cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jks@unsyiah.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala
ISSN : 14421026     EISSN : 25500112     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 444 Documents
PENYAKIT AKIBAT KERJA DAN PENCEGAHAN Salawati, Liza
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Sumber daya manusia sebagai tenaga kerja dalam  perusahaan tidak terlepas dari adanya masalah yang berkaitan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Kejadian Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) di Indonesia tahun 2011 tercatat 96.314 kasus dengan korban meninggal 2.144 orang dan cacat 42 orang. Pada tahun 2012 kasus PAK dan KAK meningkat menjadi 103.000 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di Indonesia belum berjalan dengan baik.Masalah K3 tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi tanggung jawab dari semua pihak terutama pengusaha, tenaga kerja dan masyarakat. Pelaksanaan SMK3 adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari PAK dan KAK, pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Abstract. Human resources as labor in the company is not separated from the problems associated with the Occupational Health and Safety (OHS). Occupational disease and occupational accident  in Indonesia on 2011 recorded 96 314 cases with 2,144 deaths and disabled people 42 people. In 2012 the case of occupational disease and occupational accident increased to 103,000 cases. This indicates that the application of the occupational safety and health management system in Indonesia has not been going well. OHS problem is not just the responsibility of the government but the responsibility of all parties, especially employers, workers and the public. The occupational safety and health management system  implementation is one of the efforts to create a workplace that is safe, healthy, free from environmental pollution so as to reduce and or free of the occupational disease and occupational accident  , can ultimately improve efficiency and productivity. 
Uji in Vivo Ekstrak Etanol Daun Sambung Nyawa (Gynura procumbens) Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Mencit (Mus musculus) Jantan Strain Swiss Webster Diabetes Mellitus Sofia, Sofia; Rinidar, Rinidar; Mariana, Mariana
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 11, No 3 (2011): Volume 11 Nomor 3 Desember 2011
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Diabetes mellitus merupakan penyakit dengan gangguan metabolisme karbohidrat yang ditandai  kadar glukosa darah yang tinggi (hiperglikemi) dan adanya glukosa dalam urin (glukosuria). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol daun sambung nyawa (Gynura procumbens) dalam menurunkan kadar gula darah mencit (Mus musculus) jantan strain Swiss Webster yang di induksi aloksan. Desain penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 (lima) perlakuan (N = 25). Ekstrak etanol daun sambung nyawa diberikan secara per oral dengan dosis P1 (100 mg/kgBB), P2 (150 mg/kgBB) dan P3 (200 mg/kgBB). Kelompok kontrol positif (KP) diberi glibenklamida 10 mg/kgBB dan kelompok kontrol negatif (KN) diberi akuades 0,2 cc. Analisis Varian (ANAVA) satu arah menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara kelima kelompok perlakuan terhadap penurunan kadar gula darah (p 0,05). Uji LSD menjelaskan bahwa pemberian ekstrak etanol daun sambung nyawa dosis 150 mg/kgBB (P2) dan 200 mg/kgBB (P3) menunjukkan pengaruh yang bermakna terhadap penurunan gula darah mencit diabetes mellitus yang di induksi aloksan sedangkan dosis 100 mg/kgBB (P1) tidak berpengaruh. Kesimpulan penelitian ini adalah dosis efektif dalam penurunan peningkatan kadar gula darah pada Mus Musculus strain Swiss-Webster adalah 200 mg/kgBB. Abstract. Diabetes Mellitus is a disease of carbohydrate metabolism disorder characterized by high blood glucose levels (hyperglycemia) and presence of glucose in the urine (glucosuria). The aims of this study was to determine the effect of ethanol extract of Gynura procumbens leaves in lowering blood glucose levels of Mus musculus Swiss Webster- strained induced alloxan. This study conducted using a laboratory experimental design of completely randomized design (CRD), which divided into 5(five) treatment groups (N=25). Ethanol extract of Gynura procumbens leaves were administered orally with doses of P1 (100 mg/kg BW), P2 (150 mg/kg BW) and P3 (200 mg/kg BW). Positive control group (CP) were given 10 mg/kg BW of glibenklamida and negative control groups (CN) were given 0.2 cc distilled water. One-way ANOVA showed that decreasing blood glucose levels were significantly different among the five treatment groups (p 0.05). LSD test confirmed that P2 (150 mg/kg BW) and P3 (200 mg/kg BW) were significantly different in lowering blood glucose levels (p 0.05) whether P1 (100 mg/kg BW) was not.  It concluded that the most effective dose in lowering elevated levels of blood glucose was 200 mg/kgBW.
Pengaruh pola hidup terhadap terjadinya stroke pada pasien yang dirawat inap di Rumah Saklt Umum Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tahun 2009 Salawati, Liza
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 9, No 2 (2009): Volume 9 Nomor 2 Agustus 2009
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.   Penyakit    stroke  sampai    saat  ini  masih   merupakan    masalah  kesehatan  karena     selain  dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat juga dapat  menyebabkan kecacatan seumur hidup.   Stroke  dapat disebabkan oleh pola hidup masyarakat yang tidak sehat.  Di Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh,  penyakit stroke menempati   urutan keenam  dari IO  besar penyakit  rawat inap terbanyak tahun 2007 yaitu  sebanyak 304  kasus.   Penelitian ini bertujuan untuk  menganali.sis   pengaruh pola hidup   (pola makan, olahraga dan merokok) terhadap  terjadinya stroke pada pasien   yang dirawat  inap di RSUZA Banda Aceh. Penelitian  ini  merupakan penelitian analitik yang  menggunakan desain cross sectional   survey.  Populasi  adalah pasien stroke yang dirawat inap di RSUZA Banda Aceh pada bulan Juni dan Juli tahun 2009 yang berjumJah  57 orang dan sampel  adalah total populasi.   Analisis   yang digunakan adalah analisis   univariat,   analisis bivariat dengan uji  chi-square  dan  analisis   multivariat dengan uji statistik  regresi logistik   ganda.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pola makan (p=0,010),  olahraga (p=0,035)   dan merokok (p=0,049) terhadap penyakit stroke.   Dari ketiga faktor tersebut yang paling dominan berpengaruh terhadap penyakit stroke pada pasien yang dirawat inap di RSUZA tahun 2009 adalah pola makan. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh agar dapat meningkatkan promosi  kesehatan kepada masyarakat Banda Aceh dalam memasyarakatkan pola hidup sehat.  (JKS 2009;2:57~64) Kata kunci :  Pola hidup,  stroke Abstract. Stroke until now still- become a health problem because instead cause of death in a short time, can cause a permanent  physical defect/handicap.   Stroke can cause a community's   unhealthy pattern/style of life.  In the Zainoel Abidin Banda Aceh Hospital,  stroke was the sixth  of the ten biggest most hospitalized diseases  in2007,  comprising 304 cases.   The purpose of this analytical   study by cross-sectional survey is  to analyze the influence of the patterns of life (such as the patterns of eating, exercise,  and smoking)   on stroke patients  who were hospitalized   in the Zainoel Abidin Banda Aceh Hospital. The population   of this study were 57 stroke patients who were hospitalized in the Zainoel Abidin Banda Aceh Hospital from June to July 2009 and all of the patients were selected to be the samples in this study.  The data obtained were statistically analyzed through univariate analysis,   bivariate analysis   with Chi-square test, and multivariate analysis   with multiple logistic  · regression test.  The result of this study showed that there was a  significant  influence 'between  the patterns of eating (p=0,010), exercise (p=0,035) and smoking (p=-0,049)   and the stroke disease. The most dominant factorof the three factors having influence on the stroke suffered by the patients who were hospitalized   in the Zainoel Abidin Hospital Banda Aceh in 2009 was the pattern of eating.  It is suggested that Banda Aceh District Health Office to increase health promotion to the people of Banda Aceh in an attemp to socialize  the pattern of healthy life. (JKS 2009;2:57-U) Key words : life  style, stroke
PERBANDINGAN METODE TABUNG GANDA DAN MEMBRAN FILTER TERHADAP KANDUNGAN Escherichia coli PADA AIR MINUM ISI ULANG Rizki, Zuriani; Mudatsir, Mudatsir; Samingan, Samingan
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Metode tabung ganda dan metode membran filter merupakan metode yang digunakan untuk pemeriksaan kandungan Escherichia coli yang terdapat di dalam air minum. Kualitas air minum dalam permenkes 492/Menkes/per/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum mencantumkan kandungan E. coli di dalam 100 ml sampel adalah nol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kandungan E. coli pada air minum isi ulang yang dianalisis dengan metode tabung ganda dan membran filter. Metode yang digunakan yaitu metode observasi dengan desain deskriptif analitik, dilakukan terhadap 28 sampel depot air minum isi ulang di wilayah pusat kota dan sub pusat kota . Data dianalisis dengan uji t dan anova menggunakan SPSS versi 16. Hasil uji t terhadap kandungan E. coli menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara metode membran filter dan tabung ganda. Hasil uji anova terhadap kandungan E. coli  menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara wilayah pusat kota dan sub pusat kota baik terhadap wilayah yang telah dipantau maupun yang belum dipantau. Hasil rata-rata kandungan E. coli yang ditemukan dengan metode membran filter yaitu 4,46 CFU/100 ml sampel dan hasil rata-rata kandungan E. coli  yang ditemukan dengan metode tabung ganda yaitu 2,64 MPN E. coli/100 ml sampel sehingga metode membran filter merupakan metode yang lebih sensitif dalam mengukur kandungan E. coli  pada air minum isi ulang. Abstract. Most probable number and the membrane filter are the method that can be used for analyze of  Escherichia coli contained in refill drinking water. Base on Permenkes 492/Menkes/Per/IV/2010 about the Regulations of Drinking Water Quality, content of E. coli in a 100 ml sample is zero. The research aimed to know the differences in the content of E. coli in refill drinking water which were analized by Most probable number  method and Membrane filter method. The research used observation method with descriptive analytic design, carried out on 28 samples of drinking water refill depot in city center and downtown area. Data were analyzed by t-test and anova using SPSS version 16. The Results showed that a significant difference between the membrane filter method and most probable number method. Anova test showed no significant difference between the downtown area and the city center either to the region has been monitored or not monitored. The average of E. coli content observed using membrane filter method was 4,46 CFU/100 ml sample and using most probable number method was 2,64 MPN E. coli/100 ml sample. Therefore the membrane filter method was more sensitive than most probable number method for analize the content of E. coli content in refill drinking water. 
PENATALAKSANAAN RUPTUR KAPSUL POSTERIOR Meutia, Firdalena
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 5, No 1 (2005): Volume 5 Nomor 1 April 2005
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Salah satu komplikasi intraoperatif bedah katarak yang serius adalah ruptur kapsul posterior, dan dilaporkan terjadi pada 0,3% sampai 6% kasus dengan teknik fakoemulsifikasi.  Beberapa kondisi preoperatif yang memiliki  risiko tinggi terjadi robekan kapsul posterior dan dapat dideteksi saat evaluasi  preoperatif yaitu: pasien dengan riwayat trauma,  sindroma pseudoeksfoliasi,  katarak  yang  keras  dengan nukleus  besar,   panjang  aksial   yang  tinggi,   katarak  subkapsular   posterior yang memiliki kelemahan kapsul posterior.  Faktor predisposisi untuk terjadinya ruptur kapsul posterior antara lain: visualisasi  operator,  panjang aksial pasien,   Asteroid Hyalosis,   pseudoeksfoliasi,    katarak   matur,   pupil   kecil,   kapsuloreksis  kecil, kapsuloreksis besar,  kapsuloreksis   Noncontinous,    komplikasi  pemutaran nukleus,.bilik  mata depan dangkal. Penatalaksanaan:  ada dua hal  yang harus diperhatikan yaitu, adakah vitreus di  bilik  mata depan dan apakah ada indikasi  unruk melakukankonversi ke prosedur standar ekstraksi katarak ekstra kapsular (EKEK). (JKS 2005;1:21-26) Kata kuncl : Ruptur  kapsul  posterior,   fakoernulsifikasi,  ekstraksi  katarak ekstra kapsular Abstract.  One  intraoperative   complication   of cataract  surgery  is serious  posterior capsule  rupture,  and  reported to occur  in  0.3%   to  6%  of cases  with phacoemulsification   technique.  Several preoperative  condition  that has a high risk of posterior   capsule  tear  occurs  and  can  be  detected  at  the preoperative   evaluation: patients   with  a  history  of  trauma,  pseudoeksfoliasi  syndrome,  cataracts  hard  with large  nuclei,   a  high  axial   length,  posterior  subcapsular   cataract   with  posterior capsule   weakness.   Predisposing  factors for  the  occurrence   of  posterior   capsule rupture  include:  visualization   operators, patients   axial  length,   Asteroids   Hyalosis, pseudoeksfoliasi,     mature    cataract,    small    pupil,     kupsulorrksis     small.    large kapsuloreksis, kapsuloreksis Noncontinous,  complications  playback  1111cle11s •.   Shallow anterior  chamber.  Treatment:  There are two things  that must be considered,  namely. is there any  vitreous  in the anterior  chamber  and  whether  there are  indications for conversion to standard procedures Extra Capsular Cataract Extraction  (ECCE).(JKS 2005;1:21-26) Key word:  Posterior  capsule rupture. fakoemusificutiona11J extra capsular  cataract extraction
Hubungan indeks massa tubuh dengan kejadian osteoartritis lutut di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Kota Banda Aceh Nata, Cici Enjelia; Rahman, Safrizal; Sakdiah, Sakdiah
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 20, No 3 (2020): Volume 20 Nomor 3 Desember 2020
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v20i3.18215

Abstract

Abstrak. Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan parameter yang digunakan untuk menilai komposisi tubuh dengan menggunakan klasifikasi Asia Pasifik. IMT menjadi salah satu faktor risiko terjadinya osteoartritis lutut. Osteoartritis lutut merupakan penyakit degeneratif yang terjadi pada sendi lutut. Berdasarkan RISKESDAS tahun 2018, Provinsi Aceh menduduki peringkat pertama sebagai provinsi dengan angka penyakit sendi terbanyak yang termasuk osteoartritis lutut yaitu 13.3%. Prevalensi indeks massa tubuh berlebih di Indonesia pada tahun 2018  meningkat dari 26.3% menjadi 34.4% sehingga kemungkinan terjadinya osteoartritis lutut juga meningkat. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan dengan cara mengukur berat badan dan tinggi badan responden yang memenuhi kriteria penelitian berdasarkan pedoman American College of Rheumatology (ACR). Sampel dikumpulkan berdasarkan rekam medis di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin kota Banda Aceh sejak september hingga oktober 2019 yang melibatkan tujuh puluh responden sebagai sampel penelitian yang dimana 51 responden (72.9%) memiliki indeks massa tubuh berlebih dan 43 responden (61.4%) didiagnosis dengan Osteoartritis lutut. Berdasarkan hasil analisis uji Chi Square, nilai p value yang diperoleh adalah 0.021 (p value ≤ 0,05). Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan kejadian osteoartritis lutut di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin di kota Banda Aceh.Kata Kunci: Indeks massa tubuh; berat badan lebih, osteoartritis lutut;               Abstract. Body Mass Index (BMI) is a parameter to measure body composition which is classified into underweight, normal and overweight. Overweight has been known to potentially cause knee osteoarthritis. Knee osteoarthritis is a degenerative disease happening on the knee. Based on RISKESDAS 2018, Aceh led Indonesia as a province with the highest number of knee arthritis (13.3%). In the same year, the prevalence of overweight in Indonesia has also increased from 26.3% to 34.4% and is expected to rise annually. This research is an analytic observational using cross sectional design. The method used in this research is body weight and body length measurement of samples fulfilling the criteria based on American College of Rheumatology (ACR). Data were collected based on medicalr record at Zainoel Abidin General Hospital, Banda Aceh, from September to October 2019. We examined 70 respondents, 51 of them (72.9%) had overweight IMT and 43 of them (61.4%) were diagnosed with knee osteoarthritis. Chi Square analysis showed p value 0,021 (p value ≤ 0.05). We concluded that there is a correlation between body mass index with knee osteoarthritis in Zainoel Abidin General Hospital, Banda Aceh.Keyword: Body Mass Index; overweight; knee osteoarthritis;
AKTIVITAS OTONOM Indra, Imai
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 12, No 3 (2012): Volume 12 Nomor 3 Desember 2012
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Sistem saraf motorik terbagi atas sistem otonom dan somatik. Sistem saraf otonom (SSO) sesuai dengan namanya bersifat otonom (independen) dimana aktifitas tidak dibawah kontrol kesadaran secara langsung. Aktifasi SSO secara prinsip terjadi di pusat di hypothalamus, batang otak dan spinalis. Impuls akan diteruskan melalui sistem simpatis dan parasimpatis. Sistem saraf simpatis dan parasimpatis biasanya bekerja secara antagonis. Pemahaman tentang tentang anatomi dan fisiologi dari SSO sangat berguna untuk memperkirakan efek farmakologi obat yang bekerja pada sistem saraf otonom tersebut. Dengan menggunakan obat-obat yang mirip atau menghambat kerja transmitter kimia, kita dapat memilih dan mempengaruhi fungsi otonom. Abstract. Motor nervous system is divided into somatic and autonomic systems. The autonomic nervous system (SSO) as the name suggests is autonomous (independent) in which the activity is not under direct conscious control. Activation of SSO is prisnsip teijadi in the center in the hypothalamus, brain stem and spinal cord. Impulse will be transmitted through the sympathetic and parasympathetic systems. Sympathetic and parasympathetic nervous systems typically work antagonists. An understanding of the anatomy and physiology of the SSO is very useful for estimating the effect of pharmacological drugs acting on the autonomic nervous system. By using drugs that are similar or inhibit the work of the chemical transmitter, we can select and affect autonomic function.
Community Acquired Pneumonia pada Usia Lanjut Mulyadi, Mulyadi
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.  Pada kelompok usia lanjut Community Acquired Pneumonia merupakan salah satu infeksi yang rcntan terjadi  pada saluran nafas bawah, hal ini dikaitkan dengan mekanisme pertahanan tubuh diantaranya gangguan mukosilier,   gangguan  reflek,     gangguan  sistim    irnunologi,     gangguan  neurologi   dan  gangguan  sistim kardiopulmoner. Manifestasi Pneumonia pada usia lanjut  tidak khas,  dan sering disertai  dengan perubahan status mental. Pada umumnya etiologi komuniti  Peneumonia pada usia  lanjut  disebabkan oleh Streptococcus pneumonia, serta H.  Influenza. Selain  penanganan supportif, pemberian antibiotika diberikan secara empirik dengan mcmpertimbangkan usia, ko-morbid, severity. Pemberian antibiotika dilakukan  dengan memperhatikan peta kuman setempat dan pola sensitivity setempat serta  antibiotika  yang peka terhadap Pneumokokkus dan H Influenza. (JKS2010;2:87-92)Kata kund  :  pneumonia komuniti, usia lanjut.Abstract.  Community Acquired Pneumonia in elderly is one of the most vulnerable infections occurred in lower respiratory tract, it  is associated with defense mechanisms including mucosilier  disorders, impaired reflexes, impaired immunological system, neurological disorders and   cardiopulmonary system disorders. Pneumonia manifestations in the elderly are atypical, and often accompanied by the changes of mental status.  The etiology of community pneumonia in  the elderly majority caused by Streptococcus pneumoniae, and H.  Influenza. Administration of antibiotics are given empirically  by considering age, co-morbid, and severity. The provision of antibiotics is done by considering the local  germs maps and local sensitivity pattern and also  antibiotics which are sensitive to Pneumococcus and H. Influenza. (JKS 2010,·2:87-92)Keywords: Community acquired pneumonia, erderly.
HUBUNGAN KELUARGA PASIEN TERHADAP KEKAMBUHAN SKIZOFRENIA DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD) RUMAH SAKIT JIWA ACEH Pratama, Yudi; Syahrial, Syahrial; ishak, saifuddin
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa yang paling banyak terjadi. Kekambuhan pasien skizofrenia masih tinggi dan memerlukan biaya tinggi, yang ditanggung oleh keluarga dan pemerintah. Seharusnya pasien skizofrenia yang sudah sembuh tidak mengalami kekambuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluarga terhadap kekambuhan pasien skizofrenia di BLUD RSJ Aceh yang dilaksanakan sejak bulan Juni 2012 sampai Maret 2013. Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan desain potong lintang. Data kuesioner yang diperoleh dari 40 responden dianalisis secara deskriptif, kemudian untuk mencari hubungan tiap variabel terhadap kekambuhan pasien skizofrenia akan dilakukan analisa dengan uji Chi-Square. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan keluarga (p=0,011), dukungan keluarga (p=0,000), kepatuhan pasien minum obat (p=0,000) dan aktivitas keagamaan pasien (p=0,022), dengan kekambuhan pasien skizofrenia.Abstract. Schizophrenia is a most common mental disorder. The possibility of relapse cases are still high with expensive cost on management, which is borne by the family and government. Ideally, schizophrenia patients who had recovered should not suffer a relapse. This study aimed to determine the factors associated with the families from a relapse schizophrenia patients in Aceh Local Mental Hospital conducted from June 2012 to March 2013. This research is an analytical study with cross-sectional approach. Questionnaire data obtained from 40 respondents were analyzed descriptively, and the relationship of each variable will be analyzed by Chi-Square test. The results indicated that there was a significant assossiation between knowledge of patient’s families (p = 0.011), patient’s family support (p = 0.000), medication compliance (p = 0.000) and religious activities of the patients (p = 0.022) with schizophrenia relapse cases.
Gejala Klinis dan Diagnosis Dermatitis Atopik Hajar, Sitti
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 7, No 3 (2007): Volume 7 Nomor 3 Desember 2007
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.   Dermatitis   Atopik   adalah   kelainan   kulit  kronis   intlamasi.    Seperti   penyakit   alergi   lain,   prevalensi dermatitis   atopik  tampaknya   meningkat.   Pada   anak-anak,   prevalensi   dermatitis   atopik  telah  meningkat  dari  3  -4% pada  tahun  1960 untuk  l 0-15%  di tahun  1980-an.   Na mun  tidak  seperti  ban yak penyakit  lainnya,   Dermatitis atopik  tidak  memiliki   lesi   kulit  primer  atau  tes  pathognomenic.    Oleh  karena  itu,  Diagnosis    dermatitis   atopik ditegakkan   berdasarkan   gejala  fisik.   Gejala/kriteria   mayor  termasuk  pruritis,  morfologi   khas  dan  distribusi  lesi. Distribusi   lesi  bervariasi  sesuai  usia.  Pada  bayi,  permukaan   wajah  dan  ekstensor   lengan  dan  kaki  yang  paling sering   terkena.   Dermatitis   atopik   pada  infandapat   menghilang   secara   spontan   atau  berlanjut   ke  tahap  masa kanak-kanak,  yang  ditandai  dengan  papula,gatal,  xerosis,   dan  likenifikasi.  Pada  anak  yang  lebih  tua dan orang dewasa,  dermatitis   berkuama   dan likenifikasi   pada  permukaan   tleksor  leher,  kaki,  dan  badan  bagian  atas.  Lebih dari  85%  dari  dermatitis   atopik  timbul  pada  lima  tahun  pertama   kehidupan,  jarang   terjadi   setelah  45  tahun. (JKS  2007;3:  175-180) Kata   kunci:  dermatitis   atopik.  kriteria  mayor,  kriteria  minor,  SCORAD Abstract.  Atopic  dermatitis  is a chronic  inflammatory   skin disorder.   Like  other  allergic  diseases,   the prevalence of atopic  dermatitis   appears  to be rising.   In children,  the prevalence   of Atopic  dermatitis   has increased  from 3 -4%  in the  1960's   to  10-15%  in the  1980's.   But  unlike  many  other  diseases,   Atopic  dermatitis   has  no primary skin  lesions  or pathognomenic   test. Therefore,   the diagnosis   of a topic  dermatitis   has  to be made  by constellation of physical  findings.   The  major  features  include  pruritis,  typical  morphology   and distribution   of the lesions.  The skin  distribution    varies   with  age.   In infancy,   the  face  and  extensor   surfaces   of  the  arms  and  legs  are  most commonly   affected.  Infantile  Atopic  dermatitis  may resolve   spontaneously   or continue  into the childhood  phase, which  is  characterized   by pruritic  papules,  xerosis,  and  lichenification.   In the older  child  and adults,  a scaly and lichenified   dermatitis   on the flexor  surfaces  of the extremities,   neck,  and  upper  trunk  is observed.   Over  85% of Atopic   dermatitis    presents    during   the   first   five  years   of   life,   and   rarely   occurs   after   45   years   of  age. (JKS  2007;3:  175-180) Keywords:  A topic  dermatitis.  major features,  minor features,  SCORAD

Page 1 of 45 | Total Record : 444


Filter by Year

2005 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 3 (2020): Volume 20 Nomor 3 Desember 2020 Vol 20, No 2 (2020): Volume 20 Nomor 2 Agustus 2020 Vol 20, No 1 (2020): Volume 20 Nomor 1 April 2020 Vol 19, No 3 (2019): Volume 19 Nomor 3 Desember 2019 Vol 19, No 2 (2019): Volume 19 Nomor 2 Agustus 2019 Vol 19, No 1 (2019): Volume 19 Nomor 1 April 2019 Vol 18, No 3 (2018): Volume 18 Nomor 3 Desember 2018 Vol 18, No 2 (2018): Volume 18 Nomor 2 Agustus 2018 Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018 Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017 Vol 17, No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017 Vol 17, No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 April 2017 Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016 Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016 Vol 16, No 1 (2016): Volume 16 Nomor 1 April 2016 Vol 15, No 3 (2015): Volume 15 Nomor 3 Desember 2015 Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015 Vol 15, No 1 (2015): Volume 15 Nomor 1 April 2015 Vol 14, No 3 (2014): Volume 14 Nomor 3 Desember 2014 Vol 14, No 2 (2014): Volume 14 Nomor 2 Agustus 2014 Vol 14, No 1 (2014): Volume 14 Nomor 1 April 2014 Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013 Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013 Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013 Vol 12, No 3 (2012): Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012 Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 Nomor 1 April 2012 Vol 11, No 3 (2011): Volume 11 Nomor 3 Desember 2011 Vol 11, No 2 (2011): Volume 11 Nomor 2 Agustus 2011 Vol 11, No 1 (2011): Volume 11 Nomor 1 April 2011 Vol 10, No 3 (2010): Volume 10 Nomor 3 Desember 2010 Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010 Vol 10, No 1 (2010): Volume 10 Nomor 1 April 2010 Vol 9, No 3 (2009): Volume 9 Nomor 3 Desember 2009 Vol 9, No 2 (2009): Volume 9 Nomor 2 Agustus 2009 Vol 9, No 1 (2009): Volume 9 Nomor 1 April 2009 Vol 8, No 3 (2008): Volume 8 Nomor 3 Desember 2008 Vol 8, No 2 (2008): Volume 8 Nomor 2 Agustus 2008 Vol 8, No 1 (2008): Volume 8 Nomor 1 April 2008 Vol 7, No 3 (2007): Volume 7 Nomor 3 Desember 2007 Vol 7, No 2 (2007): Volume 7 Nomor 2 Agustus 2007 Vol 7, No 1 (2007): Volume 7 Nomor 1 April 2007 Vol 6, No 3 (2006): Volume 6 Nomor 3 Desember 2006 Vol 6, No 2 (2006): Volume 6 Nomor 2 Agustus 2006 Vol 6, No 1 (2006): Volume 6 Nomor 1 April 2006 Vol 5, No 1 (2005): Volume 5 Nomor 1 April 2005 More Issue