cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
hariantogp@sttexcelsius.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
hariantogp@sttecelsius.ac.id
Editorial Address
Barata Jaya IV No. 26, 28 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Excelsis Deo
ISSN : 26848724     EISSN : 26850923     DOI : https://doi.org/10.51730/ed.v4i2
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi, misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2684-8724 (print) dan e-issn: 2685-0923 (online) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Excelsius dengan lingkup kajian penelitian adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) Teologi Sistematika dengan pendekatan non-doktrinal Teologi dan Kontekstual Teologi Pastoral dan Etika Pelayanan Gerejawi Teologi dan Etika Kontemporer Misiologi Biblikal dan Praktikal Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga, dan Sekolah Section Policies
Articles 37 Documents
Makna “Janganlah Kamu Melakukan Telaah Atau Ramalan” Menurut Imamat 19:26b dan Pengaruhnya Terhadap Shio Pada Budaya Tionghoa Wang, Suryowati
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v3i1.8

Abstract

Chinese Christianity faces a problem when the congregation begins to doubt the future and wants everything to be fast and instant without wanting to go through a process that feels long. This fact led Christians to turn to Shio's predictions which were nothing more than occult. This study of prediction based on Shio will try to prove that no one in the world can predict what can happen, because God himself plans and regulates everything. True Christianity relies its life on God, its fate is determined by faith and not divination. The history of Shio use in Chinese culture cannot be separated from the origin of its use as a means of making it easier to mark the year and season on the Chinese Luni-Solar calendar. This history and theology is needed for Chinese Christianity to be compatible with the gospel. Kekristenan umat Tionghoa menghadapi masalah ketika jemaat mulai ragu akan masa depan dan menginginkan segala sesuatu serba cepat dan instan tanpa ingin melewati proses yang dirasa lama. Kenyataan ini membawa orang-orang Kristen berpaling pada ramalan Shio yang tidak lebih dari okultisme. Penelitian akan ramalan berdasarkan Shio ini akan berusaha membuktikan bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat meramal apa yang dapat terjadi, karena Allah sendiri yang merencanakan dan mengatur segala sesuatu. Kristen sejati menyandarkan hidupnya kepada Allah, nasibnya ditentukan imannya dan bukan ramalan. Sejarah penggunaan Shio pada budaya Tionghoa tidak bisa terlepas dari asal mula pengunaannya sebagai sarana mempermudah menandai tahun dan musim pada kalender Luni-Solar bangsa China. Sejarah dan teologi ini yang diperlukan bagi Kekristenan Tionghoa agar berpadanan dengan Injil. 
PANDANGAN ALKITAB MENGENAI PERNIKAHAN YANG TIDAK SEIMAN Woen, Victoria
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i1.34

Abstract

General theory: Marriage is an institution authorized by God which involves the union of a man and a woman as "one flesh" in a lifelong relationship. The method used by the authors in this study is a quantitative research method. In this research besides being descriptive, the writer also uses survey method because the survey method is one of the characteristics of descriptive research. The purpose of writing this article is to know the meaning of marriage in the Bible, the Old Testament view of unbelieving marriage, and the New Testament view of unbelieving marriage. The results obtained are, (1) the meaning of marriage in the Bible is an institution authorized by God which involves the union of a man and a woman as "one flesh" in a lifetime relationship. (2) The Old Testament view of unfaithful marriage, as exemplified by the biblical figures in the Old Testament, is known that the Israelites were not accustomed to marrying people from non-nationals or relatives. (3) The New Testament view of unbelieving marriage. II Corinthians 6:14 says: "Do not be an unequal partner with unbelievers." that marrying a partner who is not a believer or having a different religion is strongly opposed by the Bible. God does not want Christians to marry unbelievers because that will require a life-long struggle.AbstrakTeori umum: Pernikahan adalah lembaga yang disahkan Allah yang melibatkan penyatuan seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai “satu daging” dalam suatu hubungan seumur hidup. Metode yang dipakai oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Di dalam penelitian ini selain bersifat deskriptif, penulis juga menggunakan metode survei karena metode survei merupakan salah satu ciri penelitian yang bersifat deskriptif. Tujuan Penulisan Artikel ini adalah mengetahui makna pernikahan dalam Alkitab, Pandangan Perjanjian Lama mengenai pernikahan tidak seiman, dan Pandangan Perjanjian Baru mengenai pernikahan tidak seiman. Hasil yang diperoleh yaitu, (1) makna pernikahan dalam Alkitab adalah lembaga yang disahkan Allah yang melibatkan penyatuan seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai “satu daging” dalam suatu hubungan seumur hidup. (2) Pandangan Perjanjian Lama mengenai pernikahan tidak seiman, sebagaimana teladan tokoh-tokoh alkitab dalam Perjanjian Lama, diketahui bahwa bangsa Israel tidak biasa menikah dengan orang dari bukan sebangsa atau sanak-saudaranya. (3) Pandangan Perjanjian Baru mengenai pernikahan tidak seiman. II Korintus 6:14 mengatakan: “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya”. bahwa menikah dengan pasangan yang tidak seiman atau berbeda agama sangatlah ditentang oleh Alkitab. Allah tidak menginginkan umat Kristen menikah dengan pasangan yang tidak seiman karena hal itu akan membutuhkan pergumulan seumur hidup.
Model Teologi Gereja di Abad XXI: Studi Arah Pengembangan menuju Globalisasi GP, Harianto
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v3i1.1

Abstract

The model (shape, style, paradigm or style) is the most important part of seeing a development, especially the theological church. Theology here is not only interpreted as "knowledge (cognitive) about God" but also changes in the affective and psychomotor of the church towards the knowledge of God. The Church is responsible for laying the cognitive foundation of God and making changes within himself and having the skills to worship and carry out His will. In this context the term "Church Theological Model" appears. The author conducts research based on models of church theology which began from the time of the fathers of the Church to the Church of the XX century. From there it can then be arranged in the direction of development towards globalization which reaches in the direction of the models of Church theology in the Indonesian Churches. Model (bentuk, corak, paradigm atau gaya) merupakan bagian terpenting dalam melihat sebuah perkembangan, khususnya gereja berteologi.  Teologi  di sini bukan saja diartikan sebagai “pengetahuan (kognitif) tentang Tuhan” tetapi juga perubahan afektif  dan psikomotoris gereja terhadap pengetahuan akan Tuhan tersebut. Gereja bertanggungjawab untuk meletakan dasar kognitif akan Tuhan dan melakukan perubahan di dalam diri serta mempunyai keterampilan menyembah dan melaksanakan kehendak-Nya. Dalam konteks ini muncul istilah “Model Teologi Gereja”.  Penulis melakukan penelitian berdasarkan model-model teologi gereja yang dimulai sejak masa bapa-bapa Gereja hingga Gereja masa abad XX. Dari situ kemudian bisa tersusun arah pengembangan menuju globalisasi yang mencapai pada hasil arah model-model teologi Gereja di Gereja-gereja Indonesia.
KONSEP IBADAH YANG BENAR DALAM ALKITAB Henny, Lucyana
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i1.32

Abstract

Worship according to the concept of Christianity is God's commandment that must be done by every person who has been redeemed and saved by the Lord Jesus Christ. The purpose of the study is to answer: What is the meaning of worship of believers? What are the elements of worship according to the Bible? How is worship lived in church life? Research using qualitative methods using literature review (library research). The results of the study are: (1) worship truly is a service to God by offering all souls and spirits with various actions and attitudes of respect and adoration, submission, and obedience with a thankful welcome. (2) Worship without doubt is the inner confession of a person who accepts that God is sovereign in power and good. With a series of personal offerings and the offerings of the people, approaching the altar of God by bringing sacrifice. (3) worship lived in church life is Jesus as the subject of worship through hymns, prayers, confessions of sins begging for forgiveness, giving thanks. Church life gives the best offerings to God, body, soul and spirit, which must be accompanied by service to others.AbstrakBeribadah menurut konsep kekristenan adalah perintah Tuhan yang wajib dilakukan oleh setap orang yang sudah di tebus dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus.  Tujuan penelitian adalah menjawab: Apakah makna ibadah persekutuan orang percaya? Apakah unsur-unsur ibadah menurut Alkitab?  Bagaimanakah ibadah dihayati dalam kehidupan bergereja? Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian literature (library research). Hasil penelitian adalah: (1) ibadah yang benar adalah  pelayanan kepada Allah dengan mempersembahkan seluruh tubuh jiwa dan roh  dengan aneka tindakan dan sikap penuh hormat dan puja, ketundukan, serta ketaatan dengan penuh ucapan syukur. (2)  unsur-unsur ibadah adalah ungkapan batin seseorang yang mengakui bahwa Allah berdaulat penuh kuasa dan baik. Dengan rangkaian persembahan pribadi maupun persembahan umat, menghampiri mezbah Allah dengan membawa kurban.  (3) ibadah dihayati dalam kehidupan bergereja adalah Yesus sebagai pokok penyembahan melalui nyanyian pujian, doa, pengakuan dosa mohon pengampunan, mengucap syukur. Kehidupan bergereja itu  memberikan persembahan terbaik kepada Tuhan yaitu tubuh, jiwa dan roh, yang harus dibarengi dengan pelayanan kepada sesama. 
PENDIDIKAN PENDERITAAN DALAM KITAB AYUB GUNA MEMBERI SOLUSI PERKARA-PERKARA DUNIA PELAYAN TUHAN Mayasari, Iis Dahlia; Chearolina, Chearolina; Wang, Suryowati
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i2.54

Abstract

Abstract: Suffering is pressure that comes from outside a person. The suffering that exists in humans is both unavoidable and inevitable. The problem that arises is: What is meant by suffering education? How to provide a solution to the suffering of people who are complaining? How to provide a solution to the suffering of the quarreling person? How to provide a solution to the suffering of those who commit suicide? How does the education of suffering in the book of Ayub provide solutions to the things of God's servant world at GBI KelIR Samarinda? The answer: (1) Education for suffering is education to live in the world. Humans as God's creation still accept every suffering that comes in their life. (2) The solution to the suffering of a complaining person is: do something happily, have a heart that is willing to accept criticism and suggestions, still give thanks to God, and be humble. (3) The solution to the suffering of the quarreling person is: don't always feel right, apologize first when you are guilty, learn to yield, and be willing to listen to advice. (4) The solution to the suffering of a person who commits suicide is someone who dares to live in pain and can accept the reality of life, is obedient to God, is always grateful, and always longs to live in historical peace. (5) The education of suffering taught to God's servants at GBI KelIR Samarinda is: Education continues to survive, Education to Realize God is the Source of Life, Education Do not Blame Anyone, and Education "makes people aware that suffering is a test and not everything comes from sin". Abstrak: Penderitaan adalah tekanan yang datang dari luar diri seseorang. Penderitaan yang ada pada manusia tidak bisa ditolak dan tidak bisa dihindari. Persoalanya yang muncul adalah: Apakah yang dimaksud dengan pendidikan penderitaan? Bagaimanakah memberi solusi tentang penderitaan  orang yang bersungut-sungut? Bagaimanakah memberi solusi tentang penderitaan orang yang bertengkar?  Bagaimanakah memberi solusi tentang penderitaan orang yang bunuh diri? Bagaimanakah pendidikan penderitaan dalam kitab Ayub memberi solusi perkara-perkara dunia pelayan Tuhan di GBI KelIR Samarinda? Jawabnya: (1) Pendidikan penderitaan adalah pendidikan untuk hidup di tengah dunia. Manusia sebagai ciptaan Allah tetap menerima setiap penderitaan yang datang dalam kehidupannya. (2)  Solusi tentang penderitaan  orang yang bersungut-sungut adalah: melakukan suatu hal dengan senang hati, memiliki hati yang mau menerima kritik dan saran, tetap mengucap syukur kepada Tuhan, dan rendah hati. (3) Solusi tentang penderitaan orang yang bertengkar adalah adalah: jangan merasa selalu benar, meminta maaf terlebih dahulu ketika bersalah, belajar mengalah, dan mau mendengar nasihat.  (4) Solusi tentang penderitaan orang yang bunuh diri adalah seseorang berani hidup menderita dan dapat menerima kenyataan hidup, taat kepada Tuhan, selalu bersyukur, dan selalu rindu hidup damai sejarah. (5) Pendidikan penderitaan  yang diajarkan kepada pelayan  Tuhan di GBI KelIR Samarinda adalah: Pendidikan tetap Bertahan, Pendidikan Menyadari Allah adalah Sumber Hidup, Pendidikan Jangan Menyalahkan Siapapun, dan Pendidikan “menyadarkan bahwa penderitaan adalah sebuah ujian dan tidak semuanya berasal dari dosa”.
Kepemimpinan Wanita Kristen: Suatu Sinergitas Antara Kesetaraan (Egalitarian) dengan Kemitraan (Partnership) Lumintang, Danik Astuti
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v3i2.16

Abstract

 AbstractThe view that emphasizes the hierarchy and leadership of men is known as complementary. Complementary emphasizes that although men and women are equal before God. Men and women are created to fulfill different roles in relationships with one another. However, due to the advancement of civilization, and due to the awareness of the facts of social-political injustice against women, modern secular feminists (social-political) have emerged. This research reveals a synergy between equality and Christian women's leadership partnerships. Keywords: Complementary; Egalitarianism, Partnership, Women  AbstractPandangan yang menekankan hirarkhi dan kepemim-pinan kaum laki-laki dikenal dengan sebutan complementary. Complementary menekankan bahwa walaupun laki-laki dan perempuan setara di hadapan Allah. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk memenuhi peran yang berbeda dalam hubungan satu dengan yang lain. Namun, karena kemajuan peradaban, dan karena kesadaran fakta ketidakadilan sosial-politik terhadap kaum wanita, bangkitlah modern secular feminist (social-politic). Penelitian ini mengungkap suatu sinegitas antara kesetaraan dengan kemitraan kepemimpinan wanita Kristen. Kata Kunci: Komplementer; Egalitarianisme; Kemitraan; Perempuan
PENGELOLAAN INTERAKSI KUALITAS PROSES BELAJAR MENGAJAR TERHADAP PENGEMBANGAN DIRI ANAK DALAM KONTEKS MINAT BELAJAR Mau, Belinda; Christi, Areyne
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v2i2.44

Abstract

Abstract: In this era of globalization, teachers are very dominant in self-actualizing to educate the nation in facing the challenges and competition in the world, so that they are required to improve their professionalism in dealing with any existing problems. Solutions to answer the problems faced by teachers arise in the following questions: Who is the teacher? What is the role of the teacher both as a teacher and in relation to their students? How to manage the quality of the teaching and learning process on children's self-development in the context of interest in learning? The answers are: (1) a teacher is a professional educator who educates, teaches a science, guides, trains, provides assessments, and evaluates students. (2) the role of the teacher to work holistically. The teacher not only carries out his duties as a teacher, but becomes an example and a companion to his students. (3) the teacher must be able to manage the class very well so that in every learning process, children can be interested and respond when a teacher delivers a material. Abstrak: Dalam era globalisasi ini guru sangatlah dominan di dalam mengaktualisasi diri untuk mencerdaskan bangsa dalam menghadapi tantangan dan persaingan dunia, sehingga dituntut untuk meningkatkan profesionalnya dalam menangani setiap masalah yang ada. Solusi untuk menjawab persoalan-persoalan yang di hadapi oleh guru muncul dalam pertanyaan sebagai berikut: Siapakah guru itu? Apakah peranan guru baik sebagai guru dan berhubungan dengan anak didiknya? Bagaimanakah mengelola kualitas proses belajar mengajar terhadap pengembangan diri anak dalam konteks minat belajar?  Jawabnya adalah: (1) guru adalah seorang tenaga pendidik profesional yang mendidik, mengajarkan suatu ilmu, membimbing, melatih, memberikan penilaian, serta melakukan evaluasi kepada peserta didik.  (2) peranan guru bekerja secara holistik. Guru tidak saja menjalankan tugasnya sebagai seorang pengajar, tetapi menjadi teladan dan teman bergaul bagi para muridnya. (3) guru harus dapat mengelola kelas dengan sangat baik sehingga dalam setiap proses pembelajaran, anak dapat tertarik dan meresponi ketika seorang guru menyampaikan sebuah materi.
Pemberitaan Injil di Tengah Masyarakat Pluralis Kristian, Alvin
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v3i1.5

Abstract

In the midst of the plurality of the people of this world. Then it cannot be denied that there are differences between one another. That diversity and differences is what is termed pluralism. As well as religion which is an important part of society, even each individual has a plurality phenomenon whose influence in society has a huge impact on the thinking of each individual. The differences between each religion and the truth claims and absolutes of each religion often cause considerable friction in society. In fact, it is not uncommon for many people to judge and make religion a tool of violence. Ditengah-tengah kemajemukkan masyarakat dunia ini. Maka tidak bisa dipungkiri adanya perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Keragaman dan perbedaan-perbedaan itulah yang disebut dengan istilah pluralisme. Sebagaimana juga agama yang merupakan bagian yang penting dalam masyarakat, bahkan tiap-tiap individu mempunya fenomena pluralitas yang pengaruhnya di dalam masyarakat mempunyai dampak yang sangat besar bagi pemikiran tiap-tiap individu. Perbedaan masing-masing agama dan klaim-klaim kebenaran serta kemutlakan tiap-tiap agama sering menimbulkan gesekan-gesekan yang cukup keras dalam masyarakat. Bahkan tidak jarang banyak orang menilai dan menjadikan agama sebagai alat kekerasan.
INTEGRITAS BERPERILAKU KUDUS BERDASARKAN 1 PETRUS 1:13-25 TERHADAP KOMITMEN PELAYANAN PADUAN SUARA ADONAI Tadung, Frieska Putrima
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i1.35

Abstract

Integrity to behave holy is a life that shows as befits the family of God, which is to live a life that matches the calling. A life that should be "blameless, a life of moral integrity and complete surrender. The purpose of this paper is to answer the question: What does Integrity mean is holy? how to prove the integrity of holy behavior is very important as a servant of God and in order to be able to create God's servants who have honesty and pleasing before God? how to prove that the impact of integrity behaving holy towards commitment in service is needed by choir service and in order to create maximum service that pleases God? The research method used is qualitative using a grounded research design. The results of the study are (1) Integrity is a picture of a person who has quality in all dimensions of his life. (2) how to prove the integrity of holy behavior is very important as a servant of God and in order to be able to create servants of God who have honesty and are pleasing before God; (3) Integrity of Holy Behavior in Creating God's Servant who Does Not Obey Lust, Living in Fear of God, and Behaving in Truth Obedient Haw Lust is an earthly system that is contrary to God's plan.AbstrakIntegritas berperilaku kudus merupakan kehidupan yang menunjukkan sebagaimana layaknya keluarga Allah, yakni menjalani kehidupan yang berpapadan dengan panggilan. Kehidupan yang seharusnya “tidak bercacat, kehidupan yang berintegritas moral dan penyerahan yang seutuhnya. Tujuan penulisan ini menjawa pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan Integritas berlaku kudus ? bagaimana membuktikan integritas berperilaku kudus sangatlah penting sebagai seorang pelayan Tuhan dan guna untuk dapat menciptakan pelayan Tuhan yang memiliki kejujuran dan berkenan di hadapan Tuhan? bagaimana membuktikan bahwa dampak integritas berperilaku kudus terhadap komitmen dalam pelayanan sangat dibutuhkan oleh pelayanan paduan suara dan guna untuk menciptakan pelayanan yang maksimal dan menyenangkan hati Tuhan? Metode peneltian yang digunakan adalah kualitatif ini menggunakan desain penelitian  grounded. Hasil penelitian adalah (1)  Integritas merupakan gambaran seorang pribadi yang memiliki kualitas diri dalam segala dimensi kehidupannya. (2) bagaimana membuktikan integritas berperilaku kudus sangatlah penting sebagai seorang pelayan Tuhan dan guna untuk dapat menciptakan pelayan Tuhan yang memiliki kejujuran dan berkenan di hadapan Tuhan; (3) Integritas Berperilaku Kudus dalam Menciptakan Pelayan Tuhan yang Tidak Menuruti Hawa Nafsu, Hidup dalam Takut akan Tuhan, dan Berperilaku Taat Kebenaran Haw Nafsu yaitu sistem duniawi yang bertentangan dengan rencana Allah. 
Hamba Tuhan sebagai Aktor Utama di Era Transisi dari Specialization kepada Globalization (Eksposisi Konteks Postmodern dan Teks Efesus 5:15-21) Lumintang, Stevri Indra
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v3i1.7

Abstract

The movement of globalization caused postmoderns to "replace the modern worldview" with "postmodern worldview". That means there are massive and fundamental changes. Therefore, this transition period is a period of great change, which is not easily accepted by many people because it has caused many major problems with humanity. Globalization presses in many directions, so that nothing is lost. Globalization has made many people and organizations become voracious and ferocious. That means using the time available. Nothing is greater than God's will. The will of globalization is under God's will. This is the strong foundation of a servant of God acting as the main actor of globalization. The main role of God's servants as the main actor of globalization, namely preaching the Word.  Gerakan globalisasi menyebabkan kaum postmodern “mengganti worldview modern” dengan “worldview postmodern”. Itu artinya terjadi perubahan besar-besaran dan mendasar. Karena itu, masa peralihan ini merupakan masa perubahan besar, yang tidak mudah diterima oleh banyak orang karena telah menyebabkan banyak masalah yang besar terhadap humanistas.  Globalisasi menekan ke banyak arah, sehingga tidak ada yang luput dari pengaruhnya. Globalisasi telah membuat banyak orang dan organisasi tertentu menjadi rakus dan ganas tiada ampun. Itu artinya menggunakan waktu yang ada. Tidak ada yang lebih hebat dari pada kehendak Allah. Kehendak globalisasi berada di bawah kehendak Allah. Inilah dasar yang kuat dari seorang hamba Tuhan berperan sebagai aktor utama globalisasi. Peran utama hamba Tuhan sebagai aktor utama globalisasi, yaitu memberitakan Firman.

Page 1 of 4 | Total Record : 37