cover
Contact Name
iwan hermawan
Contact Email
iwan1772@gmail.com
Phone
+62811204704
Journal Mail Official
prosidingbalarjabar@gmail.com
Editorial Address
Balai Arkeologi Jawa Barat Jalan Raya Cinunuk Km. 17 Cileunyi Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat
ISSN : -     EISSN : 27753344     DOI : https://doi.org/10.24164/prosiding
Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat meruapakan terbitan ilmiah yang berisi kumpulan makalah yang dipresentasikan dalam seminar nasional arkeologi yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun oleh Balai Arkeologi Jawa Barat yang dalam proses penerbitannya telah melalui tahapan penelaahan oleh reviewer. Tema Prosiding mengikuti tema seminar yang dilaksanakan.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Arkeologi
Articles 42 Documents
DIASPORA AUSTRONESIA DI INDONESIA BERDASARKAN TINGGALAN RANGKA MANUSIA Widianto, Harry; Noerwidi, Sofwan
Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat 2020: PROSIDING SEMINAR ARKEOLOGI 2019
Publisher : Balai Arkeologi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24164/prosiding.v3i1.2

Abstract

Migrasi Austronesia sejak 4.500 tahun lalu merupakan suatu fenomena mengagumkan dalam sejarah peradaban manusia, yang mencakup luasan wilayah dan kecepatan persebarannya di Kepulauan Nusantara. Namun saat ini belum banyak tulisan yang merangkum jejak Austronesia di Kepulauan Nusantara berdasarkan sudut pandang paleoantropologis. Makalah ini memaparkan diaspora Austronesia di kepulauan ini, berdasarkan ciri fisik karakter sisa-sisa rangka manusia, khususnya bagian tengkorak dan gigi geligi yang ditemukan dalam konteks arkeologis. Sisa rangka manusia dengan konteks penguburan neolitik ditemukan di beberapa situs gua pegunungan karst dari periode sekitar 3.500 tahun lalu, sedangkan sisa rangka dengan konteks penguburan paleometalik diperoleh dari beberapa situs kubur tempayan tepi pantai sejak 2.000 tahun lalu. Pada masa mendatang perlu dilakukan penelitian intensif agar diketahui apakah dua karakter penguburan berbeda periode tersebut merupakan hasil evolusi budaya atau mencerminkan dua layer migrasi manusia.
MELACAK JEJAK BUDAYA AUSTRONESIA DI KAWASAN PANTURA P. MADURA PADA MASA PRASEJARAH – PROTOSEJARAH Kasnowihardjo, Gunadi
Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat 2020: PROSIDING SEMINAR ARKEOLOGI 2019
Publisher : Balai Arkeologi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24164/prosiding.v3i1.3

Abstract

Terinspirasi oleh teori “Out of Taiwan” atau “Express Train Hypothesis”, bahwa imigran penutur bahasa Austronesia mencapai Pulau Jawa kira-kira 500 BC. Melacak jejak budaya Austronesia di kawasan pantai utara Pulau Madura ini adalah penelitian lanjutan dari tema penelitian “Melacak Jejak – Jejak Budaya Austronesia di Kawasan Pantai Utara Jawa”. Dalam pelacakan jejak budaya Austronesia digunakan tiga kajian yaitu Geomorfologi, Arkeologi, dan Etnografi yang dilakukan dengan kegiatan lapangan yaitu survey dan ekskavasi. Sedangkan kegiatan pasca lapangan antara lain analisis laboratorium yang hasilnya sebagai data pendukung dalam interpretasi.
GAMBAR CADAS KAIMANA (PAPUA BARAT) DAN KAITANNYA DENGAN AUSTRONESIAN PAINTED TRADITION (APT) Eka Permana, R. Cecep
Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat 2020: PROSIDING SEMINAR ARKEOLOGI 2019
Publisher : Balai Arkeologi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24164/prosiding.v3i1.4

Abstract

Artikel ini membahas tentang gambar cadas yang terdapat di Kampung Maimai dan sekitarnya di Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Motif-motif gambar cadas di wilayah ini mengikuti konsep dari Ballard dan O’Connor berkaitan dengan Penutur Austronesia yang dikenal dengan Austronesian Painted Tradition (APT). Pengumpulan data gambar cadas dilakukan melalui survei di lapangan, sedangkan analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa indikasi kebudayaan dari Penutur Austronesia pada gambar cadas yang terdapat di Kaimana. Indikasi tersebut antara lain ditunjukkan oleh lokasi yang berada di wilayah persebaran Penutur Austronesia, keletakkan gambar cadas pada lokasi yang sulit dijangkau, serta penggambaran motif khas seperti cap telapak tangan, antropomorfik, wajah atau topeng, matahari, dan perahu.
SIMBOL DAN HIERARKI PENUTUR AUSTRONESIA PADA BUDAYA MEGALITIK PASEMAH, SUMATERA SELATAN Triwurjani
Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat 2020: PROSIDING SEMINAR ARKEOLOGI 2019
Publisher : Balai Arkeologi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24164/prosiding.v3i1.5

Abstract

Interaksi budaya asli Indonesia dan penutur Austronesia di Sumatera Selatan, banyak menghasilkan objek-objek batu yang dibentuk sedemikian rupa yang dikenal sebagai budaya megalitik Pasemah. Bentuk dari peninggalan budaya tersebut antara lain berupa arca, bilik batu, dolmen, menhir, tetralith lukisan kubur batu, dsb. Bentuk dan keletakan objek megalitik tersebut adalah cerminan dari kehidupan sosial masyarakat pada waktu itu. Sebagai suatu simbol, tentu saja objek dan tata letak mempunyai arti atau makna. Makna tersebut dapat ditelusuri antara lain melalui metode semiotik yang mengetengahkan denotasi dan konotasi. Hasil analisis membuktikan bahwa bentuk-bentuk simbol tersebut merupakan hasil interaksi atau percampuran dari budaya asli Indonesia dan penutur austronesia yang datang dari luar. Simbol-simbol tersebut merupakan cerminan adanya hierarki pada kehidupan sosial budaya megalitik Pasemah seperti pimpinan, bangsawan, masyarakat biasa, dan budak.
PENELITIAN JEJAK MANUSIA DAN BUDAYA AUSTRONESIA DI SITUS SUBANGLARANG, KABUPATEN SUBANG PANTAI UTARA JAWA BARA Yondri, Lutfi
Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat 2020: PROSIDING SEMINAR ARKEOLOGI 2019
Publisher : Balai Arkeologi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24164/prosiding.v3i1.6

Abstract

Proses awal penghunian rumpun Austronesia di wilayah Jawa bagian barat atau khususnya Jawa Barat sampai sekarang masih menjadi misteri. Sebagian ahli berpendapat hal itu sulit ditemukan disebabkan karena situs-situs neolitik awal di pantai utara Jawa Barat telah terkubur oleh di bawah endapan aluvial. Gagasan untuk pencarian lokasi awal pendaratan Masyarakat Austronesia di pantai Utara Jawa sudah dikembangkan sejak beberapa tahun belakangan, termasuk yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada November 2015 di daerah Cilamaya (Karawang). Lokasi lain yang patut diduga sebagai bagian dari kawasan hunian awal dari pendaratan Austronesia di masa lalu adalah situs Subanglarang, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Lokasi tersebut berada di kawasan aliran sungai yang cukup ideal sebagai lokasi hunian pada masa lalu dan berada di ketinggian garis pantai yang termasuk dalam penafsiran para ahli sebagai lokasi hunian masyarakat berbudaya Austronesia pada masa lalu. Untuk menjajaki tinggalan tersebut dilakukan survey dan ekskavasi. Dari hasil dua kegiatan tersebut memberikan beberapa bukti arkeologi berupa sisa rangka manusia dengan temuan serta berupa gigi babi, tembikar selip merah, beliung persegi, dan manik-manik dari berbagai bahan, bentuk, ukuran dan bahan yng terkait erat dengan keberadaan budaya Austronesia pada masa lalu di lokasi tersebut.
BAHASA AUSTRONESIA DARI SUMATERA Purwanti, Retno
Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat 2020: PROSIDING SEMINAR ARKEOLOGI 2019
Publisher : Balai Arkeologi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24164/prosiding.v3i1.7

Abstract

Austronesia merupakan suku bangsa terbesar yang mendiami wilayah Indonesia. Kajian mengenai tanah asal suku bangsa melayu-polynesia ini menarik dikaji dari berbagai aspek, baik dari arkeologi, sejarah, dan bahasa. Bahasa sebagai alat untuk menyampaikan ide dan pesan antar manusia mulai muncul pada permulaan abad ke Sembilan belas. Marsden berpendapat bahwa penduduk kepulauan Pasifik berasal dari Asia (dari wilayah Tartar). Hanya penduduk dibagian barat kepulauan pasifik yang ia maksudkan tentu Melanesia kemungkinan besar berasal dari irian. Tonggak pegangan Marsden lebih condong pada pertimbangan terhadap kesukubangsaan dari pada fakta kebahasaan. Setelah itu muncul beberapa teori mengenai asal usul bahasa. Kajian terbaru menganggap bahwa asal usul bahasa Austronesia dari Kalimantan. Bahkan ada yang mengatakan dari Sumatera. Hampir semua kajian bahasa didasarkan pada aspek linguistik dan tidak menyertakan data materi. Penelitian terhadap prasasti dan manuskrip yang terdapat di Sumatera bagian Selatan sejak tahun 2009-2019 memberikan gambaran bahwa bahasa Melayu sudah digunakan di daerah ini pada abad ke-7 Masehi. Prasasti-prasasti dari masa Kedatuan Sriwijaya sebagian besar menggunakan bahasa Melayu. Pada masa kemudian ditemukan prasasti-prasasti yang dituliskan pada timah, tanduk, rotan, dan bambu yang ditulis dengan menggunakan aksara lokal dan menggunakan bahasa Melayu. Di Sumatera Selatan sampai tahun 2019 ini tercatat ada 54 bahasa pengakuan (Melayu). Jumlah tersebut belum termasuk bahasa yang digunakan pada prasasti-prasasti dan manuskrip yang ditemukan di Jambi dan Bengkulu. Berdasarkan bukti-bukti prasasti dan manuskrip dapat diduga bahwa bahasa Melayu berasal dari Sumatera.
GAMBARAN NILAI TRADISI AUSTRONESIA PADA MASYARAKAT MINANGKABAU DI SALIMPAUNG, KABUPATEN TANAH DATAR, PROVINSI SUMATERA BARAT Susilowati, Nenggih
Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat 2020: PROSIDING SEMINAR ARKEOLOGI 2019
Publisher : Balai Arkeologi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24164/prosiding.v3i1.8

Abstract

Penutur Bahasa Austronesia diketahui sebagian tersebar di beberapa wilayah nusantara, diantaranya Sumatera Barat. Sebagian jejak tinggalan arkeologisnya terdapat di Nagari Situmbuk, dan Nagari Supayang, Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar. Kedua nagari tersebut menjadi miniatur tempat berkembangnya budaya yang menggambarkan nilai – nilai tradisi Austronesia. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui ciri perkembangan tradisi Austronesia pada bangunan tradisional dan artefaknya. Selain itu juga menggali nilai-nilai tradisi Austronesia pada masyarakat Minangkabau yang berada di wilayah Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan alur penalaran induktif. Data-data diperoleh melalui kegiatan survei dan ekskavasi, dengan memperhatikan kerangka bentuk, ruang, dan waktu, meliputi konteks temuan serta lingkungan alam dan budayanya. Keberadaan artefak, situs, dan kawasannya membentuk bingkai budaya yang menggambarkan keberadaan nilai-nilai tradisi Austronesia pada masyarakat Minangkabau. Nilai-nilai itu diantaranya nilai-nilai kepemimpinan, kegotongroyongan, demokrasi yang berkaitan dengan unsur religi, matapencaharian bidang pertanian dan tradisi sirih.
PERSEBARAN SITUS-SITUS MEGALITIK DI LERENG TENGGARA GUNUNG SLAMET: BUKTI DETERMINISME MANUSIA INDONESIA PADA LINGKUNGAN Sulistyo, Ary
Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat 2020: PROSIDING SEMINAR ARKEOLOGI 2019
Publisher : Balai Arkeologi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24164/prosiding.v3i1.9

Abstract

Megalitik merupakan salah satu bukti dari budaya Austronesia yang masih ada di wilayah Indonesia sejak millennium pertama sebelum masehi. Situs-situs megalitik yang ditemukan di lereng Tenggara Gunung Slamet, Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah ini adalah bukti determinime lingkungan manusia pada masa lalu. Penelitian dengan metode deskriptif kualitatif menunjukkan bahwa situs-situs dengan jarak ke sumber air (sungai atau mata air) kurang dari 100 m (7 situs), ketinggian 100-500 m (9 situs), kelerengan 15-25% (6 situs), batuan kuarter muda (Qvs) (8 situs) dan bentuk medan perbukitan bergelombang (Pgl) (7 situs) dengan tinggalan berupa menhir, lumpang dan punden berundak, meja batu, pagar batu, jalan batu dan batu telur. Situs-situs tersebut menunjukkan karakter situs campuran (pemujaan dan penguburan), situs pemujaan dan situs objek tunggal. Praktek-praktek pemujaan terhadap nenek moyang masih tetap dijalankan dalam bentuk yang sederhana maupun kompleks di Indonesia. Nilai keberlanjutan dari situs dan budaya megalitik adalah kearifan lokal seperti toleransi dan gotong royong
RELIGI KAHARINGAN SEBAGAI JEJAK AUSTRONESIA PADA ORANG DAYAK Hartatik, Hartatik
Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat 2020: PROSIDING SEMINAR ARKEOLOGI 2019
Publisher : Balai Arkeologi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24164/prosiding.v3i1.10

Abstract

Orang Dayak merupakan penduduk tertua penghuni Pulau Kalimantan yang kini masih ada. Ada ratusan rumpun Dayak yang dipisahkan oleh lingkungan geografis dan perbedaan bahasa, tetapi pada dasarnya mereka mempunyai budaya yang hampir sama. Tulisan ini bertujuan menjelaskan kepercayaan Kaharingan sebagai salah satu kepercayaan leluhur yang masih berlangsung pada kehidupan orang Dayak di Kalimantan. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan etnoarkeologi. Data tulisan ini diperoleh dari penelitian Balai Arkeologi Kalimantan Selatan antara tahun 2006 hingga 2019 yang didukung dengan kajian literatur. Kepercayaan terhadap roh leluhur sebagai jejak Austornesia diwujudkan dalam bentuk perahu arwah. Tradisi tersebut bertahan karena konsep religi yang sudah kuat mengakar berkaitan dengan sejarah leluhur dan telah menjelma menjadi semangat. Namun demikian, seiring dengan perkembangan zaman, tradisi tersebut kini terancam punah.
SIMBOL-SIMBOL PENUTUR AUSTRONESIA DI ASIA TENGGARA: STUDI KASUS DI KEPULAUAN MALUKU Wattimena, Lucas
Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat 2020: PROSIDING SEMINAR ARKEOLOGI 2019
Publisher : Balai Arkeologi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24164/prosiding.v3i1.11

Abstract

Makalah ini memberikan gambaran tentang bagaimana bentuk-bentuk simbol yang terdapat di perahu penutur austronesia di Kepulauan Maluku. Perahu yang dibahas dalam makalah ini adalah jenis perahu bercadik dan perahu dari susunan papan kayu. Bentuk2 simbol yang terdapat di perahu penutur Austronesia antara lain diklasifikasian dalam kategori simbol kesuburan, simbol manusia perempuan dan laki-laki, simbol flora dan fauna, simbol siklus hidup (lahir, dewasa dan kematian), simbol seks (alat reproduksi), simbol kekerabatan, simbol geometris, bergaris dan lingkaran.