cover
Contact Name
Ahmad Syamsuddin
Contact Email
syamsuddin.iyf@gmail.com
Phone
+6281290969387
Journal Mail Official
bimasislam.ejournal@gmail.com
Editorial Address
Kantor Kementerian Agama, JL. MH. Thamrin No.6 Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Bimas Islam
ISSN : 19789009     EISSN : 26571188     DOI : https://doi.org/10.37302/jbi
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Bimas Islam adalah terbitan berkala ilmiah yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Terbit pertama kali pada tahun 2008 dalam bentuk cetak hingga tahun 2018 dan ditingkatkan menjadi Jurnal Elektronik (OJS) pada tahun 2019. Mendapat akreditasi dari LIPI pada tahun 2016. Jurnal ini memuat Ringkasan Hasil Penelitian, Tinjauan Teori, Artikel Ilmiah yang dikemas secara sistematis dan kritis di bidang Bimbingan Masyarakat Islam secara luas.
Articles 122 Documents
PERAN PENYULUH AGAMA ISLAM DALAM MEREDUKSI KONFLIK DAN MENGINTEGRASIKAN MASYARAKAT (STUDI KASUS KONFLIK PELAKSANAAN SHALAT TARAWIHDI KECAMATAN BANDAR DUA KABUPATEN PIDIE JAYA) Mukhlisuddin, Mukhlisuddin
Jurnal Bimas Islam Vol 9 No 1 (2016): Jurnal Bimas Islam
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.982 KB)

Abstract

Abstraksi Penyuluh agama Islam Kecamatan Bandar Dua menyikapi konflik pelaksanaan shalat tarawih dengan berbagai upaya. Penyuluh agama Islam fungsional dan honorer bertindak sebagai sebagai fasilitator dan bersikap netral dalam menghadapi perbedaan yang mengarah kepada konflik horizontal yang lebih besar.Dialog menjadi media yang dikembangkan dengan melibatkan sebanyak mungkin pihak ataupun tokoh agama. Melalui dialog, beberapa pemahaman yang sebelumnya tampak bertentangan, dapat bersanding secara damai dan tidak memunculkan konflik.   Abstract Religious Conselour of Islam of Bandar Dua Sub-district addressing conflict in the implementation of tarawih prayers with various efforts. Religious Counselor of Islam and officer act as a facilitator and to be neutral in facing differences that leads to greater horizontal conflicts. Dialogue becomes developed media by involving as many parties or religious figures. Through dialogue, some understandings that previously seemed contradictory, can be coupled with peacefully and without conflict.
DAKWAH BERBASIS PEDULI LINGKUNGAN (PENDAMPINGAN ROHANI DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT PADA KOMUNITAS PEDULI LINGKUNGAN “PUCANG RAHAYU” DESA PUCANGANOM, SRUMBUNG, MAGELANG, JAWA TENGAH) Herawati, Azizah; Mukarromah, Zainatul
Jurnal Bimas Islam Vol 9 No 1 (2016): Jurnal Bimas Islam
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.264 KB)

Abstract

Abstraksi Dakwah Islam tidak selalu identik dengan kegiatan keagamaan berbasis masjid atau mushalla. Dakwah Islam kini telah mengambil peran yang lebih luas dengan beragam kegiatan sosial kemasyarakatan. Penyuluh Agama Islam (PAI) yang memiliki tugas dan fungsi melakukan pembinaan keagamaan, juga telah bertransformasi menjadi penggerak perubahan, tidak hanya mengurus masjid dan mushalla. Green dakwah yang dikembangkan Penyuluh Agama Islam di Desa Pucanganom ini menegaskan bahwa dakwah Islam juga dapat menggerakkan pelestarian alam. Dakwah Islam tidak selalu identik dengan kegiatan keagamaan berbasis masjid atau mushalla. Dakwah Islam kini telah mengambil peran yang lebih luas dengan beragam kegiatan sosial kemasyarakatan. Penyuluh Agama Islam (PAI) yang memiliki tugas dan fungsi melakukan pembinaan keagamaan, juga telah bertransformasi menjadi penggerak perubahan, tidak hanya mengurus masjid dan mushalla. Green dakwah yang dikembangkan Penyuluh Agama Islam di Desa Pucanganom ini menegaskan bahwa dakwah Islam juga dapat menggerakkan pelestarian alam.   Abstract Islamic mission is not always identically with religious activities based on mosques or prayer rooms. Islamic mission now has taken the wider role with various social activities. Religious counselor of Islam (PAI) has a duty and function of religious development, has also been transformed into an agent of change, not only taking care of mosques and prayer rooms. Green missiondeveloped byReligious counselor of Islam in Pucanganom Village confirmed that the mission of Islam is also can drive nature conservation. Islamic mission is not always identically with religious activities based on mosques or prayer rooms. Islamic mission now has taken the wider role with various social activities. Religious counselor of Islam (PAI) has a duty and function of religious development, has also been transformed into an agent of change, not only taking care of mosques and prayer rooms. Green missiondeveloped byReligious counselor of Islam in Pucanganom Village confirmed that the mission of Islam is also can drive nature conservation.
JURNAL BIMAS ISLAM Marzuki, Angga
Jurnal Bimas Islam Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5972.174 KB) | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.129

Abstract

Pada tahun 2019, Jurnal Bimas Islam (JBI) telah terbit secara daring (online) dengan menggunakan aplikasi Open Journal System (OJS) dan dalam bentuk hard copy (cetakan). Penerbitan artikel dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Hal ini merupakan komitmen dari seluruh anggota tim redaktur JBI yang telah bekerja secara optimal. Diharapkan seluruh artikel yang termuat dalam JBI memberi manfaat yang luas terutama bagi para peneliti, akademisi, pelaku dakwah dan ketersediaan bahan dakwah bagi penyuluh agama Islam serta para penghulu di seluruh Indonesia. Penerbitan Jurnal Bimas Islam tahun ini telah memasuki tahun ke 12. Pada tahun 2016 JBI telah mendapatkan sertifikat akreditasi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Tantangan ke depan adalah bagaimana JBI terus memberi kontribusi terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan melalui penerbitan yang dilakukan secara konsisten dan tepat waktu. Seluruh tim juga memilki tanggungjawab untuk meningkatkan mutu dan kualitas JBI. Pada tahun 2020, JBI telah membuat schedule untuk mengajukan Akreditasi Jurnal Nasional (Arjuna) pada Kementerian Ristek RI. Pada penerbitan Vol. 12 Nomor 2 Tahun 2019 JBI telah memuat 7 artikel. Artikel tersebut telah lulus seleksi berdasarkan catatan para editor dan peer-review dari para mitra bestari/reviewer.
PENGANTAR DAN COVER JURNAL BIMAS ISLAM Marzuki, Angga
Jurnal Bimas Islam Vol 12 No 1 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6069.936 KB) | DOI: 10.37302/jbi.v12i1.125

Abstract

Pada tahun 2019, Jurnal Bimas Islam (JBI) telah terbit secara daring (online) dengan menggunakan aplikasi Open Journal System (OJS) dan dalam bentuk hard copy (cetakan). Penerbitan artikel dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Hal ini merupakan komitmen dari seluruh anggota tim redaktur JBI yang telah bekerja secara optimal. Diharapkan seluruh artikel yang termuat dalam JBI memberi manfaat yang luas terutama bagi para peneliti, akademisi, pelaku dakwah dan ketersediaan bahan dakwah bagi penyuluh agama Islam serta para penghulu di seluruh Indonesia. Penerbitan Jurnal Bimas Islam tahun ini telah memasuki tahun ke 12. Pada tahun 2016 JBI telah mendapatkan sertifikat akreditasi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Tantangan ke depan adalah bagaimana JBI terus memberi kontribusi terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan melalui penerbitan yang dilakukan secara konsisten dan tepat waktu. Seluruh tim juga memilki tanggungjawab untuk meningkatkan mutu dan kualitas JBI. Pada tahun 2020, JBI telah membuat schedule untuk mengajukan Akreditasi Jurnal Nasional (Arjuna) pada Kementerian Ristek RI. Pada penerbitan Vol. 12 Nomor 1 Tahun 2019 JBI telah memuat 7 artikel. Artikel tersebut telah lulus seleksi berdasarkan catatan para editor dan peer-review dari para mitra bestari/reviewer.
LITERASI MEDIA SOSIAL DALAM PEMASYARAKATAN SIKAP MODERASI BERAGAMA kosasih, engkos
Jurnal Bimas Islam Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.139 KB) | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.118

Abstract

Media sosial saat ini berhasil membentuk kekuatan besar dalam membentuk perilaku manusia dalam kehidupan modern yang dinamis ini. Belakangan ini, media sosial merupakan fenomena baru yang sangat digandrungi masyarakat modern tanpa mengenal usia dan afiliasi sosial apapun. Alih-alih menggunakan untuk hiburan semata, tapi menjadi bumerang bagi diri sendiri. Masyarakat perlu mengetahui dibalik kebebasan media sebagai alat ekspresi diri dalam berpendapat, tetap ada berbagai ranah aturan serta etika yang harus dipenuhi. Dengan demikian pengguna medsos harus bersikap adil (tidak berlebihan) dalam menyikapi berbagai hal yang didapatkan, jangan sampai sikap keberpihakan terhadap sesuatu membuat kita terjebak dalam lubang kemadharatan dari medsos. Hadirnya tulisan ini diharapkan ada sikap yang berbeda dari para pengguna medsos, yaitu berfikir dan bersikap moderat terhadap hal-hal yang beredar di medsos, terutama moderat dalam hal beragama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang mana data yang dibutuhkan hanya sebatas dokumen-dokumen yang dianalisis sesuai dengan kebutuhan penelitian. Hasil dari penelitian ini bahwa bagaimana caranya seseorang sebagai pengguna medsos harus bisa menerapkan sikap wasaty atau adil dalam mengambil segala yang ada di dalamnya. Masyarakat (user medsos) harus bisa memilah dan memilih apa yang seharusnya diterima dan apa yang seharusnya ditolak.  Hal ini terlebih terhadap hal-hal yang berbau dengan masalah agama, seperti berbagai doktrin jelek yang tersebar melalui medsos. Dengan demikian, masyarakat harus bisa menyaring berbagai informasi yang masuk dan harus bersikap moderat terlebih dahulu terhadap berbagai informasi tersebut, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk mengambil sikap. Kata Kunci: Literasi, Moderasi, Media Sosial.   Abstract Social media is currently successfully forming a great force in shaping human behavior in this dynamic modern life. Lately, social media is a new phenomenon that is loved by modern society without knowing any age and social affiliation. Instead of using it for entertainment, but backfire for yourself. Society needs to know behind the freedom of the media as a means of self-expression in opinion, there are still various domains of rules and ethics that must be met. Thus the user of social media must be fair (not excessive) in responding to various things that are obtained, do not let the attitude of partiality towards something makes us trapped in the pit of harm from the social media. The presence of this article is expected to have a different attitude from the users of social media, which is to think and be moderate about things that are circulating in the social media, especially moderate in matters of religion. This study uses qualitative methods, where the data needed is only limited to the documents analyzed in accordance with research needs. The results of this study that how a person as a social media user must be able to apply a attitude of fairness or fairness in taking everything in it. Society (user social media) must be able to sort out and choose what should be accepted and what should be rejected. This is especially true of matters related to religious matters, such as various bad doctrines spread through social media. Thus, the community must be able to filter the various information that comes in and must be moderate to the various information before finally deciding to take a stand. Keywords: Literacy, Moderation, Social Media
DITA MILENIAL DALAM MODERASI PENINGKATAN PELAYANAN PENGHULU (STUDI KASUS DI KUA PARINDU) Hasbi, Muhammad
Jurnal Bimas Islam Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.707 KB) | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.117

Abstract

Artikel ini didasarkan pada penelitian di KUA Parindu pada awal tahun 2019 dan dilakukan untuk mengatasi beberapa masalah terkait tingginya jumlah pasangan menikah yang kurang iman (79%), mualaf (26%) dan jumlah penduduk Muslim yang minoritas (16,24%). Sebagai garda terdepan Kementerian Agama, penghulu Parindu melakukan tindakan prefentif untuk mencegah perceraian, aksi radikal dan ekstrem yang bisa muncul dengan mudah di wilayah ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dan menghasilkan penggunaan Dita Milenial. Istilah ini merupakan kepanjangan dari kata-kata ?digital?, ?tatap muka? dan milenial. Strategi ini berdasar pada Al-Quran (Surah Ibrahim: 4) dan berdasar pada pemikiran, pertimbangan mendalam sehubungan dengan karakteristik generasi milenial dan kondisi zaman menghadapi era 4.0. Pada prakteknya, pemanfaatan digital dan tatap muka inovatif ini harus dilakukan bersama, kemudian peningkatan secara fisik menggunakan konsep ramah lingkungan harus direalisasikan di kantor. Kesemua hal yang dilakukan tersebut pada akhirnya menunjukkan moderasi dalam Islam. Kata Kunci: Dita Milenial; KUA Parindu, Penghulu, Layanan.   Abstract This article is based on a research conducted at KUA Parindu in early 2019 and originally to overcome several problems related to the high number of married couples lacking in faith (79%), converts (26%), and the number of minority Muslims (16,24%). As the vanguard of Religion Ministry, the headman took a preventive measure to prevent divorce, extreme and radical actions that easily emerged in this area. This study used a qualitative-descriptive approach and resulted in the use of Dita Millennial. This term is an extention of words ?digital?, ?face to face? and millennial. This strategy is based on Quran (Surah Ibrahim: 4), deep thought and consideration related to the characteristics of millennial generation and the conditions which facing the 4.0 era. Practically, digital usages and innovative face-to-face meetings must be done together, then physical improvement using green concept must be realized in the office. Those ultimately shows moderation in Islam. Keywords: Dita Milenial; KUA Parindu; Headman Service Improvement.
CORAK MODERASI BERAGAMA KELUARGA MUALAF TIONGHOA (STUDI KASUS JAMAAH MASJID LAUTZE JAKARTA PUSAT) Gufron, Uup
Jurnal Bimas Islam Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.293 KB) | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.115

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui corak pemahaman moderasi beragama keluarga mualaf Tionghoa yang berada dalam binaan Masjid Lautze Pasar Baru Jakarta Pusat. Mayoritas mualaf binaan Masjid Lautze adalah dari kalangan etnis Tionghoa. Hal ini menjawab pertanyaan bagaimanakah corak yang menjadi kekhasan dalam moderasi beragama yang dijalani para mualaf etnis Tionghoa. Penelitian ini termasuk kualitatif deskriptif dengan melakukan wawancara langsung dengan responden yang relevan dan olah data. Berdasarkan data temuan, latar belakang para mualaf Tionghoa menjadi muslim dilatarbelakangi oleh tiga faktor, yakni (1) faktor spiritualitas; (2) faktor rasionalitas; dari (3) faktor identitas. Faktor spiritualitas lebih dominan dibanding faktor lain, sehingga pemahaman moderasinya lebih mengedepankan perasaan kasih sayang, kelembutan hati, cinta-kasih, dan saling menghormati. Corak moderasi yang dimiliki para mualaf binaan Masjid Lautze dipengaruhi oleh sosok tokoh muslim etnis Tionghoa bernama Haji Karim Oei, yang merupakan tokoh Muhammadiyah yang memiliki pemahaman yang modernis (tajd?di), pembauran (ist??ab), dan moderat (taw?suth), bersikap toleran (tasamuh); dan tidak ekstrim (tatharruf). Kata Kunci: moderasi; mualaf; Tionghoa; keluarga; Lautze Abstract This article aims to find out the religious moderation characteristics in Chinese Muslim Families who are under the auspices of the Masjid Lautze Pasar Baru, Central Jakarta. The majority of Mualaf guided by the Lautze Mosque are from the ethnic Chinese. This article answers the question of how the characteristic which become the uniqueness in religious moderation experienced by Chinese Mualaf. This study included descriptive qualitative by conducting direct interviews with relevant respondents and data processing. Based on data, the background of Chinese Mualaf to become Muslim is motivated by three factors, namely (1) the spirituality factor; (2) the rationality factor; from (3) identity factor. The spirituality factor is more dominant than other factors, so that the moderation understanding puts forward affection feeling, gentleness, love and mutual respect. The characteristic moderation of the Mualaf guided by the Lautze Mosque is influenced by the ethnic Chinese Muslim figure named Haji Karim Oei, who is a Muhammadiyah figure and a modernist (tajd?di), assimilation (ist??ab) and moderate (taw?suth), tolerant (tasamuh); and not extremist (tatharruf). Keywords: moderation; mualaf; China; family; Lautze
MODERASI LAYANAN NIKAH DI KUA KECAMATAN KUMUN DEBAI Hidayat, Natardi
Jurnal Bimas Islam Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.093 KB) | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.114

Abstract

Permasalahan yang disorot adalah peran Penghulu mewujudkan moderasi untuk kebersamaan umat guna meningkatkan layanan nikah di KUA Kec. Kumun Debai. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui peran Penghulu mewujudkan moderasi untuk kebersamaan umat guna meningkatkan layanan nikah di KUA Kec. Kumun Debai. Sedangkan kegunaam penelitian ini adalah untuk memberikan masukan kepada peagawai KUA Kecamatan tentang cara mewujudkan moderasi untuk kebersamaan umat guna untuk meningkatkan layanan nikah. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). Penelitian ini bersifat deskriptif eksplorartif (menggali). Fokus penelitian ini adalah berusaha untuk mendeskripsikan, membahas dan menggali gagasan pokok, yaitu moderasi layanan nikah. Sehingga diharapkan terwujudnya layanan nikah yang berorientasi pada moderasi untuk kebersamaan umat yang didukung oleh regulasi yang kuat, fasilitas yang memadai, pemahaman masyarakat yang tinggi, kerjasama lintas sekotral yang baik, kemampuan Penghulu yang mumpuni dan adanya pemberdayaan Penghulu yang kontinyu. Kata Kunci: Peran Penghulu, Moderasi, Layanan Nikah   Abstract The highligted problem is how role of mariagge registrar attedants embodies moderation for ummah togetherness to improve marital services at Religius Affairs Office of Kumun Debai subdistrict. The purpose of the research is to find out the role of the mariagge registrar attendant i n creating moderation for ummah togetherness in order to improve marital services. This is a field research that is conducted by using qualitative explorative approach. The focus of the research is to describle, discuss and explore the main idea, namely the mederation of marital services. This is a field research that is conducted by using qualitative explorative apporach. The focus of research is to describe. Discuss and explore the main  idea, namely the moderation of marital services. So that the realization of a marriage service orinted to moderation for ummah togetherness must be suported by a strong regulation, adequate facilities, high community understanding, good cross-sectoral cooperation, qualified marriage registrar attendant and the continuous empowerment and upgrading of the marriage registrar attendant. Keywords: The Role of the Marriage Registrar, Moderation, Marriage Services
AKTUALISASI MODERASI BERAGAMA DI LEMBAGA PENDIDIKAN Sutrisno, Edy
Jurnal Bimas Islam Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.293 KB) | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.113

Abstract

Indonesia adalah negara majemuk yang terdiri dari suku, ras dan agama, yang berbeda-beda sehingga diperlukan toleransi dalam memahami semua perbedaan yang ada, begitu juga pada lembaga pendidikan kultur warganya juga beraneka ragam. Oleh sebab itu moderasi beragama sangat tepat sekali diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama pada masyarakat yang multikultural. Moderasi beragama sebagai jalan tengah dalam mengadapi perbedaan baik kelompok ekstrem maupun fundamental. Untuk menerapkan moderasi beragama dimasyarakat multikultural yang perlu dilakukan adalah; menjadikan lembaga pendidikan sebagai basis laboratorium moderasi beragama dan melakukan pendekatan sosio-religius dalam beragama dan bernegara Kata Kunci: Moderasi Agama, Institusi, Pendidikan   Indonesia is a pluralistic country consisting of different ethnicities, races and religions, so tolerance is needed in understanding all the differences that exist, as well as the cultural education institutions of its citizens are also diverse. Therefore religious moderation is very appropriate to be applied in national and state life, especially in multicultural societies, it is also expected that religious moderation is a middle way in dealing with differences in both extremes and fundamental groups. To implement religious moderation in multicultural societies, what needs to be done is; make educational institutions as a basis for religious moderation laboratories and take socio-religious approaches in religion and state. Keywords: The Religion Moderation, Education Institution
ONE DAY SERVICE DALAM ISBAT NIKAH TERPADU BAGI PENDUDUK MARJINAL DI KECAMATAN PALIYAN TAHUN 2015 - 2019 Mustamil, Sabit Mustamil
Jurnal Bimas Islam Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.128 KB) | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.111

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan pernikahan tidak tercatat, peran penghulu dalam menyelesaikan pernikahan yang tidak tercatat, dan solusi hukum atas pernikahan yang tidak tercatat di sebagian masyarakat Kecamatan Paliyan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penggalian data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi dan observasi di  desa yang menjadi tempat pelaksanaan one day service dalam isbat nikah terpadu bagi penduduk marjinal di Kecamatan Paliyan. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah pegawai KUA, PA, Dukcapil, Kasi Pelayanan Desa, Pendamping Keluarga Harapan (PKH), dan Dukuh  serta peserta one day service dalam isbat nikah bagi pennduduk marjinal di Kecamatan Paliyan. Hasil  penelitian menunjukkan  bahwa  belo nikah, kerubuhan gunung, lokasi yang jauh dan berbukit, kesadaran masyarakat rendah dan kurangnya pengawasan merupakan faktor-faktor yang menyebabkan pernikahan tidak tercatat. Kata kunci: pernikahan, isbat nikah, dan one day service   Abstrct This study aims to describe the factors that cause unregistered marriages, the role of princes in completing unregistered marriages, and legal solutions to unregistered marriages in some communities in the Paliyan District. The research method used is descriptive qualitative. Data mining was carried out by interviewing, documenting and observing in the village where one day service was carried out in an integrated marriage for marginal residents in the Paliyan District. As for the informants in this study were employees of KUA, PA, Dukcapil, Head of Village Services, Hope Family Assistance (PKH), and Hamlet as well as one day service participants in marriage isbat for marginalized residents in Paliyan District. The results showed that marriage belo, mountain collapse, distant and hilly locations, low public awareness and lack of supervision are factors that cause unregistered marriages. Keywords: marriage, marriage determination, and one day service

Page 1 of 13 | Total Record : 122