cover
Contact Name
Ita Rodiah
Contact Email
jkii@uin-suka.ac.id
Phone
+6282111127235
Journal Mail Official
jkii@uin-suka.ac.id
Editorial Address
http://ejournal.uin-suka.ac.id/pasca/jkii/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner
ISSN : 25794938     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.14421/jkii.v5i2.1121
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner memiliki spesifikasi bidang pendekatan terhadap pengkajian keislaman (islamic studies) di Indonesia maupun Asia Tenggara. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner membuka kesempatan bagi para peneliti untuk memberikan kontribusi (contribution to knowledge) terkait dengan disiplin keilmuan yang bermanfaat bagi perkembangan keilmuan dan kemajuan peradaban.
Articles 58 Documents
Pluralisme Agama dalam Pendidikan (Potret Toleransi Beda Agama di SD Negeri 46 Hulontalangi Kota Gorontalo) Syafar, Djunawir
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v2i2.1085

Abstract

Isu pluralisme agama menjadi salah satu tantangan dalam kehidupan masyarakat Indonesiakhususnya dalam konteks peningkatan bonus demografi. Lembaga pendidikan diharapkan menjadi sarana strategis untuk menginternalisasi nilai-nilai pluralisme agama dalam membangun toleransi. Penelitian ini, mendiskusikan bagaimana wujud pluralisme agama dalam pendidikandilihat dari sudut pandang toleransi beda agama yang ada di SD Negeri 46 Hulontalangi Kota Gorontalo.Sekolah ini menjadi menarik, karena menampilkan sisi yang berbeda dalam praktek pendidikannya. Di tengah-tengah masyarakat muslim sebagai mayoritas penduduknya, sekolah ini menunjukkan sisi toleransi yang kuat terhadap pemeluk agama berbeda yang mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Islam, Kristen dan Budha adalah representase dari pluralisme agama yang ada di SD Negeri 46 Hulontalangi Kota Gorontalo. Beberapa indicator dari wujud toleransi di sekolah ini; Pertama,pihak sekolahtelah memfasilitasi adanya masing-masing guru agama sebagai tenaga pengajar. Kedua,sekolah memberikan ruang dalam pelaksanaan ibadah keseharian bagi setiap pemeluk agama. Ketiga,sekolah jugamemfasilitasi dalam penyelenggaraan hari-hari besar keagamaan. Keempat,belum pernah terjadi konflik yang membawa isu SARA. Faktor yang mendukungterwujudnya toleransi beda agama tersebut, antara lain: kebijakan sekolah yangberbasis pluralisme agama, komunikasi aktif pihak sekolah dengan orang tuamurid, kerja sama pihak sekolah dengan berbagai organisasi sosial keagamaan danbudaya masyarakat setempat yang menjadi titik temu antara perbedaan yang ada. Penelitian ini dapat berfungsi sebagai pembanding terhadap fenomena dan isu-isu intoleransi dalam dunia pendidikan dan ruang sosial saat ini.[In the face of demographic bonuses, the issue of religious pluralism becomes one of the challenges in the life of Indonesian society. Educational institutions are expected to be a strategic means to internalize the values of religious pluralism in building tolerance. the research, discuss how the form of religious pluralism in education is seen from the standpoint of practices tolerance of religions in SD Negeri 46 Hulontalangi Gorontalo. This school became interesting because it presents a different side in his educational practice. Amidst the Muslim community as the majority of its population, this school shows a side of tolerance to the followers of different religions who are educated at the school. Islam, Christianity, and Buddhism are the representatives of religious pluralism in SD Negeri 46 Hulontalangi Gorontalo. Some indicators of this form of tolerance in schools; First, the school has facilitated religious teachers for every religious believer. Secondly, schools provide space for daily worship services for every adherent of religion. Third, schools also facilitate in organizing religious holidays. Fourth, there has never been a conflict that brought about the issue of SARA. Factors that support the realization of religious tolerance is different, namely: school policies based on religious pluralism, the school’s active communication with parents, school cooperation with various religious and cultural societies of the local community that became the meeting point between the difference. This research can serve as a benchmark against the phenomenon and issues of intolerance in the world of education and social space today.]
@Wardahmaulida_: Platform Islami Media Sosial Dari Niqab Eksklusif pada Niqab Fashion Romario, Romario
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i2.1121

Abstract

The outbreak of social media provides an alternative to celebrities who appear besides on television. The term social media celebrities also appear as 'selebgram' and 'selebtwitt'. Their appearance is based on a number of fans on social media who actively follow them both on the Instagram or the Twitter. This celebrity culture gives birth to interesting public figures who have never been found on television. One interesting program is @wardahmaulina_, a Muslim woman who uses a niqab of various colors in each of her postings. Her popularity began from her love affair with Natta Reza, who is now her husband, and was widely discussed in the social media. The story of their introduction only through Instagram and later married, much liked by citizens. Since then, both Natta Reza and Wardah have become popular. This paper focuses on discussing new phenomena about Wardah’s models of dressing (1.3 million of Instagram followers) that make the niqab a fashion trend. The niqab itself was initially stigmatized by the salafi movement as it tends to be rigid but is now undergoing a transformation after the appearance of figures like Wardah who presents the niqab with a more trendy and attractive style in the Muslimah market culture. This paper shows that the niqab is no longer synonymous with a rigid salafi movement but has transformed into a trendy Muslim outfit.[Merebaknya media sosial memberikan alternatif selebriti yang tampil selain di televisi. Istilah selebriti media sosial bermunculan dengan sebutan ‘selebgram’ dan ‘selebtwitt’. Kemunculan mereka berdasarkan banyaknnya penggemar di media sosial yang aktif mengikuti baik di instagram ataupun twitter. Kultur selebriti ini melahirkan tokoh publik menarik yang sebelumnya tidak pernah ditemui ditelevisi. Salah satu selebgram yang menarik adalah @wardahmaulina_, ia seorang Muslimah yang menggunakan niqab berbagai warna dalam setiap postingannya. Kepopulerannya dimulai ketika kisah asmaranya dengan Natta Reza yang kini menjadi suaminya, ramai diperbincangkan di ruang media sosial. Kisah perkenalan mereka yang hanya melalui instagram kemudian menikah, banyak disukai oleh warganet. Semenjak itulah nama Natta Reza dan Wardah populer. Paper ini fokus membahas fenomena baru tentang model berpakaian Wardah (1,3 Juta pengikut instagram) yang menjadikan niqab sebagai tren fashion. Niqab sendiri yang pada awalnya distigmakan denga gerakan salafi yang cenderung kaku, kini mengalami transformasi setelah tampilnya sosok seperti Wardah yang menampilkan niqab dengan lebih trendi dan menarik dengan budaya pasar muslimah. Paper ini menunjukkan bahwa niqab tidak lagi identik dengan gerakan salafi yang kaku, namun sudah bertransformasi menjadi pakaian muslimah yang trendi.]
Tradisi islam dan Pendidikan Humanisme: upaya Transinternalisasi nilai Karakter dan multikultural dalam Resolusi Konflik sosial masyarakat di indonesia Ledang, Irwan
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i1.1056

Abstract

Keragaman budaya, etnis, suku dan agama adalah kekayaan Indonesia. Keragaman ini merupakan potensi besar dalam pembangunan bangsa sekaligus menjadi potensi kerawanan konflik sosial. Setidaknya ada dua hal yang dapat dipakai dalam menengahi dan mencegah terjadinya konflik sosial di Indonesia. Pertama, Islam sendiri memiliki gagasan dan ajaran tentang humanisme, toleransi , dan menghargai perbedaan. Islam merupakan agama yang diturunkan sebagai rahmatan lil alamin bagi semua makhluk yang ada di alam semesta ini. Kedua adalah peran pendidikan yang humanis. Pendidikan humanis menekankan pemanusiaan manusia. Pendidikan humanis memberi keseimbangan  dalam kecerdasan intelektual, emosional, social, dan spiritual. Untuk mewujudkan konsep pendidikan yang humanis, diperlukan sikap transinternalisasi nilai multikultural dan nilai karakter dalam membentuk masyarakat dan generasi muda yang berahlak mulia dan menerima keragaman dari semua unsur. Keduanya diyakini dapat menumbuhkan sikap kebersamaan, tolerasi, humanis dan demokrasi sehingga mampu menutupi potensi konflik di Indonesia.[The diversities in cultures, ethnicities, races, and religions are important Indonesian treasures. These constitute our national potentialities as well as a potential threat to social conflicts. There are at least two important things that can prevent social conflict in Indonesia. First is Islam, a religion that brings peace and mercy for all humankind. Second is the role of humanistic education that stressing on the humanization of students. This kind of education offers a balance in terms of intellectuality, emotion, social, and spirituality for students. We need a kind of internalization process of multicultural and character values to the students in order to build a humanistic education. Both kinds of educations will help the students to be respectful to the diversities from the very beginning as well as to develop togetherness, tolerance, democratic, and humanistic behaviors. This will reduce any potentialities of the conflicts very much.] 
Dialog Sebagai Solusi Konflik Suriah Dalam Bahasa Channel Al-Alam Iran (Analisis Kognisi Sosial Teun Van Dijk) Husaini, Nure Khun Rikhte
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v2i1.1080

Abstract

Konflik Suriah memunculkan banyak solusi dari berbagai kalangan. Kalangan jihadis berpendapat bahwa kematian Bashar al-Asad dan praktikkan sistem khalifah adalah penyelesainya, sedangkan solusi sekuler adalah penurunan Bashar al-Asad dan penegakkan demokrasi. Iran sebagai negara regioanl dan teman dekat Suriah juga memberikan solusi untuk konflik Suriah. Via channel al-Alam, Iran menekankan dialog sebagai solusi namun, dialog seperti apakah yang ditekankan oleh media al-Alam. Masalah ini dapat dianalisis dengan teori Kognisi Sosial Terun van Dijk. Penelitian ini menemukan bahwa metode dialog konflik Suriah dari al-Alam adalah dialog tanpa kepentingan Amerika-Saudi, tanpa pelaku kekerasan dan dialog harus bersifat politis, nasionalis, terstruktur, serta sistematis. Solusi ini muncul dari persamaan sejarah antara Iran dan Suriah atau pengaruh konteks sosial dan spolitik Iran.[The Syrian conflict reveals many solutions. In most Islamic jihadist’s opinions, the best result for it is Asad’s death and alteration system from social into the caliphate. On the other side, the secularist thinks that sliding the president down and transforming to democracy is the principal key. Iran as a regional and friendship country contributes to finding their bloodshed resolution too. Using Channel al-Alam, Iran advises that dialogue is the crucial stage. But, the question is what characteristics of dialogue were advised by al-Alam. Therefore, this problem will be analyzed by Teun van Dijk’s C ritical Discourse Analysis theory and the research explains that dialogue conditions for Syrian bloodshed are the dialogue without America-Saudi’s a% air and any civil violence. It must be the political, national, structural, and systematic solution. This doesn’t come only from the same history between Iran and Syria but also the political and social context of them.]
Theoritical Sensitivity: Mengungkap Konsep dalam Penelitian Ilmiah Kajian Sastra Rodiah, Ita
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i1.1138

Abstract

Penelitian ini membuktikan bahwa dalam sebuah penelitian ilmiah dibutuhkan sensitivitas teoritis (theoretical sensitivity). Dengan menggunakan argumentasi akademik yang telah dikemukakan oleh komunitas akademik lainnya, melalui grounded theory penelitian ini mengungkapkan bahwa teoritisasi data dilakukan secara induktif yaitu didasarkan pada temuan dan analisis pelbagai data observasi empirik di lapangan (grounded in data). Penelitian ini  tidak sependapat dengan komunitas akademik Chicago School of Sociology yang menggunakan deductive qualitative analysis dalam proses theory-building. Penelitian ini mendukung perspektif theoretical sensitivity Barney G. Glaser (Theoretical Sensitivity: Advances in the Methodology of Grounded Theory: 1978) dan Barney G. Glaser & Anselm L. Strauss (The Discovery of Grounded Theory: 1967 & Awareness of Dying: 1965) yang menyatakan bahwa dalam sebuah penelitian, theoretical sensitivity memegang peranan kunci tehadap pelbagai data di lapangan/fenomena masalah yang diteliti dalam kerangka teoritis untuk dilakukan build theory. Berdasarkan asumsi teoritik Glaser dan Strauss tersebut, theoretical sensitivity sangat mungkin untuk digunakan dalam penelitian ilmiah seperti kajian sastra. Penelitian ini mengeksplorasi implementasi theoritical sensitivity dalam kajian novel Saman karya Ayu Utami dan Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah el Khaliqy dengan hasil penelitian berupa lahirnya konsep genre sastra wangi dan sastra feminis Islam.[The paper talks a scientific study that requires theoretical sensitivity. With academic arguments that puts forward by the academic community, grounded theory in the research reveals inductive data theoritization based on findings and analysis of various empirical observational data in the field research. The article does not agree with the Chicago School of Sociology Scholar, which uses deductive qualitative analysis in the theory-building process. The study supports the theoretical sensitivity perspective of Barney G. Glaser and Anselm L. Strauss. Both of these scholar stated that a study on theoretical sensitivity has a key role in various data in the field or problem phenomena being studied in the theoretical framework for a build theory. Based on the theoretical assumptions of Barney G. Glaser and Anselm L. Strauss, theoretical sensitivity is very likely to be used in scientific research such as literature studies. This paper explores the implementation of theoretical sensitivity in the study of the novel “Saman” by Ayu Utami and “Perempuan Berkalung Sorban” by Abidah el Khaliqy. This study gives the new Persepective of fragrant literary genres and Islamic feminist literature.]  
Studi Hadits: Analisis terhadap Pemikiran Schacht dan A’zami Setyawan, Cahya Edi
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i2.1062

Abstract

Perkembangan metodologi kritik otentititas Hadist pada abad ini sangat bervariasi. Keotentikan Hadist yang telah ditetapkan semenjak masa Khalifah masih saja diperdebatkan hingga saat ini. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan nalar berfikir para akademisi Hadist. Apalagi era ini, semakin berkembangnya kajian tentang study Islam Interdisipliner. Kolaborasi metodologi Barat digunakan untuk mengkritisi keotentikanHadist. Walaupun kontroversi, namun hal ini memberikan new contribution dalam keilmuan Hadist . Kritikan dan perdebatan tentang Keotentikan Hadist mengisi ruang kajian keilmuan yang agak vakum. Perdebatan Kaum Kiri dan Barat menjadi stimulus dalam pertumbuhan sebuah metodologi keilmuan Hadist. Mereka saling beradu argument untuk memperoleh kebenaran yang mereka yakini. Para ilmuan Barat dengan segala basic keilmuannya ingin membuka celah negative tentang keotentikan Hadist. Hal ini menimbulkan kontraksi keyakinan para ilmuan islam untuk menetapkan keotentikan hadist dan menunjukkan bahwa apa yang telah pemikir barat lakukan adalah salah. Diluar kebenaran dan ketidak benaran dalam dunia akademisi dan keilmuan itu adalah bentuk subyektifitas. Hal ini kiranya perlu diketahui, agar menjadi perhatian pakar Hadist untuk menjadikan sebuah stimulus guna memperoleh esensi kesalehan Hadist dan tidak terjebak didalam kebenaran masing-masing. Karena kebenaran haqiqi adalah milik Allah.[The development methodology otenticitas Hadith criticism in this century vary greatly. The authenticity of the Hadith at the time of Caliph and friends still debated. This is influenced by the development of logical thinking Hadith scholars. Especially now increasingly for developed Interdisciplinary studies of Islamic study. Collaboration west's scientific methodology used to scrutinize the authenticity of the Hadith. Despite the controversy, but it contributes to science in the world of academia. Criticism and debate about the authenticity of Hadith Sciences filling the space scientific assessment rather vacuum. Leftists and Western debate gave the stimulus to the growth of a scientific methodology Hadith. They clashing arguments to obtain the truth they believe. Western scientists with all the basic knowledge on to open the slit negative about the authenticity of the Hadith. This raises the confidence contraction of Islamic scientists to establish the authentic hadith and show that what western thinkers did was wrong. Beyond truth and untruth in the world of academia and science, it is a form of subjectivity. So keep in mind all of this, in order to become knowledge for experts Hadith to be a stimulus to get the essence of piety authenticity of the hadiths and not be caught up in the truth according to each. Because haqiqi is God’s truth.]
Socio-Religiuos Model of Disability: Sebuah Rancangan Awal Mubin, Zanuar; Rozi, Masykur
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i2.1106

Abstract

Disability studies are still a minor theme in the Islamic science. This indicates that Islamic science does not have a mission to alleviate discrimination problems experienced by persons with disabilities. This results in disability being excluded even in Muslims’ community. We identified that lack of access performed by Muslims society is caused by lack of Islamic sciences in encouraging them to conduct inclusively. This article seeks to offer a socio-religious model in alleviating disability discrimination with two methodological levels. The first level is crticizing epistemology of Islamic law to break down the bias of normality which results in the lack of appointment of disability problems as themes in Islamic law. At the second level is continued by internalizing social-disability model philosophy in ahliyyah and maqa>s}id, so that the epistemology of Islamic law has the idea of inclusion. The results of this study are that the right of access is guaranted by ahliyah al-wuju>b, and strategy of fulfilling access right is regulated in light of maqa>s}id theory. This method fruits the concept of practical Islamic law which can be used as a basis for forming an inclusive Islamic society.
Social Climber Dan Budaya Pamer: Paradoks Gaya Hidup Masyarakat Kontemporer Mahyuddin, Mahyuddin
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v2i2.1086

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggambarkan corak gaya hidup kontemporer dan dinamikanya sebagai konsekunsi logis dari pemujaan dan kegilaan atas konsumsi tanda dan makna-makna simbolik. Penelitian ini merupakan penelitian atas perilaku sosial yang direpresentasikan dalam teks media sosial (virtual dan gambar) sebagai elemen kejadian sosial sekaligus reproduksi pemaknaan yang memiliki efek kausal seperti perubahan pengetahuan, kepercayaan, sikap dan nilai yang direproduksi secara berulang dalam ranah masyarakat maya. Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sejalan dengan fenomena masyarakat hari ini yang gemar memamerkan diri dalam ruang-ruang media sosial sebagai tindakan sosial interaktif, maka perilaku tersebut dianalisis dengan transformasi kajian teori Jean Baudrillard perihal budaya konsumsi. Analisis Baudrillard menyelidiki fenomena sosial untuk konteks sosial masyarakat posmodern. Fenomena yang dikaji antara lain; 1) simbol sosial budaya pamer di ranah sosial dan medan masyarakat maya; 2) gaya hidup masyarakat konsumer dan social climber. 3) berbagai implikasi sosial yang mencerminkan fenomena konsumersime.Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: 1) Telah terjadi polarisasi baru corak perilaku sosial yang ditampakkan oleh masyarakat hari ini. Gejala-gejala tersebut merepresentasikan sebuah realitas sosial tersendiri di mana pemujaan atas konsumsi, kegilaan terhadap gaya hidup, serta benturan identitas sosial (status, citra, diri) adalah suatu hal yang tidak terelakkan. 2) Di era ini, pertukaran simbolis adalah bagian penting yang tidak terhindarkan di mana pada era posmodern ini, citra dan penanda selalu direproduksi sebagai strategi aktualisasi atas status diri oleh setiap individu dalam mengarungi berbagai dunia realitas, termasuk dunia gaya hidup.[This study aims to illustrate the behavior of contemporary lifestyle and its dynamics as a logical consequence of adoration and obsession against the consumption of signs and meanings symbolic. This study is about social behavior represented in social media (virtual and images) as elements of social events as well as meaning reproduction that have causal e" acts such as repeated changes in knowledge, beliefs, attitudes, and values that reproduced in the realm of cyber society. This research used a qualitative paradigm with a phenomenology approach. Consistent with the phenomenon of society nowadays in which likes to show o" their spaces of social media as an interactive social action analyzed by transforming of Jean Baudrillard’s theory of consumption culture. Baudrillard’sanalysis investigated social phenomena for the social context of postmodern society. Phenomena analyzed namely 1) symbols of social-show culture in the social area and cyber $ eld; 2) society lifestyle as consumer and social climber. 3) various social implications that contain with consumerism phenomenon.! e results showed that: 1) There has been a new social polarization style expressed by society today. these symptoms represented its own social reality in which the adoration of consumption, the obsession of lifestyle, and the clash of social identity (status, image, ego) are inevitable. 2) In this era, symbolic exchanges are an inevitable part of this postmodern universe, images, and indications that are always reproduced as the actualization strategy of their status by individuals in the world of reality, including the lifestyle world.]
EKSISTENSI MALALA YOUSAFZAI DALAM MENGUBAH PERSPEKTIF DUNIA BARAT TERHADAP PEREMPUAN MUSLIM Niam, Zainun Wafiqatun
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i1.1113

Abstract

The tragedy of the shooting of Malala Yousafzai by the Taliban army in 2012 opened the eyes of the world that the suppression of women's rights under the pretext of religion or culture must be resisted. As a Muslim women activist, Malala has contributed in the Islamic world, particularly in voicing women's rights to education and roles in the public sphere. The emergence of Malala played a role in shifting the negative stereotypes of the western world towards Islam in treating women. For a long time the western world assumed that Islam was discriminatory towards women, this is due to Western media coverage of Islam which often discusses distortions and misinterpretations of gender texts against the Qur'an and Hadith. This paper is intended to see the role of Malala Yousafzai in changing the negative view of the western world towards Islam in treating women. The method used is the phenomonological analysis of the Malala case and analysis of the literature on gender. The results of the study showed that the negative view of the western world regarding Islamic treatment of women is based on blind cynicism and religious fanaticism and the lack of dialogue on religious texts about gender. The emergence of Malala Yousafzai provided space for the world to dialogue religious texts that were considered gender biased. Basically, Islam has placed men and women in proportional equality. Historically, the rise of Islam has succeeded in elevating women to a high position.[Tragedi penembakan Malala Yousafzai oleh tentara Taliban pada tahun 2012 telah membuka mata dunia bahwa penindasan terhadap hak-hak perempuan dengan dalih agama ataupun budaya harus dilawan. Sebagai aktivis perempuan muslim, Malala telah memberikan kontribusi di dunia Islam, khususnya dalam menyuarakan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan peran di ruang publik. Kemunculan Malala berperan dalam menggeser stereotipe negatif dunia barat terhadap Islam dalam memperlakukan wanita. Sejak lama dunia barat menganggap bahwa Islam bersikap diskriminatif terhadap perempuan, hal ini dikarenakan pemberitaan media Barat tentang Islam yang sering mengalami distorsi dan kesalahan tafsir atas teks gender terhadap Al Qur'an maupun Hadis. Tulisan ini ditujukan untuk melihat peran Malala Yousafzai dalam mengubah pandangan negatif dunia barat terhadap Islam dalam memperlakukan wanita. Metode yang digunakan adalah analisis fenomonologi kasus Malala dan analisis literatur tentang gender. Hasil kajian sementara menunjukkan bahwa pandangan negatif dunia barat terkait perlakuan Islam terhadap wanita didasari sinisme dan fanatisme beragama yang buta dan minimnya dialog terhadap teks keagamaan tentang gender. Kemunculan Malala Yousafzai memberikan ruang bagi dunia untuk mendialogkan teks keagamaan yang dianggap bias gender tersebut. Pada dasarnya Islam telah menempatkan laki-laki dan perempuan dalam kesetaraan yang proporsional. Secara historis, kemunculan Islam telah berhasil mengangkat derajat wanita ke dalam kedudukan yang tinggi.]
Proses Pembentukan Identitas Sosial Waria di Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta Gelarina, Diyala
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i1.1057

Abstract

Waria atau transgender memiliki ekspresi gender dengan orientasi seksual (homeseksual) yang dianggap tidak ‘normal’ di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Waria di dalam Islam juga menuai banyak perdebatan kendati sebagian besar tidak menyetujui keberadaan waria. Karena kehadiran waria menuai banyak perdebatan dan pertentangan baik itu secara sosial, budaya, maupun agama, eksistensi dan identitas waria tidak memiliki ruang di ranah sosial maupun agama. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengungkapkan proses pembentukan identitas sosial waria di pesantren waria dan (2) melihat motif serta bias dari proses pembentukan waria di pesantren waria al-Fatah Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif untuk menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata dan perilaku yang dapat diamati. Jenis penelitian ini adalah penelitian field research yaitu penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data-data lapangan untuk menjelaskan permasalahan yang diteliti dengan teknik pengumpulan data, observasi, interview dan dokumentasi. Sementara itu teknik analisa datanya menggunakan teknik: deskriptif-kualitatif dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan proses pembentukan identitas sosial waria di pesantren waria al-Fatah Yogyakarta. Identitas sosial yang diteliti oleh penulis terdiri dari proses, motif, dan bias dalam dari proses pembentukan identitas sosial. Proses pembentukan waria terdiri dari: kategorisasi, identifikasi, dan pembanding. Sedangkan motif yang ditemukan yaitu motif self-enhancement(peningkatandiri) atau motif individu dalam membangun citra positif dengan bergabung dalam dalam kelompok dan uncertainly reduction (penguranganketidaktentuan) atau motif untuk mengubah citra negatif suatu kelompok. Penulis menemukan dua bias yang ada di pesantren waria al-Fatah Yogyakarta, pertama bias dalam kelompok yang memicu konsep diri yang positif dan bias yang memicu favoritisme yakni rasa suka yang berlebihan pada kelompok sendiri.[Waria or transgender have gender expression on sexual orientation that is not considered ‘normal’ among most Indonesian people. Transgender in Islam also provoke many debates, despite mostly do not agree with the existence of transgender. Due to the presence of transgender provoke much debate and disagreement, whether it be social, cultural or religious reasons, as consequently the existence and identity of the transgenders do not have space in the both of social and religious domain. The aims of this study are revealing the formation process of transgender social identity and knowing motives and biases on the formation process of transgender social identity in Pesantren Waria al-Fatah Yogyakarta. This is qualitative research to produce descriptive data such as words, verbal, and behaviors that can be observed from participants. The type of this research is field research that has the purpose of gathering data from fields in order to explain problems of study. Methods of data collection such as observation, interviews, and documentation applied for gathering data from the field. Techniques for data analysis applied descriptive-qualitative analysis and drawing conclusions. The results of this research showed the formation process of transgender social identity in Pesantren Waria al-Fatah Jogjakarta. A social identity researched by the author consists of processes, motives, and biases in the formation process of social identity. The formation process of transgender consists of categorization, identification, and comparison. While the motives found are self-enhancement motives (self-improvement) or individual motives to building a positive image by joining the group, and uncertainly reduction (uncertainty) or group motives to changing the negative image of a group. The author found two biases that exist in Pesantren Waria al-Fatah Yogyakarta; first, a bias in the group triggered positive self-concept; and second, a bias which triggered favoritism that is an over liking to own group.]