cover
Contact Name
Dr. Wening Udasmoro, M.Hum, DEA
Contact Email
jurnalpoetika.fib@ugm.ac.id
Phone
+62274513096
Journal Mail Official
jurnalpoetika.fib@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Poetika : Jurnal Ilmu Sastra (sebelumnya PROSA, RUANG, DAN KOTA PASCAKOLONIAL)
Core Subject : Humanities, Art,
POETIKA: Jurnal Ilmu Sastra publishes academic articles within the scope of literary criticism (limited to poem, prose, drama, oral tradition, and philology). The articles cover the form of a result on specific analysis; academic reports; closed reading; and the application of certain theories to enrich literary study.
Articles 116 Documents
REVITALISASI IDE BANGSA DALAM CERPEN KǑNG YǏJǏ (孔乙己) (1919) KARYA LU XUN Muhamad Rallie Rivaldy, Padel
POETIKA Vol 7, No 1 (2019): July
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v7i1.44389

Abstract

Karya sastra Cina pada masa Gerakan Kebudayaan Baru tidak dapat dipisahkan dari realitas masyarakatnya. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan sejarah dan sosio-politik untuk memahami sastra Cina secara mendalam. Salah satu penulis yang merekam masa transisi dari pemerintahan Dinasti Qing ke Republik dan dianggap sebagai penggagas sastra Cina modern adalah Lu Xun. Dengan pendekatan sosiologi sastra, tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan revitalisasi gagasan berbangsa yang terdapat dalam cerpen “Kǒng Yǐjǐ” (孔乙己) (1919) karya Lu Xun. Tulisan ini akan melibatkan unsur ekstrinsik, yaitu konteks sosial ketika karya tersebut diproduksi. Namun, tulisan ini juga tetap akan menjelaskan analisis pembacaan dekat (close reading) cerpen tersebut untuk memperdalam analisis. Hasil temuan menunjukkan adanya komitmen pengarang untuk menghidupkan kembali ide bangsa yang lepas dari nilai-nilai lama melaui cerpennya. Pudarnya nilai-nilai lama tersebut direpresentasikan secara simbolis melalui tokoh Kong yang hidup di tengah masyarakat Cina.Kata kunci: Lu Xun; bangsa; revitalisasi Chinese literary works in the time of New Cultural Movement are interrelated with the reality of Chinese society at that time. Therefore, the knowledge upon historical aspect and socio-political circumstances are needed to gain deep understanding of a single literary work. One of distinguished author which represent the transition of Qing Dynasty to Republic Era of China and is regarded as the pioneer of modern Chinese literature is Lu Xun. By elaborating sociological approach, this article aims to observe the revitalization of nation’s idea in “Kǒng Yǐjǐ” (孔乙己) (1919) short story by Lu Xun. This article elaborates extrinsic elements that cover social context on which the work is produced. However, close reading analysis is also applied in order to preserve in-depth analysis. This article finds out that the author, through his work, builds a commitment to revitalize the idea of nation which step over traditional values. The degradation of those traditional values symbolically represented through Kong’s life among Chinese society.Keywords: Lu Xun; nation; revitalization 
KRISIS IDENTITAS DALAM CERPEN A PAIR OF JEANS KARYA QAISRA SHAHRAZ Kusumaningrum, Ayu Fitri
POETIKA Vol 7, No 1 (2019): July
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v7i1.43500

Abstract

Multikulturalisme menjadi wacana yang diagung-agungkan di abad 21 karena men-cerminkan kemodernan yang mana pertemuan dan percampuran dua atau lebih kebudayaan dianggap sebagai cerminan masyarakat modern yang terbuka dengan akulturasi. Dewasa ini, multikulturalisme menjadi fenomena yang biasa terjadi di berbagai belahan dunia karena proses migrasi yang terus berlangsung di berbagai negara, salah satunya Inggris (Britania Raya). Berdasarkan sensus pada tahun 2011, tercatat Inggris menjadi rumah bagi delapan belas kelompok etnis berbeda yang tersebar di seluruh penjuru Inggris dan Pakistan adalah salah satu kelompok etnis tersebut, menduduki peringkat ketiga dengan persentase sebanyak 2% dari total populasi di Inggris. Kedelapan belas kelompok etnis ini pun hidup bersama sehingga kebudayaan mereka bertemu dan bercampur dalam ruang multikulturalisme. Multikulturalisme inilah yang kemudian memicu munculnya krisis identitas. Menggunakan karya sastra kontemporer yang diterbitkan pada abad 21, kajian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana krisis identitas tokoh Miriam, seorang perempuan muslim Pakistan yang tinggal di Inggris, digambarkan dalam cerpen “A Pair of Jeans” karya Qaisra Shahraz. Dengan mengaplikasikan metode analisis pascakolonialisme Homi K. Bhabha, kajian ini menemukan bahwa proses hibriditas dan mimikri dalam multikulturalisme dapat menimbulkan ambivalensi yang berupa krisis identitas.Kata Kunci: multikulturalisme; hibriditas; mimikri; ambivalensi; krisis identitas Multiculturalism becomes a glorified discourse in the twenty-first century because it reflects the modernity in which the meeting and mixing of two or more cultures are considered as a reflection of a modern society that is open to acculturation. Today, multiculturalism is a common phenomenon in various parts of the world because of the ongoing process of migration in various countries, one of which is Britain (United Kingdom). According to the 2011 census, it was recorded that Britain was home to eighteen different ethnic groups scattered throughout Britain and Pakistan is one of the ethnic groups, ranking third with 2% of the total population in the UK. These eighteen ethnic groups live together so their cultures meet and are mixed in the space of multiculturalism. This multiculturalism then triggers an identity crisis. Using contemporary literature published in the twenty-first century, this study aims to reveal how Miriam's identity crisis, a Pakistani Muslim woman living in Britain, is described in Qaisra Shahraz’s “A Pair of Jeans”. By applying the method of post-colonialism analysis of Homi K. Bhabha, this study finds that the process of hybridity and mimicry in multiculturalism can lead to ambivalence in the form of identity crisis.Keywords: multiculturalism; hybridity; mimicry; ambivalence; identity crisis  
REPRESENTASI NILAI RELIGI DAN KEPENGARANGAN PUISI-PUISI KARYA TAUFIK ISMAIL Septia, Emil; Marni, Silvia; Armet, Armet
POETIKA Vol 7, No 1 (2019): July
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v7i1.43493

Abstract

Penelitian ini memaparkan representasi nilai religi dalam setiap bait-bait puisi karya Taufik Ismail. Puisi yang bernilai religius dapat digunakan untuk menyadarkan masyarakat (pembaca) untuk selalu bersyukur pada Tuhan Sang Penguasa. Kumpulan puisi Debu di Atas Debu: Kumpulan Puisi Dwi-Bahasa karya Taufik Ismail merupakan catatan-catatan emosional zaman dengan gejolak politik dan sikap bangsa Indonesia. Jenis penelitian ini berupa kualitatif dengan metode analisis isi (content analysis) serta pendekatan sosiologi sastra. Hal ini bertujuan untuk mendeskripsikan kepengarangan Taufik yang terdapat pada representasi nilai religi di setiap bait-bait puisi. Melalui seni pedalangan ketika Taufik bermukim di Yogyakarta dan seni bakaba ketika Taufik pindah ke Bukittinggi yang merupakan bentuk gaya kepengaranan seorang penyair yang dipengaruhi kebudayaan lokal, Taufik ingin menyentuh perasaan pembaca akan representasi nilai religius untuk membentuk karakter bangsa.Kata Kunci: representasi; nilai; religi; kepengarangan; puisi This study describes the representation of religious values in each poetic verse by Taufik Ismail. Religious poetry can be used to make people (readers) aware to always be grateful to God the Lord. A collection of Debu di Atas Debu: Kumpulan Puisi Dwi-Bahasa by Taufik Ismail is an emotional record of the times with political turmoil and the attitude of the Indonesian people. This type of research is qualitative with the method of content analysis and the sociological approach of literature. This is aimed at describing Taufik's authorship in the representation of religious values in each verse of poetry. Through the art of puppetry when Taufik settled in Yogyakarta and bakaba art when Taufik moved to Bukittinggi which was a form of the poet's sound style influenced by local culture, Taufik wanted to touch the readers' feelings about the representation of religious values to shape the nation's character.Keywords: representation; values; religion; authorship; poetry 
POSTMEMORY DALAM NOVEL TAPOL KARYA NGARTO FEBRUANA Assa, Anna Elfira Prabandari
POETIKA Vol 7, No 1 (2019): July
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v7i1.43130

Abstract

Narasi balas dendam yang masih terus direproduksi oleh pihak-pihak yang bertikai semakin membuat rekonsiliasi tragedi ’65 berujung pada kemacetan. Kerelaan untuk sa-ling mengakui kesalahan adalah langkah besar dalam usaha rekonsiliasi. Sayangnya, korban PKI hanya mengingat saat mereka menjadi bulan-bulanan PKI, sebelum Peristiwa G30S. Sementara itu, PKI hanya mengingat pasca-G30S, saat mereka menjadi korban genosida politik. Sebuah novel berjudul Tapol karya Ngarto Februana memotret fenomena tersebut. Pengarang yang tidak pernah mengalami langsung peristiwa ’65 membuat teori postmemory dari Marianne Hirsch cocok diaplikasikan dalam penelitian ini. Februana mendapatkan transmisi afiliatif dari saksi hidup dan buku-buku lain sebagai memori kolektif. Identifikasinya kemudian mewujud dalam tokoh dan narasi dalam novel Tapol. Februana membedakan antara komunisme sebagai ideologi yang membela yang tertindas dan PKI sebagai partai yang berpolitik praktis. Melalui tokoh Mirah, pengarang juga mengkritisi Orde Baru sebagai rezim otoriter yang bukan hanya musuh, tetapi juga semua pihak yang berani menentangnya.Kata Kunci: postmemory; transmisi; memori; identifikasi; PKI; Orde Baru; komunisme The narrative of revenge that is still being reproduced by the conflicting parties increases the stagnation of reconciliation of the '65 tragedy. The willingness to acknowledge each other's mistakes is a big step in reconciliation. Unfortunately, PKI victims only remember when they were the PKI’s targets, before the G30S. Meanwhile, the PKI only remembered the post-G30S, when they were victims of political genocide. A novel titled Tapol by Ngarto Februana captures this phenomenon. Authors who have never experienced directly on '65 tragedy make Marianne Hirsch’s postmemory suitable to be applied. Februana gets affiliative transmission from living witnesses and other books as a collective memory. His identification towards the past then manifests in characters and narratives in Tapol. Februana distinguishes between communism as an ideology that defends the oppressed and the PKI as a party that has practical politics. Through the character Mirah, the author also criticized the New Order as an authoritarian regime that was not only an enemy but also all those who dared to oppose it.Keywords: postmemory; transmition; memory; identification; PKI; Orde Baru; communism
PERSPEKTIF SANTRI DALAM KARYA SASTRA: SEBUAH REPRESENTASI WACANA RELIGIUS-HUMANIS Astutiningsih, Irana; Pujiati, Hat
POETIKA Vol 7, No 1 (2019): July
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v7i1.40902

Abstract

Pesantren  kerap dicurigai sebagai lahan subur penyemai bibit radikalisme yang mengancam keutuhan bangsa dan negara, sejatinya sangat akrab dengan nilai-nilai yang humanis, yang salah satunya direpresentasikan dalam karya sastra pesantren.  Kajian ini membincang representasi wacana religius-humanis dalam sastra pesantren sebagai objek material, berupa tiga cerita pendek berjudul “Di Antara Dua Pilihan”, “Cinta Sejati Itu Tidak Mudah”, dan “Seruas Bingung. Ketiganya” terbit di buletin Tanwirul Afkar, sebuah buletin salah pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Sukorejo, Jawa Timur. Oleh sebab itu, teori representasi Stuart Hall dipakai sebagai alat analisis. Terkait dengan pendekatan konstruksionis model diskursif Foucauldian yang bertitik tekan pada produksi pengetahuan melalui wacana yang melibatkan sistem bahasa, ketiga cerpen dianalisis dengan memetakan wacana religius-Humanis dan dikaitkan dengan latar kontekstual tempat wacana tersebut diproduksi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam sastra pesantren konstruksi wacana religius-humanis dihadirkan melalui nilai- nilai kemanusiaan yang universal, alih-alih terjebak pada dikotomi yang rigid antara benar dan salah, sebagaimana pemahaman yang kerap memicu radikalisme. Nilai religius justru hadir seiring dengan nilai kemanusiaan universal sebagai satu representasi keberpihakan santri penulis terhadap wacana religius-humanis melalui sastra pesantren.Kata Kunci: wacana; pesantren; sastra pesantren; religius-humanis; representasi Pesantren (Islamic Boarding School) is suspected as a fertile place for the radicalism which treat the united nations and states of Indonesia as a republic. As a religious school, pesantren is supposed to be representative for humanism since religion is taken as a living guide for human being. This article discusses representation of religious-humanist discourse in Pesantren Literature as the material object; they are short stories entitled: “Diantara Dua Pilihan”, “Cinta Sejati Itu Tidak Mudah” dan “Seruas Bingung”. The short stories were published in Tanwirul Afkar,a monthly bulletin in Salafiyah Syafi’iyah Islamic Boarding School at Sukorejo, Situbondo, East Java Indonesia. We apply Stuart Hall’s representation theory as a tool to analyze the stories. Focusing on Foucauldian’s discursive method in constructionist model that emphasizes on the knowledge production in discourses through language, we map the contextual background to find out the genealogy of religious-humanist discourse production. The result shows that religious-humanist discourses in Pesantren literary works are presented through universal human values, instead of being trapped in a rigid dichotomy between right and wrong that lead to a radicalism. Religiosity comes along with the universal human values as a representation of santri writers’s partialit on religious-humanist discourse through Pesantren literature.Keywords: discourse; pesantren; pesantren literature; religious-humanist; representation
PENALARAN MORAL ANAK DALAM CERITA PADA MAJALAH BOBO DAN HARIAN KOMPAS Kurniawan, Heru
POETIKA Vol 6, No 2 (2018): December
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v6i2.39017

Abstract

Children's stories in Bobo Magazine and Kompas Daily represent both levels of praconventional and conventional moral reasoning. From these two levels of moral reasoning, there are three stages of a child's moral reasoning, namely moral reasoning for obedience of punishment, relativist-instrument moral reasoning, and moral reasoning of a good child. Of these three moral reasoning, the dominant moral reasoning of children is the relativist-instrument and the orientation of a good child, while obedience reasoning does not dominate. This shows that mutual moral awareness of children is transactional and existential, namely children are conditioned to do good because they want to get a prize, and awareness of their desire to be good children. With the reality of such children's stories, our children who read children's stories wake up to the realization that I am doing good because of the gifts and awareness to be a good child.
PARADOKS NARASI PENYELAMATAN KESEIMBANGAN EKOSISTEM DALAM NOVEL KAILASA KARYA JUSUF AN KAJIAN EKOKRITIK Rini, Widya Prana
POETIKA Vol 6, No 2 (2018): December
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v6i2.40298

Abstract

Abstrak             Penelitian ini membahas karya sastra yang membawa isu alam dan lingkungan tereksploitasi melalui sistem pertanian sebagai sarana merawat bumi. Perusakan lingkungan pertanian Desa Kailasa merupakan pokok permasalahan tokoh Yahya dalam penyelamatan alam dan lingkungan. Adanya gerak komunal petani yang bersifat antroposentris membuka kontestasi untuk mengakses sumber daya alam. Alam dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan besar, baik pihak petani maupun pihak lain yang berkepentingan, akan tetapi tidak ada keseimbangan area pertanian jangka panjang. Melalui sudut pandang ekokritik mencermati narasi penyelamatan ekosistem dalam kontestasi kepentingan ekologis. Penelitian ini menggunakan teori ekokritik yang bertolak pada pandangan Cheryll Goltfelty. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif. Antroposentris membuat alam dan lingkungan Kailasa terdegradasi terlihat dari manusia yang mengekploitasi alam. Teridentifikasi masyarakat Kailasa mengalami pergeseran kesadaran eko ke kesadaran ego, perubahan tersebut dilatarbelakangi oleh hidup yang berorientasi pada materi untuk kepentingan ekonomi. Ada kecenderungan yang mengarah ke kesadaran eko, terlihat pada generasi baru setelah lima belas tahun terjadi kontestasi, akan tetapi hanya berubah pada tanaman polikultur (tanaman carika). Narasi yang diuraikan terlihat mewakili pemikiran ekosentrisme yang melindungi dari kejahatan antroposentris, akan tetapi terdapat paradoks dalam memperjuangkan ekosistem yang direpresentasikan. Teridentifikasi dari masyarakat Kailasa yang tetap menggunakan cara pandang antroposentris walaupun alam dan lingkungan telah mengalami degradasi. Kata Kunci : ekologi,  ekosistem, antroposentris, ekosentris, ekstensifikas, intensifikasi, kontestasi.     Abstract This research discusses a literature that brings the issue about nature and environmental issues exploited by a farming system as means of caring for the earth. Environment represented in the novel entitled Kailasa by Jusuf AN as a form of ecology criticism and how the narrative of ecosystem rescuse in the contestation of ecological. The purpose of this research is to identify environmental damage and what attitude that should be taken as an act of saving nature and the environment in contestation of acosystem diversity. The destruction of the agricultural environment of Kailasa Village is the main issue of Yahya's character in saving nature and the environment. The anthropocentric nature of farmers' communal movements opens contestation to access natural resources. Nature is used to gain big profits, both farmers and other interested parties, but there is no balance of long-term agricultural areas. Through an ecocritical point of view, look at the narrative of saving ecosystems in the contestation of ecological interests. This research uses an ecocritism in literature that depart from the view of Cheryll Goltfelty. The method used is descriptive kualitative to dissect the problem. Anthropocentric make Kailasa nature and environment degraded which can be seen from humans who exploit nature. It is identified that there is a shift of eco to ego consiousness in Kailasa communitty while the change is motivated by material-oriented life for the sake of the economy. After nature is degraded, there is a tendency to back eco consiousness. Seen in the new generation after fifteen years of contestation, but changed on polyculture plants (carica). Narrative described appears to represent the ecocentric thinking that protects evil anthropocentris, but there is a paradox in the struggle for represented ecosystems. It is identefied from Kailasa community that they keep the antrhoposentric perspective though nature and the environment has been degraded.Keywords: ecocritic, ecosistem, antrophocentric, ecocentric, extensification, intencification, contestation.
REALITAS POLITIK PADA ERA RESTORASI MEIJI DALAM NOVEL HANAUZUMI Cahyasari, Intannia; Efendi, Anwar
POETIKA Vol 6, No 2 (2018): December
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v6i2.40140

Abstract

Hanauzumi adalah salah satu bentuk genre karya sastra berupa novel yang menjelaskan perjuangan dan perlawanan Ginko Ogino sebagai tokoh utama perempuan dalam upayanya memenuhi hak-haknya selama era Restorasi Meiji. Penelitian ini bertujuan untuk mencari dan mendeskripsikan wujud realitas politik pada masa pemerintahan Meiji yang banyak dialami tokoh utama, dengan pendekatan Analisis Isi yang terkandung di dalam novel Hanauzumi. Hegemoni kekuasaan yang terjadi pada zaman pemerintahan Shogun tercermin dari praktik politik yang dijalankan dengan menutup Jepang dari pengaruh dunia luar untuk melanggengkan kekuasaannya. Pemerintahan Shogun pada akhirnya tidak bisa mempertahankan kekuasaannya karena dihadapkan dengan kemajuan zaman yang terus berubah. Kemudian muncul era Restorasi Meiji, yaitu diadopsinya pemikiran-pemikiran Barat melalui kebijakan modernisasi negara oleh pemerintah Jepang dengan meniru secara besar-besaran apa yang dilakukan oleh negara Barat dalam membangun negara. Benturan-benturan terkait dengan realita politik pada masa inilah yang sering dialami oleh tokoh utama novel ketika dia berupaya memperoleh hak-haknya sebagai perempuan dan warga negara.
UNBEATEN TRACKS IN JAPAN : LETTER I Tinjauan Women Travellers and Travel Writing Jaya, Akmal
POETIKA Vol 6, No 2 (2018): December
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v6i2.40167

Abstract

This research aims to show the influences of the power of discourse: genre, gender, and colonialism in Unbeaten Tracks in Japan by Isabella Lucy Bird. Some travel writing’s paradigms were used as theoretical background in this research, such Sara Mills and Carl Thompson. As an object of the research, the novel became the source of primary data. Another historical and cultural literary and also literary review of Unbeaten Tracks in Japan as secondary data. The result of the research examined that contestation of discourses implied the way of the author to preserve his stories.
Dekonstruksi Femininitas dalam Novel-novel Karya Eka Kurniawan: Dari Pekerjaan Sampai Kecantikan Zulkarnain, Jaka Ahmad; -, Wiyatmi
POETIKA Vol 6, No 2 (2018): December
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v6i2.40188

Abstract

One of the stereotypes of gender is femininity in which it is closely related to women. Femininity with passive characteristic is constructed to limit their moves. In Eka Kurniawan’s novels, the femininity is unstable. It brings an assumption that he is conducting the femininity deconstruction. This research is aimed to find out and to explain the femininity deconstruction in Eka Kurniawan’s novels.  Three Eka Kurniawan’s novels were chosen as the data source of this research, they were Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, and Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. This research used critical discourse analysis method with post-modern feminism approach. There are seven forms of femininity deconstructions in Eka Kurniawan’s novels such as feminine jobs, feminine images, feminine habits, feminine symbols, feminine principles, feminine desire, and beauty. Femininity deconstruction shows that femininity has strengths and weaknesses. Femininity is conveyed and practiced either by men and women characters in his novels. Through femininity deconstruction, Eka Kurniawan draws images of how femininity is being deconstructed and how the characters in his novels questioning, rejecting, and or making use of femininity.

Page 1 of 12 | Total Record : 116