cover
Contact Name
DICKY DOMINGGUS
Contact Email
dicky.dominggus@sttibc.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalcaraka@sttibc.ac.id
Editorial Address
kompleks batu aji centre blok B, no 3a-5
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
ISSN : 27221407     EISSN : 27221393     DOI : https://doi.org/10.46348
Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk menyebarkan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu : Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru) Teologi dan Etika Teologi Pastoral dan Etika Pelayanan Gerejawi Misiologi Biblikal dan Praktikal Pendidikan Agama Kristen
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 24 Documents
Ekoteologi : Tinjauan Teologi Terhadap Keselamatan Lingkungan Hidup Ngabalin, Marthinus
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v1i2.22

Abstract

AbstractThe world created by God, with everything in it is saved as an expression of God’s justice that should be guarded to maintain a cosmological balance for the welfare of all beings. However, it is realized, that human individualism often control itself to exploit nature. It is realized that the conception of salvation possessed by the Church had long been dominated by human-centered theology of salvation, consciously putting aside the conscience of life and salvation which are also the right of all beings. This research is a qualitative research with a literature study approach. This study aims to explain the ecotheology of the environment, its model and its implementation as a human effort in overcoming natural and environmental problems.AbstrakDunia yang diciptakan oleh Allah, dengan segala sesuatu yang mendiaminya diselamatkan sebagai wujud keadilan Allah yang patut dikawal untuk menjaga keseimbangan kosmologi bagi kesejahteraan segala makhluk. Namun di dalam kenyatannya, sikap individualisme manusia seringkali menguasai dirinya untuk mengeksploitasi alam. Disadari bahwa konsep keselamatan yang dimiliki oleh Gereja sudah sejak lama didominasi oleh teologi keselamatan yang bersifat berpusat pada manusia, yang secara sadar mengesampingkan nurani kehidupan dan keselamatan yang juga adalah hak segala makhluk. Penelitian merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menjelaskan ekoteologi lingkungan hidup, model serta implementasinya sebagai upaya manusia dalam mengatasi masalah alam dan lingkungan hidup.
Makna Ungkapan "Dua Atau Tuga Orang Berkumpul Dalam Nama-Ku" Menurut Matius18:20 Putralin, Eliantri
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v2i1.47

Abstract

AbstractGathering is a great opportunity to meet in large numbers and a lot but if there is no freedom to attend, then Allah wants two or three people to gather together. Gatherings or congregations in a quorum of two or three believers in the name of the Lord Jesus Christ, then God is still present through the Holy Spirit because God does not depend on a large number, but an insignificant number of God is still present because He is God Almighty. The presence of Jesus Christ in the midst of or among believers in a gathering is intended so that believers will not feel afraid and still believe that His presence does not depend on large numbers of people like the quorum taught by Jewish rabbis in Old Testament times. To find out the promise of Jesus' presence according to the text of Matthew 18:20, the research method used in this research is qualitative research, with a grammatical historical approach. The result of this research is that after getting the meaning of the phrase "Two or three people gathered in My name," the final result can be implicated by the followers of the Lord Jesus at this time in their life and ministry. AbstrakBerkumpul merupakan sebuah kesempatan besar untuk berhimpun dalam jumlah yang besar dan banyak tetapi jika tidak ada kebebasan untuk berhimpun, maka Allah menginginkan dua atau tiga orang berkumpul bersama. Perkumpulan atau perhimpunan dalam kuorum dua atau tiga orang percaya dalam nama Tuhan Yesus Kristus, maka Allah tetap hadir melalui Roh Kudus sebab Allah tidak bergantung pada jumlah yang banyak, tetapi jumlah yang sedikitpun Allah tetap hadir karena Dia adalah Allah yang Maha Hadir. Kehadiran Yesus Kristus di tengah-tengah atau di antara orang percaya dalam perkumpulan bertujuan agar orang percaya tidak merasa takut dan tetap meyakini bahwa kehadiran-Nya tidak bergantung pada jumlah orang yang banyak seperti kuorum yang diajarkan oleh rabi Yahudi pada masa Perjanjian Lama. Untuk mengetahui janji kehadiran Yesus menurut teks Matius 18:20, maka metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan pendekatan historikal gramatikal. Hasil penelitian ini adalah setelah mendapatkan makna ungkapan  “Dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku,” maka hasil akhirnya dapat diimplikasikan oleh para pengikut Tuhan Yesus pada masa kini dalam kehidupan dan pelayanannya. 
Panggilan Timotius Menurut 2 Timotius 2:2 Dan Implikasinya Bagi Kompetensi Guru Agama Kristen Mau, Marthen
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v1i2.20

Abstract

AbstractTimothy receive God’s calling through Paul for pastoral ministry in Ephesus. Because there was no minister in that church. In 2 Timothy 2:2 Paul Gave assignments to Timothy to entrust the teachings he got from Paul to the faithful people who are able to teach the congregation. In the present  time, the Christian religion  teacher are given trust to hold the spiritual formation for student in the formal education institution. The religion teacher are given the task to hold the spiritual formation of the student as a form of implementing their competence  of religion teacher are pedagody, personality, social, professional, and spiritual. This research is a qualitative research by applying the historical of grammatical method or exegetical methods on the text 2 Timothy 2: 2. Based on the exegetical method, it can be concluded that Christian religion teachers should be trustworthy, capable of teaching, dare to rebuke the wrongs, have loyalty, have integrity, and have spiritual qualities.AbstrakTimotius menerima panggilan Tuhan melalui Paulus untuk pelayanan pengembalaan di Efesus. Oleh karena saat itu di jemaat Efesus belum ada pelayan Tuhan. Menurut 2 Timotius 2:2 Paulus memberikan tugas kepada Timotius untuk memberikan kepercayaan kepada orang-orang yang dapat dipercayai dan sanggup mengajar orang lain di jemaat Efesus. Pada masa sekarang guru pendidikan agama Kristen menerima kepercayaan untuk melaksanakan pembinaan rohani peserta didik Kristen di lembaga pendidikan formal. Guru pendidikan agama Kristen diberikan tugas untuk melaksanakan pembinaan kerohanian kepada peserta didik sebagai bentuk mengimplementasikan kompetensi-kompetensi yang dimilikinya. Kompetensi yang dimiliki oleh guru pendidikan agama Kristen adalah pedagogik, kepribadian, sosial, profesional, dan spiritual. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menerapkan tipe metode historikal gramatikal atau eksegesis pada teks 2 Timotius 2:2. Berdasarkan metode eksegesis dapat disimpulkan bahwa guru pendidikan agama Kristen dapat dipercayai, cakap mengajar, berani untuk menegur yang salah, memiliki kesetiaan, memiliki integritas, dan memiliki kualitas rohani.
Sinergi Pelayan dan Jemaat Tuhan Menurut 1 Korintus 3:4-9 Halawa, Desti Ratna Sari
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v2i1.34

Abstract

AbstractThis paper examines the meaning of synergy in the ministry and life of believers according to 1 Corinthians 3: 4-9. Servants of God tend to leave the place of service because they are at odds with God or others. Among the Corinthians in the early church, there was strife among the members of the body of Christ. To deal with divisions, Paul talks about becoming partners with God (synergy). In the Orthodox  church this concept emphasizes how to achieve salvation but this concept is not emphasized in the world of ministry. Whereas in Protestant literature this concept is rarely even perhaps foreign to be discussed as something important, so that it is reflected in ministries within the church and outside the church which often cause divisions. The results show that only through synergy with God can humans synergize with one another (one with God and one with others remains strong). Synergize is to be partners with Allah who continue to exercise their free will according to God's will so that they are not easily tempted by the evil of sin. Remembering God dynamically produces union with God and gives the best service to others as Christ served. Of course, only synergy makes humans avoid fellowship and enmity between others. AbstrakTulisan ini meneliti makna sinergi dalam pelayanan dan kehidupan orang percaya menurut 1 Korintus 3:4-9. Pelayan Tuhan cenderung meninggalkan tempat pelayanan karena berselisih dengan Allah atau sesama. Di antara jemaat Korintus di masa gereja mula-mula perselisihan di antara anggota tubuh Kristus sudah terjadi. Untuk menghadapi perpecahan, Paulus berbicara bagaimana menjadi kawan sekerja Allah (sinergi). Dalam gereja Ortodoks konsep ini menekankan bagaimana mencapai keselamatan akan tetapi konsep ini tidak ditekankan dalam dunia pelayanan. Sedangkan dalam literatur Protestan konsep ini jarang bahkan mungkin asing dibahas sebagai sesuatu yang penting, sehingga tercermin dalam pelayanan-pelayanan dalam gereja maupun di luar gereja yang sering menimbulkan perpecahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya melalui sinergi dengan Allah manusia bisa bersinergi dengan sesamanya (menyatu dengan Allah dan persatuan dengan sesama tetap kokoh). Bersinergi adalah menjadi kawan sekerja Allah yang terus melatih kehendak bebasnya sesuai dengan kehendak Allah sehingga tidak mudah tergoda oleh kejahatan dosa. Mengingat Allah secara dinamis menghasilkan persatuan dengan Allah dan memberi pelayanan terbaik kepada sesama seperti Kristus melayani. Tentunya, hanya sinergilah yang membuat manusia terhindar dari persekutuan serta permusuhan di antara sesama.
Bagaimana Menjadi Garam dan Terang Melalui Media Sosial? Christianto, Victor
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v1i1.11

Abstract

Abstract. For those of us born before the 90s, we may often see millennials or Z generations or alpha generations as a group of young people who are less concerned about the environment, absorb themselves because they are too busy with devices and so on. Maybe this is true, because those who were born after the 1990s from childhood have become accustomed to PCs, laptops or devices owned by parents, so the devices have become an extension of their hands. This is certainly not healthy, but also a challenge for us: how to convey the truth of the Good News and especially to be salt and light to that generation? Through this article the author wants to convey how to teach the truth to millennials so that our generation is not lost from contact with them over the times.Abstrak. Bagi kita yang dilahirkan sebelum tahun 90an, mungkin sering melihat generasi milenial atau generasi Z atau generasi alpha sebagai sekumpulan anak-anak muda yang kurang peduli lingkungan, asyik sendiri karena terlalu sibuk dengan gawai dst. Mungkin hal tersebut ada benarnya, karena mereka yang lahir setelah tahun 1990an dari kecil sudah terbiasa dengan PC, laptop atau gawai milik orangtua, sehingga gawai telah menjadi kepanjangan tangan mereka. Ini tentu tidak sehat, namun juga suatu tantangan bagi kita: bagaimana menyampaikan kebenaran Kabar Baik dan terutama menjadi garam dan terang kepada generasi tersebut? Melalui artikel ini penulis ingin menyampaikan bagaimana mengajarkan kebenaran kepada generasi milenial sehingga generasi kita tidak terhilang seiring perkembangan zaman.
Peranan Membaca Alkitab Terhadap Kecerdasan Spiritual Anak Kristen Mau, Marthen; Saenom, Saenom; Fransiska, Ferdiana
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v2i1.46

Abstract

AbstractThe role of reading the Bible is indispensable because the Bible has changed the lives of evil people, people are willing to die for the Bible, the Bible is God's most accurate book, the Bible contains messages of freedom that transform human lives, and connects readers with the person of Jesus Christ as a person. the most important thing in history, that can be trusted by mankind or Christian children so that their spirituality will grow well. This study aims to explain the role of reading the Bible on children's Christian spiritual intelligence. The research method used in this research is descriptive qualitative method, with the approach of observation and interview methods as primary sources; and documentation as a secondary source. The result of this research is that formal Christian educators actually have to play a proactive role in encouraging Christian children to be more faithful in reading the Bible because the essence of the Bible is able to grow their spiritual intelligence. So Christian children are increasingly motivated to read, listen to God's words, and be active in fellowship with Jesus Christ, so their spirituality will grow better. AbstrakPeranan membaca Alkitab sangat diperlukan karena Alkitab telah mengubah kehidupan manusia yang jahat, orang-orang bersedia mati untuk Alkitab, Alkitab merupakan buku Allah yang paling akurat, Alkitab berisi tentang pesan kebebasan yang mengubahkan hidup manusia, dan menghubungkan para pembaca dengan pribadi Yesus Kristus sebagai sosok terpenting di sepanjang sejarah, yang dapat dipercayai umat manusia atau anak-anak Kristen supaya spiritualitasnya bertumbuh baik. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peranan membaca Alkitab terhadap kecerdasan spiritual anak Kristen. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, dengan pendekatan metode observasi dan wawancara sebagai sumber primer; serta dokumentasi sebagai sumber sekunder. Hasil penelitian ini adalah sesungguhnya pendidik Kristen formal harus berperan proaktif untuk memberi semangat kepada anak-anak Kristen agar semakin setia dalam membaca Alkitab karena esensi dari Alkitab mampu menumbuhkan kecerdasan spiritualnya. Jadi anak-anak Kristen semakin diberikan motivasi untuk membaca, mendengarkan firman Tuhan, dan giat dalam persekutuan dengan Yesus Kristus, maka spiritualnya akan semakin bertumbuh baik.
Upaya Menjaga Keseimbangan Pekerjaan Dengan Keluarga Marbun, Purim
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v1i2.21

Abstract

AbstractThis research has motivated by the fact in the field that to balance the job and the family is  problem of the most people today, especially of the servant of God (pastor, priest, lecturers, etc). The are faced with the choice of priority between family and work. Research by Keene and Quadgno’s explain that 60% of working adults find it difficult to achieve work balance with the family. The research method used to discuss this topic is a qualitative research study with a literature study approach by discussing various literatures related to the research topic. The researcher read, analyzed and found the issues that caused the imbalance between work and family. The final results of this study after alternatives and strategies to balance job with family life.AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi fakta di lapangan bahwa keseimbangan pekerjaan dengan kehidupan keluarga merupakan persoalan mayoritas masyarakat masa kini secara khusus para hamba Tuhan (pendeta, gembala, dosen, dll). Mereka diperhadapkan pada pilihan mengutamakan keluarga atau pekerjaan. Penelitian Keene dan Quadagno menyebutkan bahwa 60 % orang dewasa yang bekerja sulit mencapai keseimbangan pekerjaan dengan keluarga. Metode penelitian yang digunakan membahas topik ini ialah studi penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dengan membahas berbagai literatur terkait dengan topik penelitian. Peneliti membaca dan menganalisis serta menemukan masalah penyebab ketidakseimbangan pekerjaan dengan keluarga. Hasil akhir dari penelitian ini menawarkan strategi dan upaya menyelaraskan pekerjaan dengan waktu bersama keluarga. 
A Healthy Rhythm of Rest: Why a Sound Theology and Spiritual Praxis of Rest Matters to Life and Ministry Woon, Richard Peck
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v1i1.8

Abstract

Abstract. The article is for full-time Christian professionals to consider the importance of constructing a sound theology and spiritual praxis of rest in the context of life experience and practical ministry. It seeks to answer two critical questions from the perspective of the Sabbath, "What is the meaning of rest from a biblical perspective?" and "what is the role of rest in life and ministry". The intent is for ministers to value rest in the form of a sabbatical life that combines worship, work, and service within an essential relationship with God. A rhythm of rest is produced when our values and priorities are integrated into God's sovereign purpose. This is essential for the busy pastor who is actively engaging in ministry without enjoying God. If God is apparently absent in our relationship, then ministry loses its spiritual meaning and quality. It becomes a form of self-idolatry. A healthy faith restores our true rest.
Ritus Pencurahan Darah Korban Binatang: Perjumpaan Injil dengan Tradisi Manengeh di Suku Dayak Bumate Setiawan, David Eko; Taribaba, Aniti Levina; Lorensa, Dina; Anastasia, Nopi
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v2i1.42

Abstract

AbstractThis study aims to find the point of contac in preaching the gospel to the Dayak Bumate people through the Manangeh tradition. It turns out that in this tradition there are rites that are relevant to the heart of the gospel message, namely the sacrifice of animal blood. By discovering the meaning of shedding animal blood in the Manangeh tradition, the writer makes it a bridge in communicating the gospel to the Bumate Dayak tribe. The research method used in this research is qualitative descriptive using a library research approach and interviews. The results of this study indicate that the rite of shedding animal blood in the Manangeh tradition contains ideas that are relevant to the meaning of the sacrifice of Christ on the cross for the salvation of mankind, so through this rite the gospel message becomes relevant to the culture of the Dayak Bumate tribe. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mencari point of contac dalam pemberitaan injil kepada suku Dayak Bumate melalui tradisi Manangeh. Ternyata didalam tradisi tersebut terdapat ritus yang relevan dengan inti berita injil yaitu korban pencurahan darah binatang. Dengan menemukan makna pencurahan darah binatang dalam tradisi Manangeh , penulis menjadikannya sebagai jembatan dalam mengkomunikasikan injil kepada suku Dayak Bumate. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitaif dekskritif dengan menggunakan pendekatan library reseach dan wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ritus pencurahan darah binatang dalam tradisi Manangeh  mengandung gagasan yang relevan dengan makna korban Kristus di atas kayu salib bagi keselamatan umat manusia, maka melalui ritus tersebut berita injil menjadi relevan dengan kebudayaan suku Dayak Bumate
Peran Kotbah Gembala Sidang Dalam Pertumbuhan Rohani Jemaat Menurut John Chrysostom gulo, Hisikia; Hendi, Hendi
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v2i1.45

Abstract

AbstractThe preaching role of the pastor of the congregation in the spiritual growth of the congregation has a major contribution to the salvation of every soul. This article discusses and describes the role of the pastor as a preacher in the spiritual growth of the church taught by John Chrysostom. Every pastor as a preacher must reach 3 depths of approach to preaching the word of God; Cognitive, Affective and Psychomotor. It is through the preaching of the word of God which is taught by a pastor so that someone understands and understands the meaning of following and imitating the great shepherd, Jesus Christ, and carrying out each of His teachings. The spiritual growth of each congregation is influenced by each pastor's role as the preaching of the word of God through 3 depth approaches with the aim of the need for the purity of one's soul leading to spiritual maturity. AbstrakPeran khotbah gembala sidang dalam pertumbuhan rohani jemaat memiliki kontribusi besar bagi keselamatan setiap jiwa. ­ Artikel ini membahas dan menguraikan peran gembala sidang sebagai pengkhotbah dalam pertumbuhan rohani jemaat yang di ajarkan oleh John Chrysostom. ­Setiap gembala sidang ­ sebagai pengkhotbah ­ harus mencapai 3 kedalaman pendekatan pemberitaan firman Allah; Kognitif, Afektif dan Psikomotorik. Melalui pemberitaan firman Allah yang di ajarkan oleh seorang gembala sidang sehingga seseorang mengerti dan memahami arti dari mengikut dan meneladani gembala agung ­ yaitu Yesus Kristus serta melakukan setiap ajaran-Nya. Pertumbuhan rohani setiap jemaat ­ di pengaruhi dari setiap peran gembala sidang sebagai pemberitaan firman Allah melalui 3 kedalaman pendekatan dengan tujuan kebutuhan akan kemurnian jiwa seseorang menuju kepada kedewasaan rohani. Kata-kata Kunci: Gembala Sidang; Kedewasaan; Peran; Pengkhotbah.

Page 1 of 3 | Total Record : 24