cover
Contact Name
Hafizh Al Fikri
Contact Email
hafizalfikri@ikj.ac.id
Phone
+6281380151716
Journal Mail Official
jurnal@senirupaikj.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta Kompleks Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Raya No. 73, Cikini Kec. Menteng Kota Jakarta Pusat, 10330
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Senirupa Warna (JSRW)
ISSN : 23551682     EISSN : 26857618     DOI : https://doi.org/10.36806
JSRW supports the vision and mission of FSR-IKJ to publish works of a scientific nature within FSR-IKJ and beyond. Works published must discuss discourses of arts (either fine or applied) in the fields related to visual aspects, such as fine arts, design, craft, visual narratives, and forms of art that utilize the new media.
Articles 94 Documents
Penyajian Koleksi Museum Sejarah dan Budaya Kota Malang Tjahjawulan, Indah; Gardjito, Adityayoga
Jurnal Seni Rupa Warna Vol 7 No 2 (2019): Makna Ruang untuk Masyarakat Urban
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Tata pamer atau penyajian koleksi menjadi bagian penting dalam menginformasikan atau memberikan edukasi bagi pengunjung pada sebuah museum. Tata pamer dapat menggambarkan atau menceritakan pesan dari sebuah museum. Kota Malang merupakan kota yang memiliki museum yang cukup banyak, baik museum yang dikelola oleh lembaga pemerintahan, maupun lembaga swasta dan atau milik pribadi. Terbanyak adalah museum yang memiliki koleksi berkaitan dengan sejarah dan budaya. Penelitian ini akan memetakan museum di Kota Malang, yang memiliki koleksi terkait kesejarahan dan budaya, selain itu narasi utama yang ingin disampaikan oleh museum tersebut, narasi kecil yang mendukung, dan kondisi tata pamer yang ada. Penelitian awal dilakukan dengan cara mendata seluruh museum yang ada, membuat klasifikasi jenis museum dan koleksi yang dimiliki, menentukan museum yang akan diteliti. Tiga (3) museum dengan koleksi yang berbeda menjadi sampel penelitian untuk dapat menemukan pola penyajian pada masing-masing museum. Memotret seluruh kondisi tata pamer yang meliputi alur, pemilihan artefak, penempatan, grafis pendukung, elemen pendukung dan tata cahaya. Analisis yang dilakukan adalah analisis visual dari seluruh unsur yang membangun tata pamer, dan mencari relevansinya dengan narasi besar maupun narasi kecil yang ingin disampaikan. Hasil penelitian diharapkan dapat memetakan pola-pola penyajian dan memberikan pemahaman bagaimana relevansi tata pamer, dengan wacana yang ingin disampaikan oleh sebuah museum. Abstract: Exhibition arrangement becomes an important part of informing or educating visitors to a museum. Exhibition arrangement in a museum describes or conveys messages. Malang is a city that has a lot of museums that are managed by government agencies, corporates and privates. The themes of the museums in Malang mostly related to history and culture. This research will map the design of the museum's exhibition arrangement in Malang and also the the narrations of the exhibitions. Initial research is done by listing all the exhibition arrangements of the museums, making the classification of museum types and collections owned, and determining which museums to be studied. Analysis begun with taking picture of the the entire existing exhibitions and describing the concepts of the visitors walk flow, selection of artifacts, placement, supporting graphics, supporting elements and tata cahaya. The analysis is a Visual Analysis of all the elements that build the whole showroom and find its relevance to the narrations conveyed. The results are an understanding of how the relevance of the exhibition arrangements with the discourse to be conveyed by a museum.
Varian Sepatu Wedges (Inspirasi Semangat Moana) Cantiputri, Renisa
Jurnal Seni Rupa Warna Vol 7 No 1 (2019): Kriya Indonesia, Menyikapi Industri Budaya
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Karya sepatu wedges lahir dari “rasa” yang berasal dari enam karakter film Moana, diwujudkan melalui material yang berasal dari karakter sifat Moana. Enam karakter tersebut: bertumbuh, kemandirian, pelindung, kelembutan, pemersatu dan kekuatan. Enam karakter tersebut tercipta melalui material: rotan, kayu, kain, resin, serat kayu, dan daun, dengan sistem teknik penyambungan seperti: anyaman, pressing, joint, lilitan dan cetakan. Perwujudan sepatu merupakan karya ekspresi secara subjektif terhadap respon dari karakter cerita pada film Moana. Varian sepatu wedges ini merupakan karya pakai dalam ranah mode yang dibutuhkan oleh perempuan sebagai identitas diri yang dapat dipakai pada acara tertentu. Menggunakan konsep estetika dari V.S Ramachandran tentang ‘rasa’, maka proses kreatif ini dapat terwujud melalui karakter Moana ke dalam sepatu wedges. Abstract: The artworks of wedges shoes are born from “rasa” based on the six characters of Moana film presented through the materials of Moana’s characters. The six characters are: evolve, independent, protector, softhearted, unifier, and strong. All these six characters are made through materials: rattan, wood, fabric, resin, wood fiber, and leaves, with the connector systems such as woven, pressing, joint, coil and mold. The shapes of shoes are the subjective expression of the story characters of Moana film. These wedges shoes variants are women’s fashion as the identities that can be wear at certain events. V.S Ramachandran’s concept about ‘rasa’ used on this creative concept, the creative process came off through Moana’s characters into the wedges shoes.
Dari Museum hingga Co Working Space, Makna Ruang untuk Masyarakat Urban Gunawan, Iwan
Jurnal Seni Rupa Warna Vol 7 No 2 (2019): Makna Ruang untuk Masyarakat Urban
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jurnal Seni Rupa Warna edisi kali ini mengangkat tema "Ruang" dalam konteks perkotaan. Kota besar berkembang mengikuti dinamika budaya dan pemikiran masyarakat. Ruang-ruang di kota diciptakan, atau digeser fungsinya. Ada yang bertahan, ada juga yang bergeser atau bertambah. Banyak aspek yang menentukan pembentukan atau penghilangan ruang-ruang tersebut. Saat ini, misalnya, kawasan Cikini, Jakarta dan sekitarnya sedang mengalami perombakan jalan dengan dibangunnya trotoar yang lebih besar dari sebelumnya. Kondisi tersebut tentunya didasari oleh suatu persepsi tertentu dari pemerintah daerah tentang kelayakan ruang kota. Kita juga mencatat bagaimana perlakuan masyarakat yang "tidak sesuai" terhadap ruang-ruang di stasiun dan fasilitas di dalam gerbong MRT saat mereka baru saja berhadapan denga ruang baru tersebut. Di sisi lain, masyarakat pengguna fasilitas perlu mengubah perilaku atas perubahan tersebut. Penyesuaian tersebut akan membutuhan waktu. Selama fungsi kendali berjalan longgar, pada akhirnya, masyarakat jugalah yang akan memaknai secara bebas ruang-ruang yang sudah disediakan. Apapun itu, dinamika interaksi masyarakat dengan ruang kota merupakan ajang tawar-menawar pemaknaan yang terus terjadi. Aspek Seni dan Desain, sedikit banyaknya akan turut mengarahkan pemaknaan publik atas ruang- ruang tersebut.
Sentra Kerajinan Gerabah di Malang Pratiwi, Rahayu
Jurnal Seni Rupa Warna Vol 7 No 1 (2019): Kriya Indonesia, Menyikapi Industri Budaya
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kota Malang sebagai kota terbesar kedua Jawa Timur, memiliki sejarah panjang, sejak jaman prasejarah. Kota Malang memiliki banyak artefak peninggalan masa lampau yang masih dapat ditemukan, yang memperlihatkan bagaimana penggunaan gerabah sejak masa lampau. Industri gerabah di Kota Malang sendiri masih ada dan tersebar di beberapa desa. Namun sayangnya saat ini gerabah Malang kurang dikenal oleh masyarakat luas. Gerabah Malang masih kalah populer dengan Gerabah Kasongan (Jawa Tengah) dan Plered (Jawa Barat). Penelitian melalui metode observasi ini dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak industri gerabah yang ada di Malang dan sejauh mana Industri gerabah tersebut memenuhi kebutuhan masyarakat dan bagaimana perannya bagi Kota Malang. Penelitian ini memperlihatkan sentra-sentra kerajinan Gerabah di Kota Malang dan produk yang dihasilkannya. Abstract: Malang City as the second largest city of East Java has a long history, since prehistoric times. Malang City has many artifacts from the past that can still be found. The facts shows how the pottery used in the past. The pottery industry in Malang City itself still exists and spread in several villages. But now, unfortunately, the Malang pottery is less known by the public. Malang Pottery is less popular than Kasongan Pottery (Central Java) and Plered Pottery (West Java). Research conducted through this observation was carried out to find out how many pottery industry is still existed in Malang and the extent to which the Pottery industry meets the needs of the community and how is its role in Malang. This research shows the pottery craft centers in Malang City and the products they produce.
Tugu Talas Bogor: WC Umum Rahasia di Jalan Merdeka Syahrazad, Hanan
Jurnal Seni Rupa Warna Vol 9 No 2 (2021): Seni, Pandemi dan Kreativitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Patung dan tugu sering dijumpai di taman-taman kota. Salah satunya adalah Tugu Talas yang terletak di sebuah taman di daerah ramai dekat pasar di Jalan Merdeka, Bogor. Umumnya, sebuah patung atau tugu yang terletak di ruang publik menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya, maupun sekadar melaluinya. Namun berbeda dengan Tugu Talas yang letaknya tersembunyi di antara pohon-pohon yang lebih besar darinya, sehingga orang-orang yang berlalu lalang tidak menyadari keberadaannya. Kemudian, tugu yang berbentuk umbi khas Bogor ini justru menjadi tempat buang air kecil orang-orang yang beraktivitas di sekitarnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualititatif dengan metode analisis deskriptif. Dapat disimpulkan: (1) Tugu Talas telah gagal menjadi sebuah tugu, baik dalam fungsi sebagai pengingat, maupun sebagai penghias taman. (2) Pemerintah Kota Bogor lalai dalam menjaga Tugu Talas dan tamannya, serta penyediaan WC Umum yang minim di kawasan ramai tersebut. Ditambah lagi masyarakat di sekitar pasar kurang ada kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan. Statues and monuments are often found in city parks. One of them is the Talas Monument which is located in a park in a busy area near the market on Jalan Merdeka, Bogor. Generally, a statue or monument located in a public space becomes the center of attention of the people around it, or just passing through it. However, it is different from the Talas Monument, which is hidden among trees that are bigger than it, so that people passing by do not notice its existence. Then, the monument which is shaped like a typical Bogor tuber is actually a place to urinate for people who are active around it. This study uses a qualitative approach with descriptive analysis method. It can be concluded: (1) The Talas Monument has failed to become a monument, both in its function as a reminder and as a garden decoration. (2) The Bogor City Government is negligent in maintaining the Talas Monument and its gardens, as well as the minimal provision of public toilets in the crowded area. In addition, the community around the market lacks awareness in maintaining environmental cleanliness.
Dampak Pandemi Covid-19 Mengubah Konsep Tata Letak Furnitur Desain Interior Ruang Belajar di Perguruan Tinggi Pane, M.Sn., Sri Fariyanti
Jurnal Seni Rupa Warna Vol 9 No 2 (2021): Seni, Pandemi dan Kreativitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Awal tahun 2020, seluruh dunia dikejutkan dengan fenomena pandemi Covid-19. Fenomena ini berdampak pada kehidupan sosial masyarakat yang menyentuh seluruh sektor. Termasuk imbasnya terhadap dunia pendidikan yang mengalami gangguan dalam proses belajar-mengajar, hingga terpaksa belajar dari rumah dengan menggunakan fasilitas online (daring). Dampak ini mengubah struktur belajar-mengajar di perguruan tinggi, khususnya ruang kelas dan studio tidak lagi digunakan bahkan kampus menjadi ruang belajar tanpa manusia. Peran desain interior memiliki signifikansi dalam mengubah penataan ruang belajar-mengajar sebagai hikmah dari fenomena Covid-19 dengan memperkenalkan konsep baru dalam penataan ruang belajar- mengajar, sekaligus sebagai bagian dari adaptasi New Normal yang mengedepankan faktor kebersihan lingkungan dan jarak sosial sebagai hal utama saat kita berada di dalam ruangan. Prosedur memasuki gedung, model sirkulasi, proses pembelajaran, dan cara-cara berkomunikasi, semua berubah dengan mengurangi kontak langsung antarmanusia. Penelitian ini membahas bagaimana dampak Covid-19 mengubah konsep kreativitas dalam penataan furnitur di ruang belajar masa depan, khususnya perguruan tinggi agar tetap dapat meningkatkan kemampuan intelektual dan keterampilan mahasiswa, serta mengurangi kecemasan masyarakat yang menitipkan anaknya dalam menempuh pendidikan di institusi perguruan tinggi. Dengan menggunakan studi kasus eksplorasi dengan pendekatan analisis deskriptif kualitatif untuk memperoleh informasi data tentang dampak dan konsekuensi pandemi Covid-19, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan suatu solusi desain interior khususnya masalah layout furniture yang berhubungan dengan social distancing dan sirkulasinya. In the early 2020, the whole world was put into shock by the COVID-19 pandemic. This phenomenon affects every part of our social activities. Including the education world, which experiences interruptions in the learning and teaching process; one of being the mandatory in-home learning utilizing the internet. In higher education institutions, this has changed the usual class structures where classrooms and studios are no longer significant, even campuses are now just empty classrooms with no present human. Interior designers have a role in changing the layout of a classroom into the New Normal concept, where hygiene and social distancing are the main priorities. Our old-school ways entering enclosed buildings down to circulation modes, learning process and communicating are no longer viable because we need to reduce direct physical contact to prevent the disease from spreading. This research will be discussing how the COVID-19 will be changing the future layout of our classrooms, in this case for higher education facilities, in hopes of classrooms getting more social again but without the risks. In order to reach this goal, this research explores several case studies with descriptive-analytics approach. Author hopes that this research will provide an interior design solution by proposing feasible furniture layouts and circulation that supports social distancing.
Imajinasi Pandemi: Bayang-bayang Visual pada Tiga Karya Perupa Kalimantan Syah, Hajrian
Jurnal Seni Rupa Warna Vol 9 No 2 (2021): Seni, Pandemi dan Kreativitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandemi Covid-19 melanda dunia saat ini, yang secara massif menimbulkan kepanikan sosial secara global, termasuk di Indoensia. Fenomena sosial ini berimbas pula pada para perupa, baik pada karya-karya mereka maupun suasana psikologis yang secara tidak langsung berakibat pada bentuk-bentuk karya seni mereka. Penelitian ini berfokus pada karya tiga orang perupa di Kalimantan, yaitu Akhmad Noor, Maui dan Puji Rahayu, yang dalam penelitian ini dianggap dapat mewakili dinamika kesenirupaan di Kalimantan terkini. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif semiotika visual. Karya-karya perupa dilihat simbol-simbol visualnya, untuk kemudian dihubungkan dengan kondisi psikis sosial yang meliputi mereka melalui metode wawancara triangulatif. Dari hasil penelitian ini disimpulkan, bahwa para perupa merespons kondisi sosial mereka, baik secara langsung membuat karya bertema pandemi, maupun tidak langsung dengan tetap produktif berkarya dalam suasana pandemi itu sendiri. Upaya kreatif mereka dengan demikian berkontribusi terhadap bentuk respons kreatif di masa Pandemi dan tampilan yang menguatkan identitas seni rupa Indonesia mutakhir. The Covid-19 pandemic is sweeping the world currently, causing massive social panic globally, including in Indonesia. This social phenomenon also has an impact to the artists, both in their works and on the psychological nuances which indirectly affects the forms of their artworks. This research focuses on the painting of three artists in Kalimantan: Akhmad Noor, Puji Rahayu and Maui, they are representing the dynamics of artistry in Kalimantan today. The method uses a qualitative approach with visual semiotics. The research sees visual symbols in the works of artists, which are linking to the social psychic conditions that encompass them through the triangulative interview method. The research concludes that the artists responses their social conditions, either directly creating works on the theme of pandemics, or indirectly by continuing to work productively in global pandemic itself. Their creative endeavors thus contributed to the form of creative response during the Pandemic and a display that strengthened the identity of modern Indonesian art.
Tantangan Museum Seni di tengah Pandemi Covid-19 Kajian: Pameran Imersif Affandi di GNI, 2020 Genia Krishbie, Bayu
Jurnal Seni Rupa Warna Vol 9 No 2 (2021): Seni, Pandemi dan Kreativitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berupaya mengkaji peran museum seni di era pandemi Covid-19, khususnya dalam merancang strategi pameran seni rupa berbasis seni media baru (new media art) guna mengatasi keterbatasan akses dan interaksi antar-manusia dalam penyelenggaraan kegiatan pameran. Pemilihan Pameran Imersif Affandi “Alam, Ruang, Manusia”, yang diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia pada 26 Oktober – 25 November 2020, dengan pertimbangan bahwa pameran ini merupakan salah satu gelaran seni rupa di era pandemi yang berstrategi dengan meminimalkan pelibatan karya seni rupa secara fisik dengan alih-media karya lukisan ke dalam bentuk proyeksi gambar bergerak (video mapping projection). Kajian serupa sebelumnya dilakukan Wegig Murwonugroho, “Surealisme Dalam Jogja Video Mapping Project 2019” yang menggunakan bangunan bersejarah sebagai layar proyeksi video. Kebaruan riset ini terletak pada lingkup kajian, yaitu merespon seluruh ruang dalam Gedung Pameran Utama GNI, melalui karya-karya maestro seni lukis Affandi. Penelitian dengan metode kualitatif ini menggunakan pendekatan analisis Material Culture, yaitu bagaimana gerak sejarah seni rupa dapat dibaca dan dinterpretasikan melalui objek/artefak/benda temuan. Hasil kajian menunjukkan bahwa GNI sebagai Museum Seni berhasil menghadirkan pameran yang memiliki nilai-nilai kebaruan, inovatif dan eskpresif, berbasis kecanggihan teknologi digital art yaitu melalui sinergitas seni, desain, teknologi dan ilmu pengetahuan.
Kajian Psikobiografi Seniman dan Aspek Dekonstruksi dalam karya rupa: Christine Ay Tjoe, Angki Purbandono, Dan Ugo Untoro Widiyanti, Dhyani
Jurnal Seni Rupa Warna Vol 9 No 2 (2021): Seni, Pandemi dan Kreativitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis atas karya rupa tidak hanya bisa dilakukan melalui bentuk-bentuk formal yang ada di dalam karya rupa itu sendiri saja, melainkan bisa juga melalui pembacaan secara psikologis dari kehidupan dan latar belakang seniman. Penelitian ini berupaya menelusuri aspek psikobiografi dari seniman Christine Ay Tjoe, Angki Purbandono, dan Ugo Untoro, untuk menemukan aspek dekonstruksi dalam karya-karyanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan studi literatur. Observasi dilakukan terhadap enam karya rupa dari tiga seniman tersebut, sementara studi literatur digunakan terhadap dua jenis teks yaitu yang pertama, teks yang berkaitan dengan kehidupan seniman yang disarikan dari berbagai sumber dan yang kedua adalah teks yang berkaitan dengan psikobiografi dan dekonstruksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada Christine Ay Tjoe, aspek psikobiografi terkait dengan konsep menggambar, alam/ lingkungan, dan kegelapan potensial, pada Angki Purbandono, aspek psikobiografi terkait dengan konsep mesin pemindai, ganja, dan penjara, sementara pada Ugo Untoro, aspek psikobiografi terkait dengan konsep kuda, pelacuran, dan eksplorasi seni sebagai bahasa. Pada ketiganya, dekonstruksi terjadi baik dari segi interiotas yang terhubung dengan perjalanan hidup dan renungan-renungannya yang lepas dari berbagai stereotip, serta dari segi eksterioritas yang terlihat dari perwujudannya dalam karya yang eksploratif dari segi medium maupun penempatan objek yang mencoba untuk tidak taat pada pakem-pakem yang ada. Analysis of a visual work can not only be made by studying the formal forms that exist in the work itself, but it can also be undertaken through a psychological interpretation of the artist's life and background. This study seeks to explore the psychobiographical aspects of artists Christine Ay Tjoe, Angki Purbandono, and Ugo Untoro, to find the deconstruction aspects in their works. This study applies qualitative methods using data collection techniques in observations and literature studies. Observations were made on the six visual-works of the three artists, while literature studies were conducted on two types of texts, viz. first, texts related to the artist's life extracted from various sources and second, texts related to psychobiography and deconstruction. The results of this study indicate that in Christine Ay Tjoe works, psychobiographical aspects are related to the concept of drawing, nature / environment, and potential darkness, in Angki Purbandono’s, psychobiographical aspects are related to the concepts of scanning machines, marijuana, and prison, while in Ugo Untoro’s, psychobiographical aspects are related to the concept of horses, prostitution, and exploration of art as language. In the three of them, deconstruction occurs both in terms of interiority which is connected to the journey of life and reflections that are detached from various stereotypes, as well as in terms of exteriority which can be seen from its manifestation in the exploratory works in terms of medium and the placement of objects that attempts to disobey standards and existing rules.
Masker Sebagai Budaya Baru Tren Fesyen di Indonesia Fadlia, Adlien
Jurnal Seni Rupa Warna Vol 9 No 2 (2021): Seni, Pandemi dan Kreativitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren pemakaian masker pada masa pandemi COVID-19. Metode penelitian Kualitatif dengan riset yang bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan pendekatan fenomenologis. Teknik pengambilan data diperoleh dari pengamatan dan sumber berita fesyen dimasa pandemi Covid -19. Penggunaan masker pada masa pandemi menjadi kebutuhan kesehatan sebagai menutup mulut dan hidung, tetapi juga didesain dengan warna dan bahan yang menarik. Perancang busana terkenal juga membuat desain masker, yang tidak hanya berfungsi untuk kesehatan tetapi juga sebagai pelengkap fesyen desain. Masker dibuat dengan bermacam-macam bahan kain, motif, warna serta detail yang menarik. Berbagai motif mulai dari motif batik, motif flora, motif kartun dan motif lainnya. Masker juga tampil dengan warna-warna yang dikombinasi sehingga menghasilkan variasi warna yang semarak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) penggunaan masker telah menjadi budaya masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan; (2) masker telah menjadi industri kreatif bidang fesyen; dan (3) pada perkembangan selanjutnya, desain masker dapat mengikuti tren fesyen yang meliputi variasi motif, bentuk maupun warna. Disarankan, hendaknya penggunaan masker yang baik dan benar dapat mencegah penularan COVID-19. Masker sebagai pelindung kesehatan tidak hanya bergerak mengikuti tren fesyen tetapi juga tetap memperhatikan fungsi utama sebagai pelindung kesehatan diri. This research aims to analyze the use of face mask during the COVID-19 pandemic. Through analytic- descriptive method, literature data was collected from various news sources thus the nature of this study is qualitative with phenomenological approach. The use of face mask during the pandemic is a health necessity whereas the mouth and the nose area are covered to prevent any virus transmission. Other than being the requisite safety measure during the pandemic, face masks are also available in various types of fabric, color and designs. Some of the most popular patterns observed in this study are the batik pattern, floral, and illustrations. This research shows that the use of face mask has becoming a society’s culture whether in a metropolitan or rural settings, face masks has its own category in the creative fesyen industry, and in the following years face masks design would follow the upcoming fesyen trens. It is advised to properly wear functionally working face masks that are meant to stop the COVID-19 from spreading, thus the need for masks to be equally utilitarian and decorative.

Page 1 of 10 | Total Record : 94