cover
Contact Name
Novena Yety Lindawati
Contact Email
novena_yl@yahoo.com
Phone
+62271-572339
Journal Mail Official
ojs.stikesnas@stikesnas.ac.id
Editorial Address
LPPM STIKES Nasional Jl. Raya Solo-Baki, Kwarasan, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah 57552
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Farmasi
ISSN : 23027436     EISSN : 26568950     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL FARMASI (Journal Of Pharmacy) adalah jurnal ilmiah resmi yang dikeluarkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional dengan nomor p-ISSN 2302-7436 e-ISSN 2656-8950. JURNAL FARMASI (Journal Of Pharmacy) berisikan jurnal-jurnal ilmiah dalam semua aspek ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang Farmasi dan kesehatan antara lain: Farmakognosi dan Fitokimia meliputi Pengembangan Simplisia, Budidaya Tanaman Obat, Isolasi, Skrining Fitokimia, dan Identifikasi Obat Bahan Alam Indonesia. Biologi meliputi Biologi Molekuler, Bioteknologi, Mikrobiologi, Immunologi, Parasitologi, Biomedisinal Teknologi Farmasi meliputi Farmasetika, Teknologi dan Formulasi Sediaan Obat, Teknologi dan Formulasi Sediaan Obat Bahan Alam Indonesia. Ilmu Kimia meliputi Kimia Analisa, Kimia Organik, Sintesa Obat, Kimia Medisinal, Pemodelan Molekul, Biokimia, dan Kimia Lingkungan. Farmakologi meliputi Farmakologi, Farmakokinetik, Farmakoterapi, dan Toksikologi. Farmasi Klinik dan Komunitas meliputi Farmakoekonomi, Farmakovigilan, Analisis dan Evaluasi Penggunaan Obat, Monitoring Efek Samping Obat, Analisa Kebijakan Kefarmasian, Evaluasi kegiatan Kefarmasian, Evaluasi Efektifitas Penggunaan Obat, Evaluasi Kualitas Hidup Pasien.
Articles 87 Documents
DEVELOPMENT AND VALIDATION ZIC HILIC COULOMN FOR SIMULTANEOUS DETERMINATION OF FUROSEMIDE AND INDAPAMIDE AS DOPING Iswandi, Iswandi
Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy) Vol 1, No 1, SEPTEMB (2018): PROCEEDINGS ICHC
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37013/jf.v1i1.64

Abstract

In sports, doping abuse done by athletes has been done since the 18th century. Many of the drugs used for doping and its chemical properties vary. Based on a list issued by the World Anti Doping Agency, one of the doping categories is diuretic. Then the most appropriate testing method is needed to seperation furosemide and indapamide. This study aims to see the development and validation of the separation furosemide and indapamide as doping compounds with High Performance Liquid using the Zic - HILIC column. This study used High Performance Liquid Chromatography of Shidmazu LC 20 AD brand with iso-fed pump and SPD 20A UV-Vis detector. The column used is Zic - HILIC (150 x 4.6 mm; 5 μm). This research is carried out on the optimization of conditions including mobile phase velocity, mobile phase pH, buffer of mobile phase, and buffer concentration. Selection of selected conditions see the price of R> 1.5 and N >>> or HETP <<<Optimized wavelength results 276 nm. The separation conditions of the furosemide and indapamide mixtures by HPLC using Zic-HILIC columns (150 x 4.6 mm, 5 μm) are Acetonitrile: Ammonium Acetate buffer (5 mM, pH 5) (95: 5) with a velocity of 0.5 ml / minute. The selected condition gives the given resolution value> 1.5 and the N price is the greatest. The method was than validated forSelectivity, linearity,accuracy, precision, limits ofdetection and limits ofquantification. The calibration curve of furosemide and indapamide were linear with a regression coefficient R > 0.999.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu serta Dukungan Keluarga Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Antenatal Ariyanti, Lilik; Nugroho P, Priyadi; Kartasurya, Martha Irene
Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy) Vol 6, No 1, Oktober (2017)
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37013/jf.v6i1.43

Abstract

AbstractTingginya angka kematian ibu di Indonesia terkait dengan rendahnya pencapaian pelaksanaan Ante Natal Care (ANC). Pencapaian program di Desa Godog masih jauh dibandingkan target yang telah ditetapkan, dimana cakupan K1 sebesar 68,75% dan K4 sebesar 57,14%. Penelitian ini bertujuan menganalisa hubungan faktor pengetahuan dan sikap ibu serta dukungan keluarga dengan pemanfaatan pelayanan antenatal oleh ibu hamil. Jenis penelitian ini adalah explanatory research dengan desain cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Sampel penelitian yaitu ibu hamil yang berjumlah 45 orang dengan teknik simple random sampling. Analisis data mengggunakan uji Chi Square dengan taraf signifikansi 5%. Variabel terikat adalah praktek pemanfaatan pelayanan kesehatan, sedangkan variabel bebas adalah pengetahuan, sikap, dan dukungan keluarga.  Responden di Desa Godog berpengetahuan baik (46,7%), mempunyai sikap positif terhadap pelayanan antenatal (66,7%) dan mendapat dukungan keluarga (73,3%). Hasil penelitian menunjukkan praktek pemanfaatan pelayanan antenatal oleh ibu hamil sebesar 75,6%. Faktor pengetahuan ( 𝑝=0,001) dan dukungan keluarga ( 𝑝=0,044) berhubungan dengan praktek pemanfaatan pelayanan antenatal, sedangkan faktor sikap tidak berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan antenatal. Dapat disimpulkan bahwa semakin baik pengetahuan dan adanya dukungan keluarga dapat meningkatkan pemanfaatan pelayanan antenatal
Perbandingan Efektivitas Produk Filgrastim pada Pasien Keganasan Limfoma yang Menerima Kemoterapi di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta Setiani, Dhien
Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy) Vol 4, No 1, Oktober (2015)
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37013/jf.v4i1.27

Abstract

Neutropenia adalah toksisitas yang sering terjadi pada pasien kanker limfoma akibat menerima kemoterapi mielotoksik. Granulocyte Colony Stimulating Factor (G-CSF) direkomendasikan secara klinik untuk neutropenia. Filgrastim adalah nama generik dari merk produk G-CSF yang beredar di Indonesia seperti Filgrastim merk A dan Filgrastim merk B yang diproduksi oleh pabrik yang berbeda. Perbedaan Filgrastim merk A dan Filgrastim merk B selain pabrik yang memproduksi adalah harga produk Filgrastim A lebih murah dibandingkan Filgrastim merk B. Perbandingan efektivitas Filgrastim merk A dengan Filgrastim merk B pada pasien di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta perlu diteliti untuk evaluasi terhadap efektivitas jenis obat yang telah dipakai secara klinik. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efektivitas Filgrastim merk A dan Filgrastim merk B pada penggunaan praktek klinik sehari-hari di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Rancangan penelitian ini menggunakan analitik retrospektif cohort study pada pasien yang menerima kemoterapi di Instalasi Kanker Tulip RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Data diambil dari rekam medik periode Januari 2013 sampai Maret 2015. Perbandingan efektivitas filgrastim menggunakan parameter waktu untuk mencapai Absolute Neutrophil Count (ANC) recovery. Data karakteristik subjek penelitian dianalisis menggunakan Chi Square Goodness of Fit untuk data kategorik dan uji t independent untuk data numerik. Perbandingan efektivitas filgrastim merk A dan merk B dianalisis menggunakan analisis survival. Diperoleh sebanyak 80 subjek pasien keganasan limfoma dengan 192 episode kejadian neutropenia yang mendapatkan terapi filgrastim. Dari 80 subjek, hanya 43 subjek (53,5%) yang terdiri dari 72 episode kejadian neutropenia) yang memenuhi kriteria inklusi (33 kejadian memakai filgrastim merk A dan 39 kejadian filgrastim merk B). Hasil perbandingan efektivitas filgrastim berdasarkan kecepatan waktu meningkatkan ANC recovery menurut analisis survival bivariat Kaplan Meier,dengan data pengamatan laboratorium 24 jam post suntik terakhir, menunjukkan bahwa Filgrastim merk A memiliki median recovery time lebih Perbandingan Efektivitas Produk Filgrastim Pasien Keganasan Limfoma yang Menerima Kemoterapi cepat dibandingkan Filgrastim merk B ( 1,00 vs 2,00 hari ;p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah Filgrastim merk A lebih efektif dibandingkan Filgrastim merk B dalam hal kecepatan waktu untuk mencapai ANC recovery.
Pengaruh Kombinasi Ekstrak Etanolik Temulawak (Curcuma canthorrizha Roxb) Rendah Minyak Atsiri dan Ekstrak Etanolik Sambung Nyawa (Gynura procumbens (Lour.) Merr) Terhadap Kadar Trigliserida Tikus Putih Jantan Galur Wistar Serta Gambaran Histopatologinya Novianto, Agil
Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy) Vol 1, No 1, Oktober (2012)
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37013/jf.v1i1.11

Abstract

Hiperlipidemi merupakan faktor pencetus terjadinya jantung korner dengan parameter tingginya kadar kolesterol (hiperkolesterolemia) atau trigliserida (hipertrigliserida). Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh kombinasi ekstrak etanolik temulawak (Curcuma xanthorrizha Roxb) rendah minyak atsiri dan ekstrak etanolik sambung nyawa (Gynura procumbens (Lour.) Merr) terhadap kadar trigliserida serta manifestasi hiperlipidemi berupa aterosklerosis. Sebanyak 48 hewan uji dibagi dalam 8 kelompok. Kelompok normal, kontrol positif (gemfibrozil), kontrol negatif CMCNa 0,5 %, dan kombinasi temulawak sambung nyawa dengan perbandingan 100:0, 75:25, 50:50, 25:75, 0:100. Penelitian dilakukan dengan pemberian diet lemak dan kuning telur selama 30 hari pada kelompok perlakukan, kelompok normal mendapatkan pakan tanpa diet lemak. dan dilanjutkan dengan pemberian sediaan uji selama 30 hari.  Dosis ekstrak temulawak adalah 225 mg/kg BB tikus, dosis ekstrak sambung nyawa 150 mg/kg BB tikus. Kadar trigliserida diukur pada hari ke-0 (baseline), ke-30, dan ke-60 dengan pereaksi Trigliserida FS Diasys®. Aktivitas hipotrigliserida berupa persen perubahan kadar trigliserida dianalisis secara statistik dengan Mann-Whitney taraf kepercayaan 95 %. Analisis histopatologi menggunakan sampel aorta jantung. Aktivitas hipotrigliserida kombinasi ekstrak temulawak rendah minyak atsiri dan ekstrak etanolik sambung nyawa tidak berbeda signifikan antara kelompok kombinasi. Kombinasi temulawak:sambung nyawa (75:25) memberikan aktivitas hipotrigliserida tertinggi dengan penurunan kadar trigliserida sebesar 56,77 %. Kombinasi ekstrak temulawak rendah minyak atsiri dan ekstrak sambung nyawa mampu menghambat terjadinya aterosklerosis
Formulasi dan Uji Aktivitas Tabir Surya Gel Kitosan Menggunakan Karbopol 940 dan HPMC K100 sebagai Gelling Agent Fahrezi, Mukhlis Ahmad; Nopiyanti, Vivin; Priyanto, Widodo
Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy) Vol 10, No 1, Maret (2021)
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37013/jf.v10i1, Maret.116

Abstract

Radiasi sinar ultraviolet (UV) mampu menembus lapisan epidermis kulit sehigga dapat mengiritasi dan merusak jaringan kulit. Kitosan yang mengandung senyawa kitin berpotensi mampu memberikan proteksi terhadap paparan sinar ultraviolet (UV). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas tabir surya gel kitosan dilihat dari harga nilai SPF, adanya pengaruh penggunaan variasi konsentrasi pada kombinasi karbopol dan HPMC sebagai gelling agent terhadap aktivitas tabir surya gel kitosan, variasi konsentrasi pada kombinasi karbopol dan HPMC yang mampu memberikan sifat fisika dan stabilitas gel yang baik. Variasi konsentrasi pada kombinasi karbopol dan HPMC sebagai gelling agent dibuat kedalam 3 formula, F1(100% karbopol:0%HPMC), F2(50% karbopol:50% HPMC), F3(0% karbopol:100% HPMC). Uji aktivitas tabir surya gel kitosan dilakukan dengan uji SPF (Sun Protection Factor) menggunakan spectrofotometri UV-VIS. Harga nilai SPF dihitung menggunakan metode mansyur. Hasil uji SPF dianalisis secara statistic menggunakan One Way ANOVA. Hasil uji SPF dari variasikonsentrasi pada kombinasi karbopol dan HPMC sebagai gelling agent yaitu F1 (9,091348), F2 (5,419107), F3 (6,437869). Hasil uji SPF yang dianalisis secara statistic menggunakan One Way ANOVA menunjukan bahwa semua data yang diujikan berbeda secara nyata dengan formulatereaktif F1(100% karbopol:0% HPMC) dengan harga nilai SPF 9,091348.
GAMBARAN PERESEPAN PASIEN SIROSIS HATI DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT PANTI WALUYO SURAKARTA Sulistyoningrum, Endah; Murtisiwi, Lusia
Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy) Vol 9, No 1, Maret (2020)
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37013/jf.v9i1, Maret.96

Abstract

Sirosis hati merupakan keadaan patologis yang menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatik yang berlangsung progresif ditandai dengan distorsi dari arsitektur hepar dan pembentukan nodulus regeneratif. Berdasarkan profil kesehatan DIY tahun 2008, sirosis hati masuk dalam sepuluh besar penyebab kematian tertinggi di Provinsi DIY dengan prevalensi 1,87% pada urutan kesembilan. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran peresepan pasien sirosis hati di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Waluyo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif  yang dilakukan secara retrospektif. Sampel dalam penelitian ini adalah sampel jenuh, yaitu semua anggota dari populasi data rekam medik pasien yang didiagnosis sirosis hati di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Waluyo, dijadikan sebagai sampel dengan tetap memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi yaitu pasien sirosis hati dari poliklinik internis dengan atau tanpa komplikasi, memiliki data jelas, lengkap dan pada data rekam mediknya minimal memuat data nama, umur, jenis kelamin, diagnosa, terapi dan tanpa komplikasi HIV dan onkologi, yaitu sebanyak 61 lembar rekam medik. Berdasarkan hasil penelitian selama tahun  2019 didapatkan pasien laki-laki sebanyak 55,74% dan perempuan 44,26%. Penyakit penyerta komplikasi pada pasien sirosis hati adalah asites sebanyak 39,34%, hipertensi porta sebanyak 19,67%, varises esofagus 11,48%, ensefalopati hati 3,28%. Pasien mendapat terapi obat tunggal yaitu propranolol dan spironolactone masing-masing sebanyak 1,64%, dan mendapat terapi kombinasi kombinasi 2 obat paling banyak yaitu propranolol+curcuma sebanyak 19,67%, dan mendapat kombinasi lebih dari 2 obat paling banyak yaitu propranolol+spironolactone+curcuma sebanyak 11,47%.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETIL ASETAT UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) TERHADAP PERTUMBUHAN Escherichia coli Putri, Alifa Purwahari
Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy) Vol 1, No 1 (2019): PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEFARMASIAN
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37013/jf.v1i1.69

Abstract

Escherichia coli adalah salah satu bakteri penyebab diare. Alternatif pengobatan diare adalah bahan alam salah satunya menggunakan E. palmifolia, karena mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, tannin dan alkaloid yang bersifat antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etil asetat umbi E. palmifolia terhadap pertumbuhan E. coli dan mengetahui adanya konsentrasi ekstrak etil asetat umbi E. palmifolia yang menyamai kontrol positif ciprofloxacin 5µg dalam menghambat pertumbuhan E. coli. Jenis penelitian ini bersifat analitik eksperimental dengan pendekatan post test with control. Penelitian dilakukan di Laboratorium Bakteriologi STIKES pada bulan Februari sampai Juni 2019. Sampel penelitian adalah ektrak etil asetat umbi E. palmifolia dengan variasi konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100% yang diambil secara quota sampling. Kontrol positif yang digunakan adalah ciprofloxacin 5µg dan kontrol negatif menggunakan DMSO 10%. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode disc diffusion. Analisis data statistik menggunakan Uji Kruskall-Wallis pada SPSS 16.0.   Hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi konsentrasi ekstrak etil asetat umbi E. palmifolia maka semakin besar diameter zona hambat yang dihasilkan. Dari masing-masing konsentrasi 25%, 50%, 75%, 100% diperoleh diameter zona radikal 7,36 mm, 9,43mm, 11,04 mm, 13,11 mm.  Hasil uji Kruskal-Wallis didapatkan nilai signifikansi p=0.000.  Variasi konsentrasi ekstrak etil asetat umbi E. palmifolia mampu menghambat pertumbuhan E. coli dan tidak ada konsentrasi ekstrak etil asetat umbi E. palmifolia yang menyamai kontrol positif ciprofloxacin 5µg dalam menghambat pertumbuhan E. coli.
Problem Kompatibilitas Pemberian Obat secara Intravena pada Pasien di Intensive Care Unit Haqoiroh, Haqoiroh; Rahmawati, Fita; Sulaiman, Syed Azhar Syed
Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy) Vol 7, No 1, Oktober (2018)
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37013/jf.v7i1.48

Abstract

AbstractPemberian obat secara intravena umumnya digunakan pada pasien di rumah sakit yang membutuhkan efek farmakologis cepat atau bila pasien tidak dapat menerima pemberian secara oral. Persiapan pemberian obat intravena perlu kondisi khusus karena ada beberapa risiko yang dapat terjadi seperti inkompatibilitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi inkompatibilitas obat intravena pada pasien Intensive Care Units di RSUP Dr. Sardjito dan Rumah Sakit Akademik UGM, dan untuk mengetahui faktor risiko yang mempengaruhi inkompatibilitas obat seperti lama hari perawatan di rumah sakit, jumlah obat-obatan, dan jenis penyakit. Studi ini bersifat cross-sectional, prospektif, dan multisenter di RSUP. Dr. Sardjito dan RS. Akademik UGM, Yogyakarta. Lokasi penelitian ini berada di ICU, ICCU, dan HCU. Prevalensi inkompatibilitas obat dianalisis secara deskripsi dan statistik sedangkan hubungan antara potensi inkompatibilitas dan faktor risiko dianalisis dengan menggunakan uji T-test dan ANOVA dengan interval kepercayaan 95%. Dari 65 pasien yang didapat dari penelitian ini, prevalensi kejadian inkompatibilitas obat ditemukan pada 28 resep dengan rasio inkompatibilitas 2,4 PI/pasien. Jenis inkompatibilitas yang paling banyak terjadi adalah presipitasi 42 (83,35%), pasangan obat yang paling banyak memicu presipitasi adalah fentanil dan fenitoin; midazolam dan fenitoin. Jumlah obat yang digunakan pasien secara signifikan berpengaruh terhadap inkompatibilitas
Pengaruh Metode Pengeringan Terhadap Kualitas Ekstrak dan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanolik Daun Sambung Nyawa (Gynura Procumbens (Lour.) Merr.) Priamsari, Margareta Retno; Susanti, Maria Mita; Atmaja, Andreas Harya
Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy) Vol 5, No 1, Oktober (2016)
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37013/jf.v5i1.32

Abstract

                                                       AbstractFlavonoid adalah salah senyawa aktif dalam daun sambung nyawa (Gynura procumbens (Lour.) Merr.) yang memiliki khasiat sebagai antioksidan, menghambat pertumbuhan sel kanker, dan menjaga fungsi hati. Banyaknya khasiat dari flavonoid membutuhkan penanganan pasca panen yang tepat karena sifat flavonoid yang tidak stabil pada suhu tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pengeringan terhadap kualitas ekstrak dan kadar flavonoid total ekstrak etanolik sambung nyawa. Jenis penelitian ini adalah eksperimental. Metode pengeringan dilakukan dengan diangin-angin di bawah tempat teduh terlindung dari sinar matahari langsung dan pengeringan oven suhu 40o C. Analisis kualitas ekstrak yang dilakukan meliputi organoleptis, rendemen dan susut pengeringan. Analisis kadar flavonoid menggunakan metode kolorimetri dengan senyawa pengkompleks AlCl3 dan baku standar kuersetin. Kurva kalibrasi dibuat 5 seri konsentrasi yaitu 40, 60, 80, 100, dan 120 ppm. Absorbansi pada panjang gelombang 434 nm menggunakan spektrofotometer UV Vis. Data yang diperoleh berupa kadar flavonoid selanjutnya dianalisis statistik dengan independent pair sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengeringan simplisia dapat mempengaruhi kualitas ekstrak dan kadar total flavonoid ekstrak etanolik daun sambung nyawa secara signifikan. Kadar flavonoid total ekstrak etanolik daun sambung nyawa metode pengeringan angin-angin sebesar 2,15 ±0,03% b/b sedangkan kadar flavonoid total ekstrak etanolik daun sambung nyawa metode pengeringan oven 40o C sebesar 1,87 ±0,01% b/b. Total kadar flavonoid dihitung sebagai kuersetin.
Optimasi Kapsul Bawang Putih (Allium sativum Linn) sebagai Terapi Alternatif Pengobatan TBC Lindawati, Novena Yety; Hartono, Hartono
Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy) Vol 2, No 1, Oktober (2013)
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37013/jf.v2i1.16

Abstract

Bawang putih (Allium sativum Linn) terbukti aktif terhadap Mycobacterium tuberculosis. Senyawa alisin yang terkandung dalam bawang putih (Allium sativum Linn) berfungsi sebagai antimikroba spektrum luas yang mampu menghambat bakteri penyebab TBC. Kapsul bawang putih (Allium sativum Linn) harus memenuhi persyaratan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No: 661/MENKES/SK/VII/1994 tentang persyaratan obat tradisional.  Hasil penelitian menunjukkan ekstrak bawang putih memiliki khasiat sama dengan bawang puting lanang, pada dosis 240 µg/ml medium (setara dengan 600 mg ekstrak bawang putih per kapsul) memiliki potensi paling besar dalam menghambat pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis (diambil dari koloni biakan murni dari kultur sputum pasien yang menderita TBC jenis BTA +2,  kultur positif 9, resisten  terhadap rifampisin) dibanding dosis 320 dan 400 µg/ml media. Ekstrak kering bawang putih (Allium sativum Linn) memenuhi persyaratan sebagai bahan isi kapsul obat tradisional, antara lain angka lempeng total 1.5 (dipersyaratkan tidak lebih dari 10); angka kapang dan khamir ekstrak bawang putih 6.102 (dipersyaratkan tidak lebih dari 104); tidak mengandung mikroba patogen (tidak terkontaminasi bakteri coliform, Eschericia coli, Salmonella sp, dan Staphylococcus aureus); tidak terdeteksi adanya aflatoxin (dipersyaratkan tidak lebih dari 30 bpj); kadar air rata-rata sebesar 1 sampai 2 % (dipersyaratkan tidak lebih dari 10 %).  Kapsul ekstrak kering bawang putih (Allium sativum Linn) memenuhi persyaratan farmasetika untuk sediaan kapsul obat tradisional hasil uji waktu hancur kurang lebih 13 menit (dipersyaratkan tidak lebih dari 15 menit) dan memenuhi keseragaman bobot yang dipersyaratkan untuk sediaan kapsul.