cover
Contact Name
Samgar Setia Budhi
Contact Email
samgarbudhi@sttkalimantan.ac.id
Phone
+6281349436165
Journal Mail Official
huperetes@sttkalimantan.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan Jalan Gajah Mada No. 50 Pontianak, Kalimantan Barat
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27164314     EISSN : 27160688     DOI : https://doi.org/10.46817/huperetes
Core Subject : Religion, Education,
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian dalam bidang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan lingkup kajian meliputi: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Misiologi 5. Pendidikan Agama Kristen HUPERETES menerima artikel dari para akademisi, praktisi teologi, dan pendidik Kristen yang ahli di bidangnya.
Articles 12 Documents
EKSEGESIS MAZMUR 73: PERGUMULAN ORANG BENAR TENTANG KEMAKMURAN ORANG FASIK Budhi, Samgar Setia
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.899 KB) | DOI: 10.46817/huperetes.v1i1.14

Abstract

The suffering of godly men and the prosperity of the wicked often become the struggle for faithful men. This issue has been around for all ages, from the biblical times until today. This struggle could have implications for the faith of the believers within one?s life. Therefore the sound understanding of God and His will through the scripture is needed. Psalm 73 is one of the Bible texts that is talking about this important issue. Through a pure biblical qualitative study with literal-grammatical-historical-contextual interpretation and exegesis theory approach, and also considering the literature style of the Psalm it is found that the base of the struggle from the existence of prosperity among the wicked is the problem from the heart. An envious heart toward the wealthiness of the wicked often moved the faith of the godly men about the kindness of the Lord. But when believers have an intimate relationship with the Lord, then new perspectives will be opened by God concerning the struggle. God is sovereign towards men?s life. The end of the wicked lives has been determined. On the contrary, for those who live in faith, the presence of God is the highest goodness because the life of a believer along with the Lord with him will always be under His nurture.Penderitaan orang benar dan kemakmuran orang fasik seringkali menjadi pergumulan bagi orang yang beriman. Isu ini sesungguhnya ada sepanjang zaman yaitu sejak zaman Alkitab hingga masa kini. Pergumulan ini dapat berimplikasi kepada iman orang percaya di tengah kehidupannya. Oleh sebab itu diperlukan pemahaman yang benar tentang Allah dan kehendak-Nya melalui kebenaran firman-Nya. Mazmur 73 adalah salah satu teks Alkitab yang membicarakan tentang isu penting ini. Melalui studi kualitatif kajian biblika murni dengan pendekatan teori tafsir literal-gramatikal-historikal-kontekstual dan eksegesis, serta dengan mempertimbangkan bentuk sastra dari Mazmur didapatkan pemahaman bahwa masalah hati merupakan dasar dari munculnya pergumulan tentang kemakmuran orang fasik. Hati yang cemburu terhadap kemakmuran orang fasik seringkali menggoyahkan keyakinan orang beriman akan kebaikan Allah. Tetapi ketika orang beriman memiliki persekutuan yang intim dengan Allah, maka ada perspektif baru yang akan dibukakan oleh Allah tentang pergumulannya. Sesungguhnya Allah berdaulat atas hidup manusia. Akhir hidup orang fasik sudah ditentukan. Tetapi bagi orang beriman, penyertaan Tuhan adalah kebaikan yang tertinggi karena dengan penyertaan Tuhan hidup orang beriman akan selalu dalam pemeliharaan-Nya.
CRITICAL REVIEW OF HARUN HADIWIJONO'S CONCEPT OF SEKUTU IN IMAN KRISTEN Adi, Bima
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.335 KB) | DOI: 10.46817/huperetes.v1i2.17

Abstract

Harun Hadiwijono?s Iman Kristen describes God as the sekutu (ally) of man, and man as the sekutu (ally) of God. In Harun?s claim, he formulated his book in popular form, unlike other dogmatics writings, considering an extended readership beyond Christians. By the time the readers read the book, he said, they will find out that it has its own place among those preceding books. Whether it is good or not, it is up to those who will judge it. Those words from Harun provide the impetus for this study. Indeed, Iman Kristen is a tremendous writing on systematic theology. However, for me, Iman Kristen is not a contextual systematic theology opus. It is, more or less, a ?product? that indicates the influence of colonial mentality and the narrowness of the theology of the missionaries? vision in the past. In my conclusion, Harun was not aware of the danger of depicting the relation between God and humankind, and vice versa with the term sekutu. In short, it is indeed original and unique, yet brings many problems which are not even being realized by Christians in Indonesia.
STUDI KRITIK TEORI PENCIPTAAN DALAM KEJADIAN 1:1-2 (SUATU KAJIAN TERHADAP ARGUMENTASI TEORI CELAH) Rosang, Djonly J. R.
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.045 KB) | DOI: 10.46817/huperetes.v1i1.19

Abstract

The creation of the universe, according to the Holy Bible has actually done as said in Genesis 1-2. However, there are some people who are still struggling in order to search for the reason to question the process of how is this universe actually began, so that they will look for scientific consideration to find the ?theoretical justification? over the biblical truth. This writing aims to give an answer to the gap theory in Genesis 1:1-2. The author, through the study Genesis 1:1-2, the result of this study concluded as follows. First, there is no exegesis background that is strong enough for gap theory to give an assumption that there was an unmeasurably period of time or age in the creation of the universe. Second, a biblical statement, ?In the beginning God created the heavens and the earth ... for in six days the LORD made heaven and the earth? (Gen. 1:1; Ex. 20:11) is an ultimate fact of God?s power and majesty in creating the earth from nothing to existence with His Word (creatio ex Nihilo). Third, the doctrine of world?s creation must be the foundation of faith that is tested in the authority of God?s words (2 Tim. 3:16) and the entire creation of God which become the medium of scientifical activity in the history of humanity must be according to the biblical perspective. Fourth, The statement of Genesis 1:1 appears to be refutation toward various scientific theories and human?s philosophic perspective that are opposite the biblical truth (Gen. 1-2, Ps. 33:4-9).Pernyataan Alkitab tentang penciptaan alam semesta sebenarnya sudah tuntas sebagaimana dikemukakan dalam Kejadian 1-2. Namun ada saja orang yang berusaha mencari alasan untuk mempertanyakan proses terjadinya alam semesta ini, sehingga mencoba mencari pertimbangan ilmiah untuk menemukan ?pembenaran teoritis? atas kebenaran Alkitab. Tulisan ini bertujuan untuk memberi jawab terhadap teori celah (gap theory) dalam Kejadian 1:1-2, melalui studi biblika penulis mengemukakan argumentasi paham teori celah, dalam kajian metode induktif terhadap studi teks Kejadian 1:1-2. Hasil studi ini disimpulkan bahwa: Pertama, bahwa tidak ada dasar eksegesis yang kuat bagi teori celah untuk memberi ruang bagi asumsi adanya rentang waktu periode atau zaman yang tak terukur dalam proses penciptaan semesta. Kedua, pernyataan Alkitab, ?Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi ... dalam waktu enam hari lamanya? (Kej. 1:1, Kel. 20:11) adalah suatu fakta Alkitab yang tak terbantahkan sebagai tindakan kemahakuasaan dan keagungan Allah menciptakan dunia dari yang tidak ada menjadi ada dengan firman-Nya (creatio ex nihilo). Ketiga, doktrin penciptaan harus menjadi landasan iman Kristen yang  diuji dalam otoritas Firman Allah yang berkuasa (2 Tim. 3:16) serta dunia ciptaan Allah dan segala isinya menjadi arena kegiatan ilmiah dalam lintasan sejarah manusia haruslah berdasarkan perspektif Alkitab. Keempat,  pernyataan penciptaan Kejadian 1:1 merupakan sanggahan terhadap berbagai teori ilmu pengetahuan dan pandangan filsafat manusia yang bertentangan dengan kebenaran Alkitab (Kej. 1-2, Mzm. 33:4-9).
PRINSIP PERINTAH YESUS UNTUK MENJADIKAN MURID BERDASARKAN MATIUS 28:16-20 Oni, Oni
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.021 KB) | DOI: 10.46817/huperetes.v1i2.24

Abstract

Gospel preaching is the duty of every believer to be carried out not a mandate for certain people, such as pastors, pastors or evangelists. But this preaching of the gospel is a direct mandate from God for believers. But some of the believers do not have a correct understanding of this noble task and thus ignore it. Based on the above problem, Matthew 28: 16-20 is discussed so that every believer is able to understand and apply the Great Commission of the Lord Jesus Christ. The biblical text is one part that teaches about missionary service for this world, which is to make all nations disciples of Jesus Christ. This study uses a qualitative study of biblical literature with a literal-grammatical-historical-contextual interpretation approach and considers highly correlated Bible texts, and describes them so as to be able to provide an understanding of Jesus' commands to make disciples. Every believer needs to grow in faith and his knowledge of God. Thus believers will be enabled to do His commandments. The Great Commission of the Lord Jesus Christ is not a choice but a necessity to do. The message that must be conveyed is that Jesus Christ died, was buried, and on the third day He rose and ascended into heaven.Pemberitaan Injil adalah tugas setiap orang percaya yang harus dilaksanakan bukan mandat bagi orang-orang tertentu saja, seperti para gembala, para pendeta atau penginjil. Tetapi pemberitaan Injil ini merupakan mandat langsung dari Allah bagi setiap orang percaya. Namun sebagian dari orang-orang percaya tidak memiliki pemahaman yang benar mengenai tugas mulia ini sehingga mengabaikannya. Berdasarkan masalah di atas, maka Matius 28:16-20 dibahas supaya setiap orang percaya mampu memahami dan mengaplikasikan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Teks Alkiktab tersebut adalah salah satu bagian yang mengajarkan tentang pelayanan misi bagi dunia ini, yaitu menjadikan segala bangsa murid Yesus Kristus. Penelitian ini menggunakan studi kualitatif literatur biblika dengan pendekatan teori tafsir literal-gramatikal-historikal-kontektual dan mempertimbangkan teks-teks Alkitab yang sangat berhubungan, dan mendeskripsikannya sehingga mampu memberi pemahaman tentang prinsip-perintah Yesus untuk menjadikan murid. Setiap orang percaya perlu bertumbuh dalam iman serta pengenalannya akan Allah. Dengan demikian orang-orang percaya akan dimampukan untuk mengerjakan perintah-perintah-Nya. Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus bukan suatu pilihan tetapi keharusan untuk dilaksanakan. Berita yang harus disampaikan adalah bahwa Yesus Kristus telah mati, dikuburkan, dan pada hari ketiga Ia bangkit dan naik ke sorga.
PEMAHAMAN UMAT ISLAM TENTANG KATA KALIMAH DALAM HUBUNGAN DENGAN ISA ALMASIH Herman, Daniel Horatius
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.144 KB) | DOI: 10.46817/huperetes.v1i1.18

Abstract

Christian witness in Indonesia, in an encounter with Islam, experienced rejection. The message about Jesus Christ (or Isa Al Masih) is acknowledged exist in Islam?s scripture, Al Qur'an, but has several different parts and even contrary to the New Testament. Some teachings about Jesus in the Qur'an are interpreted differently: 'Isa is the Kalimatullah (a word from God),' Isa is mercy, 'Isa will come again,' Isa is a justice Judge at the end of time and others, all that is different from the New Testament?s teachings. Christians, in their testimonies, tried to interpret and used the same terms. This gives rise to debate and is of course contrary to the ethics of faith, where religious teachings cannot be explained by the perspective of other religions. This study aims to obtain an objective view of Jesus Christ from the Islamic view to form an initial understanding for the preaching of the Christian faith, but this study is not intended to seek justification (or verification) of the Christian faith. This study only seeks an explanation of the Islamic version of Jesus Christ.Kesaksian Kristen di Indonesia, dalam perjumpaan dengan Islam, mengalami penolakan-penolakan.  Berita tentang Yesus Kristus (atau Isa Almasih) diakui ada dalam kitab suci Islam, Al Qur?an, tetapi pada beberapa bagian berbeda dan bahkan bertolak belakang dengan Perjanjian Baru. Beberapa ajaran tentang Yesus dalam Al Qur?an dimaknai secara berbeda: Isa adalah Kalimatullah (firman Allah), Isa adalah rahmat, Isa akan datang kembali, Isa adalah hakim yang adil di akhir zaman dan lain-lain, semua berbeda dengan ajaran Perjanjian Baru.  Orang Kristen, dalam kesaksian, mencoba menafsirkan dan menggunakan kesamaan terminologi-terminologi tersebut.  Hal ini menimbulkan perdebatan dan tentu saja bertentangan dengan etika iman, dimana ajaran sebuah agama tidak dapat dijelaskan dari perspektif agama lain. Penelitian ini bertujuan memperoleh pandangan obyektif tentang Yesus Kristus dari pandangan Islam untuk pembentukan pemahaman awal untuk pemberitaan iman Kristen, tetapi penelitian tidak dimaksudkan untuk mencari pembenaran (verifikasi) terhadap iman Kristen. Penelitian ini hanya mencari penjelasan dari versi Islam tentang Yesus Kristus.
KONSEP PENGAMPUNAN MENURUT MATIUS 18:21-35 DAN IMPLIKASINYA BAGI GEREJA MASA KINI Korengkeng, Herry Jeuke Nofrie
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.109 KB) | DOI: 10.46817/huperetes.v1i2.23

Abstract

Forgiveness is a crucial problem for human safety. Because divine forgiveness is a very fundamental part of the salvation of humanity. Therefore a true understanding of God's forgiveness is needed. In Matthew 18: 21-35 Jesus teaches forgiveness without limits through a parable. Through qualitative methods with the type of textual research or pure literary research found that understanding that forgiving without limits is God's demand for every believer. Forgiveness given by God in Jesus Christ is based on God's grace without demanding compensation. God forgives without conditions, without demands, no hidden feelings. Every human being who violates all the commands of God must confront God himself, as the indebted servant is demanded to pay off his debt. By the king's gift, the indebted servant was freed. This illustrates to the believer that God's grace can deliver man completely from all his sins, no matter how heavy and the magnitude of the sin. God demands that believers forgive the guilty just as Christ has forgiven. His whole life is an example, model or lifestyle of every believer. This is the attitude the modern church needs to take to show the nature of Christ's forgiveness as a follower of Christ.Pengampunan merupakan masalah yang sangat menentukan bagi keselamatan manusia. Sebab pengampunan secara ilahi merupakan bagian yang  sangat fundamental bagi keselamatan umat manusia. Oleh sebab itu diperlukan pemahaman yang benar tentang pengampunan Allah. Dalam Matius  18:21-35 Yesus mengajarkan pengampunan tanpa batas melalui suatu perumpamaan. Melalui metode kualitatif dengan jenis penelitian tekstual atau penelitian literatur murni ditemukan pemahaman bahwa mengampuni tanpa batas merupakan tuntutan Allah bagi setiap orang percaya. Pengampunan yang diberikan Allah di dalam Yesus Kristus didasarkan pada anugerah Allah tanpa menuntut ganti rugi. Allah mengampuni tanpa syarat, tanpa tuntutan, tidak ada rasa yang terpendam. Setiap manusia yang melanggar segala perintah Tuhan pasti berhadapan langsung dengan Allah sendiri, sebagaimana hamba yang berhutang itu dituntut  agar melunasi hutangnya. Oleh anugerah raja itu, hamba yang berhutang banyak itu dibebaskan. Hal ini menggambarkan kepada orang percaya bahwa anugerah Tuhan itu dapat membebaskan manusia dengan sempurna dari segala dosanya, bagaimanapun berat dan besarnya dosa itu. Allah menuntut supaya orang percaya mengampuni orang yang bersalah sama seperti Kristus telah mengampuni. Keseluruhan hidup-Nya adalah contoh, model atau gaya hidup setiap orang percaya. Inilah sikap yang perlu diambil oleh gereja masa kini yakni menunjukkan sifat pengampunan Kristus sebagai pengikut Kristus.
MAKNA PENGURAPAN MENURUT 1 YOHANES 2:20, 27 Surahmiyoto, Triyono
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.427 KB) | DOI: 10.46817/huperetes.v1i1.15

Abstract

The study is entitled The Meaning of Anointing According to 1 John 2:20, 27. The background of this study is the obscurity found in the usage of the term anointing among Christians, whether in casual conversation or in prayer in which the purpose is uncertain. The obscurity and ambiguity in the understanding of anointment tend to result in unrighteous behavior in Christian life. Based on that issue the writer undertook to research the usage of the term concerned especially in the New Testament. The writer has found the usage of the term in 1 John 2:20. By using the inductive interpretation method: literal, grammatical, contextual, historical, and theological and also do observations through multiple interpretations comparison, the writer has found that the anointment is referred to be used connotatively to depict the help from the Holy Spirit in every believer?s life. This anointment is closely related to teaching and the righteousness of teaching. The anointment happens once and permanent in a believer?s only life. This is identical to sealing and the Holy Spirit that resided in the believers. The anointing in 1 John 2:20 is chrism. Chrism is a noun that refers to the oil that is used in an anointing event.  John states that a believer is already and receiving the chrism ? the anointing oil ? in the believer?s running life. Believers need to believe that God?s anointing has been done, is happening, resides to be with every believer in righteous life as a person who believes that Jesus is God.Judul bahasan adalah Makna Pengurapan Menurut 1 Yohanes 2:20, 27. Latar belakang pembahasan adalah adanya kesamaran penggunan istilah pengurapan dalam kehidupan masyarakat Kristen baik dalam percakapan maupun dalam doa- doa yang diucapkan secara samar. Kesamaran dan kerancuan dalam pemahaman tentang pengurapan cenderung menimbulkan perilaku yang tidak diharapkan dalam kehidupan masyarakat Kristen. Penyimpangan dan penyesatan bahkan perpecahan, perpindahan serta kecurigaan antar sesama orang percaya dapat terjadi dalam kehidupan masyarakat Kristen. Bertolak dengan hal tersebut maka penulis berusaha menelusuri penggunaan istilah pengurapan tersebut khususnya dalam Perjanjian Baru. Penulis menemukan istilah pengurapan dalam 1 Yohanes 2:20. Dengan menggunakan metode penafsiran induktif: literal, gramatikal, kontekstual, historikal, dan teologi serta memperhatikan pandangan beberapa penafsir penulis menemukan bahwa pengurapan yang dimaksud ternyata digunakan secara konotatif untuk menggambarkan pertolongan Roh Kudus dalam hidup setiap orang percaya. Pengurapan erat berhubungan dengan pengajaran dan kebenaran ajaran. Pengurapan sekali terjadi dan bersifat permanen dalam sepanjang hidup orang yang percaya. Pengurapan ini identik dengan pemeteraian dan pendiaman Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Pengurapan dalam 1 Yohanes 2:20 adalah krisma. Krisma ini adalah kata benda dan menunjuk kepada minyak yang digunakan dalam peristiwa pengurapan. Yohanes menyatakan bahwa orang percaya sudah dan sedang menerima krisma yaitu minyak urapan dalam rentang kehidupannya. Dengan demikian sebenarnya orang percaya tidak perlu berulang-ulang meminta dan mengharapkan terjadinya pengurapan dalam kehidupannya. Orang percaya perlu mengimani bahwa pengurapan Allah sudah dan sedang terjadi serta menuntun setiap orang percaya dalam kehidupan yang benar sebagai orang yang sudah percaya bahwa Yesus itu Tuhan.
EFEKTIFITAS PEMURIDAN KEKAL DALAM MEMBIMBING GEREJA MENUJU KEDEWASAAN ROHANI Orles, Orles
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.688 KB) | DOI: 10.46817/huperetes.v1i2.22

Abstract

The church is a collection of believers sanctified by God and allied in the name of Jesus. The church was founded by the Lord Jesus. Therefore, service to the church must not be ignored. Congregational growth to spiritual maturity must be the focus of church service. Discipleship of Small Bible Groups (KEKAL) is one of the strategies of the Pontianak Anugerah Baptist Church to guide the congregation towards spiritual maturity. The problem is that there has been no attempt to evaluate the effectiveness of ministry through KEKAL discipleship in guiding congregations to grow spiritually mature. Therefore, the purpose of this study is to see the effectiveness of KEKAL discipleship in guiding the church to grow. The research method used in this research is descriptive-quantitative. The data collection is done by using a closed questionnaire. Through this research, it was found that the KEKAL discipleship program had an effective role in guiding the church to spiritual maturity. This small group discipleship strategy can be one of the strategies for the church to guide church members to mature in Christ.Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang dikuduskan oleh Allah dan bersekutu di dalam nama Yesus. Gereja didirikan oleh Tuhan Yesus. Oleh karena itu, pelayanan terhadap gereja tidak boleh diabaikan. Pertumbuhan jemaat kepada kedewasaan rohani harus menjadi fokus pelayanan gereja. Pemuridan Kelompok Kecil Alkitab (KEKAL) adalah salah satu strategi Gereja Baptis Anugerah Pontianak untuk membimbing jemaat menuju kedewasaan rohani. Permasalahannya adalah belum ada usaha untuk mengevaluasi keefektifan pelayanan melalui pemuridan KEKAL dalam membimbing jemaat bertumbuh dewasa secara rohani. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah untuk melihat efektifitas pemuridan KEKAL dalam membimbing jemaat bertumbuh. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kuantitatif. Pengumpulan datanya dilakukan dengan menggunakan angket tertutup. Melalui penelitian ini ditemukan hasil bahwa program pemuridan KEKAL berperan secara efektif dalam membimbing jemaat menuju kedewasaan rohani. Strategi pemuridan kelompok kecil ini dapat menjadi salah satu strategi bagi gereja untuk membimbing anggota jemaat agar dewasa di dalam Kristus.
STUDI EKSEGESIS MENGENAI KERAJAAN MESIAS MENURUT YESAYA 2:1-4 Sualang, Farel Yosua
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.89 KB) | DOI: 10.46817/huperetes.v1i2.1

Abstract

The main problem regarding the meaning of the Hebrew word "haggôyîm" in Isaiah 2: 1-4, which is interpreted as "the nations" gives a different interpretation. The analysis of "the Messiah's reign according to Isaiah 2: 1-4" is worth studying in regard to its use described in the old and new covenants as a research objective in this article. Hermeneutic prophetic approach, which consists of several procedures to explain the subject under study. The type of prophetic literature in Isaiah 2: 1-4 has the structure in the form of the prophecy of salvation as a methodology for interpreting this text. The presentation in Isaiah 2: 1-4 wants to show a revelation of the Government led by the Messiah related to His coming, His Government, Citizens of His Kingdom and His coming. This can be demonstrated by the expression of the coming of the Messiah, explanation of the central government of Messiah, the citizens of the Messiah's kingdom, the effects of Messiah's reign, the full knowledge of God and the sins of the nations being judged, where he will judge the world from His throne in the Temple.Masalah utama mengenai maksud kata Ibrani ?haggôyîm? dalam Yesaya 2:1-4 yang diartikan sebagai ?bangsa-bangsa? memberikan suatu interpretasi yang berbeda-beda. Analisis mengenai ?Pemerintahan Mesias menurut Yesaya 2:1-4? patut untuk dikaji dalam memerhatikan penggunaannya yang dijelaskan pada perjanjian lama dan perjanjian baru sebagai suatu tujuan penelitian dalam artikel ini. Pendekatan hermeneutika nubuatan, yang terdiri dari beberapa prosedur ataupun metode-metode yang dipakai untuk menjelaskan subjek yang diteliti. Jenis sastra nubuatan dalam Yesaya 2:1-4 memiliki struktur yang berbentuk nubuatan keselamatan sebagai metodologi dalam menafsirkan teks. Pemaparan dalam Yesaya 2:1-4 ingin menunjukkan suatu penyataan tentang Pemerintahan yang dipimpin oleh Sang Mesias yang terkait dengan kedatanganNya, PemerintahanNya, Warga KerajaanNya, pengenalan yang penuh akan Allah dan kedatanganNya. Hal ini dapat ditunjukan dengan ekspresi kedatangan Mesias, penjelasan tentang pusat pemerintahan Mesias, warga kerajaan Mesias (orang-orang Israel yang sudah diselamatkan), dampak-dampak pemerintahan Mesias, pengenalan penuh akan Allah dan dosa bangsa-bangsa dihakimi, dimana Ia akan menghakimi dunia dari tahta-Nya di Bait Allah.
PANDANGAN TENTANG KEMATIAN DAN KEBANGKITAN ORANG MATI DALAM PERJANJIAN LAMA Swastoko, Sujud
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.138 KB) | DOI: 10.46817/huperetes.v1i2.25

Abstract

This article tries to find answers to views on death and resurrection in the Old Testament. In the Old Testament, the discussion of the death and resurrection of the dead and the judgment is less prominent than in the New Testament, so there are fewer reading texts. That is why the issue becomes interesting to be examined more deeply. This research uses a qualitative research method with a descriptive approach, by taking the main source from the Old Testament Bible and supporting literature. Based on the results of research conducted, then during the Old Testament, people believe in death as a form of separation of body and spirit. When dead, the body will return to dust, and the spirit enters the world of the dead (Sheol). In the Old Testament, people believe in the bodily resurrection (the dead), that is, the physical resurrection.Artikel ini mencoba mencari jawaban atas pandangan terhadap kematian dan kebangkitan dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama pembahasan masalah kematian dan kebangkitan orang mati serta penghakiman tidak begitu menonjol dibandingkan dengan dalam Perjanjian Baru, sehingga teks bacaan yang ada juga lebih sedikit. Oleh karena itulah persoalan tersebut menjadi menarik untuk diteliti lebih mendalam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan mengambil sumber utama dari Alkitab Perjanjian Lama dan literatur yang mendukung. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka pada masa Perjanjian Lama orang memercayai kematian sebagai bentuk pemisahan tubuh dan rohnya. Saat mati, tubuh akan kembali menjadi debu, dan roh masuk ke dunia orang mati (syeol). Dalam Perjanjian Lama, orang percaya akan adanya kebangkitan tubuh (orang mati), yaitu bangkitnya tubuh secara fisik. 

Page 1 of 2 | Total Record : 12