besar daripada rata-rata hasil posttest (4,15) dan selisih rata-ratanya sebesar 0,867. Minuman kunyit dapat mengurangi tingkat nyeri pada penderita dismenorea yang bermakna secara statistik. Kata Kunci : Dismenorea, Kunyit   ABSTRACT   Dysmenorrhea is pain during menstruation that is felt in the lower abdomen or waist. One of the efforts being made to treat dysmenorrhea is consuming turmeric drink. The purpose of this study was to determine the effect of consumption based drinks turmeric against dysmenorrhea patients on senior high schools students. The design of this research study is one group pretest-posttest design with respondents as many as 60 students who had met the inclusion and exclusion criteria that selected by simple random simple sampling method placed at SMAN 2 Medan during October-November 2015. From these study results by using statistical methods of non-parametric Wilcoxon Signed-Rank Test showed that there is influence of beverage consumption turmeric drink among respondents (p<0,05) that where the average results of pretest (5,02) is greater than the average posttest results (4,15) and the difference in the average of 0,867. The turmeric drink can reduce pain for dysmenorrhea patients with statistically significant. Keywords : Dysmenorrhea, Turmeric
ANALISIS KEPUASAN PASIEN DAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PENDIDIKAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Khairun Nisa; Harahap, Juliandi; Umar Zein
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2019): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.644 KB) | DOI: 10.32734/scripta.v1i`1.1163

Abstract

ABSTRAK Dalam konteks pelayanan kesehatan, kepuasaan pasien adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan kebutuhan pasien dipenuhi.Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila pelayanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pasien.Terdapat lima dimensi kualitas pelayanan yang akan dinilai yaitu kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan pasien di RSGMP.Jenis penelitian mixed method dengan pendekatan cross sectional study. Sampel penelitian untuk data kuantitatif adalah 100 pasien, dan 10 informan untuk data  kualitatif. Sampel diambil dengan teknik accidental sampling.Hasil penelitian menunjukkan variabel kualitas pelayanan (kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik) memiliki hubungan yang signifikan dengan variabel kepuasan pasien di RSGMP dengan p-value=0,001. Hasil kualitatif diketahui pasien mengeluhkan waktu tunggu dan waktu pelayanan yang lama, tidak jelasnya perawatan dan kurangnya keterampilan dari dokter yang bertugas.Sedangkan pimpinan rumah sakit menyatakan bahwa kepuasan adalah hal yang subjektif dan telah melakukan pelayanan dengan maksimal.Penelitian ini menyimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien.Oleh karena itu diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan seperti manajemen waktu pelayanan dan peningkatan skill petugas kesehatan. Kata Kunci : Kualitas Pelayanan, Kepuasan Pasien, RSGMP     ABSTRACT In the context of health services, patient satisfaction is a condition where the patient's wishes, expectations and needs are met. A service is considered satisfactory if the service can meet the needs and expectations of the patient. There are five dimensions of service quality to be assessed, namely reliability, responsiveness, assurance, empathy and physical evidence. This study aims to analyze the relationship between service quality and patient satisfaction in the RSGMP. This type of research is mixed method with a cross sectional study approach. The sample was 100 patients for quantitative and 10 informants for qualitative data. Samples were taken by accidental sampling technique. The results showed variable service quality had a significant relationship with the variable patient satisfaction in RSGMP with p-value = 0.001. Qualitative results revealed that patients complain of long waiting times and service times, unclear care and lack of skills of health workers. While the head of the hospital stated that satisfaction is a subjective matter and has done the maximum service. This study concluded that there was a significant relationship between health services and patient satisfaction. Therefore efforts are needed to improve service quality such as service time managementand skills improvement of health workers. Keyword: Service Quality, Patient Satisfaction, RSGMP
K FOR K (KELOR FOR ANTI-KOLESTEROL : KAJIAN MENGENAI KONSUMSI DAUN KELOR SEBAGAI PENGHAMBAT SINTESIS KOLESTEROL DALAM UPAYA PENCEGAHAN BATU EMPEDU) Devita Anggraini; Mizanulhaq Salim Abdullah Abdurrahman; Niken Salsabyla Swita Sandi
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2019): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.781 KB) | DOI: 10.32734/scripta.v1i`1.1164

Abstract

ABSTRAK   Kolesterol merupakan salah satu penyusun garam empedu. Peningkatan jumlah kolesterol yang berada dalam tubuh berpotensi menyebabkan penimbunan dan pengkristalan garam empedu menjadi batu empedu. Peningkatan kolesterol melebihi jumlah yang dapat dipecah oleh empedu terproduksi dapat mengganggu sistem pencernaan berupa terbentuknya batu empedu. Faktor penyebab peningkatan kolesterol dalam tubuh, yaitu konsumsi dan sintesis kolesterol dalam tubuh secara berlebihan. Produksi kolestrol dalam tubuh dipercepat oleh enzim 3-hidroksi-3-metilglutaril KoA (HMG-KoA) reduktase dari HMG-KoA menjadi asam mevalonat yang digunakan sebagai bahan baku kolesterol. Daun kelor memiliki senyawa aktif sitosterol untuk menghambat kerja enzim HMG-KoA reduktase sehingga menurunkan produksi kolesterol di hepar dan mencegah terbentuknya batu empedu. Kata Kunci: batu empedu, enzim HMG-KoA reduktase, kelor, kolesterol, sitosterol   ABSTRACT   Cholesterol is one part of bile salts. Increasing the amount of cholesterol in the body has potential to cause accumulation and crystallization of the bile salts into gallstone. The cause of cholesterol increasing in the body is consumption and synthesis of cholesterol excessively. The production of cholesterol in the body is accelerated by 3-hydroxy-3-methylglutaryl CoA enzyme (HMG-CoA). Reductase of HMG-CoA become mevalonic acid that will form cholesterol. Kelor leaf has active compound sitosterol that could inhibit HMG-CoA reductase, so it will decrease the production of cholesterol in hepar and prevent the formation of gallstones. Keyword: cholesterol, gallstone, HMG-KoA reductase enzyme, kelor, sitosterol
THE RELATIONSHIP BETWEEN MUROTTAL THERAPY AND PAIN QUALITY IN COLLEGE STUDENTS WITH MUSCULOSKELETAL PAIN IN 2019 Thyra Annisaa Putri; Aulia Chairani; Riezky Valentina
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.336 KB) | DOI: 10.32734/scripta.v1i2.1210

Abstract

ABSTRACT Musculoskeletal pain is often called as musculoskeletal disorder (MSDs). One of the most common causes of musculoskeletal pain is occupational-related causes. Musculoskeletal pain is often experienced by college students. The factors that influence the occurrence of musculoskeletal pain in college students are learning activities as well as static body positions/posture while studying. This causes discomfort in learning activities for college students. This study aims to determine the relationship/correlation between the administration of murottal therapy and the quality of musculoskeletal pain in 2016 class Medical Faculty students of UPN (FK UPN). This research type is semi-experimental using a cohort study design. The sampling technique uses purposive sampling. The research sample used was 68 people. The data was collected at the Medical Faculty of UPN ?Veteran? Jakarta using a research instrument in the form of a Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ) and measured by the Numeric Rating Scale (NRS) pain scale. The results indicated that 30 students (44.1%) had mild pain, 37 (55.4%) had moderate pain, 1 (1.5%) had severe pain respectively before murottal therapy is given. The results of bivariate analysis using the Wilcoxon test indicated that there was a relationship between murottal therapy and the quality of musculoskeletal pain in 2016 class Medical Faculty students of UPN (p = 0.000). The easy and inexpensive therapy of pain management is necessary such as through the administration of murottal therapy for 15 minutes. Keywords: Musculoskeletal Disorders, Pain, Murottal Therapy   ABSTRAK Nyeri muskuloskeletal sering disebut gangguan muskuloskeletal.Salah satu penyebab terseringnya nyeri muskuloskeletal adalah karena pekerjaan. Nyeri muskuloskeletal seringkali dialami oleh mahasiswa. Faktor-faktor yang berpengaruh pada kejadian nyeri muskuloskeletal pada mahasiswa  adalah kegiatan belajar mengajar serta posisi tubuh statis saat belajar. Hal ini menyebabkan ketidaknyamanan dalam kegiatan belajar mengajar pada mahasiswa.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian terapi murottal dengan kualitas nyeri muskuloskeletal pada mahasiswa FK UPN angkatan 2016.Jenis penelitian ini semi-eksperimetal dengan desain penelitian kohort.Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Sampel penelitian yang digunakan sebanyak 68 orang. Pengambilan data dilakukan di Fakultas Kedokteran UPN ?Veteran? Jakarta menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ) dandiukur dengan skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS). Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa dengan nyeri ringan sebanyak 30 orang (44,1%), 37 orang nyeri sedang (55,4), 1 orang mengalami nyeri berat (1,5%) sebelum diberikan terapi murottal. Hasil analisis bivariat dengan uji Wilcoxon menunjukkan terdapat hubungan antara terapi murottal dengan kualitas nyeri muskuloskeletal pada mahasiswa FK UPN angkatan 2016 (p=0,000). Manajemen penanganan nyeri dengan terapi yang mudah dan murah diperlukan seperti pemberian terapi murottal selama 15 menit. Kata Kunci: Gangguan Muskuloskeletal, Nyeri, Terapi Murottal
WANITA MULTIGRAVIDA USIA KEHAMILAN 37 MINGGU DENGAN PENYAKIT PENYERTA HIV DAN KANKER SERVIKS Panjaitan, Andre Parmonangan
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2019): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.659 KB) | DOI: 10.32734/scripta.v1i`1.1212

Abstract

ABSTRAK   Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada sel-sel dileher rahim. Seorang ibu usia 32 tahun datang dengan keluhan perut keram dengan nyeri menjalar ke pinggang, sering keluar darah dari kemaluan sejak usia kehamilan 5 bulan. Pada awalnya pasien mengalami keputihan dengan berbau amis yang sering setiap harinya. Pasien memilki riwayat penyakit penyerta berupa HIV dan kanker serviks. Ini adalah kehamilan ketiga bagi pasien. Pada pemeriksaan obstetri, tinggi fundus uteri adalah 32 cm, uterus tidak ada kontraksi, denyut jantung janin 140 x/menit dan 128 x/menit serta pada inspekulo didapatkan portio tidak rata atau bernodul-nodul, Ostium Uteri Eksterna (OUE)  tertutup, fluor -, fluksus + dengan darah tak aktif. Erosi, polip, dan laserasi juga tidak ada dijumpai. Diagnosa pasien adalah multigravida hamil 37 minggu belum inpartu dengan HIV dan kanker serviks stadium IA janin tunggal hidup presentasi kepala. Penatalaksanaan pada pasien dengan observasi tanda vital ibu, kontraksi uterus, dan denyut jantung janin, cek darah lengkap, diinfus dengan cairan ringer laktat 20tetes/menit, Transfusi PRC 2 kantong (250mL) dan rencana terminasi per-abdominam. HIV mengawali adanya lesi prakanker hingga adanya kanker yang disebabkan adanya penurunan imun pada HIV sehingga memudahkan HPV menyerang pasien dengan HIV. Terapi surgikal lebih dianjurkan dibandingkan  dengan terapi ablatif pada penanganan lesi prakanker serviks dengan infeksi HIV. Kata Kunci: Ca Serviks, HIV, Kehamilan   ABSTRACT   Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus who attacks white blood cells in the body (lymphocytes) which results in a decrease of immunity in human body. Cervical cancer is a cancer that appears in cells of the uterus neck. A 32-year-old mother presents with complaints of stomach cramps with pain radiating to the waist, often bleeding from the genitals from 5 months of pregnancy. At first the patient experiences vaginal discharge with frequent fishy odor every day. This patient has the history of HIV and cervical cancer. This is the third preganancy of the patient. On obstetric examination, the uterine fundus height is 32 cm, the uterus has no contractions, the fetal heart rate is 140 x / minute and 128 x / minute and inspeculo has a knurl, closed External Ostium of Uterus (EOU), fluorine, fluxus. + with blood inactive and there is no polyps, erotion, or laceration to be found. Patients diagnosed with 37 weeks of  pregnancy in unborn with HIV and stage IA cervical cancer single fetus live head presentation. Management of the patient with observation of the mother's vital signs, uterus contraction, fetal heart rate, laboratory check complete blood, infused with ringer lactate 20drop/minute, 2 bag PRC (250Ml) transfusion and plans for abdominal elimination (per-abdominam). HIV initiates precancerous lesions until cancer is caused by an immune decline in HIV that makes it easier for HPV to attack patients with HIV. Surgical therapy is more recommended than ablative therapy in the treatment of cervical precancerous lesions with HIV infection. Keywords: Cervical Ca, HIV, Pregnancy
HUBUNGAN ALEXITHYMIA DENGAN KECANDUAN MEDIA SOSIAL PADA REMAJA DI JAKARTA SELATAN Yunita Mansyah Lestari; Suzy Yusna Dewi; Aulia Chairani
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.215 KB) | DOI: 10.32734/scripta.v1i2.1229

Abstract

ABSTRAK   Alexithymia ditandai dengan ketidakmampuan dalam mengenali dan mengekpresikan emosi serta pemikiran yang berorientasi eksternal sehingga mereka memiliki hubungan interpersonal yang buruk. Remaja dengan alexithymia cenderung menjadi kecanduan media sosial.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Alexithymia terhadap kecanduan media sosial pada remaja di Jakarta Selatan. Subjek penelitian adalah remaja yang berusia 13-19 tahun dan tinggal di Jakarta selatan. Pengambilan data menggunakan metode consecutive sampling dan snowball sampling dengan menyebar kuesioner menggunakan link googleform. Jumlah subjek penelitian sebanyak 207 orang (41 = laki-laki, 166 = perempuan). Skala yang digunakan adalah Toronto Alexithymia Scale (TAS-20) dan Social Media Disorder (SMD). Analisa data menggunakan metode chi-square pada SPSS 25. Hasil penelitian didapatkan 85 orang mengalami alexithymia, 88 mengalami kecanduan dan 62 orang mengalami alexithymia dan kecanduan media sosial. p-value didapatkan 0,000. Hal ini berarti terdapat hubungan antara Alexithymia dengan Kecanduan Media Sosial pada remaja di Jakarta Selatan. Kata Kunci :Alexithymia, Kecanduan Media Sosial, Remaja     ABSTRACT   Alexithymia is characterized by an inability to recognize and express emotions and have external oriented thoughts so that they have poor interpersonal relationships. Teenagers with alexithymial tend to become addicted to social media. This study aims to determine the relationship between Alexithymia towards social media addiction in adolescents in South Jakarta. The research subjects were adolescents aged 13-19 years and lived in south Jakarta. Retrieval of the data was using consecutive sampling and snowball sampling method by distributing questionnaires using the googleform link. The number of research subjects was 207 people (41 = men, 166 = women). The scale was used is the Toronto Alexithymia Scale (TAS-20) and Social Media Disorder (SMD). Data analysis using the chi-square method in SPSS 25. The results showed that 85 people had alexithymia, 88 were addicted and 62 people had alexithymia and were addicted to social media. p-value obtained is 0,000. This means that there is a relationship between Alexithymia and Social Media Addiction in adolescents in South Jakarta. Keyword : Adolescents, Alexithymia, Social Media Addiction
NOVEL ORAL ANTI COAGULANTS (NOACS) AS ANTI THROMBOTIC ON ATRIAL FIBRILLATION PATIENTS Sebayang, Abed Nego Okthara
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.198 KB) | DOI: 10.32734/scripta.v1i2.1232

Abstract

ABSTRACT Atrial Fibrillation (AF) is an arrhythmia characterized by disorganization of atrial depolarization resulting in the impaired mechanical function of the atrium. Management of AF aims to prevent complications of ischemic stroke and systemic embolism, carried out by the administration of anticoagulant, warfarin, but warfarin has many side effects. New Oral Anticoagulants (NOAC) can be used as alternatives in preventing complications of AF.New anticoagulants such as dabigatran, rivaroxaban, and apixaban have better effects than other anticoagulants such as warfarin and have major side effects of bleeding and minimal relevant bleeding. Based on a national survey in Denmark to see a balance between stroke and intracranial bleeding, CHA2DS2-VASc 1 scores were only apixaban and both dabigatran doses (110 mg bid and 150 mg bid) which provided better clinical benefits than warfarin, but if the CHA2DS2- score VASc ?2 of all NOACs is superior to warfarin. Atrial fibrillation can cause ischemic stroke and systemic embolism. New Oral Anticoagulant (NOACs) can be used as a solution to prevent complications from AF with minimal side effects. It is expected that the presence of new anticoagulants can reduce the rate of ischemic stroke and ischemic embolism due to AF with minimal side effects of bleeding and other side effects. Keywords: Anticoagulant,  Atrial Fibrillation, NOAC, Warfarin   ABSTRAK Atrial Fibrilasi (AF) adalah suatu aritmia yang ditandai dengan disorganisasi dari depolarisasi atrium sehingga berakibat pada gangguan fungsi mekanik atrium. Penatalaksanaan AF bertujuan mencegah komplikasiyakni stroke iskemik dan emboli sistemik, dilakukan dengan cara pemberian anti-koagulan yakni warfarin. Pemberian warfarin  memiliki banyak efek samping.  Novel Oral Anti Coagulants (NOAC) dapat dijadikan alternatif  dalam mencegah komplikasi AF. Anti-koagulan baru seperti dabigatran, rivaroxaban dan apixaban memiliki efektifitas yang lebih baik daripada anti-koagulan lainnya seperti warfarin dan memiliki efek samping perdarahan mayor dan perdarahan relevan yang minimal. Berdasarkan survei nasional di Denmark untuk melihat keseimbangan antara stroke dan perdarahan intra-kranial didapatkan bila skor Congestive heart failure, Hypertension, Age ?75 years (skor 2), Diabetes mellitus, Stroke history (skor 2), peripheral Vascular disease, Age between 65 to 74 years, Sex Category (female) dan ?C? adalah adanya disfungsi ventrikel kiri sedang hingga berat (Left Ventricular Ejection Fraction/LVEF ? 40%)  CHA2DS2-VASc  1 hanya apixaban dan kedua dosis dabigatran (110 mg b.i.ddan 150 mg b.i.d) yang memberikan manfaat klinis yang lebih baik daripada warfarin, tetapi apabila skor CHA2DS2-VASc ?2 seluruh NOAC lebih superior dibanding warfarin.AF dapat menyebabkan stroke iskemik dan emboli sistemik.NOAC dapat dijadikan solusi untuk mencegah komplikasi dari AF dengan efek samping yang minimal. Diharapkan dengan hadirnya anti-koagulan baru dapat menurunkan angka stroke iskemik dan emboli iskemik akibat AF dengan efek samping perdarahan dan efek samping lainnya yang minimal. Kata Kunci: Antikoagulan, Atrial Fibrilasi, NOAC, Warfarin
POTENSI KOMBINASI BAKTERI PROBIOTIK LACTOBACILLUS REUTERI DENGAN SARI BUAH KURMA (PHOENIX DACTYLIFERA) SEBAGAI TERAPI PENYAKIT KANKER KOLOREKTAL Muhammad Luthfi Adnan
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2020): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1196.56 KB) | DOI: 10.32734/scripta.v1i2.1233

Abstract

ABSTRAK   Kanker kolorektal merupakan salah satu penyakit keganasan yang paling umum di dunia saat ini. Kanker kolorektal merupakan kasus keganasan paling umum ketiga setelah kanker paru-paru dan payudara serta penyebab kematian paling banyak keempat di dunia. Mwskipun penyebab kanker kolorektal belum diktehaui, namun beberapa faktor risiko seperti faktor familial dapat meningkat risiko terkena kanker kolorektal. Penatalaksaan kanker kolorektal sampai saat ini berupa kemoterapi, radioterapi dan terapi bedah. Pemilihan dari terapi tersebut berdasarkan penilaian kolonoskopi, pemeriksaan radiologi barium dengan teknik kontras ganda, CT colonography dan evaluasi histologi. Studi literatur yang dilakukan menunjukkan adanya ekspresi berlebihan dari reseptor histamin dan adanya defisiensi histamin yang memengaruhi terjadinya kanker kolorektal. Bakteri probiotik Lactobacillus reuteri memiliki efek anti kanker dengan memproduksi histamin yang tidak dapat diproduksi sel kanker, sehingga berperan sebagai antiinflamasi. Buah kurma (Phoenix dactylifera) untuk mendukung aktifitas bakteri probiotik dan memiliki efek anti kanker dalam kandungan buah kurma. Penggunaan bakteri probiotik Lactobacillus reuteri dengan sari buah kurma memiliki efek anti kanker kolorektal sehingga berpotensi sebagai terapi dalam pengobatan kanker kolorektal. Kata Kunci: Buah Kurma, Kanker Kolorektal, Lactobacillus reuteri, Probiotik, Terapi     ABSTRACT   Colorectal cancer is one of the most common malignancies in the world today. Colorectal cancer is the most common malignancy case after lung cancer and cancer as well as the biggest cause of death in the world. Although the cause of colorectal cancer has not been recognized, some risk factors such as family factors can increase the risk of colorectal cancer. Management of colorectal cancer to date is chemotherapy, radiotherapy and surgical therapy. Selection of colonoscopy, barium radiological examination with multiple contrast techniques, CT colonography and histological evaluation. The literature study conducted shows that there are excessive differences in histamine receptors and the presence of histamine deficiencies that affect the increase in colorectal cancer. The probiotic bacteria Lactobacillus reuteri has an anti-cancer effect by producing histamine which cannot be produced by cancer cells, so it works as an anti-inflammatory. Dates (Phoenix dactylifera) to support the activity of probiotic bacteria and have an anti-cancer effect in the content of dates. The use of probiotic bacteria Lactobacillus reuteri with date palm juice has an anti-colorectal cancer effect that is needed as a therapy in the treatment of colorectal cancer. Keywords: Date Fruit, Colorectal Cancer, Lactobacillus reuteri, Probiotics, Therapy