cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 445 Documents
Effects of Probiotic Bacillus sp. on Food Convertion and Growth of Catfish Pangasius hypophthalmus Jusadi, Dedi; Gandara, E.; Mokoginta, Ing
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.85 KB) | DOI: 10.19027/jai.3.15-18

Abstract

A triplicate experiment was conducted to evaluate the addition of probiotic Bacillus sp. into the diet on feed convertion and growth of catfish Pangasius hypophthalmus. Twenty fish with an initial body weight of 1,85 ± 0,09 g were stocked in a 60-1 aquarium. During rearing period, fish were fed on the diet three times a day at satiation. Prior the feeding, probiotic (contained Bacillus sp. 4,2x106 CFU.ml-1) were added into the diet at a dosage of 0, 5, 15 or 25 ml.kg-1 diet. The probiotic were added once a day at the noon. The results showed that maximum protein retention, lipid retention, growth rate, and minimum feed convertion was found in the group of fish fed on the diet supplemented with 15 ml probiotic kg-1 diet. Irrespective to the dosage of probiotic, food consumption and survival rate of fish were the same among the treatments. Key words : Probiotic. Bacillus sp.. catfish Pangasius hypophthalmus.   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis yang optimal dari probiotik Bacillus sp. yang ditambahkan pada pakan komersil terhadap konversi pakan dan pertumbuhan benih ikan patin Pangasius hypophthalmus. Dua puluh ekor ikan patin dengan bobot rata-rata 1.85 ± 0,09 g ditebar dalam setiap akuarium frekuensi 50x40x35 cm yang diisi air 60 1. Selama 40 had masa pemeliharaan. ikan diberi pakan buatan berkadar protein 27% dengan frekwensi tiga kali sehari, at satiation. Sebelum diberikan ke ikan, pakan tersebut ditambah produk probiotik (mengandung Bacillus sp. 4,2 x 106 CFU/ml) dengan dosis 0, 5, 15 atau 25 ml/kg pakan. Pakan yang mengandung probiotik hanya diberikan sekali setiap hari, yakni pada pukul 13.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya penambahan probiotik dalam pakan sampai dosis 15 ml/kg pakan menyebabkan terjadinya peningkatan retensi protein, retensi lemak dan laju pertumbuhan harian ikan, serta menurunkan konversi pakan. Penambahan probiotik lebih lanjut (25 ml/kg pakan) menurunkan kinerja pertumbuhan di atas. Sementara itu. kelompok ikan di setiap perlakuan mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang tidak berbeda nyata, yaitu antara 132,43 g sampai 137,84 g. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan probiotik di dalam pakan tidak memberikan adanya perbedaan yang nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan, yaitu antara 98,3% - 100%. Kata kunci: Probiotik. Bacillus sp.. ikan patin Pangasius hypophthalmus
Performa reproduksi dan pertumbuhan pascapenghambatan pematangan gonad udang galah betina secara hormonal menggunakan dopamin dan medroxyprogesterone Megawati Wijaya; Agus Oman Sudrajat; Imron
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3586.347 KB) | DOI: 10.19027/jai.19.1.10-18

Abstract

ABSTRACT One of the main problem in giant river prawn (GFP) culture is early gonadal maturation in female resulting a reduced growth performance. This problem cause economic losses. When GFP at gonadal maturation, somatic growth will be inhibited because energy is used for reproduction. A factorial experimental design using two factors, namely dopamine and medroxyprogesterone, with each factor consist of three levels was applied. Three dopamine levels were 0, 10-5 mol/shrimp, and 10-10 mol/shrimp, while the medroxyprogesterone levels were 0, 75 mg/1.5 mL/bodyweight, and 150 mg/3 mL/bodyweight with a density 15 individual/tank. The utilization of dopamine and medroxyprogesterone in GFP (initial bodyweight : 11.27 ± 0.97 g) through injection at the third periopod was done three times at week 0, 2nd, and 4th with two weeks interval. The results showed that hormone inhibitor treatments affected both growth and reproductive performances in female GFP. The treated individuals showed a lower gonadal maturity indicator values and faster growth rate than control. Gonadal maturity, as shown by gonad histology, in all treatments were lower (previtelogenic and vitellogenic stages) than that in control which is in mature stage. Estradiol concentration premix dopamine 10-10 mol/shrimp and medroxyprogesterone 150 mg/3 mL/bodyweight treatments are lower than control. In conclusion, dopamine and medroxyprogesterone administration could suppres GSI and gonad development, and also increase growth rate. Keywords: Macrobrachium rosenbergii, dopamine, medroxyprogesterone, gonad development, growth.
Karakterisasi cairan fermentasi daun mangrove Avicennia marina dan daya hambatnya terhadap bakteri penyebab penyakit ice-ice Samsu Adi Rahman; Sukenda; Widanarni; Alimuddin; Julie Ekasari
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3455.443 KB) | DOI: 10.19027/jai.19.1.1-9

Abstract

ABSTRAK Cairan fermentasi daun mangrove Avicennia marina mengandung mikroorganisme, nutrient, dan metabolit sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri dan senyawa dalam cairan fermentasi daun mangrove A. marina dan mengukur daya hambatnya terhadap bakteri patogen Stenotrophomonas maltophilia penyebab penyakit ice-ice pada rumput laut. Hasil analisis molekuler dengan target gen 16S rRNA menunjukkan bahwa bakteri dalam cairan fermentasi terdiri atas delapan jenis Bacillus, yaitu Bacillus subtilis MSAR-01, Bacillus megaterium MSAR-02, Bacillus firmus MSAR-03, Bacillus thuringiensis MSAR-04, Bacillus subterranerus MSAR-05, Bacillus vietnamensis MSAR-06, Bacillus sp. MSAR-07, Bacillus circulans MSAR-08, dengan daya hambat terbaik ditunjukkan oleh B. subtilis MSAR-01, B. vietnamensis MSAR-06, dan Bacillus sp. MSAR-07. Pemberian asam laktat, bakteriosin, cairan fermentasi total, dan supernatan sebanyak 15 mL menghasilkan daya hambat terhadap bakteri S. maltophilia lebih baik daripada menggunakan salah satu atau kombinasi beberapa jenis bakteri isolat. Daya hambat cairan fermentasi dan supernatan yang diperkaya bakteri tunggal lebih baik daripada pengayaan kombinasi bakteri. Kata kunci: Avicennia marina, fermentasi, ice-ice, mangrove
Kualitas gonad bulubabi Tripneustis gratilla dengan pakan rumput laut yang berbeda Agnette Tjendanawangi; Nicodemus Dahoklory
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3501.109 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.214-221

Abstract

ABSTRAK Kualitas gonad bulubabi Tripneuestes gratilla dipengaruhi oleh jenis rumput laut yang dimakan bulu babi tersebut. Oleh karena itu penelitian dilakukan untuk menganalisis jenis rumput laut yang potensial sebagai sumber karotenoid dan dapat menghasilkan gonad yang berkualitas baik. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap I mengetahui kandungan karotenoid dan β-carotene dari beberapa jenis rumput laut; dan tahap ke II menguji jenis rumput laut yang dapat menghasilkan gonad berkualitas baik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas empat perlakuan pakan makroalga yaitu: 1. Enhalus sp., 2. Sargassum sp, 3. Ulva lactuca, dan 4. Euchema sp. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati adalah bobot gobad, indeks kematangan gonad, kualitas warna, dan tekstur gonad bulubabi. Hasil penelitian menunjukkan Enhalus memiliki kandungan karotenoid dan β-carotene tertinggi masing-masing sebesar 1.409,53 dan 639,37 mg/kg. Bobot gonad tertinggi sebesar 2,8 g, warna dan tekstur gonad berkualitas baik (skor 3), serta indeks kematangan gonad (IKG) tertinggi sebesar 5,4% dihasilkan pada pemberian pakan Enhalus. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Enhalus potensial sebagai sumber karotenoid dalam pakan bulu babi T.gratilla dan dapat menghasilkan kualitas gonad yang baik. Kata kunci: bulu babi, karotenoid, kualitas gonad, pakan, rumput laut
Biofloc technology on the intensive aquaculture of bronze corydoras ornamental fish Corydoras aeneus with different stocking densities Diatin, Iis; Suprayudi, Muhammad Agus; Budiardi, Tatag; Harris, Enang; Widanarni, Widanarni
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3552.973 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.202-213

Abstract

ABSTRACT Ornamental fish is non consumption fish which is an important source of Indonesian foreign exchange. The objective of this study is to analyze the productivity of bronze corydoras Corydoras aeneus ornamental fish through increased stocking density with biofloc technology. The average weight of the experimental corydoras was 0.61 ‒0.72 g with 2.32‒2.40 cm standard length. This study used a randomized design method with biofloc technology treatment in 3000, 4500, and 6000 fish/m2 stocking densities. The results showed that the daily length and weight-growth rate among treatments were not significantly different (P>0.05), while survival rate and the number of fish production on all treatments were significantly different (P<0.05). The water quality during the rearing period, such as temperature, pH, alkalinity, ammonia, nitrite, and nitrate, were in a tolerable range for corydoras culture. The total suspended solids tended to be higher due to higher stocking density. The best productivity using biofloc technology obtained from 6000 fish/m2 stocking density. Keywords: Biofloc technology, Corydoras aeneus, growth rate, stocking density, survival rate. ABSTRAK Ikan hias merupakan produk perikanan non konsumsi yang menjadi sumber devisa Indonesia yang cukup penting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas ikan hias koridoras melalui peningkatan padat tebar dengan teknologi bioflok. Ikan yang digunakan adalah ikan hias koridoras (Corydoras aeneus) berbobot 0,61‒0,72 g dan panjang baku 2,32‒2,40 cm. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan teknologi bioflok pada padat tebar 3000, 4500, dan 6000 ekor/m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harian panjang dan bobot antar perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05), sedangkan kelangsungan hidup dan jumlah produksi ikan pada semua perlakuan berbeda nyata (P<0,05). Nilai kualitas air selama pemeliharaan yakni suhu, pH, alkalinitas, amonia, nitrit, dan nitrat yang berada pada kisaran yang cukup baik untuk budidaya ikan. Total padatan tersuspensi cenderung tinggi akibat dari semakin tinggi padat tebar. Produktivitas terbaik pada budidaya ikan koridoras dengan teknologi bioflok adalah pada padat tebar 6000 ekor/m2. Kata kunci:  Corydoras aeneus, kelangsungan hidup, padat tebar, pertumbuhan, teknologi bioflok 
Salinity effect evaluation on the survival rate and hematology of snakeskin gourami juvenile Trichopodus pectoralis Setijaningsih, Lies
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3559.107 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.193-201

Abstract

ABSTRACT Snakeskin gourami Trichopodus pectoralis an endemic fish that was highly demanded by Indonesian society. The declining in population stock was the main problem cause its availability still relies upon the nature catch. The increase of its production of culture was still constrained by the slow rate of growth and survival rate in the seed phase. This study aimed to determine the optimal salinity and its effect on growth performance, survival rate, osmotic activity, and blood description of the snakeskin gourami Trichopodus pectoralis. A complete randomized design (CRD) was used in this study with four different treatments and each treatment consisted of three replications. The salinity test consists of 0 g/L, 1 g/L, 3 g/L, and 5 g/L. The experimental fish sized at 0.49 ± 0.13 g and length 2.96 ± 0.42 cm with a stock density of 25 fish/aquarium (1 fish/L). During 28-day of rearing, the experimental fish was fed using Tubifex sp. as restricted based on the FR (5%) of biomass per weekly sampling. The results showed that the optimal survival rate and growth showed the best at salinity 3 g/L because it showed the most stable blood level so that the fish could avoid stress response. Keywords: salinity, survival rate, growth, hematological, Trichopodus pectoralis  ABSTRAK Ikan sepat siam Trichopodus pectoralis merupakan ikan endemik yang sangat diminati masyarakat Indonesia.Pemenuhan kebutuhan ikan sepat siam masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam sehingga populasi di alam mengalami penurunan. Peningkatan produksi ikan sepat siam dari budidaya masih terkendala dengan sintasan dan pertumbuhan yang lambat pada fase benih. Tujuan penelitian ini adalah menentukan salinitas optimum dan pengaruhnya terhadap performa sintasan, pertumbuhan, kerja osmotik, dan gambaran darah benih ikan sepat siam.Penelitian dilakukan dengan metode rancangan acak lengkap (RAL), empat perlakuan dan masing-masing3 kali ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah salinitas 0 g/L, salinitas 1 g/L, salinitas 3 g/L, dan 5 g/L.Ikan yang digunakan berukuran 0,49±0,13 g dan panjang 2,96±0,42 cm, padat tebar masing-masing 25 ekor/akuarium (1 ekor/L). Selama 28 hari masa pemeliharaan, ikan sepat siam diberi pakan berupa cacing sutra (Tubifex sp.) secara restricted berdasarkan FR 5% dari biomassa per Sampling mingguan. Hasil penelitian menunjukkan sintasan dan pertumbuhan terbaik dihasilkan pada perlakuan salinitas 3 g/L. Hal itu diduga karena gambaran darah pada perlakuan 3 g/L stabil sehingga terhindar dari respon stres. Kata kunci: salinitas, sintasan, pertumbuhan, gambaran darah, sepatsiam 
Aggressive and cannibalistic behavior of African catfish larvae: effect of different doses of methyltestosteron injecting to female broodstock and larval stocking densities Rahmadiah, Triayu; Junior, Muhammad Zairin; Alimuddin, Alimuddin; Diatin, Iis
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3678.724 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.182-192

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate the effect of 17α-methyltestosterone hormone (MT) injecting to female broodstocks and stocking densities on the aggressive and cannibalistic behavior of African catfish larvae. Two-day-old post-hatching larvae were used in this experiment. Larval rearing was started at three-day-old post-hatching (body weight 0.004 ± 0.003 g and total length 0.2 ± 0.05 cm) in a 40 cm×30 cm× 25 cm rearing aquaria. This study used a completed randomized factorial design which consisted of two factors. The first factor were the larvae from females broodstocks without MT injection (0 μg/g body weight) (A), injected with MT (1 μg/g body weight) (B), and injected with MT (2 μg/g body weight) (C), while the second factor were larval stocking densities of 3.000/m2 (V1) and 6.000/m2 (V2), with three replications. The results showed that the larvae from female broodstocks injected with MT 2 μg/g body weight (C) and stocking densities 6.000/m2 (V2) increased the aggressiveness of swim and decreased cannibalism. The highest cannibalistic behavior occurred from 00.00‒06.00.Keyword: aggressiveness, cannibalism, Clarias gariepinus, methyltestosterone ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh hormon 17α-metiltestosteron (MT) yang diinjeksikan pada induk betina dan padat tebar terhadap tingkat agresivitas dan kanibalisme larva ikan lele. Ikan uji yang digunakan adalah larva berumur dua hari setelah penetasan. Pemeliharaan larva dimulai saat larva berumur tiga hari setelah penetasan (bobot tubuh 0,004 ± 0,003 g  dan panjang total 0.2 ± 0.05 cm) yang dipelihara di dalam akuarium berukuran 40 cm×30 cm×25 cm. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial yang terdiri atas dua faktor. Faktor yang pertama adalah larva dari induk tanpa diinjeksi dengan hormon MT (0 μg/g bobot tubuh) (A), diinjeksi dengan hormon MT (1 μg/g bobot tubuh) (B), dan diinjeksi dengan hormon MT (2 μg/g bobot tubuh) (C), sedangkan faktor yang kedua adalah padat tebar 3.000 ekor/m² (V1) dan 6.000 ekor/m² (V2), dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva ikan lele dari induk yang diinjeksi hormon MT dosis 2 µg/g bobot tubuh dan dipelihara pada padat tebar tinggi 6.000 ekor/m² (V2) dapat meningkatkan agresivitas berenang dan menurunkan kanibalisme. Tingkat kanibalisme tertinggi terjadi pada pukul 24.00‒06.00 WIB. Kata kunci: agresivitas, kanibalisme, Clarias gariepinus, metiltestosteron  
Efficacy of bivalent vaccine against black body syndrome (BBS) of barramundi Lates calcalifer B. Nugrahawati, Anis; Nuryati, Sri; Sukenda, Sukenda; Rahman, Rahman; Brite, Margie; Aditya, Tiya Widi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3709.553 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.172-181

Abstract

ABSTRACT Black body syndrome causes mass mortality in barramundi (Lates calcarifer) in Asia mariculture. This study aimed to evaluate the efficacy of bivalent vaccine derived from local isolate for black body syndrome (BBS) prevention on the Barramundi. The bacteria used in the bivalent vaccine were Pseudomonas stutzeri and Vibrio harveyi in a ratio of 50:50. Barramundi, 5‒6 cm in length, was intraperitoneally injected with bivalent vaccine and phosphate buffer saline (PBS). After a 21-day vaccination, fish was injected with pathogenic bacteria P. stutzeri, V. harveyi, the combination of P. stutzeri and V. harveyi with a dose of bacteria 107 CFU/fish. We observed relative percent survival (RPS), mortality, blood profile, antibody level, lysozyme activity, and histopathology of vaccinated fish. The result showed that vaccinated fish had higher antibody levels and lysozyme activity than control treatment (P>0.05). Vaccinated fish had RPS of 80.00%, 64.29%, 57.69%, after challenged test with P. stutzeri, V. harveyi, and combination of P. stutzeri and V. harveyi, respectively. Hemoglobin and hematocrit were not significantly different (P>0.05). However, the erythrocytes, leucocytes, and phagocytic activity were higher compared to there were higher erythrocytes, leucocytes, and phagocytic activity compared to control (P<0.05). As well as antibody level and lysozyme activity of vaccinated fish higher than control (P<0.05). In conclusion, the bivalent vaccine of P. stutzeri and V. harveyi could protect barramundi seed from BBS infection. Keywords: Lates calcalifer, bivalent vaccine, local isolate, Pseudomonas stutzeri, Vibrio harveyi                                                                                                                                                                       ABSTRAK Black body syndrome menyebabkan kematian masal pada ikan kakap putih budidaya air laut di wilayah Asia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efikasi vaksin bivalen untuk penanggulangan black body syndrome pada benih ikan kakap putih. Bakteri yang digunakan untuk membuat vaksin bivalen yaitu Pseudomonas stutzeri dan Vibrio harveyi dengan rasio 50:50. Ikan kakap putih berukuran 5‒6 cm diinjeksi vaksin bivalen dan phosphat buffer saline secara intraperitoneal. Setelah 21 hari pemeliharaan, benih diuji tantang dengan bakteri patogen P. stutzeri, V. harveyi, campuran P. stutzeri dan V. harveyi dengan kepadatan bakteri sebesar 107 CFU/ikan. Parameter yang diamati meliputi relative percent survival (RPS), gambaran darah, titer antibodi, aktifitas lisosim, dan gambaran histopatologi benih kakap putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang divaksin memiliki nilai titer antibodi dan aktifitas lisosim lebih tinggi dibandingkan kontrol (P<0.05). Ikan yang divaksin memilki RPS 80.00%, 64.29%, 57.69%, setelah diuji tantang dengan P. stutzeri, V. harveyi, campuran P. stutzeri dan V. harveyi. Nilai hemoglobin dan hematokrit tidak berbeda nyata (P>0.05). Titer antibodi dan aktifitas lisosim ikan yang divaksin lebih tinggi dari kontrol (P<0.05). Vaksin bivalen P. stutzeri dan V. harveyi dapat melindungi benih ikan kakap putih dari infeksi BBS. Kata kunci : Lates calcalifer, vaksin bivalen, Pseudomonas stutzeri, Vibrio harveyi 
Utilization of green algae Caulerpa racemosa as feed ingredient for tiger shrimp Penaeus monodon Puspitasari, Widya; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia; Ekasari, Julie; Nur, Abidin; Sumantri, Iwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3516.423 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.162-171

Abstract

ABSTRACT The study aimed to evaluate the utilization of seaweed Caulerpa racemosa as feed ingredient for tiger shrimp Penaeus monodon. This research consisted of two different stages, i.e. digestibility and growth test. Tiger shrimp with average body weight of 5.70 ± 0.42 g was reared during digestibility test. The measured parameters were total protein, calsium, magnesium, and energy digestibility. The growth test was managed by using a completely randomized design consisted of four different treatments (in triplicates) of dietary C. racemosa meal addition levels, i.e. 0 (control), 10, 20, and 30%. Tiger shrimp with an average body weight of 0.36 ± 0.02 g were cultured for 42 days in plastic containers (70×45×40 cm) with a stocking density of 15 shrimp/container. Apparent dry matter, protein, calcium, magnesium, and energy digestibilities of C. racemosa were 51.82, 88.67, 68.44, 16.39, 60.30%, respectively. The results presented that the growth performance of tiger shrimp fed with diet containing 10% of C. racemosa was not significantly different with the control (P>0.05). However, the growth performance of the shrimp fed with diet containing more than 20% of C. racemosa decreased. The enzyme activitity of superoxide dismutase (SOD) increased with the higher level of dietary addition of C. racemosa. It can be concluded that C. racemosa was possibly applied up to 10% in the feed formulation for tiger shrimp. Keywords: Caulerpa racemosa, Penaeus monodon, digestibility, growth performance, shrimp  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pemanfaatan rumput laut Caulerpa racemosa sebagai bahan baku pakan udang windu Penaeus monodon. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap, yaitu uji kecernaan C. racemosa dan uji pertumbuhan udang. Udang windu yang digunakan pada uji kecernaan berbobot 5,70 ± 0,42 g. Parameter uji yang diukur meliputi kecernaan total, protein, kalsium, magnesium, dan energi. Uji pertumbuhan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu penggunaan tepung C. racemosa sebesar 0 (kontrol), 10, 20, dan 30%. Udang windu dengan bobot 0,36 ± 0,02 g dipelihara dalam wadah kontainer plastik ukuran 70×45×40 cm (volume air sebanyak 90 L) dengan kepadatan 15 ekor tiap wadah selama 42 hari. Hasil penelitian menunjukkan kecernaan total C. racemosa pada udang windu 51,82%, kecernaan protein 88,67%, kecernaan kalsium 68,44%, kecernaan magnesium 16,39%, dan kecernaan energi 60,30%. Penelitian tahap kedua pada kinerja pertumbuhan udang yang mengonsumsi pakan mengandung 10% C. racemosa, tidak memberikan nilai yang berbeda nyata dengan udang yang mengonsumsi pakan kontrol. Namun, kinerja pertumbuhan udang menurun setelah mengonsumsi pakan yang mengandung C. racemosa di atas 20%, sedangkan aktivitas enzim superoxide dismutase (SOD) meningkat. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan C. racemosa ke dalam formula pakan sampai 10% dapat digunakan sebagai bahan baku pakan udang windu. Kata kunci: Caulerpa racemosa, Penaeus monodon, kecernaan, kinerja pertumbuhan, udang 
Profile of 17ß-estradiol, vitellogenin, and egg diameter during gonad maturation process of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus Pamungkas, Wahyu; Jusadi, Dedi; Junior, Muhammad Zairin; Setiawati, Mia; Supriyono, Eddy; Imron, Imron
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4039.234 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.152-161

Abstract

ABSTRACT This study was conducted to evaluate the profile of 17ß-estradiol (E2) and vitellogenin (Vtg) in plasma and egg diameter during gonad maturity process of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus. Blood samples were collected from immature striped catfish, male and female with different stage of gonad maturity (stage I, II, III, and IV) to measure the concentrations of E2 and Vtg. Gonad maturity development of striped catfish was observed based on egg diameter. Result showed that E2 concentrations were the highest (843.65 pg/mL) on female with maturity stage III, the lowest on the male (26.34 pg/mL), and immature female fish (29.37 pg/mL). The protein band of Vtg was obtained on the plasma of the mature female (stage I, II, III and IV) with a molecular weight (MW) between 140−180 kDa, but it was not obtained on immature female dan male striped catfish. The highest concentration of Vtg was found in the plasma of the female fish with maturity stage III (87.34 mg/mL), then on the stage II (74.83 mg/mL), I (68.58 mg/mL), and IV (33.45 mg/mL). It showed that egg yolk formation occurred in the female mature. The average egg diameter was 0.107 ± 0.052 mm, 0.318 ± 0.086 mm, 0.864 ± 0.099 mm, and 1.041 ± 0.058 mm on the maturity stage I, II, III, and IV respectively. The increase of egg diameter along with development of gonad maturity stage indicated that egg development occurred due to the process of vitellogenesis and the addition of egg yolk on oocyte. Keywords : egg diameter, gonad maturity, striped catfish , 17ß–estradiol, vitellogenin ABSTRAK Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi profil estradiol-17β (E2), vitelogenin (Vtg) dalam plasma dan diameter telur pada proses pematangan gonad ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus). Sampel darah untuk pengukuran konsentrasi E2 dan Vtg plasma diperoleh dari ikan patin siam betina yang belum matang gonad, ikan jantan, ikan betina dengan tahap kematangan gonad yang berbeda (tahap I, II, III dan IV). Perkembangan kematangan gonad ikan patin siam diamati berdasarkan diameter telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi E2 tertinggi (843,65 pg/mL) pada ikan betina dengan kematangan tahap III, terendah pada ikan jantan (26,34 pg/mL), dan ikan betina tidak matang gonad (29,37 pg/mL). Pita protein Vtg pada sampel plasma diperoleh dari betina matang gonad (tahap I, II, III dan IV) dengan berat molekul antara 140-180 kDa, tetapi tidak diperoleh pada ikan patin siam betina yang belum dewasa dan jantan. Nilai konsentrasi tertinggi Vtg ditemukan dalam plasma darah ikan betina dengan tingkat kematangan III (87,34 mg/mL) kemudian pada tahap II (74,83 mg/mL), I (68,58 mg/mL) dan IV (33,45 mg/mL). Hal ini menunjukkan bahwa pada ikan betina dewasa terjadi proses pembentukan kuning telur (vitelogenesis). Rata-rata diameter telur adalah 0,107 ± 0,052 mm, 0,318 ± 0,086 mm, 0,864 ± 0,099 mm dan 1,041 ± 0,058 mm pada tingkat kematangan I, II, III dan IV secara berurutan. Peningkatan nilai diameter telur seiring dengan perkembangan tahap kematangan gonad menunjukkan bahwa perkembangan telur terjadi karena proses vitelogenesis dan penambahan bahan kuning telur pada oosit. Kata kunci : diameter telur, 17ß-estradiol, kematangan gonad, patin siam, vitelogenin

Page 1 of 45 | Total Record : 445


Filter by Year

2002 2020


Filter By Issues
All Issue Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue