cover
Contact Name
Nur Sahid
Contact Email
pengabdianseni@isi.ac.id
Phone
+6289649387947
Journal Mail Official
pengabdianseni@isi.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Gedung Concert Hall ISI Yogyakarta Jalan Parangtritis KM. 6,5 Yogyakarta 55188 email: pengabdianseni@isi.ac.id HP/WA +62 818-270-415 atau +62 896-4938-7947
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pengabdian Seni
ISSN : -     EISSN : 27744787     DOI : https://doi.org/10.24821/jps.v2i1
Jurnal Pengabdian Seni merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Dipublikasikan kali pertama pada tahun 2020, Jurnal Pengabdian Seni adalah jurnal hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan artikel yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya baik secara online maupun cetak. Jurnal Pengabdian Seni memiliki versi online dan cetak dengan jadwal publikasi dua kali setiap tahunnya yakni Mei dan November. Aim dan Scope jurnal ini adalah bidang Seni dan budaya.
Articles 32 Documents
Pelatihan Tari untuk Remaja Putri Reog Kaloka di Suru, Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul Martono, Hendro
Jurnal Pengabdian Seni Vol 2, No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v2i1.5734

Abstract

Reog Kaloka merupakan sebuah kelompok seni (paguyuban) rakyat dari Suru, Kemadang, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang sangat populer dengan tari Reognya di Gunungkidul pada era 2010-2014. Setelah paguyuban ini mempelajari tari kreasi baru yang berasal dari Sleman, yakni tari Gedruk yang energik; tari Reog menjadi tersingkirkan. Hanya tinggal anak-anak kecil yang berminat menarikannya, itu pun terbatas dalam acara tertentu seperti bersih desa. Hal ini sangat disayangkan, hingga timbullah inisiasi mengadakan penyuluhan ini. Penyuluhan ini bertujuan untuk melatih teknik gerak tari gaya Yogyakarta agar para peserta menguasai gerak alusan seperti  halnya dalam tari Reog. Diharapkan, belajar tari dasar ini akan memberikan fondasi yang kuat khususnya kepada penari perempuan, mengingat Reog lebih dominan dibawakan oleh perempuan sebagaimana Reog Kaloka dulu pada masa jayanya. Penyuluhan ini dilaksanakan pada 23 Maret hingga 27 April 2021. Metode yang diterapkan meliputi pelatihan praktik tari dengan penjelasan awal yang singkat, kemudian demonstrasi, dilanjutkan dengan peserta mengikuti gerak yang dilakukan oleh pelatih secara langsung terutama gerak tangan, kepala, dan kaki secara parsial. Tahap  selanjutnya, peserta  mengikuti  gerakan  pelatih  saat menari secara keseluruhan dengan hitungan, kemudian diteruskan dengan musik tarinya. Hasil yang didapatkan adalah kemampuan anak dan remaja putri dalam menari Jawa gaya Yogyakarta meskipun belum dalam taraf sempurna; dengan pementasan tari Nawung Sekar di Pendhapa Pantai Kukup, Gunungkidul.
Pelatihan Iringan dan Teknik Garap Gejog Lesung pada Grup Seni Gejog Lesung “Kumandhang” Laksono, Joko Tri
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i1.4701

Abstract

Gejog Lesung “Kumandhang” merupakan kelompok kesenian di masyarakat padukuhan Karanganom I– Ngawis–Karangmojo–Gunungkidul, yakni merupakan masyarakat yang percaya bahwa kesenian yang dimilikinya yakni Gejog Lesung tersebut telah ada sejak zaman nenek moyang mereka yang selalu difungsikan setiap upacara ulang tahun Desa maupun Rasulan. Namun, belum tersedianya instruktur profesional sesuai kompetensinya dalam kesenian Grup Seni Gejog Lesung “Kumandhang” sehingga gerak penyanyinya, iringan, maupun teknik garap penyajian terlihat sekedarnya sehingga perlu mendapat sentuhan akademisi untuk menggarap Grup Seni Gejog Lesung “Kumandhang”, agar tidak monoton dan terkesan membosankan. Penyuluhan dilakukan pada 11 Maret sampai dengan 21 Agustus 2020. Peserta penyuluhan Seni Gejoglesung “Kumandhang” berjumlah 20 (duapuluh) orang peserta. Materi penyuluhan berupa modifikasi motif pukulan dan teknik garap Gejog Lesung dengan lagu Kuwi Apa Kuwi, Suwe Ora Jamu, dan Swara Suling dengan metode ceramah, demonstrasi, dan latihan. Hasil penyuluhan adalah peserta paham bagian-bagian dalam sajian motif pukulan untuk Introduksi, Interlude dan Coda pada sebuah lagu, mengerti pentingnya aransemen dalam sebuah lagu, mengenal dinamika dan permainan tempo dalam garap pada sebuah ansambel Selain itu, pementasan jauh lebih hidup dan dinamis terutama lagu-lagu yang disajikan telah diaransemen, karena adanya tekhnik penggarapan dalam beberapa komposisi lagu sehingga tidak monoton dan membosankan. Pemahaman pentingnya manajemen terbuka dalam sebuah kelompok juga didapatkan dari penyuluhan ini. Gejog Lesung "Kumandhang" is an art group in the Karanganom I Ngawis Karangmojo Gunungkidul community, namely people who believe that the art they have, namely Gejog Lesung, has existed since the time of their ancestors, which has always been used every Village and Rasulan birthday ceremony. However, the unavailability of professional instructors according to their competence in the art of the Gejog Lesung Art Group "Kumandhang" so that the movements of the singers, accompaniments, and presentation techniques look modest, so it is necessary to get a touch from academics to work on the Gejog Lesung Art Group "Kumandhang", so as not to be monotonous and seem boring. The counseling was held on March 11 to August 21, 2020. There were 20 (twenty) participants of the "Kumandhang" Gejoglesung art extension. The counseling material was in the form of modification of the punch motif and the technique of working on Gejog Lesung with the songs Kuwi Apa Kuwi, Suwe Ora Jamu, and Swara Suling using lecture, demonstration, and exercise methods. The result of the counseling is that the participants understand the parts of the punch motive presentation for the Introductions, Interlude and Coda in a song, understood the importance of arrangements in a song, recognized the dynamics and tempo play in working on an ensemble. , the performance is much more lively and dynamic, especially the songs presented have been arranged, because of the cultivation techniques in several song compositions so that they are not monotonous and boring. An understanding of the importance of open management in a group was also obtained from this counseling.
Pengaplikasian Fotografi dan Bahasa Inggris Praktis untuk Warga “Kampung Cyber”, RT 36, Taman, Yogyakarta Ermawati, Pitri; Arsita, Adya
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 2 (2020): NOPEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i2.4710

Abstract

RT 036, Taman  merupakan sebuah kampoung yang letaknya bersebelahan dengan objek wisata Taman Sari Yogyakarta yang sering dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Warga kampung ini banyak yang memiliki usaha dagang produk yang bersinergi dengan pariwisata lokal. Mereka menjual barang dagangan tersebut di ruang pajang rumah masing-masing atau melalui media jualan online. Penyuluhan ini bermaksud memberikan pengetahuan fotografi praktis, khususnya pemotretan foto produk tanpa perlu menggunakan piranti fotografi yang canggih dan lengkap, guna meningkatkan kualitas foto produk yang mereka jual di media jualan online. Selain itu, penyuluhan ini juga bermaksud memberikan pengetahuan bahasa Inggris praktis, khususnya yang berkenaan dengan komunikasi warga selaku tour guide dan deskripsi profil usaha serta produk jualan online yang singkat, padat, jelas, dan efektif agar calon konsumen mancanegara mendapatkan panduan informasi tentang produk yang ditawarkan. Penyuluhan dilakukan di kantor Sekretariat RT 036 Taman melalui tatap muka pada 7 April 2017 sampai dengan 6 Mei 2017, yang dimulai dengan pengantar, dilanjutkan dengan presentasi teori, pelaksanaan praktik, dan diakhiri dengan pembahasan hasil. Setelah diberi penyuluhan, peserta memahami bahwa kamera handphone memiliki kemampuan lebih yang dapat menghasilkan foto dengan kualitas lebih baik. Dipadukan dengan peralatan studio mini sederhana, foto produk mereka pun menjadi lebih layak untuk ditampilkan. Selain itu, peserta pun mulai mengerti bahwa untuk sekedar bisa berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa Inggris, kosa kata-lah yang memegang peranan lebih penting. Dengan demikian, peserta kemudian merasa lebih percaya diri dalam berlatih bahasa Inggris, karena bagi mereka lebih mudah untuk mempelajari dan menghafalkan kosa kata, dibandingkan harus mempelajari grammar. AbstractRT 036, Taman is a kampong located directly aside from Taman Sari Yogyakarta, an international tourist spot. The kampong residents trade in products correlates with local tourism. They sell their merchandises in their own display houses or through online shops. This workshop is meant to give a practical photography knowledge, specializing in product photo without the need to use high tech and complex photography equipment, to improve the quality of the photo products they displayed in online shops. On the other hand, this workshop also aims to give practical English education, more importantly with things related for tour guide conversation needs and to give concise yet clear and effective product description at online shops so that prospective international buyers get the neccessary information from the offered products. This workshop is done on site in RT 036 Secretary office at April 7 to May 6, 2017, that began with an introduction, theory presentation, practice, and ended with results discussion. After workshop, participants understand that phone camera is sufficient to generate a good quality photo. Combined with simple mini studio equipment, their photo product looks more professional to be presented. Not only that, participants are also able to communicate in simple English, with the vocabularies playing the biggest factor. Thus, participants are more confident in practicing their English skill as it is easier for them to memorize vocabulary than to study grammar.
Gojeg Lesung: Pengembangan Seni Gejog Lesung Hasil Penyuluhan Seni Teater di Desa Sabdodadi, Bantul, Yogyakarta Sumarno, Rano
Jurnal Pengabdian Seni Vol 2, No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v2i1.5738

Abstract

Gojeg Lesung pengembangan dari seni Gejog Lesung merupakan strategi mempromosikan Desa Sabdodadi dalam aktivitasnya di bidang seni budaya. Penyuluhan seni ini bertujuan untuk: (1) meningkatkan kualitas kelompok teater Sanggar Kolingin menjadi kelompok kesenian yang mandiri dan lebih diterima di tengah masyarakat; (2) memberikan pemahaman yang tepat bagi masyarakat tentang arti pentingnya seni-budaya lokal sebagai penyeimbang masuknya budaya asing; (3) melestarikan dan menumbuhkan minat terhadap seni dan budaya lokal; dan (4) membangun kebersamaan dan menciptakan kreativitas masyarakat setempat. Metode yang digunakan dalam penyuluhan seni ini melalui tiga tahapan, yakni penanaman konsep, penanaman minat, dan penanaman bakat. Hasil yang dicapai dari penyuluhan seni ini telah melahirkan kreasi baru seni pertunjukan bernama Gojeg Lesung dalam genre teater rakyat yang memiliki struktur pertunjukan: tetalu, bubuka, tarian komedi, lakon, dan penutup. Peran serta pemerintah dan institusi seni diperlukan dalam kelanjutan penyuluhan seni ini karena masyarakat setempat membutuhkan ruang pentas untuk melanjutkan eksistensinya memasyarakatkan seni Gojeg Lesung.
Seni Tata Taman Pendukung Perintisan Desa Wisata di Desa Sidoagung, Kecamatan Godean, Sleman, DIY aji, artbanu wishnu
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 2 (2020): NOPEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i2.4705

Abstract

Budi daya ikan di kawasan Godean memang bukan fenomena baru, tetapi kemampuannya untuk menarik wisatawan dan pengunjung belum pernah dieksplorasi secara menyeluruh. Beberapa generasi muda di Desa Sidoagung memiliki ide untuk mengembangkan kawasan budi daya ikan mentah menjadi restoran keluarga dengan area bermain untuk anak-anak. Ketidakmampuan mereka dalam mendesain mendorong Jurusan Desain Institut Seni Indonesia untuk membantu mereka dengan pelatihan singkat tentang bagaimana mendesain area taman berdasarkan partisipasi masyarakat. Dengan pendekatan desain berbasis komunitas, pelatihan diadakan dengan cara temu komunitas dan mengajak komunitas muda untuk secara aktif mengkomunikasikan gagasan mereka sendiri satu sama lain. Mereka mengembangkan keterampilan desain dengan mempraktikkan menggambar dan menggambar ulang beberapa objek umum dalam komposisi taman. Pelatihan tersebut berhasil meningkatkan kemampuan anggota komunitas remaja untuk mengembangkan desain restoran keluarga dengan taman dan area bermain untuk anak-anak. Fish culture in Godean area is not a new phenomena however its ability to atrracts tourists or visitors is never thouroughly explored. Some younger generations in the Sidoagung village had an idea to develop raw areas of fish culture into family restaurant with playground area for the children. Their lack ability to design prompted design department of Indonesia Institute of The Art to help them with short training on how to design garden area based on community participation. Using community based design approach the training was held in the manner of community meeting and encourage youth community to activily communicate their own ideas with one another. They developed design skill by practicing drawing and re-draw some of the common objects in the garden composition.The training succeed in upgrading youth community member to develop family restaurant design with garden and playground area for children. 
Pelatihan Metode dan Strategi Mengajar Gamelan Autis Bagi Guru-Guru Sekolah Khusus Autis Bina Anggita Yogyakarta Raharja, Budi; Nevada, Rr. Akita Rheanita
Jurnal Pengabdian Seni Vol 2, No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v2i1.5733

Abstract

Jumlah penyandang autis di Indonesia masih menjadi perhatian bagi pemerintah, akademisi, dan masyarakat luas untuk terus mendapatkan penanganan. Salah satu usaha adalah terapi di sekolah berkebutuhan khusus autis, khususnya di Sekolah Bina Anggita Yogyakarta. Penyuluhan seni sebagai sarana bagi akademisi dalam melaksanakan pengabdian kepada masyakarat yang menjadi bagian dari Tridarma Perguruan Tinggi. Teori pembelajaran dan pengertian gamelan menjadi dasar pelaksanaan penyuluhan seni “Metode dan Strategi Gamelan Autis bagi Guru-Guru Sekolah Khusus Autis”. Penyuluhan Seni di Sekolah Khusus Autis Bina Anggita Yogyakarta menggunakan metode ceramah dan metode drill. Metode cermah digunakan untuk menyampaikan materi teori yang berupa pengetahuan cara memainkan gamelan, ritme, tempo, dan dinmaika; sedangkan metode drill digunakan untuk memberikan materi keterampilan bermain alat musik gamelan autis. Hail dari penyuluhan seni ini adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan mengajar gamelan autis kepada tim pengajar.
Penyuluhan Penyajian karya dan Persiapan Pameran Fotografi Forum Komunikasi Fotografi Mahasiswa Yogyakarta (FORKOM Jogja) Irwandi, Irwandi -
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i1.4700

Abstract

Di Yogyakarta terdapat sejumlah UKM Fotografi yang rutin menyelenggarakan pameran foto dalam periode tertentu, biasanya tahunan. Kegiatan ini menambah dinamika dunia fotografi serta turut memajukan fotografi Indonesia. Karya foto perlu ditunjang dengan cara penyajian yang baik agar pesan yang hendak disampaikan dalam karya dapat terseberangkan. Selain itu, penyajian yang baik akan meningkatkan nilai karya berikut apresiasi dari penonton pameran. Sayangnya, penyajian karya yang dilakukan oleh UKM-UKM Fotografi yang tergabung dalam FORKOM Jogja ini masih kurang diperhatikan. Untuk itu, diperlukan penyuluhan dalam hal penyajian karya dan persiapan pameran. Metode  yang  digunakan  adalah  pemberian  teori  di  dalam  ruangan  kelas  oleh  dosen-­dosen fotografi Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Adapun praktik yang dilakukan berupa eksperimen penyajian karya fotografi oleh seniman fotografi Mes56 Yogyakarta. Berdasarkan penyuluhan yang telah dilakukan terhadap sebagian kecil komunitas fotografi di Yogyakarta, disimpulkan bahwa materi penyajian pameran sangat diperlukan oleh masyarakat fotografi. Penyajian karya fotografi sangat mempengaruhi hasil karya serta dapat pula didayagunakan untuk menyatu dengan karya. In Yogyakarta, there are several photography cliques that periodically hold photo exhibitions, usually annualy. This event adds to the dynamic of Indonesia photography world and also to improve the development of photography in Indonesia. Photos need to be supported with proper presentation to ensure the intended message can be conveyed through. Aside of that, a good presentation will raise the photo value and appreciation from the visitors. Unfortunately, photo presentations that has been done by cliques within FORKOM Jogja still needs improvement. Hence it is needed to create a workshop about photo presentation and exhibit preparation. The methods used is theoretical lesson done in classroom by the lecturers of Indonesian Institute of Arts (ISI Yogyakarta) from Photography major. One of the practice being shown is the photo presentation from the photographer Mes56 Yogyakarta. Based on the conducted workshop that has been done to a small number of photography communities in Yogyakarta, it can be deduced that material about exhibit presentation is highly needed by the photography communities. The way of how a photo is presented heavily influences the photo’s value and is exploitable to connect more with the photo.
Pelatihan Pertunjukan Wayang Berorientasi Multilevel Generasi Junaidi, Junaidi
Jurnal Pengabdian Seni Vol 2, No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v2i1.5737

Abstract

Latar belakang masalah yang mendasari kegiatan ini adalah seniman dalang belum memahami dan menguasai bidang seni wayang untuk format masyarakat kekinian yang berorientasi multilevel generasi dan multifungsi yang salah satunya untuk media pelestarian budaya dan Pendidikan nasional. Oleh karena itu, solusi yang diberikan adalah mengajarkan pengetahuan seni wayang beserta teknik penyajiannya bagi seniman multiusia di wilayah Dusun Kaliurang Timur. Tempat  kegiatan di rumah Mbah Carik Kaliurang Timur atau Pendapa Budaya Kaliurang. Penyuluhan ini diikuti sejumlah 24 peserta, terdiri atas 1 orang pemain wayang usia tua, 1 orang pemain wayang usia muda, dan 22 pengrawit.  Hasil yang telah dicapai adalah munculnya model pertunjukan wayang multilevel dan kondisional, yakni pementasan untuk dalang muda dan dewasa dengan mengambil cerita sekitar wilayah, yaitu Cerita Gunung Merapi dan Tlaga Putri.
Menumbuhkan Jiwa Wirausaha dengan Penyuluhan Seni Sablon dan Cukil di Panti Asuhan “Amanah” Jetis, bantul, Yogyakarta Purwandari, Retno; Putri Yantari, Zahra Azkia
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 2 (2020): NOPEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i2.4703

Abstract

Panti asuhan “Amanah” merupakan panti asuhan yang berdiri sebagai bentuk respon terhadap kondisi sosial masyarakat setempat, yakni di daerah Ganten, Trimulyo, Jetis, Bantul, Yogyakarta. Panti asuhan ini terbentuk untuk mewadahi anak-anak korban gempa bumi di Yogyakarta 2016. Seiring berjalannya waktu, panti asuhan ini berkembang cukup baik yang dari tahun ke tahun sudah mampu mengantarkan anak-anak asuhnya ke jenjang lebih baik, bahkan tidak hanya anak yatim/yatim piatu, para lansia pun turut dikelola oleh yayasan ini. Menjawab permintaan yayasan yang menginginkan anak asuhnya memiliki keterampilan sablon, program penyuluhan sablon dan cukil ini pun terlaksana. Pelaksanaan penyuluhan sablon dan cukil dilaksanakan secara bertahap dari mulai pendekatan kepada mitra, persiapan serta pengenalan bahan dan alat, pelatihan, dan evaluasi telah mampu menyajikan hasil pelatihan yang cukup memuaskan, yakni berupa karya sablon di kaos, totebag, kayu, dan karya cukil berupa hiasan dinding. Karya pelatihan dipamerkan di ruang pamer sebagai salah satu hasil penyuluhan selain produk sablon dan cukil. Selain itu, anak-anak diajarkan berwira usaha dengan mencoba memamerkan hasil karya dan menjualnya, hasilnya beberapa produk laku terjual. Harapan besar, penyuluhan ini melatih keterampilan untuk menumbuhkan jiwa berwirausaha. The “Amanah” orphanage is an orphanage that was established as a response to the social conditions of the local community, namely in the Ganten, Trimulyo, Jetis, Bantul, Yogyakarta areas. This orphanage was formed to accommodate children who were victims of the 2016 Yogyakarta earthquake. Over time, this orphanage has developed quite well which from year to year has been able to take foster children to a better level, not only orphans, the elderly are also managed by this foundation. Answering the foundation's request that its foster children have screen printing skills, this screen printing and cukil extension program was implemented. The implementation of screen printing and cukil counseling is carried out in stages starting from the approach to partners, preparation and introduction of materials and tools, training, and evaluation that have been able to present satisfactory training results, namely in the form of screen printing work on t-shirts, tote bags, wood, and cukil works a wall decoration. Training works are exhibited in the exhibition room as one of the results of counseling besides screen printing and cukil products. In addition, children were taught entrepreneurship by trying to showcase their work and sell it, the result was that several products were sold. High hopes, this counseling trains skills to foster an entrepreneurial spirit. Keywords: screen printing, cukil, "Amanah" orphanage
Penyuluhan Seni Gamelan Dukuh Kadireso Jayantoro, Setyawan
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i1.4704

Abstract

Berawal dari pelaksanaan KKN, penulis menjumpai dan merintis terbentuknya kelompok gamelan di Dukuh Kadireso. Pada pengabdian ini, penulis berfokus pada kurangnya apresiasi pada warisan budaya dan kembali melakukan penyuluhan dengan metode pembelajaran langsung: teknik tiap ricikan, membaca notasi, dan praktik bersama. Materi yang diberikan diharapkan dapat membantu konsistensi kelompok gamelan ini untuk dapat beraktivitas secara mandiri. Hasil dari pengabdian ini adalah tercapainya penguasaan materi pada Gangsaran dan Lancaran "Ayo Kanca Nabuh Gamelan" serta terbentuknya komunitas diskusi kesenian di Karang Taruna Dukuh Kadireso.The writer is exposed to the community of Kadireso village started from an undergraduate field program, in which the writer met and started a gamelan (traditional Javanese music instrument) group. In this opportunity, the writer focuses in the community’s lack of appreciation for the cultural heritage and reintroduces the gamelan workshop through an intensive teaching sessions: technique in each ricikan (stanza), reading music notes, and communal practices. The material given are hoped to be able to lead them into consistency and to engage in the activity independently. Results of this workshop shows that the group is now able to master the beginner drill of Gangsaran and Lancaran: “Ayo KancaNabuh Gamelan” and is able to solidify the arts discussion community in Kadireso village youth community.

Page 1 of 4 | Total Record : 32