cover
Contact Name
Rizky Abdulah
Contact Email
r.abdulah@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
editorial@ijcp.or.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia
ISSN : 22526218     EISSN : 23375701     DOI : -
Core Subject :
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy (IJCP) is a scientific publication on all aspect of clinical pharmacy. It published 4 times a year by Clinical Pharmacy Master Program Universitas Padjadjaran to provide a forum for clinicians, pharmacists, and other healthcare professionals to share best practice, encouraging networking and a more collaborative approach in patient care. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy is intended to feature quality research articles in clinical pharmacy to become scientific guide in fields related to clinical pharmacy. It is a peer-reviewed journal and publishes original research articles, review articles, case reports, commentaries, and brief research communications on all aspects of Clinical Pharmacy. It is also a media for publicizing meetings and news relating to advances in Clinical Pharmacy in the regions.
Arjuna Subject : -
Articles 452 Documents
EVALUASI KUALITAS HIDUP PASIEN PARKINSON BERDASARKAN TERAPI BERBASIS LEVODOPA Oktariza, Yasinda; Amalia, Lia; Sobaryati, Sobaryati; Kurniawati, Media Y.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2019.8.4.246

Abstract

Levodopa telah menjadi pilihan utama dalam pengobatan penyakit Parkinson selama lebih dari 40 tahun. Pemberian levodopa sering dikombinasi dengan obat lain untuk meningkatkan bioavailabilitas maupun efektivitasnya. Namun, di sisi lain, penggunaan levodopa dalam jangka panjang dapat menyebabkan efek samping berupa komplikasi motorik yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan terapi levodopa dan kombinasi terhadap kualitas hidup serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang. Subjek penelitian adalah pasien Parkinson rawat jalan di Poliklinik Saraf RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUD Cibabat Cimahi, dan RSAU Dr. Salamun Bandung pada periode Juli?Desember 2018. Pengukuran kualitas hidup dilakukan terhadap 33 subjek penelitian yang menerima terapi kombinasi dengan levodopa menggunakan kuesioner The 39-item Parkinson?s Disease Questionnaire (PDQ-39) versi bahasa Indonesia. Analisis dilakukan dengan membandingkan rata-rata skor total PDQ-39 antarkelompok pada masing-masing variabel. Perbandingan nilai skor total PDQ-39 dianalisis dengan uji T tidak berpasangan dan uji one way ANOVA untuk melihat adanya perbedaan skor PDQ-39 antarkelompok variabel. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat perbedaan rata-rata skor total PDQ-39 antarkelompok terapi kombinasi dengan levodopa (p=0,262). Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel yang secara independen berkorelasi dengan kualitas hidup adalah aktivitas olahraga (r=0,233), tingkat keparahan penyakit (r=0,464), dan komplikasi motorik (r=0,329). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kualitas hidup pasien Parkinson tidak dipengaruhi oleh jenis pengobatan, namun dipengaruhi secara independen oleh aktivitas olahraga, tingkat keparahan penyakit, dan komplikasi motorik.Kata kunci: Komplikasi motorik, kualitas hidup, levodopa, Parkinson Evaluation of Health-related Quality of Life in Patients with Parkinson?s Disease: A Levodopa-based Therapy ApproachAbstractLevodopa has been the golden choice in the treatment of Parkinson?s disease (PD) for more than 40 years. The administration of levodopa is often combined with other drugs to increase its bioavailability and effectiveness. However, long-term use of levodopa has been proven to cause side effects of motor complications that may reduce health-related quality of life (HRQoL). The purpose of this study was to determine the effect of levodopa with combination therapy on HRQoL and identify factors related to quality of life. This study was conducted by a cross-sectional design. The research subjects were out-patients with PD in Arifin Achmad Pekanbaru Hospital, Dr. Hasan Sadikin Bandung Hospital, Cibabat Cimahi Hospital, and Dr. Salamun Bandung Hospital during the period of July to December 2018. Thirty-three subjects with minimum one year of treatment containing levodopa were assessed using an Indonesian-translated version of The 39-item Parkinson?s Disease Questionnaire (PDQ-39). Mean score of PDQ-39 between treatments were calculated and the subgroup analyses (by baseline characteristics and occurrence of adverse events) were conducted using the same approach. The comparation of mean score of PDQ-39 were analysed statistically using independent T-test and one way ANOVA. Bivariate analysis revealed there was no significant changes in mean score of PDQ-39 between treatment with levodopa combination (p=0.262). Based on the result of multivariate analysis, variables that independently correlated to patient?s quality of life were exercise (r=0.233), severity (r=0.464), and motor complications (r=0.329). Results suggest that total HRQoL in patients with PD was not significantly affected by variation of treatment but independently correlated to exercise, disease severity, and motor complications.Keywords: Levodopa, motor complications, Parkinson?s disease, quality of life
EFIKASI AFATINIB DAN GEFITINIB PADA PASIEN NON-SMALL CELL LUNG CANCER EGFR MUTASI POSITIF: TINJAUAN SISTEMATIS Sari, Seftika; Andayani, Tri M.; Endarti, Dwi; Widayati, Kartika
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2019.8.4.289

Abstract

Tyrosine kinase inhibitors (TKIs) telah direkomendasikan oleh National Comprehensive Cancer Network (NCCN) sebagai terapi lini pertama pada pasien non-small cell lung cancer (NSCLC) dengan mutasi EGFR, yaitu gefitinib (generasi pertama) dan afatinib (generasi kedua). Beberapa penelitian telah dilakukan terkait efikasi golongan TKIs ini, namun masih sedikit yang melakukan tinjauan sistematis (systematic review) secara khusus pada afatinib dan gefitinib. Systematic review ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara komprehensif terkait efikasi afatinib dan gefitinib sebagai terapi lini pertama. Database yang digunakan untuk mengidentifikasi studi yang relevan yaitu Science Direct, PubMed dan Google Scholar. Penelitian ini terbatas pada penelitian randomized control trial, penggunaan afatinib dan gefitinib sebagai terapi lini pertama, penggunaan afatinib dan gefitinib secara monoterapi serta artikel yang menggunakan bahasa Inggris. Penelusuran berbasis data elektronik menghasilkan 2089 artikel; 48 artikel yang sudah sesuai dengan judul dan abstrak, namun hanya 8 artikel yang sesuai dengan inklusi yang ingin ditinjau. Secara umum efikasi afatinib dan gefitinib lebih unggul dibandingkan kemoterapi berbasis platinum, dapat dilihat dari progression free survival dari kedua obat ini yang lebih lama dibandingkan kemoterapi berbasis platinum. Walaupun nilai overall survival-nya tidak begitu lebih baik, afatinib dapat memperlambat perkembangan tumor lebih baik dibandingkan gefitinib. Efek samping yang sering terjadi pada afatinib dan gefitinib yaitu ruam dan diare, sedangkan neutropenia, mual, anemia sering terjadi pada penggunaan kemoterapi berbasis platinum. Afatinib dan gefitinib memberikan efikasi yang lebih baik dibandingkan kemoterapi berbasis platinum, namun afatinib memiliki efikasi yang lebih unggul dibandingkan gefitinib dalam pengobatan lini pertama pada pasien NSCLC dengan mutasi EGFR.Kata kunci: Afatinib, efikasi, gefitinib, non-small cell lung cancer  Afatinib and Gefitinib Efficacy on Non-small Cell Lung Cancer EGFR Mutation Patients: A Systematic Review AbstractTyrosine kinase inhibitors (TKIs) have been recommended by the National Comprehensive Cancer Networks (NCCN) as first-line therapy in non-small cell lung cancer (NSCLC) with EGFR mutation, namely gefitinib (first generation) and afatinib (second generation). Several studies have been conducted related to the efficacy of these TKIs, but few have conducted systematic reviews specifically afatinib and gefitinib. This systematic review aimed to provide a comprehensive overview of the efficacy of gefitinib and afatinib as first-line therapy. To identify the relevant studies, it used several databases such as Science Direct, PubMed, and Google Scholar. The review was limited to the randomized control trial study, the use of afatinib and gefitinib as first-line therapy, the use of afatinib and gefitinib as monotherapy, and articles written in the English language. An electronic data-based search identified 2089 articles; 48 articles matched the title and abstract, yet only 8 articles met the inclusion to be reviewed. In general, the efficacy of afatinib and gefitinib is more effective than platinum-based chemotherapy as showed that the progression-free survival of these medications is longer than platinum-based chemotherapy. Although the overall survival value is not better than platinum-based chemotherapy, afatinib inhibits the tumor growth better compared to gefitinib. Common side-effects in afatinib and gefitinib include rashes and diarrhea, while neutropenia, nausea, and anemia commonly occur in platinum-based chemotherapy. Afatinib and gefitinib offer better efficacy compared to platinum-based chemotherapy. Specifically, the afatinib has greater efficacy compared to gefitinib in first-line therapy for patient with NSCLC EGFR mutation.Keyword: Afatinib, efficacy, gefitinib, non-small cell lung cancer
HUBUNGAN PEMILIHAN OBAT DAN KEBERHASILAN TERAPI PASIEN RHEUMATOID ARTHRITIS Savitri, Shifa A.; Kartidjo, Pudjiastuti; Rahmadi, Andri R.; Vikasari, Suci N.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2019.8.4.237

Abstract

Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit autoimun yang ditandai inflamasi kronik sistemik dan menyerang berbagai jaringan terutama sendi. Pertimbangan utama dalam pemilihan jenis obat RA adalah keberhasilan terapi dan efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan pemilihan jenis obat dan keberhasilan terapi RA pada pasien rawat jalan di salah satu rumah sakit di Bandung. Penelitian ini bersifat analitik cross-sectional, dimulai dengan mengumpulkan data secara retrospektif pada 30 pasien usia produktif yang melakukan terapi RA selama tiga bulan menggunakan metilprednisolon, metotreksat, kombinasi keduanya, atau dengan obat lain. Evaluasi keberhasilan terapi dilakukan dengan membandingkan keberhasilan perbaikan nilai Disease Activity Score 28 (DAS28) sebelum dan setelah terapi, dan monitoring efek samping dilihat dari kadar hemoglobin, laju endap darah, jumlah trombosit, dan leukosit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90% pasien yang berobat memperoleh terapi metilprednisolon tunggal dan/atau kombinasi dengan metotreksat atau Disease-modifying Antirheumatic Drugs (DMARDs) lain. Pasien yang menerima metilprednisolon tunggal dan metotreksat tunggal mengalami penurunan nilai DAS28 sebanyak 26,8% dan 15,4% jika dibandingkan dengan kondisi awal (sebelum terapi). Pasien yang menggunakan kombinasi metotreksat, metilprednisolon, dan DMARDs lain mengalami peningkatan kadar hemoglobin tertinggi sebesar 3,51% dan penggunaan metotreksat tunggal dapat meningkatkan kadar hemoglobin sebesar 2,42%. Pasien yang menerima metotreksat tunggal mengalami penurunan nilai laju endap darah tertinggi sebesar 38,46%, penurunan trombosit tertinggi sebesar 27,16%, serta penurunan leukosit tertinggi sebesar 48,80%. Dapat disimpulkan bahwa meskipun sebagian besar pasien menerima terapi metilprednisolon tunggal dan/atau kombinasi dengan obat DMARDs lain, terapi menggunakan metotreksat tunggal masih merupakan pilihan utama untuk mencegah terjadinya remisi dan menurunkan risiko efek samping.Kata kunci: DAS28, metilprednisolon, metotreksat, rheumatoid arthritis Correlation between Drug Selection and Therapeutic Goals of Rheumatoid Arthritis PatientsAbstractRheumatoid arthritis (RA) is an autoimmune disease characterized by chronic systemic inflammation and attacks various tissues, especially the joints. The main consideration in choosing the type of RA drug is the success of therapy and side effects. This study aimed to evaluate the relationship between drug selection and the success of RA therapy in outpatients in a hospital in Bandung. The study was a cross-sectional analytic study, starting with collecting data retrospectively on thirty productive age patients who had three-month RA therapy using methylprednisolone, methotrexate, a combination of both or with other drugs. Evaluation of the success of therapy was done by comparing the success of the improvement of Disease Activity Score 28 (DAS28) values before and after therapy, and monitoring of side effects was seen from hemoglobin levels, blood sludge rate, platelet counts, and leukocytes. The results showed that 90% of patients seeking treatment received single and/or combination methylprednisolone therapy with methotrexate or other Disease-modifying Antirheumatic Drugs (DMARDs). Patients who received a single methylprednisolone and a single methotrexate experienced a decrease in DAS28 values of 26.8% and 15.4% compared to the beginning (before therapy). Patients who used a combination of methotrexate, methylprednisolone, and other DMARDs experienced the highest increase in hemoglobin level of 3.51% and the use of a single methotrexate could increase hemoglobin levels by 2.42%. Patients who received a single methotrexate experienced a decrease in the value of the highest blood sludge rate of 38.46%, the highest decrease in platelets of 27.16%, and the highest decrease in leukocytes of 48.80%. It can be concluded that although most patients received methylprednisolone therapy alone and/or in combination with other DMARDs, therapy using single methotrexate was still the main choice to prevent remission and reduce the risk of side effects.Keywords: DAS28, methylprednisolone, metothrexate, rheumatoid arthritis
Ganoderma lucidum Polysaccharide Peptide (GLPP) for the Cancer Treatment Rasjidi, Imam; Susanto, Christine
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.827 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.2.120

Abstract

Ganoderma lucidum mushroom (also known as Ling Zhi in China, Mannetake /Reishi in Japan) has been widely used for thousands of years to prevent and treat various diseases, such as heart disease, diabetes mellitus, viral infection, and cancer. Polysaccharides from Ganoderma lucidum has been extensively investigated for free radical scavenging activity. Both in vivo and in vitro studies suggest that G. lucidum have anti-tumor effects, which mediated by its immunomodulatory, anti-angiogenesis, and cytotoxiceffects. Ganoderma lucidum polysaccharide peptide (GLPP) which extracted from Ganoderma lucidum mycelium tissue culture, give the best quality of β-D-Glucans bioactive compounds. These biologically active glucans interact with receptors on the surface of immune cells such as macrophage and natural killer cell (NK cell) to induce immunomodulatory and tumoricidal effects. However, many studies still need to answer those mechanisms.Key words: Anti-tumor effects, β-Glucan, Ganoderma lucidum, GLPP, immunomodulatory activityGanoderma lucidum Polysaccharide Peptide (GLPP)untuk Terapi KankerJamur Ganoderma lucidum (dikenal juga dengan nama Ling Zhi di China, atau disebut sebagai Mannetake/Reishi di Jepang) telah dimanfaatkan secara luas selama ribuan tahun untuk mencegah dan mengobati beragam penyakit, seperti penyakit jantung, diabetes melitus, infeksi virus, bahkan kanker. Polisakarida dari Ganoderma lucidum telah banyak diteliti untuk aktivitas radikal bebasnya. Baik studi in vivo maupun in vitro menyatakan G. lucidum memiliki efek anti tumor, yang dimediasi oleh aktivitas imunomodulator, anti-angiogenesi, dan sitotoksik. Ganoderma lucidum polysaccharide peptide (GLPP) yang diekstrak dari kultur jaringan miselium Ganoderma lucidum memberikan kualitas terbaik dari senyawa bioaktif β-D-glucans. Senyawa bioaktif glukans ini yang berinteraksi dengan reseptor di permukaan sel-sel imun, seperti makrofag dan NK cell yang dipercaya memberikan efek imunomodulator dan tumorisidal. Meskipun masih diperlukan banyak studi lanjutan untuk menjawab mekanisme dari GLPP.Kata kunci: Anti-tumor, β-Glucan, GLPP, Ganoderma lucidum, imunomodulator
Analisis Kejadian Leukositosis Pasca Terapi Aminofilin Intravena Dibandingkan dengan Salbutamol Nebulasi pada Pasien Eksaserbasi Asma Lorensia, Amelia; Ikawati, Zullies; Andayani, Tri M.; Maranatha, Daniel; Wahjudi, Mariana
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.986 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.3.149

Abstract

Salbutamol adalah terapi lini pertama untuk mengatasi gejala eksaserbasi asma. Aminofilin sudah tidak digunakan karena merupakan obat rentang terapi sempit yang sering menimbulkan adverse drug reaction (ADR). Kedua terapi tersebut dapat menimbulkan peningkatan kadar leukosit terkait ADR yang dapat memengaruhi terapi lain. Penelitian ini bertujuan membandingkan kejadian leukositosis antara terapi salbutamol nebulasi yang merupakan terapi lini pertama dengan aminofilin intravena yang sering digunakan di beberapa tempat untuk terapi eksaserbasi asma. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimental dengan pengukuran profil leukosit darah sebelum dan sesudah intervensi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2014–Juni 2015 di beberapa rumah sakit di Surabaya, Indonesia. Kejadian leukositosis terkait ADR pada kelompok aminofilin (n=2) dengan nilai skala naranjo sebesar 6 poin yang kemungkinan besar merupakan ADR. Perubahan profil darah yang terjadi pada kedua pasien hanya pada kadar leukosit saja sedangkan data darah lainnya normal. Oleh karena itu, profil darah pada penggunaan kedua terapi dalam eksaserbasi asma perlu dipantau secara berkesinambungan agar tidak memengaruhi rekomendasi penambahan terapi lainnya.Kata kunci: Aminofilin, eksaserbasi asma, leukositosis, salbutamolPost-Therapy Leukocytosis Events After Intravenous Aminophylline Compared to the Nebulized Salbutamol in Asthma Exacerbations Patients Salbutamol known as the first-line therapy for asthma exacerbations symptoms relieving. Aminophylline are now no longer used because of its narrow therapeutic range of drugs and frequently provoking adverse drug reaction (ADR). Both of these therapies can lead to ADR-related leukocytes level increasing that interfere the concurrent therapies. This study was aimed to compare the state of leukocytosis after therapy with salbutamol nebulizer therapy as the first-line therapy with intravenous aminophylline for the treatment of asthma exacerbations. Quasi experimental method was used in this study, with blood leukocytes profile measure before and after the intervention body temperature measurement as data supplement. This research was conducted in January 2014–June 2015 at several hospitals in Surabaya, Indonesia. The incidence of ADRs associated leukocytes in aminophylline group (n=2) with a value scale naranjo by 6 points, most likely ADR. Significant difference found only in leukocyte level in two patient. More biomarkers profiles should be monitored assording to concurrent therapies for asthma exacerbation.Keywords: Aminophyiline, asthma exacerbation, leukocytosis, salbutamol
Health-Related Quality of Life of Type 2 Diabetes Mellitus Outpatients at Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta, Indonesia: An Insulin-Based Therapy Approach Lolita, Lolita; Andayani, Tri M.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.595 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.4.231

Abstract

Diabetes mellitus type 2 is a lifelong disease which needs an intensive therapy to maintain stable blood sugar levels. Insulin has been proven as an effective treatment modality for type 2 diabetes mellitus patient. The main aim of this research was to evaluate the effect of insulin based therapy (insulin monotherapy-combination therapy of insulin with oral hypoglycemic agents) towards the health related quality of life in type 2 diabetes mellitus outpatient at Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta. This study is a descriptive cross-sectional study design without control. The methods of collecting data includes conducting questionnaires, interviews and examining medical records of patient. Data were taken concurrently from patients who visited Endocrinology Clinic of Dr. Sardjito Hospital from July 2012 until April 2013. Inclusion criteria for the participant were as follows: participant was a type 2 diabetes mellitus outpatient with insulin based therapy, had no languange barrier and was able to participate the study. Participants were excluded in this study if they had a mental and language retardation, uncomplete medical records, and was a pregnant woman. The quality of life was measured by Diabetes Quality of Life Clinical Trial Quessionnaire (DQLCTQ). The statistical analysis used in this study was Mann‑Whitney for QoL analysis based on the type of therapy (insulin monotherapy and combination therapy of insulin-oral hypoglycemic agents). The results from 137 patients shown that patients who received combination therapy had the largest percentage (73%) while the smallest percentage (27%) were single therapy. Whereas, the type of therapy (insulin monotherapy-combination therapy of insulin with oral hypoglycemic agent) significantly influenced the energy domain (p=0,027).Keywords: Health related quality of life, insulin based therapy, type 2 diabetes mellitusKualitas Hidup Terkait Kesehatan dari Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, Yogyakarta, Indonesia: Suatu Pendekatan Terapi Berbasis InsulinDiabetes melitus tipe 2 adalah penyakit yang membutuhkan terapi intensif seumur hidup untuk menjaga kestabilan kadar gula darah. Insulin terbukti menjadi salah satu modalitas pengobatan yang efektif bagi pasien diabetes melitus tipe 2. Tujuan utama penelitian ini adalah mengevaluasi perbedaan terapi berbasis insulin (terapi insulin dengan atau tanpa agen hipoglikemik oral) terhadap domain kualitas hidup terkait kesehatan pada pasien rawat jalan diabetes melitus tipe 2 di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional tanpa kontrol. Metode pengumpulan data meliputi wawancara, pengambilan kuesioner dan pemeriksaan rekam medis pasien. Data diambil secara konkuren terhadap pasien yang berkunjung ke Polikinik Endokrinologi RSUP Dr. Sardjito mulai bulan Juli 2012 sampai April 2013. Kriteria inklusi antara lain penderita rawat jalan tipe 2 dengan terapi berbasis insulin, tidak memiliki keterbatasan bahasa dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Kriteria eksklusi meliputi pasien yang mengalami keterbelakangan mental dan bahasa, catatan medis yang tidak lengkap dan wanita hamil. Pengukuran kualitas hidup menggunakan kuesioner dari Diabetes Quality of Life Clinical Trial Quessionnaire (DQLCTQ). Analisis statistik perbedaan jenis terapi berbasis insulin terhadap domain kualitas hidup pasien menggunakan uji statistik Mann-Whitney. Diperoleh responden sebanyak 137 orang di mana 73% pasien memperoleh terapi kombinasi sedangkan sisanya 27% mendapatkan terapi tunggal yang berbasis insulin. Kesimpulan penelitian ini yaitu perbedaan jenis terapi (monoterapi insulin versus kombinasi insulin dengan agen hipoglikemik oral) secara signifikan memengaruhi domain energi pada kualitas hidup (p=0,027).Kata kunci: Kualitas hidup terkait kesehatan, terapi berbasis insulin, diabetes melitus tipe 2
Kontrol Glikemik dan Prevalensi Gagal Ginjal Kronik pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Wilayah Provinsi DIY Tahun 2015 Ningrum, Vitarani Dwi Ananda; Ikawati, Zullies; Sadewa, Ahmad Hamim; Ikhsan, Mohammad Robikhul
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.312 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.2.78

Abstract

Pengendalian glikemik yang baik pada diabetes melitus tipe 2 (DMT2) terbukti dapat mencegah penyakit komplikasi akibat DMT2. Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan primer merupakan garda terdepan yang diharapkan dapat memberikan pelayanan pengelolaan DMT2 dengan baik untuk mencegah penyakit komplikasi seperti penyakit gagal ginjal kronik (GGK). Kejadian GGK yang seringkali tanpa gejala spesifik serta keterbatasan pemeriksaan diagnostik di puskesmas menyebabkan keterlambatan diagnosa GGK maupun pengelolaan terapi yang sub-optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontrol glikemik dan kejadian GGK pada pasien DMT2 di puskesmas serta faktor pasien yang memengaruhi kontrol glikemik dan kejadian GGK. Penelitian potong-lintang pada 6 puskesmas di Yogyakarta tahun 2015 ini melibatkan pasien DMT2 dewasa tanpa riwayat gagal hati kronik. Parameter kontrol glikemik menggunakan Glukosa-Darah-Puasa (GDP), Glycated-Albumin (GA), atau hemoglobin terglikasi (HbA1C), sedangkan nilai eLFG digunakan sebagai dasar klasifikasi GGK. Sebanyak 101 pasien dengan rata-rata usia 50,75±6,73 tahun terlibat dalam penelitian. Kontrol glikemik kategori baik ditemukan hanya pada 13,86% pasien, sedangkan 12,87% pasien mengalami GGK. Tidak ada faktor pasien yang memengaruhi kontrol glikemik. Sementara itu, usia dan durasi DMT2 berkorelasi dengan kejadian GGK (p<0,01). Berdasarkan penelitian ini, kontrol glikemik yang buruk dapat meningkatkan kemungkinan kejadian GGK sebesar 63,64%. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan DMT2 maupun pencegahan GGK yang lebih baik termasuk penyediaan fasilitas pemeriksaan yang memadai untuk meminimalkan kejadian clinical inertia di puskesmas.
Analisis Penyebaran dan Genotipe Rubela di Jawa Barat Tahun 2011–2013 Hardiana, Acep T.; Raksanagara, Ardini S.; Judistiani, Rd. Tina D.; Widhiastuti, Dyah; Bachtiar, Novilia S.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.075 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.1.1

Abstract

Penyakit rubela menyebar di seluruh dunia dan berbahaya bagi ibu hamil karena dapat menyebabkan abortus, kematian janin atau sindrom rubela kongenital (congenital rubella syndrome/CRS) hingga 90%. Penyebaran dan identifikasi genotipe rubela di Indonesia penting untuk memastikan adanya virus endemis atau importasi yang menyebar di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran dan genotipe rubela di Jawa Barat dalam upaya pencegahan yang efektif. Penelitian ini dilakukan dengan memeriksa sampel urin penderita suspect campak menggunakan protokol WHO melalui tahapan isolasi pada sel vero, uji PCR, uji sekuensing, dan analisis hasil sekuensing. Sampel diambil dari program surveilans campak-rubela nasional pada tahun 2011 ̶ 2013. Sebanyak 251 sampel urin yang diperiksa, diperoleh hasil sebanyak 32 sampel (12,7%) positif. Sebanyak 28 kasus (87,5%)merupakan genotipe 1E sedangkan sisanya 4 kasus (12,5%) merupakan genotipe 2B. Penyebaran virus rubela terutama terjadi di Kabupaten Kuningan, Garut, Tasikmalaya, Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kota Tasikmalaya. Pencegahan penyebaran penyakit rubela dan surveilans CRS di wilayah endemis perlu menjadi prioritas untuk memutus rantai penularan.Kata kunci: Genotipe rubela 1E, genotipe rubela 2B, epidemiologi rubela Distribution and Genotypic Analysis of Rubella Virus in West Java on 2011–2013Rubella spreads around the world and dangerous especially for pregnant women because it can cause abortion, fetal death or congenital rubella syndrome (CRS) almost 90% cases. Spread and identification of rubella genotypes in Indonesia is important to ensure the indigenous or importation virus. The purpose of this study was to determine the rubella genotype distribution and spread in West Java in  effective prevention efforts. This study was conducted by examining the urine samples of suspect measles patients using WHO protocol through the virus isolation in vero cells, PCR, DNA sequencing, and analysis of the sequencing results. Samples taken from the measles-rubella surveillance program nationwide in 2011 ̶ 2013. Of the 251 urine samples were examined, 32 samples (12.7%) were positive. A total of 28 cases (87.5%) were genotype 1E while the remaining 4 cases (12.5%) were genotype 2B. Rubella virus spread primarily occurs in District of Kuningan, Garut, Tasikmalaya, Bandung City, Cimahi City, andTasikmalaya City. Prevention of the rubella diseases and CRS surveillance in endemic areas should be priority task to break the chain of transmission.Key words: Rubella genotype 1E, rubella genotype 2B, rubella epidemiology
Sterilitas Instrumen Pakai Ulang di Ruang Penyimpanan Unit Luka Bakar (ULB) Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung Kurniawansyah, Insan S.; Warya, Sohadi; Rahayu, Hegandari S.; Putri, Dionice L. Y.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.02 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.2.98

Abstract

apabila sterilitasnya tidak terjaga. Proses penyimpanan dan perlakuan terhadap instrumen pakai ulang adalah faktor utama dalam menjaga sterilitas instrumen. Prevalensi infeksi nosokomial di ruang unit luka bakar (ULB) salah satu rumah sakit di Kota Bandung ternyata cukup tinggi sehingga dilakukan penelitian mengenai sterilitas instrumen pakai ulang yang disimpan di ruangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk dapat menekan angka kejadian infeksi nosokomial, yang salah satunya disebabkan oleh tidak sterilnya instrumen pakai ulang yang digunakan di ruang penyimpanan ULB yang akhirnya dapat menjamin keamanan atau keselamatan pasien. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional laboratorik dengan tahapan yaitu penyiapan alat, bahan dan ruangan, pengujian sampel penelitian, dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang penyimpanan ULB berpengaruh secara signifikan terhadap sterilitas instrumen pakai ulang, ruang CSSD 15,47 kali lebih steril dibanding ruang ULB. Adapun pengaruh lama penyimpanan terhadap sterilitas instrumen pakai ulang diketahui bahwa semakin lama waktu penyimpanan maka sterilitas instrumen semakin berkurang. Pihak rumah sakit diharapkan melakukan penyimpanan dan penggunaan instrumen di ULB tidak lebih dari tujuh hari sebagai usaha dalam mengurangi kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit.Kata kunci: Infeksi nosokomial, instrumen pakai ulang, uji sterilitas, unit luka bakar (ULB)The Reusable Instrument Sterilities Stored in the Burn Care Unit at a Hospital in BandungReusable instruments may be a vector for the transmission of nosocomial infections if found contaminated or the sterility are not maintained. The process of storage and treatment towards the reusable instruments are the crucial factors to ensure the sterility of the reusable instruments. The prevalence of nosocomial in the Burns Unit (BU) at a Hospital in Bandung reveals outstanding values and thus has been chosen for this research. This research aimed to suppress the incidence of nosocomial infections, one of which is caused by not sterile of reusable instruments in the storage space BU which can get patient safety ultimately. The laboratory observational was used for this research with steps are preparing tools, materials and test room, sample test, and data analysis. The results found that the storage area in BU had a significant effect on the sterility of the instruments and it was deduced that the CSSD was 15.47 times more sterile than Burns Unit. Time of storage also affected the sterility of the instruments as it was found that the longer the storage time, the possibility of the reusable instruments remaining sterile are decreased. The hospital is expected to keep the instrument in ULB not more than seven days to efforts in reducing the incidence of nosocomial infections in hospitals.Key words: Burns unit (BU), nosocomial infection, reusable instrument, sterility test
Kompatibilitas Pencampuran Sediaan Parenteral di Bangsal Bedah Saraf RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Maharani, Laksmi; Astuti, Aris W.; Achmad, Anisyah
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.209 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2014.3.1.1

Abstract

Pencampuran sediaan parenteral (iv admixture) yang sudah dilaksanakan secara umum di rumah sakit mempunyai kemungkinan terjadinya kegagalan baik berupa inkompatibilitas obat maupun gangguan stabilitas obat. Penelitian ini bertujuan mengetahui angka inkompatibilitas obat dalam pencampuran sediaan parenteral di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto yang mengalami inkompatibilitas fisika yang teramati secara organoleptis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif prospektif. Data yang telah dikumpulkan lalu dianalisis secara deskriptif. Dari 667 pencampuran sediaan parenteral di bangsal bedah saraf RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo selama bulan Februari 2010, dapat disimpulkan angka inkompatibilitas potensial sebesar 0,45% dan inkompatibilitas aktual sebesar 2,55%. Inkompatibilitas aktual yang terjadi berupa kristal 0,17%, endapan 0,17%, dan kabut sementara 2,04% pada pencampuran fenitoin dengan NaCl atau ringer laktat.Kata kunci: Bedah saraf, inkompatibilitas, iv admixtureParenteral Admixture Compatibility in Neurosurgery Ward in Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional Public HospitalParenteral admixtures (intravenous admixtures) have been done commonly in hospitals. However, it has a possibility of failures, like incompatibilities and changes in drug stabilities. The aim of this study was to determine the rate of drug incompatibilities in mixing parenteral preparations in neurosurgery ward in Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional Public Hospital which undergo physical incompatibility  observed in organoleptic. This study was a prospective descriptive research for one month period. Data were collected and analyzed descriptively. The results showed that from 667 parenteral admixtures in neurosurgery ward in Prof Dr Margono Soekarjo Hospital in February 2010, there were 0.45% potential incompatibility and 2.55% actual incompatibility happened. Actual incompatibility shown as crystal 0.17%, sediment 0.17%, and 2.04% was non-permanent haze in phenytoin and sodium chloride or ringerlactate admixtures.Key words: Incompatibility, iv admixture, neurosurgery

Page 1 of 46 | Total Record : 452