cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 165 Documents
Pembuatan bioetanol dari rumput gajah dengan distilasi batch Sari, Ni Ketut
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 3 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.3.4

Abstract

Elephant grass is available continuously and in abundance, but has only been utilized as animal feed, and is sometimes regarded as a nuisance. However, elephant grass contains cellulose, glucose and starch that can be utilized as raw materials for ethanol production. The concentration of ethanol obtained from a study on the production of bioethanol from elephant grass was between 7-11%. To improve the purity of the ethanol, a batch distillation separation process was performed.  In the study of bioethanol production from elephant grass, a hydrolysis process was performed at the following fixed condition 30 oC temperature, 7 liter of water, 1 hour of hydrolysis time, while the following variables were changed fermentation period of 4, 5, 6, 7, and 8 days, and starter concentration of 8, 10, and 12%. From the bioethanol production study, the following best condition was obtained: 200 gram of grass, 10% Saccharomyces cerevisiae starter for 6 days. This condition produced 27.71% ethanol, with a 8.09% residual glucose. To obtain a higher purity ethanol product, a subsequent separation using batch distillation was performed, resulting in 90-95% ethanol. Therefore, elephant grass can be used as an alternative raw material for bioethanol production.Keywords: bioethanol, fermentation, hydrolysis, elephant grass Abstrak Ketersediaan rumput gajah dapat diperoleh secara kontinu dan melimpah, seringkali hanya digunakan sebagai makanan ternak, dan terkadang rumput gajah juga dianggap sebagai tanaman pengganggu. Rumput gajah mempunyai kadar selulosa, glukosa, pati yang dapat digunakan sebagai salah satu bahan penghasil etanol. Kadar etanol yang diperoleh dari kajian produksi bioetanol dari rumput gajah antara 7-11%. Untuk meningkatkan kemurnian kadar etanol dilakukan pemisahan menggunakan distilasi batch. Dalam penelitian kajian produksi bioetanol dari rumput gajah dilakukan proses hidrolisis pada kondisi tetap suhu 30 oC, air 7 liter, waktu hidrolisis 1 jam, dan kondisi berubah yaitu berat rumput gajah 50, 100, 150, 200, 250, dan 300 gram, volume larutan HCl 10, 20, 30, 40, 50 mL. Kemudian dilanjutkan proses fermentasi pada kondisi tetap suhu 30 oC, pH 4,5, volume fermentasi 500 mL dan kondisi berubah yaitu waktu fermentasi 4, 5, 6, 7, 8 hari, dan starter 8, 10, dan 12%. Dari penelitian kajian produksi bioetanol dari rumput gajah diperoleh hasil terbaik  yaitu: berat rumput gajah 200 gram, starter Saccharomyces cerevisiae 10% selama 6 hari, menghasilkan etanol sebesar 27,71% dan kadar glukosa sisa 8,09%. Untuk memperoleh produk etanol yang lebih murni dilakukan proses pemisahan lanjutan dengan distilasi batch, setelah dilakukan pemisahan lanjut diperoleh kadar etanol 90–95%, sehingga  rumput gajah dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif pembuatan bioetanol.Kata Kunci: bioetanol, fermentasi, hidrolisis, rumput gajah.
Pembuatan monogliserida Prakoso, Tirto; Sakanti, Maria Mahardini
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 3 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.3.5

Abstract

Monoasylglycerol (monogliserida) is an important commercial oleo chemical that oftenly used in many applications as surfactant. It is used primarily as emulsifierfor food, cosmetics, and drugs. About 75% of the total production of emulsifier are applied in food industry. Monoglyceride has relatively high economical value and has good prospect in the global market. This time the local demand of the monoglyceride are mostly puljilled by importing from other countries. Monoglyceride are commonly produced by consumeablefat or oil glyserolysis, but it also can be obtainedfrom fatty acids esterification using glyserol with or without product refinery. Some sources that can be used in syntesis process of monoglyceride are coconut oil,palm oil, soybean oil, corn oil, sunflower seed oil, and other vegetable oil. The monoglyceride production that has been done in this research has applied Feuge and Bailey's Method (1946) which is syntesizing monoglyceride throught reaction rute of palm oil glycerolysis and using base-catalist ofNaOH 0,1%-w. The glycerolysis reaction held at 200°C. The research parameters are glycerol reactant to triglyceride ratio and reaction time. The ratio of glycerol reactant to triglyceride varied in 2:1, 3:1 and 4:1. While the reaction time varied in 1, 3 and 4 hours. The observed responsfor every parameters are glycerol conversion and monoglyceride yields. The optimum glycerolysis reaction time that has been determined.from the experiment were 3 hours. Thisfact was showed by the highest yield of alfa monoglyceride in monoglyceride product (23,511 %-w) with mole ratio of triglyceride : glycerol as 1:3 and yield as 23,5%. The highest glycerol content has been obtained on product with reation time of3 hours with mole ratio of triglyceride: glycerol as 1:4 (85,34 %-berat).Keywords: Glycerolysis, Monoglyceride, TriglycerideAbstrakMonoasilgliserol (monogliserida) merupakan senyawa kimia penting oleo kimia yang digunakan dalam banyakaplikasi sebagai surfaktan, terutama sebagai pengemulsi dalam makanan, kosmetik dan farmasi. Secara keseluruhan, kelompok surfaktan ini sangat penting terutama digunakan dalam industri makanan dengan konsumsi 75% dari total produksi pengemulsi. Monogliserida mempunyai nilai ekonomi yang relatif tinggi dan mempunyai prospek pasar yang cerah. Saat ini kebutuhan monogliserida dalam negeri masih banyak yang diperoleh dari impor. Monogliserida biasanya diproduksi melalui gliserolisis lemak atau minyak yang dapat dimakan, tetapijuga dapat diperoleh dari esterifikasi asam lemak dengan gliserol dengan atau tanpa pemurnian produk. Sumber yang digunakan dalam proses sintesa monogliserida dapat berupa minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak kedelai, minyak jagung, minyak bunga matahari dan minyak nabati lainnya. Penelitian yang dilakukan merupakan penerapan metode Feuge dan Bailey (1946) yaitu sintesa monogliserida melalui rute reaksi gliserolisis minyak goreng sawit dan menggunakan katalis basa NaOH 0,1%-berat. Reaksi gliserolisis tersebut berlangsung pada temperatur 200°C. Parameter percobaan yang divariasikan adalah rasio reaktan gliserol: trigliserida yaitu 2:1, 3:1, dan 4:1. Parameter lain yang divariasikan adalah panjang waktu reaksi yaitu 1jam, 3jam dan 4jam. Respon yang diamati dalam setiap variasi adalah konversi gliserol dan perolehan monogliserida. Waktu reaksi gliserolisis yang optimum adalah 3jam, hal ini ditunjukkan dengan perolehan alfa monogliserida yang paling banyak dalam produk monogliserida (23,511 %­ berat) dengan perbandingan rasio mol trigliserida: gliserolyaitu 1:3 danyield sebesar 23,5%. Konversi gliserol tertinggi terdapat pada produkdengan waktu reaksi 3jam dengan perbandingan mol trigliserida: gliserol yaitu 1:4 (85,34 %-berat). Kata kunci: Gliserolisis, Monogliserida, Trigliserida
Aplikasi enzim selulase dari trichoderma reesei qm 9414 untuk peningkatan produksi etanol dari singkong melalui proses sakarifikasi fermentasi simultan Maemunah, Siti; Priatna, Theo A; Sjamsuruputra, Achmad Ali
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.2.5

Abstract

Cellulase enzyme is a complex enzyme which catalyzes the degradation of cellulose. The use of cellulase enzyme on the pretreatment of cassava powder to produce ethanol before saccharified and fermented simultaneously have done in order to destroy most of the cell wall which comprise mostly of cellulose so more starch grain were availabe from the cell. The simultaneous saccharification and fermentation process were carried out at 30°C and at pH of5 with 0,632 unit/g of rice brand koji as glucoamylase and 2,6x107cell/gsubstrate of Saccharomyces cerevisiae yeast. The result showed that, the SSF process gave higher ethanol conversion from starch in cassava powder when the substrate had been pre-treated with cellulase enzyme. Ethanol was obtained with the conversion of 48,6% from starch in cassava powder with 9,88%(wt) in concentration bypreviously soaking the cassava powder in 5% v/v cellulase enzymesfor 7 days before SSF process carried out. Ethanol was obtained with the conversion of 42,07% from raw cassava starch and 7,8%(wt) in concentration by carried out SSF process with 75% v/v cellulase enzymes directly. While the SSF process without ellulase enzvmes only gave 5,6%(wt) of ethanol with 25% conversion.Keywords: Cellulase, SFS, Cassava Starch, Conversion, Ethanol Abstrak Enzim selulase merupakan kompleks enzim yang dapat mengkatalisis penguraian selulosa. Penggunaan enzim selulase pada  tepung singkong  melalui proses sakarifikasi fermentasi secara simultan diharapkan dapat merusak sebagian besar dinding sel singkong yang masih utuh yang tersusun dari selulosa sehingga membebaskan lebih banyak pati dari dalam sel. Usaha ini dilakukan untuk  meningkatkan konversi etanol dari tepung singkong melalui proses sakarifikasi dan fermentasi simultan. Proses produksi etanol melalui proses sakarifikasi dan fermentasi simultan (SFS) dilakukan dengan komposisi tepung singkong 20%(b/b), kadar  air medium SFS 80%, pH  5 dan temperatur 30°C. Aktifitas glukoamilase yang digunakan adalah 0,632 unit/gTSK dan jumlah ragi Saccharomyces cerevisiae 2,6x107 sel/gTSK. Hasil percobaan menunjukkan produksi etanol pada SFS dengan perendaman selulase sebesar 5%(v/v) (0,63 UA/gTSK) terlebih dulu selama 7 hari, akan meningkatkan konversi etanol dari tepung singkong hingga 48,6% dengan kadar etanol 9,88%(blb). Konversi etanol dari tepung singkong pada SFS dengan penambahan langsung enzim selulase sebesar 75%(v/v) (8,37 UA/gTSK) tanpa direndam terlebih dulu, adalah 42,07% dengan kadar etanol 7,8%(b/b). Sedangkan pad a SFS tanpa penambahan selulase sam a sekali, hanya diperoleh konversi etanol dari tepung singkong sebesar 25% dengan kadar etanol 5,6%(b/b) .Kata Kunci: Selulase, SFS, Tepung Singkong, Konversi, Etanol
Sintesis Merkaptoetil Karboksilat sebagai Bahan Baku Stabiliser Termal Polivinil Klorida: Variasi Sumber Asam Lemak Putrawan, I Dewa Gede Arsa; Azharuddin, Adli; Adityawarman, Dendy; Ar Rahim, Dicka
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2019.18.2.3

Abstract

Abstrak. Merkaptoetil karboksilat merupakan bahan baku stabiliser termal polivinil klorida atau polyvinyl chloride (PVC) berbasis timah organik. Stabiliser termal perlu ditambahkan ke dalam resin PVC sebelum diekstrusi untuk mencegah kerusakan karena pengerjaan panas. Stabiliser termal PVC dari timah organik dikenal sangat efektif, khususnya untuk aplikasi PVC kaku seperti pipa dan bingkai jendela. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi sintesis merkaptoetil karboksilat dari asam lemak dan merkapto etanol dengan variasi sumber asam lemak yang meliputi asam lemak sawit, dedak padi dan biji kapuk. Percobaan dilakukan dalam sebuah reaktor partaian (batch) dengan asam kuat sebagai katalis. Percobaan dilakukan pada temperatur 60-80°C dan ekses merkapto etanol 10%. Kinerja sintesis dievaluasi melalui pengukuran kadar gugus merkaptan dan angka asam dalam produk serta perolehan produk. Pada rentang temperatur 60-80°C, ketiga asam lemak memberikan produk dengan kadar merkaptan pada rentang 6,4-7,8%.  Temperatur 70°C merupakan temperatur terbaik karena menghasilkan produk dengan kadar merkaptan tertinggi tanpa memadat selama penyimpanan. Pada temperatur ini, produk memiliki angka asam pada rentang 11-41 mg KOH/g dan perolehan pada rentang 70-81%. Ketiga sumber asam lemak memberikan produk dengan kadar merkaptan yang mencukupi untuk dapat digunakan sebagai bahan baku stabiliser PVC. Mempertimbangkan kualitas produk dan ketersediaan di pasaran, distilat asam lemak sawit dipandang sebagai bahan baku yang paling baik. Kata kunci: asam lemak, merkaptoetil karboksilat, polivinil klorida, stabiliser termal. Abstract. Synthesis of Mercaptoethyl Carboxylate as Raw Materials for Polyvinyl Chloride Thermal Stabilizer: Variation in Fatty Acid Source. Mercaptoethyl carboxylate is a raw material for organotin-based polyvinyl chloride (PVC) thermal stabilizer. Thermal stabilizers need to be added to the PVC resin before extruded to prevent degradation due to heat treatment. Organotin PVC stabilizers are known to be very effective, especially for rigid PVC applications such as pipes and frames. This study was aimed to evaluate the synthesis of mercaptoethyl carboxylate from fatty acids and mercaptoethanol with various sources of fatty acids including palm, rice bran and kapok seed fatty acids. The experiment was carried out in a batch reactor with a strong acid as a catalyst. The experiments were conducted at 60-80°C and 10% mercapto ethanol excess. The performance of synthesis was evaluated by measuring mercaptan and acid contents and yield. In the range of 60-80°C, all three fatty acids provided products with mercaptan levels in the range of 6.4-7.8%. A temperature of 70°C is the best temperature as it gave a product with the highest mercaptan content without solidification during storage. At this temperature, the product had acid values in the range 11-41 mg KOH/g and yields in the range of 70-81%. Considering product quality and availability in the market, palm fatty acid distillate was seen as the best raw material. Keywords: fatty acid, mercaptoethyl carboxylate, polyvinyl chloride, thermal stabilizer. Graphical Abstract
Front Matter Vol 4, No 3 (2005) Bindar, Yazid
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 3 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adsorption of several acid dyes from aqueous solution using activated carbon derived from teak sawdust: effect of surface acidity Ismadji, Suryadi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 1 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.1.1

Abstract

The adsorption of acid blue 9, acid blue 74 and acid orange 51 from aqueous solution using activated carbon derived from teak sawdust was studied in terms of dye molecular size, pore size and surface acidity of activated carbon. The experimental adsorption data were correlated with Langmuir equation. It was found that Langmuir equation could describe the adsorption data well with R2 higher than 0.95. The surface acidity of activated carbon plays a key role in dye adsorption on modified activated carbon. The interaction between the oxygen-free Lewis basic sites and the free electrons of the dye molecule were the main adsorption mechanism in the adsorption process on modified activated carbon. The adsorption capacities of activated carbon on the adsorption of acid dyes decreased in the order unmodified > modified at 100 oC > modified at 150 oC.Keywords: Activated Carbon, Adsorption, Pore Size, Surface Acidity AbstrakAdsorpsi zat warna acid blue 9, acid blue 74, dan orange 51 dari larutan dengan menggunakan karbon aktif yang terbuat dari serbuk gergaji kayu jati dipelajari sebagai fungsi ukuran molekul zat warna, ukuran pori, dan sifat asampermukaan karbon aktif. Data percobaan adsorpsi kemudian dikorelasikan dengan menggunakan persamaan Langmuir. Dari hasil percobaan yang diperoleh dapat dilihat bahwa persamaan Langmuir dapat menggambarkan data adsorpsi isotermal dengan baik dengan R<sup>o</sup> lebih besar dari 0,95. Sifat asam permukaan memegang peranan yang sangat penting pada proses adsorpsi zat warna pada proses adsorpsi zat warna pada karbon aktif yang telah dimodifikasi. Interaksi antara bagian oxygen-free Lewis yang bersifat basa dan elektron-elektron bebas dari molekul zat warna merupakan mekanisme adsorpsi utama pada proses adsorpsi dengan menggunakan karbon aktif yang telah dimodifikasi. Kemampuan adsorpsi karbon aktif terhadap zat warna yang bersifat asam menurun dengan tingkatan karbon aktif tidak dimodifikasi > modifikasi 100 <sup>o</sup>C > modifikasi pada 100 <sup>o</sup>C > modifikasi pada 150 <sup>o</sup>C.Kata kunci: Adsorpsi, karbon aktif, sifat asam permukaan, ukuran pori
Pemanfaatan kulit singkong sebagai bahan baku pembuatan Natrium Karbosimetil Selulosa Santoso, Shella Permatasari; Sanjaya, Niko; Ayucitra, Aning
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 3 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.3.1

Abstract

The use of cassava peels as raw material for Sodium Carboxymethyl Cellulose productionCassava peels are abundantly available and may be used as an lowcost cellulose source (80-85% cellulose per weight cassava peel). the study was to evaluate the effect of the concentration of sodium hydroxide, sodium chloroacetate, and temperature reaction on the sodium carboxymethyl cellulose (sodium-CMC) characteristics i.e. yield, purity, and degree of substitution in sodium-CMC preparation.  Sodium-CMC functional group was determined using FTIR spectrophotometer. Cassava peels was dried and grounded to 50 mesh. Lignin was eliminated from cassava peel by extraction of grounded cassava peel with 10% NaOH at 35 °C for 5 h. Cassava peel free lignin was then re-extracted using 10% of acetic acid and sodium chloride at 75 °C for 1 h, thus cellulose free hemicellulose was obtained. Alkalization at 30 °C for 90 min was performed by adding sodium hydroxyde at 10-40% to cellulose using isopropyl alcohol solvent. Following this, etherification was conducted by adding sodium chloroacetate of 1-5 g at 50-80 °C for 6 h. As result, the highest purity of sodium-CMC (96.20%) was obtained from alkalization using 20% of sodium hydroxide and etherification using 3 g sodium chloroacetate at 70 °C. Sodium-CMC yield was 22% and degree of substitution 0.705.Keywords: cassava peel, carboxymethyl cellulose, sodium-CMC, etherification AbstrakKulit singkong merupakan sumber selulosa yang berlimpah dan murah, dengan kadar selulosa 80-85% dari berat kulit singkong. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan selulosa dalam kulit singkong sebagai bahan baku pembuatan natrium karboksimetil selulosa (Na-CMC), mempelajari pengaruh natrium hidroksida, natrium kloroasetat serta suhu pada karakteristik Na-CMC seperti perolehan, kemurnian, dan derajat substitusi, serta menentukan kondisi operasi optimum untuk pembuatan Na-CMC berdasarkan kemurnian Na-CMC terbesar. Gugus fungsi Na-CMC ditentukan menggunakan Fourier Transform Infrared Spectra. Mula-mula, kulit singkong dikeringkan dan dihancurkan sehingga berukuran 50 mesh. Kulit singkong diekstraksi dengan NaOH 10% di suhu 35 °C selama 5 jam, untuk melarutkan lignin. Kulit singkong bebas lignin diekstrak dengan asam asetat 10% dan natrium klorida dengan pemanasan 750 °C selama 1 jam untuk melarutkan hemiselulosa sehingga didapatkan selulosa. Alkalisasi dilakukan dengan mereaksikan selulosa dengan NaOH 10-40% dengan pelarut isopropil alkohol pada suhu 30 °C selama 90 menit, dilanjutkan eterifikasi dengan natrium kloroasetat 1-5 g pada suhu 50-80 °C selama 6 jam. Berdasarkan hasil penelitian, karakteristik Na-CMC terbaik didapatkan dari alkalisasi selulosa menggunakan NaOH 20% serta eterifikasi menggunakan 3 g natrium kloroasetat pada suhu 70 °C. Perolehan Na-CMC yang didapat adalah sebesar 22%, kemurnian 96,20%, derajat substitusi 0,705; termasuk dalam grade kedua menurut SNI 06-3736-1995.Kata kunci: kulit singkong, karboksimetil selulosa, Na-CMC, eterifikasi
In situ trans-esterification of oil-containing Jatropha curcas seeds to produce biodiesel fuel Kartika, I Amalia; Yani, M; Ariono, D; Evon, Ph; Rigal, L
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.1.6

Abstract

The objective of this study was to investigate in situ trans-esterification allowing direct production biodiesel from jatropha seed. The influences of amount of KOH catalyst, methanol to seed ratio, amount of n-hexane to methanol and seed ratio, stirring speed, temperature and reaction time were examined to define the best performance of biodiesel yield and quality. Generally, methanol to seed ratio, amount of KOH and n-hexane to methanol and seed ratio affected biodiesel yield. An increase of biodiesel yield was observed as methanol to seed ratio, amount of KOH and n-hexane to methanol and seed ratio were increased. Stirring speed, temperature and reaction time did not affected biodiesel yield. Highest biodiesel yield (89%) was obtained under 6:1 methanol to seed ratio, 0.075 mole/L KOH in methanol, 3:3:1 n-hexane to methanol and seed ratio, 600 rpm stirring speed, 40 °C temperature and 6 h reaction time. The effect of process parameters on biodiesel quality was less important. In all experiments tested, the biodiesel quality was very good (acid value < 0.3 mg of KOH/g, viscosity < 5.5 cSt, saponification value > 183 mg of KOH/g). The quality of biodiesel produced under optimum reaction condition was in accordance with the Indonesian Biodiesel Standard. Keywords: biodiesel, in situ, jatropha seed, transesterificationAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memproduksi biodiesel secara langsung dari biji jarak pagar melalui proses transesterifikasi in situ. Parameter proses yang dipelajari adalah pengaruh konsentrasi katalis KOH, rasio metanol terhadap bahan, rasio n-heksan terhadap metanol dan bahan, kecepatan pengadukan, suhu dan waktu reaksi terhadap rendemen biodiesel dan kualitasnya. Rasio metanol terhadap bahan, konsentrasi KOH dan rasio n-heksan terhadap metanol dan bahan berpengaruh nyata terhadap rendemen biodiesel. Semakin tinggi rasio metanol terhadap bahan, konsentrasi KOH dan rasio n-heksan terhadap metanol dan bahan, rendemen biodiesel semakin meningkat. Kecepatan pengadukan, suhu dan waktu reaksi tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen biodiesel. Rendemen biodiesel tertinggi (89%) diperoleh dari perlakuan rasio metanol terhadap bahan 6:1, 0.075 mol/L KOH dalam metanol, rasio n-heksan terhadap metanol dan bahan 3:3:1, kecepatan pengadukan 600 rpm, suhu 40 °C dan waktu reaksi 6 jam. Kualitas biodiesel yang dihasilkan dari proses transesterifikasi in situ biji jarak pagar pada seluruh perlakuan yang diuji sangat baik (bilangan asam < 0.3 mg KOH/g, viskositas < 5.5 cSt, bilangan penyabunan > 183 mg KOH/g), dan tidak dipengaruhi oleh parameter-parameter proses. Kualitas biodiesel yang dihasilkan dari kondisi proses optimum memenuhi Standar Biodiesel Indonesia.Kata kunci: biodiesel, in situ, biji jarak, transesterifikasi
Metode operasi reverse flow reactor dengan umpan fluktuatif dalam pengolahan emisi gas metana di stasiun kompresor Effendy, M.; Budhi, Yogi Wibisono; Bindar, Yazid; Subagjo, S
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 3 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.3.1

Abstract

Operation method of reverse flow reactor with fluctuating feed for methane gas emmision processing in compressor station.The leak of CH4 from the compressor stations can not be avoided and it may cause the global warming. The impact of the global warming can be reduced by oxidizing CH4 into CO2. The CH4 capture strategy using the exhaust mounted on the top of the building causes (1) CH4 levels detected in the gas mixture is very small (±1% volume), (2) the feed gas temperature is near the ambient temperature (±30 oC), (3) the CH4 concentration fluctuates over time. The reverse flow reactor (RFR) is a fixed bed reactor, which has the ability to abate the leak of CH4 and has the ability to act as an autothermal reactor. The purpose of this research is to find a proper operation procedure of the fixed bed reactor for the oxidation of lean methane emission via modeling and simulation. The reactor model is based on the continuity equation and the heat balance, while the concentration of the feed gas behavior dynamic and modeled as a step function. The model was solved numerically using the software package FlexPDE version 6. At ST (switching time) 50 seconds, the RFR operates autothermally with heat accumulation in the inert section fluctuating between 12.4 to 14.2 kJ. At ST 100 seconds, the heat trap inside the reactor increases monotonically. The use of ST 100 seconds requires an additional operation procedure to keep the reactor safe.Keywords: Global warming, concentration dynamic, autothermal operation, modeling and simulation, reverse flow reactor. AbstrakKebocoran gas CH4 dari stasiun kompresor tidak dapat dihindarkan dan ini merupakan salah satu sumber penyebab pemanasan global. Dampak pemanasan global ini dapat dikurangi dengan mengoksidasi gas CH4 menjadi gas CO2. Strategi penangkapan gas CH4 menggunakan exhaust yang terpasang pada bagian atas gedung menyebabkan (1) kadar CH4 yang terdeteksi dalam campuran gas cukup kecil (±1% volume), (2) temperatur gas umpan mendekati temperatur ruangan (± 30 oC), (3) konsentrasi gas CH4 akan berperilaku dinamik. Reverse flow reactor (RFR) mempunyai kemampuan untuk mengatasi akibat yang ditimbulkan oleh proses penangkapan gas CH4 di stasiun kompresor dan mempunyai kemampuan secara ototermal. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan metode operasi yang tepat untuk mengatasi gas umpan yang berperilaku dinamik. Model yang dikembangkan mengacu pada persamaan kontinuitas dan konsentrasi gas umpan yang berperilaku dinamik dimodelkan sebagai fungsi step. Model diselesaikan menggunakan software FlexPDE versi 6. Penggunaan switching time (ST) yang tepat dapat mengatasi permasalahan konsentrasi gas umpan yang berperilaku dinamik. Pada ST 50 detik, RFR mampu bekerja secara ototermal dengan nilai akumulasi panas di bagian inert yang berfluktuasi antara 12,4–14,2 kJ. Pada ST 100 detik, panas yang terjebak di dalam reaktor semakin lama semakin meningkat. Penggunaan ST 100 detik memerlukan prosedur operasi tambahan untuk menjaga reaktor agar tidak meleleh dan menjaga reaktor tetap beroperasi secara ototermal. Kata Kunci: Pemanasan global, dinamika konsentrasi, operasi ototermal, pemodelan dan simulasi, reaktor aliran bolak-balik.
Improving performance of low pressure reverse osmosis systems by intermittent autoflushing Widiasa, I N; Sinaga, N; Ariyanti, D
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 9, No 1 (2010)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2010.9.1.1

Abstract

Improving performance of low pressure reverse osmosis systems by intermittent autoflushing Scaling formation on the membrane surface in the form of calcium carbonate, calcium sulphate, silica, and/or magnesium silicate is a main problem of the reverse osmosis (RO) application for upgrading low grade water. Scaling in RO system is generally controlled by softening the feed water, limiting the recovery and/or the addition of antiscalants which is impractical for household RO system. In this work, the feasibility of intermittent autoflushing to prevent scale formation in household RO systems was investigated. All experiments were carried out using commercially available RO membrane (CSM RE-1812LP) which operated for 6 hours under operating pressure 5 kg/cm2 and total recycle operating mode. Model solution of feed water contain CaCl2 and NaHCO3 were prepared to meet various LSI values in the range of 0 to 1.5. Duration and interval time of autoflush were in the range of 60 to 15 s and 5 to 60 min respectively. The results shown that the permeate flux of the system which operated using intermittent autoflushing relatively stable. It is emphasized that intermittent autoflushing may improve the performance of household reverse osmosis systems.Keywords: Autoflushing, scaling, physical cleaning, reverse osmosis  Abstrak Pembentukan kerak (scaling) pada permukaan membran berupa kerak kalsium karbonat, kalsium sulfat, silika dan atau magnesium silikat merupakan permasalahan utama pada aplikasi sistem membran reverse osmosis (RO) pada proses pemurnian air. Scaling pada sistem RO umumnya dikontrol dengan melakukan pretreatment terhadap air umpan seperti softening, menambahkan zat antiscalant pada saat proses pemisahan serta membatasi tingkat recovery, dimana proses-proses tersebut tidak praktis apabila diaplikasikan pada sistem RO skala rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kemungkinan metode intermittent autoflush dapat diaplikasikan untuk menghambat terjadinya scaling pada sistem RO skala rumah tangga. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan satu unit membran spiral wound jenis CSM RE-1812LP yang dioperasikan dengan tekanan operasi 5 kg/cm2 dan waktu operasi ± 6 jam. Larutan umpan sintesis dibuat dengan melarutkan CaCl2 dan NaHCO3 hingga nilai LSI mencapai kisaran 0-1,5. Durasi dan interval dari metode intermittent autoflush divariasikan pada kisaran 60-15 detik dan 5-60 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks permeat relatif stabil pada sistem RO yang menggunakan metode intermittent autoflush. Hal ini menandakan bahwa metode intermittent autoflush ini dimungkinkan untuk meningkatkan kinerja dari sistem RO skala rumah tangga.Kata Kunci: Autoflushing, scaling, physical cleaning, reverse osmosis

Page 1 of 17 | Total Record : 165