cover
Contact Name
Galih Wilatikta
Contact Email
galihwilatikta@gmail.com
Phone
+6281574155781
Journal Mail Official
jurnalilmubedahindonesia@yahoo.com
Editorial Address
Gedung Wisma Bhakti Mulya lantai 401-C Jalan Kramat Raya 160 Jakarta Pusat 10430
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmu Bedah Indonesia
ISSN : -     EISSN : 27237494     DOI : https://doi.org/10.46800/ilmbed
Core Subject : Health, Science,
The Indonesian Journal of Surgery (JIBI) is a peer-reviewed and open access journal focuses on publishing journals in the scope of surgery. JIBI accepts any kind of manuscript(s) related to surgery, i.e. original article, meta–analysis, systematic review, comprehensive review, case report, serial cases, and also idea and innovation (selected ideas and innovations) regarding surgical diseases and conditions, surgical procedure, and basic science. JIBI also accept letter to editor and comment / and or response to a published manuscript with an opinion included. JIBI accept subject in the following fields of surgery: Pediatric Vascular Digestive Orthopedic Urology Neurosurgery Plastic Surgery Oncology Cardiothoracic
Arjuna Subject : Kedokteran - Pembedahan
Articles 95 Documents
Faktor-faktor Prediktor Mortalitas 30 Hari pada Pasien dengan Efusi Pleura Maligna yang Telah Dilakukan Chest Tube Thoracostomy di RSUP DR. Hasan Sadikin Hendro, Immanuel; Nusjirwan, Rama; Hapsari, Putie
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 1 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i1.15

Abstract

Latar Belakang: Efusi pleura maligna (EPM) adalah salah satu bentuk infiltrasi dan metastasis suatu kanker. Adanya EPM menunjukkan penyakit keganasan sudah berada pada tahap lanjut. Hal ini akan mempengaruhi kualitas hidup pasien serta mengindikasikan angka harapan hidup rendah. Dengan angka harapan hidup yang berkisar antara beberapa hari hingga 12 bulan, pasien kanker stadium lanjut akan menderita dari segi fisik, psikososial, dan spiritual, karenanya pengobatan bersifat paliatif dan fokus pada perbaikan kualitas hidup. Tatalaksana pasien dengan EPM adalah melakukan drainase cairan pleura, yang dapat dilakukan dengan chest tube thoracostomy (CTT) atau torakosintesis. Beberapa faktor dipercaya berpengaruh pada tingkat mortalitas pasien dengan EPM yang dilakukan CTT. Penelitian ini untuk mengetahui faktor- faktor prediktor mortalitas 30 hari pasien dengan EPM yang dilakukan CTT. Metode: Penelitian ini adalah studi kohort prospektif terhadap pasien EPM dan dilakukan CTT di RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) selama periode Desember 2017 – April 2018. Dilihat asal tumor, leukositosis, anemia, hipoprotein cairan pleura, kadar pH cairan pleura, skor performa ECOG, dan asidosis respiratorik, kemudian pasien di observasi selama 30 hari. Selanjutnya dilakukan uji statistik bivariat dengan uji Chi-Square dan Fisher, kemudian dilakukan uji statistik multivariat dengan menggunakan regresi logistik. Hasil: Terdapat 34 pasien EPM yang memenuhi syarat penelitian, mayoritas pasien hidup, yaitu sebanyak 23 pasien (67,6%). Rata-rata usia pasien yang hidup adalah 48,09 ± 16,209 tahun, sedangkan yang meninggal adalah 42,18 ± 18,110 tahun. Rata-rata lama rawat pasien yang hidup adalah 31,70 ± 11,392 hari, sedangkan yang meninggal adalah 6,64 ± 4,154 hari. Pada pasien EPM yang meninggal didapatkan beberapa faktor yang memiliki hubungan bermakna dengan angka mortalitas, yaitu asal tumor (p = 0,044), leukositosis (p = 0,039), anemia (p = 0,039), hipoprotein cairan pleura (p < 0,01), kadar pH cairan pleura (p < 0,01), dan skor performa ECOG (p < 0,01), sedangkan asidosis respiratorik tidak memiliki hubungan yang bermakna terhadap angka mortalitas (p = 0,549). Simpulan: Asal tumor, leukositosis, anemia, hipoprotein cairan pleura, kadar pH cairan pleura dan skor performa ECOG dapat dijadikan sebagai prediktor mortalitas 30 hari pada pasien dengan EPM yang dilakukan CTT.
Hubungan Anatomi Aneurisma dengan Endoleak Tipe 1a pada Reparasi Aneurisma Aorta Abdominalis (EVAR) Jamtani, Indah; Jayadi, Alexander
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 1 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i1.17

Abstract

Latar Belakang: Endoleak tipe 1a banyak ditemukan pada AAA dengan anatomi sulit. Sebelum tindakan EVAR, anatomi AAA perlu dinilai dan pitfall dikenali agar dapat mempersiapkan tindakan tambahan ataupun mempertimbangkan pembedahan terbuka. Belum banyak penelitian yang menggambarkan anatomi aneurisma pasien Asia dan kaitannya dengan kesuksesan dan kesulitan saat EVAR. Metode: Desain penelitian adalah cross–sectional pada pasien AAA yang menjalani EVAR oleh tim vaskular dan endovaskular FKUI-RSCM tahun 2013-2017. Pasien AAA yang disertai aneurisma torakal dieksklusikan. Untuk mengetahui adanya hubungan antara anatomi dengan kejadian endoleak tipe 1a dilakukan uji unpaired t-test atau Mann – Whitney test tergantung dengan distribusi data. Hasil: Didapatkan 55 subjek, 52 (94,5%) pria dan tiga (5,5%) wanita. Semua berusia di atas 60 tahun; rata-rata usia 70,2 (SD±5,8) tahun. Ditemukan enam kasus Endoleak tipe 1a (10,9%), dua tipe 1b dua (3,6%) dan tipe 4 satu kasus (1,8%). Rata-rata diameter leher proksimal 21,8 (SD±3,8) mm, median panjang 20 (10,1-61,9) mm dan rata-rata angulasi 138,8 (SD±26,7) derajat. Rata-rata panjang aneurisma 128,1 (25,4) mm dengan median diameter 58,8 (27,5-143,2) mm. Derajat keparahan anatomi diameter leher proksimal terdapat 29 (52,7%) pada kelompok absen, 12 (23,6%) ringan, 8 (14,5%) sedang dan 5 (9,1%) berat; Panjang leher proksimal, 21 (38,2%) dalam kelompok absen, 27 (49,1%) ringan dan 7 (12,7%) sedang. Derajat keparahan angulasi leher proksimal didapatkan 17 (30,9%) absen, 9 (16,4%) ringan, 16 (29,1%) sedang dan 13 (23,6%) berat. Derajat keparahan aneurisma paling banyak didapatkan dalam kelompok berat 34 (61,8%) diikuti dengan kelompok sedang 13 (23,6%), ringan 5 (9,1%) dan absen 3 (5,5%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara terjadinya endoleak tipe 1a dengan panjang aneurisma (p = 0,740), diameter aneurisma (p = 0,466), panjang leher proksimal (p = 0,253), diameter leher proksimal (p = 0,766) maupun angulasi leher proksimal (p = 0,090). Simpulan: Endoleak didapatkan pada sembilan subjek dengan tipe endoleak terbanyak adalah endoleak tipe 1a, tidak berbeda dengan yang didapatkan pada penelitian lain di dunia. Berdasarkan data yang didapatkan, dapat disimpulkan bahwa EVAR, dengan stent-graft yang digunakan, masih dapat dipertimbangkan bahkan pada anatomi aneurisma yang sulit dengan persiapan yang baik.
Pengaruh Lokasi Pemasangan Kateter Vena Sentral Terhadap Terjadinya Stenosis Vena Sentral : Studi Kasus Kontrol Pada Pasien Hemodialisis Tahun 2013-2015 Patrianef, Patrianef; Ocsyavina, Ocsyavina
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 1 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i1.18

Abstract

Latar Belakang: Insidensi Stenosis Vena Sentral (SVS) pada pemasangan kateter vena sentral sebesar 11-47%. SVS lebih sering terjadi pada pemasangan kateter vena subklavia yaitu sebesar 42% daripada vena jugular interna. Penelitian ini adalah mencari hubungan lokasi pemasangan kateter vena sentral dengan terjadinya SVS pada pasien yang melakukan hemodialisis rutin sehingga dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan penelitian studi kasus kontrol. Kelompok kasus yaitu pasien GGK stadium 4-5 dengan pemasangan kateter vena sentral yang mengalami SVS sedangkan kelompok kontrol yang tidak mengalami SVS. Jumlah sampel 30 pasien menderita SVS dan 120 kontrol dengan perbandingan 1:4. Analisis data dilakukan univariat, bivariat (uji Chi Square atau Fischer) dan multivariat (regresi logistik binari berganda). Hasil: Insidensi SVS sebesar 7,53%. Didapatkan korelasi yang bermakna (p <0,05) antara lokasi pemasangan (p = 0,000) dan frekuensi pemasangan kateter vena sentral (p = 0,000) terhadap terjadinya SVS. Nilai odds ratio (OR) lokasi pemasangan kateter pada vena subklavia adalah 148,77 dengan nilai OR pemasangan kateter >2 kali pada sisi yang sama sebesar 63,82. Tidak didapatkan korelasi yang bermakna antara usia (p = 1), jenis kelamin (p = 0,914), faktor komorbid (p = 0,102) serta durasi pemasangan kateter (p = 0,532) terhadap terjadinya SVS. Karakteristik demografis dan klinis pasien SVS di RSCM, yaitu laki-laki (16,67%), usia >45 tahun (17,3%), hipertensi (19,33%) lokasi pemasangan pada vena subklavia (18,67%), durasi pemakaian >6 minggu (15,33%) dan frekuensi pemasangan >2 kali (17,33%). Simpulan: Pemasangan kateter pada vena subklavia berpeluang sangat besar atas terjadinya SVS.
Validasi Kuesioner EORTC QLQ-CR29 untuk Menilai Kualitas Hidup Pasien Kanker Kolorektal di Indonesia Pramaningasih, Maelissa; Basir, Ibrahim; Jeo, Wifanto Saditya; Kekalih, Aria
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 1 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i1.19

Abstract

Latar Belakang: Saat ini di Indonesia tidak ada kuesioner standar untuk menilai kualitas hidup pasien dengan kanker kolorektal. European Organization for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire ColoRectal 29 (EORTC QLQ-CR29), adalah sebuah kuesioner yang terstandarisasi untuk menilai kualitas hidup yang umum digunakan pada negara maju. Penelitian ini mencoba membuktikan bahwa EORTC QLQ-CR29 adalah kuesioner yang valid dan reliabel untuk digunakan di Indonesia. Metode: Kuesioner EORTC QLQ-CR29 diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, dan diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris. Dilakukan sebuah studi pilot terlebih dahulu, kemudian studi utama ke pasien kanker kolorektal pada poliklinik Bedah Digestif di RSUPN dr.Cipto Mangunkusumo. Desain studi cross-sectional, digunakan intraclass correlation coeficient (ICC) untuk menilai test-retest realiability. Konsistensi internal dievaluasi menggunakan Cronbach’s α coefficient. Validitas konvergen dan diskriminan dianalisa dengan multi-trait scaling. Validitas klinis dievaluasi berdasarkan perbedaan klinis yang telah diketahui sebelumnya menggunakan known-group comparisons. Hasil: Sebanyak lima puluh dua pasien yang berpartisipasi pada penelitian ini. Proses penterjemahan membutuhkan sedikit perubahan akibat adanya perbedaan budaya. Uji test-retest dilakukan pada 17 subjek, yang menunjukkan nilai yang dapat diterima (0.67-1.00). Nilai Cronbach’s α coefficient 0,77-0,86, nilai ini melebihi kriteria 0,7. Pada multi-trait scaling analysis menunjukkan skala multi-item memenuhi standar validitas konvergen dan diskriminan. Pada uji known group comparison menunjukkan kualitas hidup yang berbeda berdasarkan lokasi tumor. Simpulan: Dibutuhkan adaptasi budaya dalam proses penterjemahan. Kuesioner EORTC QLQ-CR29 yang telah diterjemakan merupakan kuesioner yang valid dan reliabel untuk menilai kualitas hidup pasien kanker kolorektal di Indonesia.
Analisis Hubungan Polimorfisme Gen Matrix Metalloproteinase-9 (MMP-9) dengan Penyakit Ulkus Diabetik pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di RSCM Pratama, Dedy; Wibawa, IGAB Krisna; Patrianef, Patrianef
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 1 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i1.20

Abstract

Latar Belakang: Ulkus kaki diabetik (UKD) adalah salah satu komplikasi dari diabetes melitus (DM) yang insidennya cenderung meningkat. Beberapa penelitian mengindikasikan polimorfisme gen matrix metalloproteinase-9 (MMP-9) pada titik -1562C/T dan +632A/G memiliki peranan penting dalam perkembangan dan patofisiologi ulkus kaki diabetik, yakni sebagai penanda inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan polimorfisme gen MMP-9 dengan penyakit ulkus diabetik pada penderita DM tipe 2. Metode: Evaluasi menggunakan case control study, subjek penelitian adalah semua penderita DM tipe 2 dengan atau tanpa UKD yang memenuhi kriteria inklusi di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo pada bulan Juli 2016 hingga Desember 2016. Hasil: Terdapat 197 pasien DM tipe 2 (laki-laki 49,2% dan perempuan 50,8%). Faktor yang berpengaruh dan bermakna secara statistik yakni penyakit arteri perifer (p=0,001), nyeri istirahat (p=0,001), neuropati (p=0,001), merokok (p=0,001), hipertensi (p=0,001), klaudikasio (p=0,001), anemia (p=0,001), dan leukositosis (p=0,001). Distribusi polimorfisme alel dari gen -1562C/T pada seluruh populasi, pada alel C = 74,6%, alel T = 25,4%. Distribusi polimorfisme alel dari gen +836A/G, pada alel A = 41,4%, dan alel G = 58,6% pada seluruh populasi. Simpulan: Pada MMP-9 -1562 C>T, genotipe TC secara statistik memiliki perbedaan secara signifikan terhadap insiden dan merupakan faktor pencegah dalam terjadinya UKD (p=0,001).
Perbandingan Sensitivitas dan Spesifisitas Lung Organ Failure Score (LOFS) dan Thoracic Trauma Severity Score (TTSS) terhadap Pemakaian Ventilator pada Pasien Trauma Multipel disertai Trauma Tumpul Toraks Setiawan, Gideon; Murni, Tri Wahyu; Nusjirwan, Rama; Sobarna, Rachim
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 1 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i1.21

Abstract

Latar Belakang: Trauma multipel adalah cedera pada dua atau lebih sistem organ yang mengancam jiwa dan memerlukan perawatan di ruang ICU yang tersedia monitor, tenaga medis terampil, dan ventilator bila diperlukan. Namun ruang ICU tidak selalu ada, sehingga sebagian pasien akan dirawat di ruang HCU dan rawat biasa. Trauma multipel yang disertai trauma toraks akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas. Penilaian awal serta tatalaksana harus dilaksanakan dengan akurat dan secepat mungkin. Penggunaan skor trauma dapat membantu untuk menentukan risiko gagal napas. Dengan mengetahui perbandingan sensitivitas dan spesifisitas skor LOFS dan TTSS, klinisi dapat mengetahui risiko gagal napas yang memerlukan ventilator. Metode: Penelitian ini merupakan suatu penelitian yang bersifat prospektif observasional untuk menilai perbandingan sensitivitas dan spesifisitas skor LOFS dan TTSS pada pasien trauma multipel yang disertai trauma tumpul toraks. Subjek penelitian adalah pasien yang masuk ke IGD RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung periode 1 Januari 2017 – 31 Maret 2018 dengan metode simple random sampling. Pasien dilakukan survei primer dan dilakukan resusitasi, kemudian dinilai skor LOFS dan TTSS. Hasil: Terdapat 83 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Rancangan penelitian dirancang secara cross sectional. Analisis data memakai kurva ROC ( Receiver Operating Characteristic ). Trauma toraks yang paling sering terjadi adalah kontusio paru sebesar 74,7% dengan trauma penyerta terbanyak adalah trauma kepala sebanyak 54,4%. Prevalensi pemakaian ventilator dengan perawatan ruang ICU sebesar 25,3%. Skor LOFS memilki sensitivitas 85,1% dan spesifisitas 94,4%. Sedangkan skor TTSS memiliki nilai sensitivitas 83,3% dan spesifisitas 77,8%. Simpulan: Skor LOFS memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi dibandingkan skor TTSS dan bermakna secara statistik.
Hiperbilirubinemia sebagai Prediksi terhadap Appendisitis Perforasi Siregar, Sun Parkuseg; Putranto, Agi Satria; Kekalih, Aria
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 1 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i1.22

Abstract

Latar Belakang: Penegakkan diagnosis apendisitis perforasi sebelum tindakan operasi akan berpengaruh terhadap morbiditas pasien. Dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang sederhana berupa peningkatan nilai lekosit, dan netrofil segmen dan peningkatan nilai bilirubin total pre-operatif diharapkan dapat memprediksi diagnosis apendisitis perforasi. Metode: Dari 128 pasien apendisitis akut yang dating ke IGD dilakukan pemeriksaan penunjang tambahan nilai bilirubin total dan dilakukan apendektomi dikumpulkan secara retrospektif dari Januari – Juli 2016. Data dasar karateristik pasien, hasil penunjang laboratorium darah dan laporan operasi diambil dari rekam medik, lalu dilakukan analisis multivariate untuk melihat korelasinya. Hasil: Dari 128 pasien yang didiagnosis awal sebagai apendisitis akut sebanyak 68,8% dan apendisitis perforasi sebanyak 31,3% didapatkan temuan intra operatif apendisitis non perforatif sebanyak 46,9% dan apendisitis perforasi sebanyak 53,1% dengan nilai rata-rata bilirubin total adalah 1,19 mg/dL dan nilai cut off adalah 1,00 mg/dL. Laki-laki dengan apendisitis perforasi 66,1% dan perempuan 33,9% .Dengan lama sakit di rumah sebelum dating ke IGD rata-rata 3,5 hari. Dengan nilai sensitivitas 77,94%; spesifitas 76,67%, nilai prediktif positif 79,1% dan nilai prediksi negative 75,41%. Pada uji analisis multivariate didapat kan nilai bilirubin total ( odds ratio 5,016; 95% confidence interval 2,092-12,026; P = < 0,0001), leukosit ( odds ratio 1,993; 95% confidence interval 0,893-4,451; P = 0,092) dan alvarado score ( odds ratio 3,193; 95% confidence interval 1,542-6,611; P = 0,002) yang secara statistic signifikan untuk memprediksi diagnosis apendisitis perforasi pre-operatif. Simpulan: Hiperbilirubinemia secara satitistik signifikan untuk memprediksi diagnosis apendisitis perforasi pre-operatif.
Perbandingan Insiden Komplikasi Pascaoperasi Herniorafi dengan Mesh Teknik Lichtenstein dengan Teknik Laparoskopi Di RSCM Ulfandi, Devby; Jeo, Wifanto Saditya
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 1 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i1.23

Abstract

Latar Belakang: Angka komplikasi dan kekambuhan pascaoperasi herniorafi cukup tinggi dan menuntut teknik operasi terbaik. Teknik Lichtenstein merupakan gold standard untuk openherniorafi hernia inguinalis. Saat ini teknik laparoskopi minimal invasive semakin berkembang dan banyak studi menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan Lichtenstein. Studi ini bertujuan membuktikan perbedaan insidensi komplikasi pascaoperasi herniorafi dengan mesh teknikLichtenstein dan teknik laparoskopi pada pasien hernia inguinalis di RS dr. Cipto Mangunkusumo dalam 5 tahun (2011-2015). Metode: Studi ini bersifat potong lintang/cross sectional deskriptif analitik terhadap 62 subjek dewasa yang telah menjalani operasi elektif herniorafi dengan mesh di RS dr. Cipto Mangunkusumo. Dengan stratified random sampling subjek dibagi dua kelompok,Lichtenstein dan laparoskopi, kemudian dilakukan analisis statistik dengan Chi square atau uji Fisher, dan regresi logistik multivariat. Didapatkan hubungan apabila ditemukan nilai p < 0,05 dengan interval konfidensi 95%. Hasil: Insidensi terjadinya komplikasi pascaoperasi herniorafi dengan mesh teknik Lichtenstein dan laparoskopi dari 62 subjek secara signifikan berhubungan (p = 0,006 , OR 7,229 , IK 95% 2,33–22,35) sehingga berisiko 7,2 kali menimbulkan komplikasi pada teknik Lichtenstein.Juga didapatkan bahwa variabel lama rawat dan jenis operasi berhubungan secara signifikan dengan terjadinya komplikasi pascaoperasi (p = <0,001). Variabel usia, lama operasi, dan indeks masa tubuh tidak memiliki hubungan secara signifikan dengan komplikasi pascaoperasi kedua teknik tersebut (p = >0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan insidensi komplikasi pascaoperasi herniorafi dengan mesh teknik Lichtenstein dan teknik laparoskopi pada penderita hernia inguinalis di RS dr. Cipto Mangunkusumo, yang menunjukkan insidensi komplikasi lebih banyak muncul pada tindakan Lichtenstein dibandingkan laparoskopi dengan faktor lama rawat dan jenis operasi yang bermakna secara signifikan terhadap insidensi komplikasi pascaoperasi.
Evaluasi Angka Kejadian Komplikasi Pasca Kolostomi Serta Faktor-Faktor Yang Berhubungan Di RSUPN Cipto Mangunkusumo Tahun 2012-2014 Hendy, Alldila; Putranto, Agi Satria
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 1 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i1.24

Abstract

Latar Belakang: Tindakan pembuatan kolostomi, telah menjadi bagian prosedur penting dalam penatalaksanaan pembedahan pada beberapa penyakit yang melibatkan saluran gastrointestinal. Sehingga perlu dicari faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya komplikasi. Metode: Studi potong lintang retrospektif analitik, di RSUPN Cipto Mangunkusumo dengan mencatat rekam medis pasien pasca kolostomi dari bulan Januari 2012 hingga Desember 2014 di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo Jakarta Departemen Ilmu Bedah divisi Bedah Digestif. Hasil: Dari 136 kasus pasca kolostomi, 66 pasien mendapatkan komplikasi pasca kolostomi, 14 kasus komplikasi awitan dini dan 52 awitan lambat. 70 kasus tindakan pasca kolostomi adalah tanpa komplikasi. Komplikasi terbanyak adalah dermatitis, yaitu 31 pasien (22.8%), kasus infeksi/abses/fistula dan obstruksi usus, yaitu 13 pasien (9.6%) dan 5 pasien (4.4%). Komplikasi yang jarang terjadi adalah retraksi stoma sebanyak 2 pasien (1.5%), prolaps stoma dan nekrosis/gangren, yaitu hanya 3 pasien (2.2%). Operasi cito memiliki resiko lebih besar terjadinya komplikasi pasca kolostomi daripada operasi yang dilakukan secara elektif (p 0.007, OR 2.85), Berdasarkan operator yang melakukan pembuatan kolostomi, konsulen memiliki resiko lebih kecil terjadinya komplikasi kolostomi dibandingkan trainee maupun residen (p < 0.0001). faktor usia, dimana usia sekitar 50 tahun (mean±SD,50.94±14) memiliki resiko terjadinya komplikasi pasca kolostomi (p 0.018). Simpulan: Faktor-faktor berdasarkan jenis operasi (cito atau elektif), faktor usia, dan operator pembuat kolostomi memiliki hubungan bermakna dengan peningkatan angka kejadian komplikasi pasca kolostomi di RSCM.
Akan Dibawa Kemana Sistem Penjaminan Kesehatan Indonesia di tahun 2019 Patrianef, Patrianef
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 1 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i1.27

Abstract

Assalamualaikum WW Sejawat sekalian, memasuki tahun 2019 akan banyak peristiwa yang menentukan perjalanan profesi kita kedepannya. Salah satunya adalah pemilihan presiden dan pemilihan anggota legislatif. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, hasil pemilihan ini akan mempengaruhi perjalanan profesi kita selanjutnya. Salah satu hal yang perlu kita cermati adalah bagaimana perjalanan selanjutnya dari sistem pembiayaan jaminan kesehatan yang selama ini dilaksanakan oleh BPJS Kesehatan. Sebagaimana kita ketahui bahwa pembiayaan BPJS Kesehatan dalam RAPBN 2019 hanya sebanyak Rp 26,7 T hanya meningkat sebanyak Rp1,7 T dibandingkan tahun 2018 yaitu sebanyak Rp 25 T. Konsekwensi dari hal ini adalah tidak akan ada kenaikan pembiayaan BPJS Kesehatan untuk tahun 2019. Kenaikan Rp1,7 T diperkirakan hanya untuk mengakomodasi penambahan jumlah peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan tahun ini. Penambahan iuran pada segmen lain akan sulit dilakukan jika tidak ada penambahan iuran dari segmen PBI. Diperlukan dukungan politik dan kearifan dari pemimpin Negara ini untuk memperlakukan sektor kesehatan lebih baik. Menurut Standar WHO, total pembiayaan sektor kesehatan harusnya sebanyak 10% dari Produk Domestik Bruto (PDB) , sementara pembiayaan sektor kesehatan kita saat ini hanya sekitar 2,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pembiayaan sektor kesehatan kita termasuk yang terendah di Asia bahkan dilingkungan Negara ASEAN kita juga termasuk yang terendah jika dihitung perkapita, bukan dihitung jumlah totalnya. Menaikkan pembiayaan sektor kesehatan bukanlah hal yang mudah, karena diperlukan pemahaman bahwa sektor kesehatan sama pentingnya dengan sektor pendidikan karena berhubungan langsung dengan kualitas sumber daya manusia. Kita berharap kedepannya, siapapun yang memerintah Negara ini akan membuat sistem pelayanan kesehatan termasuk sistem pembiayaan kesehatan yang lebih baik. Perbaikan system pembiayaan kesehatan jelas jelas harus diperbaiki agar jangan sampai timbul lagi kekisruhan yang semuanya disebabkan pembiayaan kesehatan yang defisit bahkan sampai Rp 16,5 T menurut versi BPJS Kesehatan di tahun 2018.

Page 1 of 10 | Total Record : 95