cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 92 Documents
PENDAMPINGAN PASTORAL KONSELING BAGI ORANG SAKIT TERMINAL Di KLASIS KUPANG TENGAH – GEREJA MASEHI INJILI DI TIMOR Manafe, Debertje Setriani; Pelamonia, Risart
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Orang sakit terminal adalah tahap akhir dari suatu kondisi tubuh atau pikiran yang tidak sehat. Orang sakit terminal adalah orang yang hampir mati atau disebut dengan keadaan yang tidak dapat diubah, yaitu ketika tidak ada alat-alat medis yang diketahui ada untuk memperbaiki orang yang terluka atau proses penyakit yang membawa kepada kematian. Pastoral konseling merupakan salah satu pelayanan pemulihan untuk melayani manusia seutuhnya. Orang sakit bukan hanya membutuhkan obat bagi tubuh, melainkan membutuhkan pelayanan kasih yang menghadirkan Tuhan Yesus di tengah-tengah penderitaan. Pelayanan kepada orang sakit terminal dengan bentuk pendampingan pastoral konseling merupakan upaya untuk menjawab dan mengatasi pergumulan terakhir, yaitu orang sakit terminal dapat meninggal dunia dengan kekayaan rohani sebagai anak Allah dan dapat menerima panggilan Allah yaitu kematiannya dalam syalom. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan kontribusi pendampingan pastoral konseling bagi orang sakit terminal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian studi kasus dan analisis isi dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada diri peneliti sebagai alat. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah pertama Gereja Masehi Injili di Timor – Klasis Kupang Tengah masih sangat kurang dalam melakukan pendampingan pastoral konseling bagi orang sakit terminal. Kedua, pendampingan pastoral konseling bagi orang sakit terminal belum dipahami benar sehingga pendeta/gembala tidak melaksanakan tahap-tahap dalam pastoral konseling dan ketiga, orang sakit terminal di Klasis Kupang Tengah – Gereja Masehi Injili di Timor belum mendapat perhatian khusus melalui pendampingan pastoral konseling yang dapat menolong orang sakit terminal mengatasi masalah hidup dan memperteguh iman mereka ketika berada dalam saat-saat menjelang kematian.
UPAYA GEREJA DALAM PEMBINAAN USIA REMAJA YANG MELAKUKAN HUBUNGAN “FREE SEKS” Illu, Wilianus; Masihoru, Olivia
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Free Sex dan hamil pranikah menjadi potret buram kehidupan remaja saat ini di Indonesia. Seks bebas (free sex), hamil di luar nikah, aborsi, perkosaan, pelecehan seksual, peredaran VCD porno, pornografi, dan pornoaksi merajalela di kalangan remaja saat ini. Hal ini pada satu sisi dapat merisaukan public pada umumnya, misalnya merisaukan lingkungan masyarakat, dunia pendidikan keluarga, sekolah bahkan pendidikan di gereja. Akan tetapi pada aspek lain terdapat orang-orang yang memiliki dorongan yang berangkat dari hati nuraninya sehingga memiliki kepedulian dan keberpihakan terhadap para remaja yang melakukan hubungan free sex. Tipikal yang demikian memiliki inisiatif sendiri untuk menolong orang-orang yang mengalami dan khususnya bagi remaja. Biasanya perihal yang dilakukan adalah berinisiasi untuk mengumpulkan mereka dan menyampaikan materi-materi yang berkaitan dengan free sex agar mengurangi lajunya pergerakan yang semakin dinamis dalam realiata yang ada. Pada umumnya Etika Kristen tidak membenarkan tentang hubungan seks bebas atau free sex, baik yang dilakukan oleh oknum-oknum yang berkeluarga, orang dewasa dalam hal ini yang belum menikah, ataupun oleh pemuda-pemudi bahkan remaja-remaja. Upaya Kristen dalam menangani kasus-kasus yang terjadi pada remaja tentu mengacu pada beberapa pola yang sesuai standar Alkitab. Pola-pola yang penulis maksudkan adalah upaya melalui tinjauan Alkitab tentang seksualitas, melalui pendidikan gereja, melalui pendidikan keluarga, sekolah, melalui pendekatan kontribusi terhadap budaya, masyarakat, dan melalui kontribusi terhadap pemerintah setempat. Supaya elemen-elemen tersebut saling interdepedensi dalam mengatasi free sex yang belakangan ini marak terjadi di kalangan para remaja di Indonesia. Metode yang digunakan dalam kajian jurnal ini adalah metode deskiptif dengan pendekatan literatur dan fakta data sesuai yang berkorelasi dengan judul utama dan sub-sub judul. Hasil yang ditemukan dalam kajian ini mencakup peran gereja tidak terbatas pada internal gereja melainkan berperan akif juga di luar gereja khususnya peran dalam mengantisipasi lajunya free sex yang signifikan.
KONSEP INTEGRITAS MENURUT MATIUS 5: 17-20 Manafe, Yanjumseby Yeverson; Pattinama, Yenny Anita
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Integritas merupakan suatu karakter yang mencakup harga diri seseorang, karena dasar dari integritas adalah karakter. Pada dasarnya hakikat pribadi yang berintegritas dapat dilihat dalam diri Yesus Kristus yang dapat dibaca dalam Alkitab. Dari hasil eksegese ditemukan bahwa Yesus adalah pribadi yang berintegritas. Yesus ingin para murid dan orang percaya lainnya memiliki integritas. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep integritas dalam Matius 5:17-20. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan paradigma naturalistik yang didasarkan pada metode fenomenologis dengan pendekatan grammatical analysis. Teknik pengumpulan data digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan studi literatur. Beberapa temuan dari hasil penelitian ini adalah orang yang berintegritas adalah orang memiliki cara berpikir yang positif, konsisten dalam perkataan, teguh dalam komitmen, memiliki ketaatan, melakukan tanggungjawab, hidup dalam kejujuran, setia melakukan hukum Taurat dan juga memiliki keteladanan. Berdasarkan temuan temuan dalam penelitian ini maka dibagian akhir peneliti akan memberikan beberapa rekomendasi kepada hamba Tuhan dan orang percaya
REAFIRMASI MONOTEISME TRINITARIAN TERHADAP KONSEP HENOTEISME DIKALANGAN ORANG KRISTEN Uling, Manintiro
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini memaparkan mengenai konsep monoteisme Trinitarian sebagai sebutan lain, dari doktrin Trinitas yang merupakan Theisme Kristen, sebagaimana yang diwahyukan Alkitab. Akan tetapi, pada kenyataannya pemahaman sebagian orang Kristen terhadap monoteisme Trinitarian seringkali tanpa disadari terjebak pada konsep henoteisme. Mengakui atau menyembah satu Allah, tetapi tidak menyangkali keberadaan allah-allah lain, sehingga muncullah klaim bahwa Allah yang disembahnya adalah Allah yang unggul, daripada “allah-allah” lain. Itulah sebabnya pentingnya menegaskan kembali pemahaman monoteisme Trinitarian bagi setiap orang Kristen. Kajiannya akan menggunakan studi literatur Injili, berdiskusi dengan literatur dari non Injili untuk mengumpulkan berbagai data dari buku, dan jurnal yang relevan dengan topik yang dibahas. Ternyata monoteisme Trinitarian, bukanlah henoteisme. Henoteisme merupakan produk mitologi Yunani kuno, fenomena agama, tidak bersumber dari Alkitab dan bukanlah Allah sejati.
IMPLEMENTASI MISI HOLISTIK BAGI TIM PALIATIF RUMAH SAKIT BAPTIS BATU JAWA TIMUR Alfons, Gracia Deborah; Endojowatiningsih, Maria Hanie; Rohi, Yohanis Udju
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Misi holistik adalah misi yang dijabarkan secara utuh atau menyeluruh. Sedangkan Perawatan Paliatif adalah perawatan yang tidak hanya menekankan pada aspek fisik saja, tetapi juga berfokus terhadap aspek-aspek psikososial, emosional serta spiritual untuk meningkatkan kualitas hidup seorang pasien. Dalam implementasinya, ditemukan bahwa pelayanan Perawatan Paliatif perkembangannya sangat lamban di tiap daerah di Indonesia. Di Kota Wisata Batu sendiri, baru Rumah Sakit Baptis Batu lah yang sudah terbentuk dan berjalan Tim Paliatifnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Implementasi Misi Holistik bagi Tim Paliatif di Rumah Sakit Baptis Batu Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan paradigma penelitian naturalistik yang didasarkan pada filsafat fenomenologis dengan pendekatan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Beberapa hasil temuan dari penelitian ini, diantaranya: Masih ada ketidakselarasan antara mandat budaya dan mandat penginjilan yang seharusnya berjalan secara simultan dalam misi yang holistik yang dikerjakan di Rumah Sakit Baptis Batu. Kedua, Perawatan Paliatif lahir dari pengalaman rohani iman Kristen yang begitu kuat dari Cicely Saunders, pendiri dari pergerakan Hospice dan Paliatif modern. Ketiga, waktu dalam perkunjungan rutin kepada pasien-pasien dari rumah ke rumah (home care), dirasa sangat singkat. Berdasarkan temuan-temuan dalam penelitian ini, maka di bagian akhir penulis memberikan beberapa rekomendasi kepada Rumah Sakit Baptis Batu yaitu dengan mengadakan program seminar atau pelatihan misi holistik untuk seluruh stakeholder Rumah Sakit, persekutuan bersama anggota Tim Paliatif, dan juga kunjungan terjadwal diluar waktu perkunjungan rutin, sehingga Tim Paliatif lebih menghayati tiap tugas dan peran mereka dalam Perawatan Paliatif.
IMPLEMENTASI KECERDASAN SPIRITUAL BAGI PENDIDIKAN Purwanto, Fredi; Wulandari, Rini
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengeksplorasi kecerdasan spiritual yang didasarkan pada kebenaran Alkitab. Studi ini dapat dianggap sebagai sebuah signifikansi dari sudut pandang bahwa individu yang cerdas secara spiritual dapat dipengaruhi oleh faktor non-kognitif mereka. Studi ini dapat memunculkan fakta bahwa kelompok individu semacam itu memang ada. Dalam studi ini digunakan metode analisis deskriptif, yaitu suatu metode yang dipakai untuk meneliti sekelompok manusia yang berhubungan dengan kondisi atau situasi tertentu untuk memperoleh data sesuai dengan fakta saat ini. Metode deskrptif juga juga merupakan metode untuk mencari fakta dengan intepretasi yang tepat. Dalam kajian penulis, ditemukan bahwa kecerdasan spiritual sangatlah penting dalam keberadaan manusia.Pemecahan masalah dan aplikasi untuk pengambilan keputusan dan situasi kehidupan adalah indikator kecerdasan spiritual. Hal tersebut juga dibuktikan dengan perilaku yang memancarkan “buah Roh” dan sikap melayani. Pada akhirnya, tujuan dan ekspresi kecerdasan spiritual yang paling memuaskan adalah relasi yang penuh kasih dalam persekutuan dan dengan Tuhan.Penolakan untuk bersekutu dengan Tuhan memiliki efek menggelapkan hati dan pikiran. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual melibatkan lebih dari sekadar persepsi (ketajaman), refleksi, asimilasi, pemahaman, dan bahkan pengetahuan akan firman atau teologi. Hal-hal seperti berlatih disiplin rohani, menyelaraskan perilaku dengan pengetahuan, serta mengintegrasikan umpan balik dan pertobatan sebagai lingkaran pembelajaran yang kritis akan memaksimalkan kecerdasan spiritual. Roh Allah, sebagai Pribadi yang menyatakan kebenaran tentulah memiliki peran yang sangat sentral penting di sini. Selain itu, kepekaan untuk mengemban sebuah tanggung jawab dengan baik dikembangkan melalui refleksi pada panggilan Tuhan.
SIKAP ETIS KRISTEN TERHADAP PERCERAIAN MENURUT MARKUS 10:9 Lodewyck, Jefry
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semua orang percaya harus memahami dan meyakini bahwa Allah sumber kasih (Roma 5:8). Adalah penting untuk setiap manusia memahami, dan mengalami kasih Allah dalam pengalaman nyata sehari-hari (Ibr. 2:9). Allah sebagai desainer pernikahan, telah mendesain pernikahan sebagai satu lembaga ciptaan Allah yang tertua dalam dunia ini. Sebelum ada satu bangsa, kerajaan, bahkan gereja, Allah terlebih dahulu menciptakan satu unit keluarga. Kasih dalam hubungan Adam dan Hawa begitu harmonis meniktmati kasih Tuhan di dalam Taman Eden. Pernikahan adalah suatu hal yang unik, juga indah dan kudus.Alkitab memberikan gambaran hubungan suami istri seperti hubungan Kristus sebagai mempelai laki-laki dengan orang-orang percaya sebagai mempelai perempuan (Efesus 5:22-23). Kegagalan hubungan suami-istri yang diikuti perceraian adalah salah satu dari sekian banyak realitas yang terjadi dalam kehidupan manusia. Yang penting membedakan antara kedua fenomena itu: Keinginan seorang istri atau seorang suami untuk bercerai adalah akibat dari kegagalan hubungan kasih. Kasih berperan penting dalam kelangsungan hidup pernikahan karena kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Pet.4:8). Karena kasih juga membuat seseorang rela berkorban (Ams.17:17), bahkan memberikan nyawanya. Perceraian bukanlah jalan akhir untuk penyelesaian masalah dalam pernikahan. Masih ada mujizat bagi orang yang percaya kepadaNya. Seungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar (Yes. 59:1). Hubungan suami-istri yang harmonis sangat bergantung kepada pengertian kedudukan suami dan istri menurut Alkitab, dan bagaimana baik suami maupun istri menempatkan diri sesuai dengan pengertian itu.
KEBANGKITAN ORANG MATI MENURUT I KORINTUS 15:12-34 DAN IMPLIKASI ETISNYA BAGI ORANG PERCAYA Lumintang, Danik Astuti
Missio Ecclesiae Vol. 3 No. 1 (2014): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Doktrin kebangkitan merupakan dasar atau sentral pemberitaan dari iman kristen, karena itu, doktrin kebangkitan merupakan keunikan Kristen yang tiada tandingnya. Memang, doktrin kebangkitan orang mati bukanlah monopoli agama Kristen, karena agama-agama dan aliran lain, misalnya: agama Islam, Hindu, Budha dan aliran kebatinan, serta agama Suku memiliki konsep masing-masing.1 Yang jelas, bahwa doktrin Kristen mengenai kebangkitan berbeda sama sekali dengan doktrin kebangkitan agama-agama lain, aliran-aliran kepercayaan bahkan pandangan filsafat. Kesamaan yang ada hanyalah kesamaan istilah, sedangkan sumber dan konsepnya berbeda. Tetapi karena tulisan ini bukanlah studi perbandingan agama, maka perbedaan konsep ini tidak akan dibahas lebih lanjut. Doktrin kebangkitan menurut ajaran kristiani adalah doktrin yang unik, karena Alkitab yang adalah sumber dogma menyatakan bahwa kebangkitan orang percaya (Gereja) adalah kebangkitan tubuh. Tidak ditemukan di dalam ajaran lain mana pun juga. Kebangkitan Kristus yang menjadi dasar kebangkitan orang percaya adalah unik. Kendatipun demikian di kalangan Kristen sendiri masih menjadi pokok perdebatan yang seru, antara dongeng dan fakta, antara spiritual dan jasmaniah, antara bohong dan benar. Perdebatan ini sesungguhnya sudah dimulai sejak zaman Tuhan Yesus.2 Hal ini disebabkan oleh karena perbedaan pandangan atau konsep di antara orang Kristen sendiri. Perbedaan-perbedaan yang ada ini disebabkan oleh perbedaan hermeneutika yang dipakai, dan perbedaan latar belakang yang mempengaruhi masing-masing pandangan tersebut, bahkan perbedaan konteks zaman dan tempat dimana doktrin itu dibicarakan atau diajarkan. Karena itu, penulis sengaja membahas lagi topik kebangkitan orang mati ini dalam 1Korintus 15:12-58 untuk menggali kebenaran alkitabiah mengenai doktrin ini, sekaligus menemukan implikasinya etisnya bagi kehidupan orang percaya (Gereja).
STUDI EKSEGETIS KEJADIAN 12:1-3 DAN RELEVANSI MISIOLOGISNYA BAGI GEREJA TUHAN MASA KINI Illu, Wilianus
Missio Ecclesiae Vol. 5 No. 1 (2016): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kitab Kejadian adalah kitab Perjanjian Lama yang pertama dan sebagai pendahuluan dari seluruh Alkitab, yang mencatat tentang penciptaan, permulaan sejarah manusia, asal mula bangsa Ibrani dan perjanjian Allah dengan Abraham, nenek moyang mereka. Allah menciptakan manusia menurut peta dan teladanNya sendiri, dan diciptakan-Nya mereka laki-laki dan perepuan (Kej. 1:26-27). Kejatuhan manusia dalam dosa merusak segalanya. Manusia tidak lagi dapat membedakan yang jahat dan yang baik, dan kecenderungan manusia selalu berbuat yang jahat. Dosa semakin berkembang, dosa manusia tidak pernah berkurang, mulai dari manusia pertama hingga saat ini. Dosa merupakan penyebab terputusnya hubungan antara manusia dan khalik-Nya. Akibatnya, manusia mengalami kesuraman dan hidup tanpa masa depan. Semua kejahatan lahir dari keadaan umat manusia yang berdosa, walaupun demikian banyak orang tidak mengetahui asal usul dosa dan akbitanya. Namun dari sisi lain Tuhan tidak membiarkan manusia ciptaan-Nya terus hidup dalam dosa, maka Dia melakukan aktivitas misi-Nya dengan cara mencari manusia dengan kasih-Nya (Kej. 3:8-9). Dengan adanya kenyataan ini, maka pemanggilan Abraham dalam teks Kejadian 12:1-3 adalah sebagai awal penggenapan janji keselamatan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:15), atau sebagai awal babak baru dalam penyataan Perjanjian Lama mengenai maksud Allah untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia dari dosa. Allah bermaksud memilih seseorang yang mengenal dan melayani-Nya, dan dengan iman yang tulus dapat mengenal, mengajarkan, dan memelihara jalan-jalan Tuhan dengan baik. Pemanggilan Abram mutlak atas inisiatif Allah. Itu berarti bahwa Allah yang memanggil Abram adalah Allah yang dengan sendirinya ada, juga berkuasa atas alam semesta dan atas semua suku bangsa di dunia. Pemanggilan Abram bukan hanya menjadi berkat bagi keluarga dan keturunannya saja, melainkan bagi semua suku bangsa, seperti ditulis dalam Galatia 3:8,16 bahwa “berkat yang menunjuk pada Injil Kristus yang ditawarkan kepada semua bangsa.” Itu berarti bahwa janji berkat kepada Abraham bersifat universal. Jadi berkat tersebut menyangkut, baik berkat material (jasmani) maupun berkat rohani. Berkat jasmani ini mencakup harta benda yang banyak, yang dapat membahagiakan kehidupan Abram dan keturunannya. Sedangkan berkat rohani mencakup keselamatan jiwa manusia yang bersifat kekal, yaitu di dalam Yesus Kristus yang adalah keturunan Daud, menjadi berkat penebusan bagi semua suku bangsa tanpa memandang suku, ras, dan golongan. Gereja (orang percaya) harus menyadari bahwa berkat itu diberikan secara cuma-cuma melalui penebusan Yesus Kristus. Maka gereja (orang percaya) harus menyalurkan berkat tersebut kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus, dengan tujuan supaya mereka juga dapat percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang hidup yang dapat menyelamatkan umat manusia dari dosa. Misi harus menjadi tanggung jawab gereja dalam memberitakan Injil, karena gereja adalah pusat atau wadah yang dapat membina warga jemaat untuk dapat terlibat dalam pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini gereja harus mampu melakukan tindakan nyata (memberitakan Injil) untuk menolong orang-orang yang belum percaya kepada Yesus Kristus. Gereja sebagai wakil Allah di dunia, harus mampu merealisasikan ketaatannya terh adap mandat misi Allah dalam menjangkau setiap orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Gereja dalam melakukan misi, harus menjangkau semua golongan, dalam hal ini gereja tidak membuat suatu patokan atau batasan dalam melaksanakan misi Allah. Karena misi Allah adalah misi yang universal yang harus dilakukan oleh semua gereja. Gereja harus memperluas pengetahuannya tentang misi, sehingga dapat menjalankan misi Allah. Gereja tidak lagi berputar-putar pada diri sendiri melainkan harus memikirkan dan menjangkau seluruh suku bangsa yang belum percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Gereja juga mempelajari firman Tuhan dengan tekun, sehingga semua pengajaran yang disampaikan kepada orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dapat sungguh dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Mengacu pada pemaparan di atas, maka penulis memberikan beberapa rekomendasi yang berupa saran, yang ditunjukkan kepada gereja-gereja yang bertanggungjawab untuk dapat menjalankan misi Allah. Tugas gereja Tuhan masa kini adalah menjalankan misi Allah dengan benar dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Dalam memberitakan firman Allah kepada jemaat, tidak hanya dalam pemberitaannya berisi tentang moral, memiliki karakter yang baik, rajin berdoa, rajin membaca Alkitab, mengikuti ibadah di gereja dan membawa persembahan. Tetapi juga tugas seorang Pendeta adalah sebagai mediator berkat, yang harus menjadi teladan dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin yang handal. Itu sebabnya gereja Tuhan perlu melaksanakan misi Allah secara serius, juga mampu merealisasikan misi tersebut kepada jemaat, agar jemaat juga dapat menyadari bahwa misi Allah adalah penting untuk dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kelak akan dipertanggung jawabkan kepada Allah. Seorang pemimpin gereja harus memiliki hati untuk menolong orang-orang yang ada di luar Kristus. Hal ini tidak terbatas pada pelayanan Firman Tuhan tetapi juga dituntut lewat sikap hidup seorang pemimpin gereja. Tugas seorang pemimpin gereja adalah mempersiapkan dan membina jemaat untuk menjadi berkat, garam dan terang dalam keluarga, gereja, masyarakat, negara dan dunia melalui pemberitaan Injil.
KELUARGA KRISTEN YANG DIBERKATI TUHAN: OBSERVASI TERHADAP MAZMUR 133:1-3 Manaransyah, Awasuning
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 1 (2015): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tema “Keluarga Kristen yang Diberkati Tuhan” di atas merupakan tujuan dari setiap keluarga Kristen, yakni untuk mengalami kerukunan dan kebahagiaan dalam keluarga. Di sisi lain, penulis juga melihat bahwa saat ini, ada begitu banyak keluarga Kristen yang mengalami konflik antara suami dengan istri dan antara orangtua dengan anak-anak. Oleh karena itu, ada banyak keluarga Kristen mengalami keretakan dalam rumah tangga bahkan perceraian antara suami dengan istri. Dengan memahami konsep keluarga Kristen yang hidup bersama dalam kerukunan yang diberkati Tuhan, saya berharap bahwa kualitas keluarga akan lebih baik, sehingga mereka akan mampu bertahan hidup di era ini, dengan hidup berjalan bersama-sama dengan Tuhan, bersekutu dalam keluarga, membaca Alkitab, berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan bersama-sama setiap hari.

Page 1 of 10 | Total Record : 92