cover
Contact Name
AAhmad Zainul Hamdi
Contact Email
ahmadinung@gmail.com
Phone
+6281931787511
Journal Mail Official
religio@uinsby.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani 117 Surabaya, 60237 JAWA TIMUR - INDONESIA
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Religio : Jurnal Studi Agama-agama
ISSN : 20886330     EISSN : 25033778     DOI : 10.15642/religio
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal yang mengeksplorasi gagasan kreatif dan solutif seputar tema agama dan sosial-budaya. Selain sebagai wahana sosialisasi, jurnal Religio diharapkan bisa menjadi ruang publik (public sphere) bagi masyarakat, khususnya bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi. Substansi isi tulisan jurnal, lebih menitikberatkan pada agenda pengembangan pola pikir keberagamaan yang moderat, yang berpijak pada nilai-nilai demokrasi, pluralisme, multikulturalisme dan toleransi agama. Jurnal Religio didedikasikan untuk mewujudkan paradigma masyarakat agama yang harmonis, pluralis dan transformatif, baik dalam konteks lokal, nasional maupun internasional. Dengan demikian, kehadiran di tengah-tengah masyarakat, diharapkan dapat bermanfaat bagi pencapaian cita-cita bersama, yaitu membangun kehidupan beragama yang menjunjung tinggi nilai-nilai persamaan, keadilan dan perdamaian.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2016): September" : 6 Documents clear
MODEL TOLERANSI DALAM EKSEGESE KHOTBAH AREOPAGUS Mba, Deni Alfian
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 6 No. 2 (2016): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.931 KB) | DOI: 10.15642/religió.v6i2.599

Abstract

This article is a literature research on tolerance model through the exegesis of Areopagus sermon. Having known the exact model of tolerance, someone will be able to tolerate correctly. Given one source of intolerance is a misinterpretation of the teachings of the scriptures, this article invites the reader to examine the tolerance source from the interpretation of the Bible. This article focuses on two things: (1) the doctrine of a model of tolerance; and (2) the techniques of interpretation of Scripture in the Catholic religion exegetical analysis. For this purpose, the authors chose Areopagus sermon text mentioned in the book of Acts chapter 17 verse 22 to verse 34. By explaining the exegesis of those verses, this article aims to find a model precise tolerances. The text itself tells about the story of Paul?s sermon, a preacher of the early Christianity, brought before the Court Areopagus in Athens Greece. Based on the analysis of exegesis is known that the model of tolerance shown in this story is a model of tolerance active. Paul could communicate well with his audience coming from different social and cultural background. Apparently, he succeeded to deliver his ideas and teaching accurately by utilizing a good knowledge about the social and cultural situation of Athens. [Artikel ini merupakan penelitian literatur pada model toleransi melalui penafsiran dari khotbah Areopagus. Setelah diketahui model toleransi yang tepat, seseorang akan mampu bertoleransi dengan cara yang benar. Mengingat salah satu sumber intoleransi adalah salah tafsir ajaran kitab suci, artikel ini mengajak pembaca untuk meneliti sumber toleransi dari penafsiran Alkitab. Artikel ini berfokus pada dua hal: (1) doktrin model toleransi; dan (2) teknik penafsiran kitab suci dalam tradisi Katolik, yakni analisis eksegese. Untuk tujuan ini, penulis memilih teks khotbah Areopagus yang terdapat dalam Kitab Kisah Para Rasul Pasal 17 ayat 22 sampai ayat 34. Dengan menjelaskan penafsiran ayat-ayat, artikel ini bertujuan untuk menemukan model toleransi yang tepat. Teks itu sendiri menceritakan tentang kisah khotbah Paulus, seorang pengkhotbah dari Kekristenan awal, yang dibawa ke Mahkamah Areopagus di Athena Yunani. Berdasarkan analisis eksegese diketahui bahwa model toleransi yang ditunjukkan dalam cerita ini adalah model toleransi aktif. Paulus bisa berkomunikasi dengan baik dengan para pendengarnya yang berasal dari latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Rupanya, ia berhasil menyampaikan ide-ide dan ajarannya secara akurat dengan memanfaatkan pengetahuan yang baik tentang situasi sosial dan budaya dari Athena
A SOCIOLOGICAL BREAKTHROUGH OF INTERRELIGIOUS ENGAGEMENT IN EVERYDAY-SYMBOLIC INTERACTION PERSPECTIVES Lattu, Izak
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 6 No. 2 (2016): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.112 KB) | DOI: 10.15642/religió.v6i2.601

Abstract

This article explores the symbolic interaction, interfaith daily in Indonesia and beyond. The question of how one can live peacefully in a multireligious environment that has colored a discussion about interfaith engagement in many regions of the world. This article begins with a discussion of interfaith relations by introducing the history of migration in Europe. Having developed an awareness of everyday symbolic in migrant-host relationship, this article studied the effect of migration to interfaith engagement in Europe and the United States. Interfaith engagement in this sense is a means of building peace in many parts of the world, including Indonesia. Based on the sociological context of interreligious relations, the article criticized the rigidity of interreligious dialogue is stuck in the official forums related to religious issues. Therefore, religious dialogue based on everyday relationships become important to create the same sphere where everyone has the same solidarity and understanding with all those who have faith and religion are different. [Artikel ini mengeksplorasi interaksi simbolis antariman sehari-hari di Indonesia dan di luar. Pertanyaan bagaimana seseorang dapat hidup secara damai di lingkungan yang multiagama telah mewarnai diskusi tentang keterlibatan lintas agama (interreligious engagement) di banyak wilayah di dunia. Artikel ini dimulai dengan diskusi tentang hubungan antaragama dengan memperkenalkan sejarah migrasi di Eropa. Dengan mengembangkan kesadaran simbolis sehari-hari dalam hubungan migran-tuan rumah, artikel ini mendalami pengaruh migrasi ke keterlibatan antaragama di Eropa dan Amerika Serikat. Keterlibatan antaragama dalam pengertian ini adalah sarana pembangunan perdamaian di banyak bagian dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan konteks sosiologis hubungan antaragama, artikel ini mengkritik kekakuan antaragama yang terjebak dalam forum dialog resmi terkait masalah agama. Oleh karena itu, dialog agama berbasis hubungan sehari-hari menjadi penting untuk menciptakan wilayah yang sama dimana setiap orang memiliki solidaritas dan pemahaman yang sama dengan semua orang yang memiliki iman dan agama yang berbeda
MEMBANGUN KERUKUNAN ANTARUMAT BERAGAMA BERBASIS BUDAYA LOKAL MENYAMA BRAYA DI DENPASAR BALI Basyir, Kunawi
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 6 No. 2 (2016): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.734 KB) | DOI: 10.15642/religió.v6i2.603

Abstract

Religious experience of multicultural society in Indonesia has frequently been characterized by conflict and violence in various regions. As a state having the motto Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia has several challenges and problems of plurality, ethnicity, religion, and culture. However, each culture has it own local wisdom to overcome these challenges and problems. This article finds that the presence of religious life (Hindu-Muslim) in Denpasar Bali does not look like other regions in Indonesia, which is always covered by conflict and violence in the name of religion. Multicultural society in Denpasar Bali indicates ideal collaboration between Muslims and Hindus to build religious activities. It is an integral part of Balinese life and the Balinese friendly character to sprout back to Bali Glow (Bali Aga). It sure takes a long time to proceed through the dialectical theology, ideology, and socio-cultural processes. Together with social institutions, the local government had tried to maintain and protect the essence of Hindu Balinese culture, by preserving the tradition of Menyama Braya for the realization of harmonious religiosity. [Pengalaman religius masyarakat multikultural di Indonesia sudah sering ditandai dengan konflik dan kekerasan di berbagai daerah. Sebagai negara yang memiliki motto Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia memiliki beberapa tantangan dan masalah pluralitas, etnis, agama, dan budaya. Meskipun demikian, setiap budaya memiliki kearifan lokal yang dapat mengatasi berbagai tantangan dan permasalahan di atas. Artikel ini menemukan bahwa kehadiran kehidupan keagamaan (Hindu-Muslim) di Denpasar Bali tidak terlihat seperti daerah lain di Indonesia, yang selalu ditutupi oleh konflik dan kekerasan atas nama agama. masyarakat multikultural di Denpasar Bali menunjukkan kolaborasi ideal antara Muslim dan Hindu untuk membangun kegiatan keagamaan. Ini adalah bagian integral dari kehidupan Bali dan karakter ramah Bali bertunas kembali ke Bali Cahaya (Bali Aga). Tentu membutuhkan waktu yang lama untuk melanjutkan melalui teologi dialektis, ideologi, dan proses sosial budaya. Bersama dengan lembaga-lembaga sosial, pemerintah setempat telah berusaha untuk mempertahankan dan melindungi esensi dari budaya Hindu Bali, dengan melestarikan tradisi Menyama Braya untuk realisasi religiusitas yang harmonis.
VARIED IMPACTS OF GLOBALIZATION ON RELIGION IN A CONTEMPORARY SOCIETY Iqbal, Asep Muhamad
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 6 No. 2 (2016): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.496 KB) | DOI: 10.15642/religió.v6i2.604

Abstract

This article discusses the current situation of religion caused by the forces of globalization by analyzing the developing phenomenon related to religion in contemporary society. It argues that globalization has a mixed impact on religion in ways that lead to the opposing view of secularist scholars that religion will be diminished. Apparently, religion has experienced a revival in many parts of the world, mainly in the form of religious fundamentalism. Problems and challenges posed by globalization, such as the environmental crisis and secular society have provided the opportunity and the power to religion to revitalize itself and to transform themselves into a religion with a new form that has a role and a new identity. Furthermore, globalization may lead to the decline of organized religion in modern society and certain intellectual subculture, but it does not cause the death of religion in private life. This is in line with the emergence of the phenomenon of ?believing without belonging?. In short, globalization has helped to transform the religion itself and changed its strategy to address the problems and challenges of globalization to create ?world de-secularization?. [Artikel ini membahas keadaan mutakhir agama yang diakibatkan oleh kekuatan-kekuatan globalisasi dengan melakukan analisa atas fenomena yang sedang berkembang terkait agama dalam masyarakat kontemporer. Ia berargumen bahwa globalisasi memiliki dampak yang beragam terhadap agama dengan cara-cara yang justru mengarah kepada kebalikan dari ramalan musnahnya agama sebagaimana dipromosikan oleh para pendukung teori sekularisme. Tampaknya, agama mengalami kebangkitan kembali di berbagai belahan dunia, utamanya dalam bentuk gerakan fundamentalisme agama. Masalah dan tantangan yang diakibatkan oleh globalisasi, seperti krisis lingkungan dan masyarakat sekuler, justru telah memberikan kesempatan dan kekuatan kepada agama untuk merevitalisasi dirinya dan melakukan transformasi diri menjadi agama dengan bentuk baru yang memiliki peranan dan identitas baru. Lebih jauh, globalisasi telah menyebabkan kemunduran agama formal pada masyarakat modern dan subkultur intelektual tertentu, meski tidak sampai menyebabkan kematian agama dalam kehidupan pribadi. Hal ini seiring munculnya fenomena ?believing without belonging?. Singkat kata, globalisasi telah membantu agama mentransformasi dirinya dan mengubah strateginya dalam mengatasi berbagai masalah dan tantangan globalisasi sehingga menciptakan ?desekularisasi dunia?
TEOLOGI KONTEKSTUAL PELAKSANAAN JALAN HADAT PERKAWINAN DAYAK NGAJU DI GEREJA KALIMANTAN EVANGELIS (GKE) Telhalia, Telhalia
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 6 No. 2 (2016): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.057 KB) | DOI: 10.15642/religió.v6i2.605

Abstract

The encounter between Christianity and Dayak culture since its inception has created a controversy. The main problem is the difficult to separate between religion and culture. The customs indeed have a close relationship with the religious structure of the Dayak people. Their live and mind follow the customs, traditions, and the provisions that have been inherited from their ancestors. Apparently, the Gereja Kalimantan Evangelis (GKE)/The Kalimantan Evangelical Church face this problem in dealing with the practice of marriage in the Ngaju Dayak culture. Some groups regard the cultural practice as a sin against the teachings of Christianity, while others consider that it is acceptable in the Christian faith. This article finds that contextual theology allows GKE accommodate Dayak customary practice in the context of the theology of Christianity. Wedding custom of Dayak people of Ngaju has rooted from their tradition but the meaning behind the process refers to the Christian values. [Pertemuan antara Kristen dan Dayak budaya sejak awal telah menciptakan kontroversi. Masalah utama adalah sulitnya memisahkan antara agama dan budaya. Kebiasaan memang memiliki hubungan dekat dengan struktur keagamaan masyarakat Dayak. Mereka hidup dan pikiran mengikuti adat istiadat, tradisi, dan ketentuan yang telah diwarisi dari nenek moyang mereka. Rupanya, Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) menghadapi masalah ini dalam menangani praktik pernikahan dalam budaya Dayak Ngaju. Beberapa kelompok menganggap praktik budaya sebagai dosa terhadap ajaran Kristen, sementara yang lain menganggap bahwa hal itu dapat diterima dalam iman Kristen. Artikel ini menemukan bahwa teologi kontekstual memungkinkan GKE mengakomodasi praktik adat Dayak dalam konteks teologi Kristen. Kebiasaan pernikahan orang Dayak Ngaju telah berakar dari tradisi mereka tetapi makna di balik proses mengacu pada nilai-nilai Kristen
A STUDY ON BISRI MUSTOFA, HAJI ABDUL MALIK KARIM AMRULLAH [HAMKA] AND QURAISH SHIHAB’S TAFSîR ON ISRâ’îLîYâT Haris, Achmad Murtafi; Margana, Sri; Al Makin, Al Makin
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 6 No. 2 (2016): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.39 KB) | DOI: 10.15642/religió.v6i2.606

Abstract

Umat Islam sekarang sinis terhadap kisah isrâ?îlîyât atau kisah-kisah yang berasal dari Yahudi dan Kristen. Fenomena intelektual ini bertentangan dengan respons Muslim awal yang akrab dengan materi-materi isrâ?îlîyât. Penelitian ini mencoba untuk membedah kisah-kisah isrâ?îlîyât yang ditulis oleh Bisri, Hamka, dan Quraish dalam tafsir masing-masing: Tafsîr al-Ibrîz, Tafsîr al-Azhar, dan Tafsîr al-Mi?bah. Titik tekan dari artikel ini adalah latar belakang yang kemudian mempengaruhi persepsi mereka dalam menafsir ayat-ayat isrâ?îlîyât. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan sejarah intelektual untuk mengetahui perkembangan ide manusia pada isu tertentu. Makalah ini berakhir pada kesimpulan bahwa sikap toleransi Bisri dan Hamka dan penolakan Quraish isrâ?îlîyât dipengaruhi oleh latar belakang sosial dan akademik masing-masing.  

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol. 10 No. 2 (2020): September Vol. 10 No. 1 (2020): March Vol. 10 No. 1 (2020): JUNI Vol. 9 No. 2 (2019): September Vol. 9 No. 1 (2019): March Vol. 9 No. 1 (2019): JUNI Vol. 8 No. 2 (2018): September Vol. 8 No. 1 (2018): March Vol. 8 No. 1 (2018): JUNI Vol 8 No 1 (2018): JUNI Vol. 7 No. 2 (2017): September Vol. 7 No. 2 (2017): DESEMBER Vol. 7 No. 1 (2017): March Vol. 7 No. 1 (2017): JUNI Vol 7 No 2 (2017): DESEMBER Vol 7 No 1 (2017): JUNI Vol. 6 No. 2 (2016): September Vol. 6 No. 2 (2016): DESEMBER Vol. 6 No. 1 (2016): March Vol. 6 No. 1 (2016): JUNI Vol 6 No 2 (2016): DESEMBER Vol 6 No 1 (2016): JUNI Vol. 5 No. 2 (2015): September Vol. 5 No. 2 (2015): DESEMBER Vol. 5 No. 1 (2015): March Vol. 5 No. 1 (2015): JUNI Vol 5 No 2 (2015): DESEMBER Vol 5 No 1 (2015): JUNI Vol. 4 No. 2 (2014): September Vol. 4 No. 2 (2014): DESEMBER Vol. 4 No. 1 (2014): March Vol. 4 No. 1 (2014): JUNI Vol 4, No 2 (2014): MUTAWATIR Vol 4 No 2 (2014): DESEMBER Vol 4 No 1 (2014): JUNI Vol. 3 No. 2 (2013): September Vol. 3 No. 2 (2013): DESEMBER Vol. 3 No. 1 (2013): March Vol. 3 No. 1 (2013): JUNI Vol 3 No 2 (2013): DESEMBER Vol 3 No 1 (2013): JUNI Vol. 2 No. 2 (2012): September Vol. 2 No. 2 (2012): DESEMBER Vol. 2 No. 1 (2012): March Vol. 2 No. 1 (2012): JUNI Vol 2 No 2 (2012): DESEMBER Vol 2 No 1 (2012): JUNI Vol. 1 No. 2 (2011): September Vol. 1 No. 2 (2011): DESEMBER Vol. 1 No. 1 (2011): March Vol. 1 No. 1 (2011): JUNI Vol 1, No 2 (2011): MUTAWATIR Vol 1 No 2 (2011): DESEMBER Vol 1 No 1 (2011): JUNI More Issue