cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 768 Documents
PENGARUH ANNONA MURICATA TERHADAP SEBUKAN LEUKOSIT OTAK MENCIT MALARIA YANG DITERAPI ARTEMISININ-BASED COMBINATION THERAPY (ACT) (STUDI INFEKSI PLASMODIUM BERGHEI ANKA PADA MENCIT SWISS) Purwanto, Hani Nur Rahmawati; Kisdjamiatun, Kisdjamiatun
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.264 KB)

Abstract

Latar Belakang: Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Beberapa wacana penggunaan terapi adjuvant sebagai pendamping obat anti malaria standard (ACT) diperlukan untuk memperbaiki disfungsi vaskuler pada malaria. Bukti bahwa ekstrak daun A.muricata dapat menurunkan sebukan sel leukosit otak mencit swiss yang diinokulasi PbA belum ada dan perlu diteliti.Tujuan: Membuktikan pengaruh pemberian Annona Muricata terhadap sebukan leukosit otak mencit malaria yang diterapi Artemisinin Based Combination therapy Metode: Penelitian ini adalah penelitian Experimental dengan desain Post Test Only Control Group Design. Sampel  terdiri dari 20 ekor mencit swiss yang dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok K diberi air. Kelompok P1 diberi A.muricata 3.12 mg/KgBB/hari sebagai dosis pencegahan dan 6.24 mg/KgBB/hari sebagai dosis pengobatan. Kelompok P2 diberi ACT 0.546 mg/KgBB/hari. Kelompok P3 diberi A.muricata 3.12 mg/KgBB/hari sebagai dosis pencegahan dan 6.24 mg/KgBB/hari sebagai dosis pengobatan dan ACT 0.546 mg/KgBB/hari. Perlakuan selama 14 hari diakhiri dengan terminasi mencit dan isolasi organ otak untuk sediaan histopatologi dan koleksi darah untuk pengamatan tingkat parasitemia. Uji statistik menggunakan uji Chi-square untuk leukosit otak serta menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann Whitney untuk persentase parasitemia.Hasil: Uji Chi-square limfosit otak didapatkan hasil tidak bermakna p>0,05 dan syarat uji Chi-square tidak terpenuhi. Penggabungan dilakukan pada kelompok 1 dan 2 kemudian diuji kembali menggunakan Chi-square didapatkan hasil tidak bermakna p>0,05 namun syarat uji Chi-square terpenuhi. Parasitemia didapatkan perbedaan bermakna antara kelompok K-P2 (p=0,008), K-P3 (p=0,009), P1-P2 (p=0,008), P1-P3 (p=0,009) maupun P2-P3 (p=0,011). Tidak didapatkan perbedaan bermakna antara kelompok K-P1 (p=0,249).Simpulan: Pengaruh pemberian A.muricata maupun A.muricata dengan ACT terhadap leukosit otak mencit swiss yang diinfeksi PbA didapatkan tidak bermakna.
PENGARUH PEMBERIAN GYNURA PROCUMBENS (LOUR )MERR TERHADAP PRODUKSI REACTIVE OXYGEN INTERMEDIATED, PRODUKSI NITRIC OXIDE DAN KOLONI KUMAN ORGAN HEPAR MENCIT Balb/c YANG DIINFEKSI SALMONELLA TYPHIMURIUM Widodo, Aryoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.462 KB)

Abstract

Latar Belakang : Demam tifoid merupakan penyakit serius yang disebabkan oleh Salmonella tyhpimurium , terjadi di seluruh bagian dunia termasuk di Indonesia. Bakteri intraseluler ini mampu menstimulasi respon imun tubuh terutama respon imun seluler. Gynura procumbens ( lour ) merr merupakan tanaman obat tradisional yang mengandung banyak komponen aktif diantaranya flavonoid, mampu berperan sebagai imunomodulator. Tujuan : Mengetahui pengaruh Gynura procumbens (Lour.) Merr. terhadap produksi ROI makrofag , produksi NO makrofag, dan koloni kuman organ hepar mencitit Balb/c yang diinfeksi Salmonella Typhimurium. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan the post test only control group design dengan menggunakan mencit Balb/c jantan berusia 8-12 mingggu dan diadaptasikan selama 1 minggu. Jumlah mencit yang dipergunakan sebanyak 15 ekor yang secara acak dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan (P) dimana 1 kelompok diinfeksi Salmonella tyhimurium (P1) dan 1 kelompok diinfeksi Salmonella typhimurin dan diberi 1,5 mg/hari Gynura procumbens (lour) merr (P2).. Pada hari ke-8 semua mencit diinfneksi 105 CFU Salmonella tyhimurium intraperitoneal. Hari ke-11 mencit dibunuh dan dilakukan pemeriksaan produksi ROI makrofag, produksi NO makrofag dan jumlah koloni kuman kultur organ hepar. Hasil pemeriksaan dianalisis dengan uji Anova, uji Kruskal Wallis dan uji Mann Whitney pada =0,05. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok P2 meningkatkan produksi ROI makrofag secara bermakna dibanding P1 ( p=0,022) dan produksi NO makrofag secara bermakna dibanding P1 ( p=0,012). Hitung kuman menurun secara bermakna dibanding P1 (p=0,019). Kesimpulan : Pemberian ekstrak Gynura procumbens (Lour.) Merr pada mencit Balb/c yang diinfeksi Salmonella typhimurium meningkatkan produksi ROI makrofag,produksi NO makrofag secara bermakna dan mampu menurunkan hitung kuman organ hepar secara bermakna.Kata kunci : Gynura procumbens (Lour.) Merr., ROI NO hitung kuman, Salmonella typhimurium.
GAMBARAN VASKULARISASI RETINA PASCA PEMBERIAN OKSIGEN KONSENTRASI TINGGI (STUDI EKSPERIMENTAL RETINOPATHY OF PREMATURITY PADA TIKUS WISTAR) Erlanggawati, Tita; Prasetyo, Agung Aji; Dewi, Puspita Kusuma
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.483 KB)

Abstract

Latar belakang: Retinopathy of Prematurity (ROP) didefinisikan sebagai proliferasi abnormal pembuluh darah retina pada bayi baru lahir akibat terpapar oksigen konsentrasi tinggi. Patogenesis ROP ditandai dengan terbentuknya neovaskularisasi pada retina yang dipengaruhi oleh kadar Vascular Endhotelial Growth Vactor (VEGF) dan kerusakan jaringan akibat stress oksidatif. Glutation adalah antioksidan utama dalam tubuh yang mudah berikatan dengan senyawa radikal bebas, pada penelitian ini digunakan untuk mengurangi terbentuknya pembuluh darah abnormal pada retina.Tujuan: Mengetahui adanya pengaruh pemberian glutation terhadap gambaran vaskularisasi retina pada tikus Wistar yang diberi oksigen konsentrasi tinggi.Metode: Penelitian true experimental dengan posttest only control group design. Penelitian dilakukan selama 14 hari menggunakan tikus Wistar usia 1-7 hari (n=18) yang secara random dibagi menjadi 3 kelompok (kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, dan kelompok perlakuan). Kelompok kontrol negatif tidak diberikan perlakuan. Kelompok kontrol positif diberikan paparan oksigen 95% selama 4 jam. Kelompok perlakuan diberikan paparan oksigen 95% selama 4 jam dan injeksi glutation. Tikus di terminasi dan dilakukan enukleasi pada hari ke 15. Bulbus oculi tikus diambil untuk dilakukan pengecatan HE dan diperiksa gambaran histopatologi dengan cara menghitung fokus proliferasi sel endotel yang terbentuk. Uji statistik menggunakan uji Saphiro Wilk dilanjutkan uji Kruskal Wallis dan uji Mann-Whitney untuk melihat pebedaan antar kelompok.Hasil: Jumlah neovaskularisasi paling tinggi ditemukan pada kelompok kontrol positif. Penurunan jumlah neovaskularisasi terjadi pada kelompok perlakuan. Terdapat perbedaan bermakna jumlah neovaskularisasi retina kelompok kontrol positif dibandingkan dengan kontrol negatif (p=0,003) dan kelompok perlakuan (p=0,006). Tidak terdapat perbedaan bermakna jumlah neovaskularisasi retina antara kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan (p=0,212).Simpulan: Pembentukan pembuluh darah abnormal pada retina yang diberikan glutation lebih sedikit dibandingan dengan yang tidak diberi glutation.Kata Kunci: Retinopathy of Prematurity (ROP), glutation, radikal bebas, oksigen, neovaskularisasi
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA GLAUKOMA DENGAN KETAATAN MENGGUNAKAN OBAT Chaidir, Qraxina; Rahmi, Fifin Lutfia; Nugroho, Trilaksono
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.102 KB)

Abstract

Latar Belakang Glaukoma merupakan penyebab kebutaan terbesar kedua setelah katarak. Kebutaan akibat glaukoma bersifat irreversible. Namun, kebutaan pada penderita akibat glaukoma dapat dicegah dengan meningkatkan ketaatan pasien dalam penggunaan obat. Kesadaran pasien yang tinggi terhadap bahaya glaukoma serta ketaatan yang baik dalam penggunaan obat dapat meminimalisir komplikasi serta kehilangan penglihatan yang mungkin terjadi di masa depan.Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan penderita glaukoma dengan ketaatan menggunakan obat.Metode Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan studi crossectional. Responden penelitian adalah penderita glaukoma yang sedang menjalani pengobatan medikamentosa dan memenuhi kriteria inklusi di poliklinik mata RSUP DR Kariadi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer. Data dikumpulkan dengan cara wawancara dengan panduan daftar pertanyaan tertutup. Kemudian dilanjutkan dengan in-depth interview dengan panduan daftar pertanyaan terbuka. Uji statistik yang dilakukan adalah uji normalitas data Saphiro Wilk dan uji korelasi Spearman. Hasil Didapatkan hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan ketaatan menggunakan obat (p = 0,003). Kuat hubungan secara statistik antar variabel termasuk kategori sedang (0,4 - <0,6), dan arah korelasinya positif yang artinya semakin tinggi variabel bebas, berdampak pada semakin tinggi variabel terikat.Kesimpulan Ada hubungan antara tingkat pengetahuan penderita mengenai glaukoma dengan ketaatan dalam menggunakan obat.
HUBUNGAN ANTARA PAPARAM MEDIA LAYAR ELEKTRONIK DAN PERKEMBANGAN BAHASA DAN BICARA Amalia, Husnia Febri; Rahmadi, Farid Agung; Anantyo, Dimas Tri
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.617 KB)

Abstract

Latar Belakang: Perkembangan bahasa dan bicara merupakan indikator dari seluruh perkembangan karena kemampuan bahasa dan bicara sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya, dan melibatkan kemampuan kognitif, sensori motor, psikologis, emosi serta lingkungan di sekitar anak. Apabila terjadi keterlambatan perkembangan pada awal kemampuan bahasa dan bicara  dapat  mempengaruhi berbagai fungsi dalam kehidupan sehari hari diantaranya kehidupan personal sosial, juga akan menimbulkan kesulitan belajar, bahkan dapat mempengaruhi  kemampuan dalam dunia kerja suatu hari nanti. Banyak faktor perkembangan bahasa dan bicara  diantaranya faktor prenatal, perinatal dan postnatal. Faktor postnatal yang mempengaruhi perkembangan bahasa dan  bicara  dapat berupa paparan layar media elektronik. Tujuan: Mengetahui Hubungan paparan layar media Elektronik dengan perkembangan bahasa dan bicara. Metode: Penelitian ini menggunakan desain  cross-sectional  dengan observasi dan pengumpulan data dilakukan bersamaan. Subjek penelitian adalah anak usia 18-36 bulan dan orangtua yang dilakukan di posyandu di wilayah puskesmas Rowosari Kota Semarang. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Pengumpulan  data dilakukan dengan pengisian kuesioner, pengukuran antropometri dan instrument capute scale. Uji statistik yang digunakan adalah uji Korelasi Spearman. Hasil: Dari 60 subjek penelitian terdapat rerata nilai CLAMS anak yang terpapar layar media elektronik ≤ 1 jam (98,88±10,256) dan > 1 jam (86,83±8,243), pada onset paparan layar media  elektronik  usia ≤ 12 bulan (85,35±8,60) dan >12 bulan (91,47±10,37), dan pada jenis program hiburan layar media elektronik (88,77±11,21) dan jenis program edukasi  (93,52±5,94). Korelasi CLAMS dengan durasi, onset, jenis paparan layar media elektronik berdasarkan uji korelasi Spearman didapatkan nilai p= <0,005 . Simpulan: Terdapat hubungan durasi, onset, dan  jenis paparan layar  media elektronik  dengan  perkembangan bahasa dan bicaraKata Kunci: CLAMS,durasi,onset,jenis paparan layar media elektronik,anak usia 18-36 bulan
HUBUNGAN TINGKAT KEPARAHAN GEJALA DAN STATUS FUNGSIONAL PADA PASIEN CARPAL TUNNEL SYNDROME DIUKUR MENGGUNAKAN CARPAL TUNNEL SYNDROME ASSESSMENT Hakim, Alif Luqman; Tjandra, Robby
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.16 KB)

Abstract

Background :  Carpal Tunnel Syndrome is an entrapment neuropathy due to pressure on the median nerve with one of the early symptom is pain. Pain that is present in patients with Carpal Tunnel Syndrome can make impairment of hand function, resulting in functional limitations to patients with Carpal Tunnel Syndrome in performing everyday activities.Aim :  To determine the correlation between severity of symptoms and functional status in patients with Carpal Tunnel Syndromme measured using the Carpal Tunnel Syndrome Assessment Questionnaire.Method : This research is in the department of Physical Medicine and Rehabilitation. This research is a descriptive analytic study with cross sectional approach. Subjects were CTS patients in Dr. Kariadi Polyclinic Medical Rehabilitation Hospital that are pleased CTS patients fill out a questionnaire and meet the inclusion and exclusion criteria from March to June 2015. The correlation test is using Pearson correlation test.Result :  The total number of samples inclusion in this study is 11 people. At the Pearson test showed a correlation between the two variables. Results of correlation between the severity of symptoms and functional status showed a significant correlation (p = 0.038) level of correlation is strong enough, (r = 0.628) with the direction of the positive correlation, so the higher the value the higher the severity of symptoms of the value of the functional status or getting ugly functional status.Conclusion : The severity of symptoms in patients with Carpal Tunnel Syndrome has a fairly strong positive correlation with functional status in patients with Carpal Tunnel Syndrome. 
HUBUNGAN ANTARA GULA DARAH SEWAKTU DAN PUASA DENGAN PERUBAHAN SKOR NIHSS PADA STROKE ISKEMIK AKUT Andreani, Febby Valencia; Belladonna, Maria; Hendrianingtyas, Meita
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.587 KB)

Abstract

Latar belakang   Stroke iskemik seringkali berujung pada kecacatan, disabilitas, dan terganggunya kualitas hidup. Kadar gula darah adalah salah satu prediktor keluaran stroke yang dapat diukur dengan berbagai parameter. Adanya perbedaan penggunaan parameter kadar gula darah antara klinis dan penelitian menyebabkan diperlukannya pengetahuan terkait parameter kadar gula darah yang dapat digunakan sebagai prediktor keluaran stroke iskemik akut.Tujuan   Membuktikan hubungan antara kadar gula darah sewaktu (GDS) dan gula darah puasa (GDP) dengan perubahan skor National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) pada stroke iskemik akut.Metode  Penelitian observasional dengan desain kohort retrospektif. Subjek penelitian adalah 42 pasien stroke iskemik akut yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi (RSDK) dan Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Semarang pada Januari 2016 – Juli 2017. Data diperoleh dari rekam medis subjek penelitian. Terhadap subjek penelitian dilakukan pengambilan data kadar GDS, GDP, komorbid, dan skor NIHSS admisi dan hari ketujuh setelah admisi. Uji statistik menggunakan Uji Fisher.Hasil   Dari data rekam medis seluruh subjek penelitian, didapatkan 33,3% subjek penelitian memiliki kadar GDS ≥ 200 mg/dL dan 47,6% subjek penelitian memiliki kadar GDP ≥ 110 mg/dL pada waktu admisi. Perburukan keluaran stroke iskemik akut hanya didapatkan pada 7,1% subjek penelitian. Tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar GDS dan GDP dengan perubahan skor NIHSS (p = 0,746 dan 0,463). Tidak terdapat hubungan bermakna antara komorbid yang meliputi status gizi, hipertensi, diabetes mellitus (DM), dislipidemia, dan penyakit jantung  dengan perubahan skor NIHSS, dengan nilai p secara berturut-turut sebesar 0,479; 0,354; 0,500; 0,537; dan 0,500.Simpulan   Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar GDS dan GDP dengan perubahan skor NIHSS pada stroke iskemik akut.
PENGARUH PEMBERIAN FORMULA HIDROLISAT EKSTENSIF DAN ISOLAT PROTEIN KEDELAI TERHADAP STATUS PERTUMBUHAN ANAK DENGAN ALERGI SUSU SAPI Rahmasiwi, Anindita; Hardaningsih, Galuh
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.507 KB)

Abstract

Latar belakang Alergi susu sapi (ASS) merupakan reaksi yang timbul akibat proses imunologis terhadap protein yang ada dalam susu sapi. Alergi susu sapi memiliki berbagai tatalaksana. Pertumbuhan terdiri dari berbagai aspek dan dapat dipengaruhi oleh banyak hal. Asupan formula pengganti susu yang alergen dapat mempengaruhi pertumbuhan anak.Tujuan Mengetahui perbedaan pengaruh antara formula terhidrolisat ekstensif dan formula isolat protein soya dengan pertumbuhan (weight for age, WAZ; height for age, HAZ; weight for height, WHZ; head circumference, HC; mid-upper arm circumference, MUAC) anak alergi susu sapi.Metode Penelitian belah lintang dilakukan pada bulan Februari hingga Juni 2016 di Puskesmas, Posyandu, Klinik Kesehatan Anak dan Rumah Sakit di Kota Semarang dan sekitarnya. Pemilihan sampel diperoleh secara judgemental sampling. Orangtua/wali diwawancarai sebagai narasumber dalam mengisi kuisioner. Pengukuran pertumbuhan anak dilakukan 1 kali pemeriksaan. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan nilai signifikansi p<0,05.Hasil Didapatkan 50 subyek penelitian (6-60 bulan), 29 laki-laki dan 21 perempuan. Sebanyak 14 (28%) anak mengalami gizi kurang. Formula terhidrolisat ekstensif memberikan nilai weight for age lebih tinggi dibandingkan isolat protein soya. Berdasarkan uji analisis, diperoleh ketidakmaknaan pada HAZ (p=1,00), WHZ (p=0,235), HC (p=0,490), MUAC (p=0,667) dan kemaknaan pada WAZ (p=0,004).Kesimpulan Formula terhidrolisat ekstensif memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap aspek pertumbuhan berat badan menurut umur (weight for age).
HUBUNGAN LOKASI LESI STROKE NON-HEMORAGIK DENGAN TINGKAT DEPRESI PASCA STROKE (STUDI KASUS DI POLI SARAF RSUP DR. KARIADI SEMARANG) Bagaskoro, Yoseph Cahyo; Pudjonarko, Dwi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.802 KB)

Abstract

Latar Belakang:Dari seluruh penderita stroke di dunia yang terdata, sekitar 80% merupakan jenis stroke non-hemoragik. Terdapat beberapa faktor yang menentukan prognosis dari stroke non-hemoragik, salah satunya ialah lokasi lesi (lokasi infark).Depresi seringkali dikaitkan dengan penyakit kronik seperti stroke. Depresi yang berkaitan dengan stroke disebut sebagai depresi pasca stroke. Depresi pasca stroke dapat memperparah kondisi pasien stroke sehingga memperlambat proses pemulihan. Prevalensi yang paling tinggi terdapat sekitar 3-6 bulan pasca stroke dan tetap tinggi sampai 1-3 tahun kemudian. Lokasi lesi diduga mempengaruhi tingkat depresi pasca stroke.Salah satu pemeriksaan depresi adalah dengan HDRS dimana pemeriksaan ini merupakan skrining penilaian depresi yang paling sering dipakai. HDRS ini sangat mudah dan relatif cepat.Tujuan:Untuk membuktikan adanya hubungan antaralokasi lesi stroke non-hemoragik dengan tingkat depresi pasca stroke.Metode:Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Saraf RSUP Dr Kariadi Semarang. Subyek penelitian sebanyak 22 pasien dengan teknik consecutive sampling. Data yang digunakan merupakan data primer yaitu hasil pemeriksaan HDRS dan data sekunder yaitu rekam medis dari April 2016 sampai Agustus 2016. Uji statistik menggunakan uji Chi-square.Hasil:  Terdapat 22 pasien yang terdiri dari 11 orang yang memiliki lesi di hemisfer kiri dan 11 orang memiliki lesi di hemisfer kanan. Tidak didapatkan hubungan antara lokasi lesi stroke non-hemoragik dengan tingkat depresi pasca stroke (p 0,387).Kesimpulan:Tidak terdapat hubungan antara lokasi lesi stroke non-hemoragik dengan tingkat depresi pasca stroke.
EFEK REMOTE ISCHEMIC PRECONDITIONING TERHADAP KADAR CKMB TIKUS WISTAR PASCA INFARK MIOKARD YANG DIINDUKSI ISOPROTERENOL Ramadhan, Muhammad Fa'iz; Anggriyani, Novi; Wijayahadi, Noor
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.998 KB)

Abstract

Latar Belakang : Infark miokard adalah salah satu penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian. Infark miokard dapat terjadi karena adanya iskemia berkepanjangan pada otot jantung. Salah satu indikator terjadinya infark miokard adalah CKMB. Terdapat suatu iskemia singkat dan sementara suatu organ sebelum infark miokard yang dapat melindungi otot jantung dari kerusakan yang disebut RIPC.Tujuan : Mengetahui efek RIPC terhadap kadar CKMB tikus pasca infark miokard.Metode : Penelitian eksperimental murni dengan rancangan randomized posttest only control group design. Sampel sebanyak 21 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol (K), kelompok perlakuan RIPC 3x5 menit (P1), dan kelompok perlakuan RIPC 3x15 menit (P2). Ketiga kelompok tersebut diinjeksi dengan isoproterenol untuk menginduksi infark miokard. Kadar CKMB diukur menggunakan spektrofotometer. Uji statistik menggunakan Uji One Way ANOVA dan Post Hoc LSD.Hasil : Kadar CKMB rerata pada kelompok kontrol sebesar 217,29 U/L, kelompok perlakuan RIPC 3x5 menit sebesar 224,57 U/L, dan kelompok perlakuan RIPC 3x15 menit sebesar 141,14 U/L. Uji Post Hoc LSD menunjukkan kadar CKMB berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan RIPC 3x15 menit(p=0,022) dan tidak terdapat perbedaan kadar CKMB pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan RIPC 3x5 menit(p=0,873).Simpulan : Terdapat perbedaan kadar CKMB antara tikus wistar kelompok P2 dengan kelompok K. Tidak terdapat perbedaan kadar CKMB antara tikus wistar kelompok P1 dengan kelompok K.

Page 1 of 77 | Total Record : 768