cover
Contact Name
Muhammad Anwar
Contact Email
jaringansantri95@gmail.com
Phone
+6285814031363
Journal Mail Official
jaringansantri95@gmai.com
Editorial Address
Wisma Usaha UIN Jakarta Lt 2 Jl Ir Juanda No 95 Ciputat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization
Published by Islam Nusantara Center
ISSN : 26214938     EISSN : 26214946     DOI : https://doi.org/10.51925/inc
This journal specialized academic journal dealing with the theme of religious civilization and literature in Indonesia and Southeast Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with perspectives of philosophy, philology, sociology, antropology, archeology, art, history, and many more. This journal invites scholars from Indonesia and non Indonesia to contribute and enrich the studies published in this journal. This journal published twice a year with the articles written in Pegon, Arabic and English and with the fair procedure of blind peer-review.
Articles 35 Documents
SUNTINGAN TEKS, TERJEMAHAN DAN ANALISIS NARATIF KADIS NABI MUHAMMAD DALAM NASKAH BALINES LT, Lutfianto
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 3 No 02 (2020): Jaringan Ulama Nusantara dan Haramain
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v3i02.21

Abstract

دأيراه بالي كينتال ديڠان أڬاما هيندو. نامون ديميكيان كيتيكا أدا نسكاه بيرأكسارا بالي بيرباهاسا جاوا بيرإيسي أڬاما إسلام ميروڤاكان كيأنيهان تيرسينديري. ناسكاه بالينيس ديڠان كيتيراڠان تيرتوليس كاديس نبي محمّد تيرسيبوت تيرسيمڤان دي ڤيرڤوستاكأن ناسكاه بيرلين جيرمان ديڠان نومور III ٣١ ١٩٧٠. ناسكاه إيني ميناريك أونتوك ديتيليتي. سيجأوه مانا إيسيۑا, سيبيراڤا باۑاك حديث نبي محمّد ياڠ تيرداڤات دالام ناسكاه تيرسيبوت. أوليه كارينا إيتو ڤينيليتي إيڠين ميلاكوكان ڤينيليتييان أوال ديڠان سونتيڠان تيكس دان تيرجيماهان. سونتيڠان دان تيرجيماهان مينجادي لڠكاه أوال دالام ڤينيليتييان فيلولوڬي. سيهيڠڬا داڤات ميڠوڠكاڤ إيسي نسكاه تيرسيبوت. ڤينوليس تيداك هاۑا بيرهينتي ڤادا ميڠهاديركان تيكس دان تيرجيماهنۑا ساجا تيتاڤي جوڬا ميڠاناليساۑا ديڠان أناليسيس ناراتيف. حال إيني بيرتوجووان أونتوك ميمبانتو ڤيماهامان ڤيمباچا تينتاڠ إيسي كاديس نبي محمّد دي دالام نسكاه بالينيس. حصيل ڤينيليتييان مينونجوكّان بهوا ناسكاه تيرسيبوت ليبيه باۑاك بيرإيسي چيريتا سيجاراه نبي محمّد دان ياڠ بيركإيتان ديڠانۑا. Daerah Bali kental dengan agama Hindu. Namun demikian ketika ada naskah beraksara Bali berbahasa Jawa berisi agama Islam merupakan keanehan tersendiri. Naskah Balines dengan keterangan tertulis Kadis Nabi Muhammad tersebut tersimpan di Perpustakaan Naskah Berlin Jerman dengan Nomor III 31 1970. Naskah ini menarik untuk diteliti. Sejauh mana isinya, seberapa banyak hadis Nabi Muhammad yang terdapat dalam naskah tersebut. Oleh karena itu peneliti ingin melakukan penelitian awal dengan suntingan teks dan terjemahan. Suntingan dan terjemahan menjadi langkah awal dalam penelitian filologi. Sehingga dapat mengungkap isi naskah tersebut. Penulis tidak hanya berhenti pada menghadirkan teks dan terjemahannya saja tetapi juga menganalisisnya dengan analisis naratif. Hal ini bertujuan untuk membantu pemahaman pembaca tentang isi Kadis Nabi Muhammad di dalam Naskah Balines. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah tersebut lebih banyak berisi cerita sejarah Nabi Muhammad dan yang berkaitan denganya.
KAFF AL-‘AWÂM : SAAT KIAI HASYIM BERBICARA SAREKAT ISLAM elbahr, Azhari
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 3 No 02 (2020): Jaringan Ulama Nusantara dan Haramain
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v3i02.20

Abstract

Naskah Kaff al-‘Awâm ‘an al-Khaudhi fî Syirkah al-Islâm yang ditulis pada tahun 1913 M mengkaji pemikiran dan sikap KH. M. Hasyim Asy’ari terhadap fenomena kemunculan Sarekat Islam pada masa awal berdirinya. Naskah ini adalah sebuah korespondensi KH. M. Hasyim Asy’ari kepada salah satu gurunya, yakni Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, yang di dalamnya memberikan informasi tentang adanya hal-hal yang terjadi mengiringi perjalanan awal perkembangan SI yang bertentangan dengan syariat Islam. Argumen-argumen pun disertakan untuk menguatkan pendapatnya itu. Naskah Kaff al-‘Awâm ini terdiri dari 29 halaman, dan menjelaskan tentang empat bahasan, yaitu pengertian dan klasifikasi bid’ah, pandangan dan kritik KH. M. Hasyim Asy’ari terhadap Sarekat Islam, tanbihat (peringatan-peringatan) dan khatimat (penutup) yang di dalamnya terdapat pesan-pesan terhadap hal yang sedang dibahas sebelumnya. Penelitian ini berusaha mengungkap faktor-faktor yang melatarbelakangi penulisan naskah Kaff al-‘Awâm, mengetahui sistematika penulisan, serta mengetahui pemikiran dan sikap KH. M. Hasyim Asy’ari terhadap Sarekat Islam dalam naskah tersebut.
Understanding Distortion of Islam Nusantara on Public Opinion in Indonesia on Political Ambience of 2019 Presidential Election Perdana, Kiki Esa
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 2 No 01 (2019): Menggali dan Melestarikan Khazanah Keilmuan Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v2i01.16

Abstract

One of the most important roles in communication in life is that the information that is received is not distorted; moreover it can be received by the communicator completely. With a good plot of communication, all the process of information flows and good will from Islam Nusantara will be considered smooth and succeed. Communication effect or feedback is very important for all the information flows without exception so that the final result that is gained is really appropriate. In the end, all those people who have role to convey the communication activity of Islam Nusantara must pass through the process diligently; because it is definitely that the communication process of Islam Nusantara will be distorted, with so many unsubstantial disagreements emerge.
ما هي نهضة العلماء؟ al Bantani, Imaduddin Usman
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 2 No 01 (2019): Menggali dan Melestarikan Khazanah Keilmuan Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v2i01.17

Abstract

نهضة العلماء هي روح لجسد اهل السنة والجماعة فى اندونيسيا وهي نور مقتبس من انوار الحكم العالية، والطرائق المستقيمة، و البصائر اللائحة، والمفاهيم الدقيقة، و الاسرار الغالية، ورثها الاولياء التسعة، وغيرهم من الدعاة الجهبذة، ذوي العلوم الظاهرة والباطنة، ذو لا ينظرون ظواهر الاشياء الا مع الانصاف ببواطنها، و لا يخاطبونهم الجهلاء الا قالوا سلاما. وهي جنة لتخلط دين الملحدين المقصرين، و لامة لشبهات فتنة الحاسدين المتطرفين. جعل الله نهضة العلماء فى اندونيسيا وسطا بين سائر الافهام، كما جعل امة الاسلام وسطا بين سائر الامم.
Transformasi patriotisme menuju Intelektualisme Dalam Perang Jawa 1825-1830 Fuadi, Mohammad Ashif
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 2 No 01 (2019): Menggali dan Melestarikan Khazanah Keilmuan Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v2i01.14

Abstract

Gerakan perlawanan melawan penjajah manjadi tradisi masyarakat yang mendarah daging. Berangkat dari nasib dan tujuan yang sama para pejuang dengan motivasi membela agama dan bangsa rela mengorbankan nyawannya demi memperolah kemerdekaan. Sejarah perjalanan gerakan perlawanan di nusantara pun sangat bervariasi dimulai dari gerakan yang bersifat lokal seperti perlawanan di pelosok-pelosok kecil desa, namun terdapat pula model gerakan perlawanan yang bersifat massif dan skalanya pun lebih besar seperti Perang Diponegoro 1825-1830. Di setiap perjuang pergerakan, juga menghasilkan karakter gerakan dakwah yang mendasari atau melatar belakangi, sehingga sangat memberikan pengaruh terhadap konsep ideologi yang diyakini baik saat (ketika) perang, atau bahkan jauh setelahnya. Hal ini erat kitannya dengan self motivation (motivasi diri) yang yang diyakini oleh pemimpin perang maupun para pasukannyu seperti perang padri 1803-1838 di Sumatera Barat. Pada tulisan ini penulis akan berusaha menelusuri lebih jauh macam-macam model/karakter perjuangan dalam gerakan perlawanan yang menghasilkan tradisi pembentukan keilmuan khususnya di pesantren. jika ditarik jauh ke belakang hingga sekarang ini, ternyata semangat/motivasi perjuangan tersebut menghasilkn banyak varian corak ideologi dan keilmuan baik secara personel maupun institusional seperti pesantren pada era sekarang ini.
Living Fence: Ethnobotanical Study on Plant Utilization in Simeuue Island, Aceh Darussalam Royyani, Mohammad Fathi
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 2 No 01 (2019): Menggali dan Melestarikan Khazanah Keilmuan Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v2i01.15

Abstract

This is an ethnobotanical article that explains the use of plants by the people of Simeulue Island, Aceh to protect open agricultural fields (ladang) and rice fields (sawah) from free roaming-grazing livestock, particularly water buffalo, cows, and goats. In Simeulue, the livestock are released roaming free for food. In order to protect the open agricultural and rice fields, the people of Simeulue Island various species of plants are planted as living fences. The species selected are based on the local knowledge of plant morphology. The result of the current study indicates that 23 species of plants are implemented, in which the seeds and seedlings are found in the forests near the villages. In 2007, one foreign species known locally as ‘gamel’ (Gliricidia sepium; Fabaceae, the South American original) has been introduced for their easy planted, fast growing nature, and have been widely planted since. Kajian ini hendak melihat pemanfaatan tumbuhan sebagai pagar hidup yang melindungi lahan pertanian dan perkebunan dari hewan ternak yang dilepas-liarkan sehingga masuk ke lahan perkebunan masyarakat dan memakan tanaman. Untuk mengantisipasinya, masyarakat membuat pagar hidup yang berupa jenis-jenis pohon yang ditanam mengelilingi lahan. Melalui penelitian etnobotani diketahui bahwa masyarakat memilih jenis-jenis pohon yang dijadikan pagar hidup berdasarkan pengetahuan lokal terkait dengan tumbuhan. Jenis-jenis yang dipilih adalah jenis-jenis yang mudah tumbuh dan bisa bertahan dalam kerapatan. Dari hasil penelitian diketahui terdapat 23 jenis tumbuhan yang digunakan untuk pagar hidup. Dari jumlah tersebut sebagian besar tumbuh di hutan sekitar pemukiman mereka. Sejak tahun 2007 satu jenis baru, ‘gamel’ (Gliricidia sepium; Fabaceae, jenis asli Amerika Selatan) didatangkan dan ditanam menggantikan jenis lama. Tanaman baru ini lebih mudah ditanam, cepat tumbuh, dan kini sudah ditanam secara luas.
Tiga Penyebab Mandegnya Islamisasi di Tana Toraja Wahyudi, Johan
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 2 No 01 (2019): Menggali dan Melestarikan Khazanah Keilmuan Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v2i01.13

Abstract

Tana Toraja merupakan salah satu wilayah yang penduduknya jauh dari tradisi Islam Nusantara. Wilayah ini terletak di pedalaman Sulawesi Selatan, bertetangga dengan banyak peradaban tua di pulau ini seperti kerajaan Luwu, Enrekang, Mandar dan Bone. Berbeda dengan keempat daerah tetangganya, sampai awal abad 20, penduduk Tana Toraja masih menganut kepercayaan lokal yang dinamakan Aluk Todolo atau kepercayaan orang-orang di masa silam. Mereka setia menganut kepercayaan ini hingga akhirnya terjadi konversi besar-besaran penduduk Toraja ke Nasrani. Tentu merupakan suatu anomali, mengapa Islam tidak dipeluk oleh penduduk Toraja. Padahal, jika menimbang pada peta perpolitikan Sulawesi Selatan di abad 17, masa di mana kerajaan besar Goa Tallo dan Bone mencapai puncak kejayaannya, bisa saja segenap cara digunakan untuk memperkenalkan Islam ke penduduk setempat, baik dengan cara tidak langsung, seperti perdagangan atau secara paksaan, salah satunya perang. Namun sampai menyentuh abad 21, belum jua mayoritas penduduk Toraja memeluk Islam. Tulisan ini akan mengetengahkan suatu sajian sejarah sosial. Penulis mendapatkan setidaknya tiga alasan mengapa Islam bukan menjadi agama yang dominan di masyarakat Toraja. Pertama, ingatan kelam masyarakat Toraja mengenai invasi pasukan Bone di bawah pimpinan Arung Palakka pada abad 16. Kedua, kekisruhan di masyarakat akibat peristiwa Perang Kopi pada abad 19. Terakhir, kegiatan zending yang mengunngguli dakwah Islam karena disokong pula oleh pemerintah Hindia Belanda. Tulisan ini akan mengangkat perkembangan sistem kepercayaan masyarakat Toraja yang senantiasa tetap (stagnan) namun di masa tertentu mengalami perubahan pada abad 21. Tulisan ini mematahkan argumen Edward B. Tylor yang mengatakan bahwa masyarakat primitif atau masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat, akan mengalami tiga fase perkembangan kepercayaan yakni animisme, politeisme dan monoteisme. Masyarakat Toraja sebenarnya tidak bisa dikatakan primitif, mereka mempunyai sistem kepercayaan yang sudah estabilished. Oleh sebab itulah mengapa islamisasi menemui kegagalan.
Keberhasilan Dakwah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Kudus Jawa Tengah Estuningtiyas, Retna Dwi
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 2 No 01 (2019): Menggali dan Melestarikan Khazanah Keilmuan Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v2i01.12

Abstract

Dakwah tarekat Naqsyabandiyah adalah dengan mengajak kepada kehidupan sufi, dalam arti merujuk definisi Said Hawwa sebagai ‘jalan menuju Allah, di jalan yang ditentukan Allah, untuk mencapai ridha Allah’. Hasilnya adalah mencapai maqam ihsan, yaitu derajat rohani. Pada awalnya, jalan menuju Allah dalam metode sufisme adalah dengan membaca dzikir bersama-sama pada majelis dzikir yang disebut zawiyah atau ribath, yang di Indonesia banyak disebut dengan pasulukan. Merujuk pada konsep-konsep Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi dalam kitab Tanwir al-Qulûb fi Mua’malah ‘Allam al-Ghuyûb, pokok dakwah dari tarekat Naqsyabandiyah adalah terjadinya pengubahan perilaku (tasharruf) seorang murid dari kondisi lalai atau tertidur jiwanya menjadi ingat atau terjaga jiwanya, lalu kemudian senantiasa mengingat Allah. Adapun tarekat Naqsyabandiyah Sejak masuk ke Indonesia sampai kini terus berkembang khususnya di Jawa dan Sumatera. Hal ini juga berarti tarekat ini bertahan dari gempuran modernisasi di satu pihak, dan gempuran sekularisasi Islam yang anti tareqat di lain pihak. Perguruan Arwaniyyah di Kabupaten Kudus sebagai perguruan dengan mengamalkan ajaran tarekat Naqsyabandiyah terus berkembang dan berhasil dalam melaksanakan visi misi dakwahnya.
Manuscript Review: BABAD GEDHONGAN; CERITA JAWA YANG DISEMBUNYIKAN Hakim, Taufiq
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 1 No 01 (2018): ISLAM NUSANTARA CIVILIZATION
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v1i01.10

Abstract

Babad Gedhongan namanya. Informasi yang tercantum dalam bagian awal, naskah ini digubah atau disalin dengan hati-hati oleh penyalinnya. Sayangnya belum diketahui nama penyalin. Hanya tertera waktu penyalinan naskah dan manggala (pengantar puji-pujian atau persembahan karya). Tertera dalam bait pertama Pupuh I, naskah ini disalin pada bulan ketujuh, wuku Maktal, hari Kamis pada tanggal 5 Safar tahun 1845. Belum dapat dipastikan penulisan tahun tersebut berbentuk penanggalan Syamsiyah dan Qomariyah. Konversi penanggalan naskah pasca periode Sultan Agung sejauh pengetahuan saya belum pernah dilakukan. Dengan demikian, jika penanggalan dalam Babad Gedhongan merupakan tahun Qomariyah, maka naskah ini digubah pada periode pujangga terakhir Kraton Surakarta pada masa Aryo Mangkunegara IV masih hidup, atau penghujung abad ke-19. Informasi yang cukup mencengangkan terdapat pada pupuh selanjutnya. Babad Gedhongan disebut sebagai kitab rahasia, kisahnya disembunyikan oleh para pujangga zaman dulu lantaran kekejaman rajanya. Nama penyalinnya pun disamarkan. Menurut informasi yang terdapat dalam prolog, Babad Gedhongan merupakan intisari dari rahasia sejarah Jawa sejak jaman Majapahit hingga Surakarta. Si Penggubah juga menyatakan bahwa naskah ini menceritakan kisah secara apa adanya, dan merupakan kisah yang tidak terdapat di dalam Babad Jawa, serta yang dikehendaki oleh raja pertama di Surakarta.
الشيخ محمد نووي البنتني الجاوي المكي وجهوده الدعوية في القرن التاسع عشر الميلادي Imawan, Dzulkifli Hadi
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 1 No 01 (2018): ISLAM NUSANTARA CIVILIZATION
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v1i01.9

Abstract

This paper is about to discuss a scholar of Nusantara in Haramain who has a major role in the development of da’wah and intellectuals in the Islamic world in the 19th century ADthe 19th-20th century AD was the golden age of the scholar of Nusantara in Haramain because of the quantity and quality of those who did not exist before or since. But the traces of their da’wah are not widely known by the present generation like Shaykh Muhammad Nawawi al-Bantani. Therefore, thisstudy will discuss the history of one of Nusantara scholar in Haramain, Shaykh Muhammad Nawawi al-Bantani by taking the focus of his study of dakwah and his intellectual contribution in the Islamic world.The study used is a study of literature on the biography of Haramain scholars, especially the literary sources that discussed Shaykh Nawawi al-Bantani. the results of this study suggest that Shaikh Muhammad Nawawi al-Bantani was a great Haramain scholar who came from the archipelago, and he was well known by the Haramain scholars of his time. he has spent his life to preach both verbally (ta’lim), writings (kitabah), and examples (qudwah) by clinging to al-sunnah waal-jamaah’s manhaj in aqidah, Shafi’s school in Sharia and Sunni tasawuf. From the influence of his da’wah, he has given birth to many great scholars and many helpful Islamic repertoire both materially and intellectually.

Page 1 of 4 | Total Record : 35