cover
Contact Name
AAhmad Zainul Hamdi
Contact Email
ahmadinung@gmail.com
Phone
+6281931787511
Journal Mail Official
religio@uinsby.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani 117 Surabaya, 60237 JAWA TIMUR - INDONESIA
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Religio : Jurnal Studi Agama-agama
ISSN : 20886330     EISSN : 25033778     DOI : 10.15642/religio
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal yang mengeksplorasi gagasan kreatif dan solutif seputar tema agama dan sosial-budaya. Selain sebagai wahana sosialisasi, jurnal Religio diharapkan bisa menjadi ruang publik (public sphere) bagi masyarakat, khususnya bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi. Substansi isi tulisan jurnal, lebih menitikberatkan pada agenda pengembangan pola pikir keberagamaan yang moderat, yang berpijak pada nilai-nilai demokrasi, pluralisme, multikulturalisme dan toleransi agama. Jurnal Religio didedikasikan untuk mewujudkan paradigma masyarakat agama yang harmonis, pluralis dan transformatif, baik dalam konteks lokal, nasional maupun internasional. Dengan demikian, kehadiran di tengah-tengah masyarakat, diharapkan dapat bermanfaat bagi pencapaian cita-cita bersama, yaitu membangun kehidupan beragama yang menjunjung tinggi nilai-nilai persamaan, keadilan dan perdamaian.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2017): March" : 6 Documents clear
STEREOTIP MAHASISWA IAIN PONTIANAK TERHADAP AGAMA BAHA’I Hidayat, Samsul
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 7 No. 1 (2017): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.09 KB) | DOI: 10.15642/religió.v7i1.703

Abstract

In general, people of West Kalimantan have slight understanding relating to the existence of Baha?i religion. They built some stereotypes and judgments based on interaction and daily communication with Baha?i followers. This research focuses on how the under-graduate student of State Institute of Islamic studies (IAIN) Pontianak perceive and understand Baha?i during the class of Interreligious Communication (Komunikasi Lintas Agama). Dealing with the under-graduate student of the seventh semester, this research aims to analyze such paradigm construction through Thung Ju Lan idea of ?foreigners? and ?cultural differences?. This research found that students have constructed their perception on Baha?i through theological denial or cultural assessment of other religious tradition. [Secara umum penduduk Kallimantan Barat memiliki pemahaman yang tidak mendalam terkait dengan agama Baha?i. Mereka membangun prasangka, stereotip, dan keyakinan sendiri tentang Baha?i, berdasar pada interksi dan komunikasi sehari-sehari dengan pemeluk Baha?i. Penelitian ini fokus pada bagaimana mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak membangun pandangan dan pemahaman mereka terhadap Baha?i dalam kelas matakuliah Komunikasi Lintas Agama. Meneliti para mahasiswa yang duduk di semester ke-7, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagunan kerangka berpikir tersebut melalui konsepnya Thung Ju Lan, foreigners and cultural differences. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian mahasiswa membangun persepsi teologis terkait agama Baha?i sebagai ?sesuatu yang semestinya ditolak? dan ?tidak sesuai dengan agama Islam.]
REKONSILIASI SEBAGAI PROSES BERSAMA MENYEMBUHKAN LUKA SEJARAH ISLAM KRISTEN DI KOTA AMBON Iwamony, Rachel; Relmasira, Tri Astuti
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 7 No. 1 (2017): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.286 KB) | DOI: 10.15642/religió.v7i1.706

Abstract

Reconciliation between Muslims and Christians in Ambon City is an important process to know and study.  In 1999-2004 Muslims and Christians got involved in religious-based social conflicts. The social conflicts have uprooted their brotherhood and sisterhood relationship, and left deep historical wounds. However, after a decade, Muslims and Christians in Ambon City have been successful in restoring their life in harmony and peace. Based on the interview with young people in several areas in Ambon City, it was found that reconciliation could be restored by realizing that both Muslim and Christian people should restore the social conflicts for the sake of their good future.  They have restored the reconciliation between themselves by having social and religious activities.  The process of reconciliation and religious dialogue may be seen as ways of healing the historical wounds of the past social conflicts. [Rekonsiliasi antara Muslim dan Kristen di kota Ambon adalah sebuah proses penting untuk dikaji dan dipelajari. Pada tahun 1999-2004 Muslim dan Kristen terlibat dalam konflik sosial berlatarbelakang agama. Konflik sosial telah menghancurkan sendi-sendi hubungan persaudaraan mereka serta meninggalkan luka sejarah yang begitu dalam. Namun, setelah satu dekade, Muslim dan Kristen di kota Ambon telah berhasil memulihkan kehidupan mereka dalam keharmonisan dan kedamaian. Dengan mewawancarai kalangan muda di beberapa daerah di kota Ambon, terkuak bahwa rekonsiliasi terpulihkan dengan menyadari bahwa orang-orang Muslim dan Kristen akan memulihkan konflik sosial demi masa depan mereka yang lebih baik. Mereka telah mewujudkan rekonsiliasi melalui kegiatan sosial dan keagamaan. Proses rekonsiliasi dan dialog keagamaan dapat dilihat sebagai cara untuk menyembuhkan luka historis dari konflik sosial di masa lalu.]
PENGELOLAAN BUDAYA INKLUSIF BERBASIS NILAI BELOM BAHADAT PADA HUMA BETANG DAN TRANSFORMASI SOSIAL MASYARAKAT DAYAK KALIMANTAN TENGAH Dakir, Dakir
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 7 No. 1 (2017): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.205 KB) | DOI: 10.15642/religió.v7i1.707

Abstract

This paper aims at analyzing the process of cultural values ??management of belom bahadat in creating an inclusive cultural life and social transformation in the Dayak community in huma betang using textual analysis method. The results reveal that the management model of cultural consensus of belom bahadat brings about changes in values, perspective and inclusive attitude and the formation of Dayak people's polarization into three models: the formation of inclusive attitude in understanding and accepting social, traditional, cultural and religious differences in family life, society and life of nation. This change strengthens the social integration between individuals and groups of different tribes, ethnics, cultural and religious groups in family life, society and nation. It also prevents the growth of radicalism and terrorism arising from religious figures, humanists and public figures in this modern age. [Tulisan ini bertujuan menganalisis proses pengelolaan nilai budaya belom bahadat dalam menciptakan budaya kehidupan inklusif dan transformasi sosial pada masyarakat Dayak di huma betang dengan menggunakan metode analisis teks. Hasil studi menunjukan bahwa model pengelolaan konsensus budaya belom bahadat membawa perubahan nilai, cara pandang dan sikap inklusif dan terbentuknya polarisasi kehidupan masyarakat Dayak ke dalam tiga model yaitu terbentuknya sikap inklusif dalam memahami dan menerima perbedaan sosial, tradisi, budaya dan agama dalam kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat dan kehidupan berbangsa. Perubahan ini memperkuat integrasi sosial antar individu dan kelompok yang berbeda suku, etnis, budaya dan agama dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa serta mencegah tumbuhnya radikalisme dan terorisme yang muncul dari kalangan tokoh-tokoh keagamaan, budayawan dan tokoh masyarakat di era modernisasi ini.]
BIKULTURALISME ISLAM-AUSTRALIA: PENGALAMAN AKULTURASI NAHID AFROSE KABIR Huda MF, Moh Shofiyul
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 7 No. 1 (2017): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.785 KB) | DOI: 10.15642/religió.v7i1.708

Abstract

This article attempts to portray the concept of Nahid Afrose Kabir about ?biculturalism identity? based on Alison Blunt and Robyn Dowling?s ?roots? (homeland) and ?routes? (domicile) theory (2006) and Stevens Vertovec?s research (2006) about diaspora. In practice, through her ethnical and religious identity, Nahid Afrose Kabir can interact with the Muslim community, minority ethnics, and other religious communities in Australia. With his Australian identity, she has campaigned to be active citizens. That identity is based on her life experience as immigrants, moving from place to places in the western countries until her recent settlement, Australia. Through her ?multicultural identity?, she emphasizes how she, as a Muslim immigrant, should behave and show her identity. Artikel ini menjelaskan tentang konsep Nahid Afrose Kabir tentang ?identitas bikulturalisme? berdasarkan teori Alison Blunt dan Robyn Dowling (2006) tentang ?roots? (tanah air) dan ?routes? (domisili) dan penelitian Stevens Vertovec (2000) tentang diaspora. Di dalam praktiknya, dengan identitas etnis dan agamanya, Nahid Afrose Kabir bisa berhubungan dengan komunitas Muslim dan minoritas etnis dan agama lain di Australia. Dengan identitas Australia, dia telah berkampanye untuk menjadi warga negara aktif. Identitas tersebut didasari oleh pengalaman hidupnya sebagai seorang imigran yang telah pindah mondar-mandir antara Barat dan domisilinya terakhir, Australia. Dengan ?identitas bikulturalisme?, dia mempertegas bagaimana dia, sebagai seorang imigran muslim, harus bersikap dan beridentitas.
POTRET HARMONI KEHIDUPAN KEAGAMAAN DI KABUPATEN BOJONEGORO Hamdi, Ahmad Zainul
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 7 No. 1 (2017): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.361 KB) | DOI: 10.15642/religió.v7i1.744

Abstract

This study aims to investigate the reasons why violence and religious conflict occurred in Bojonegoro district do not lead to radical actions. Departing from the fundamental question, ?why does violence and religious conflict not extend into radical actions even though the potential for religious radicalization exists and even explode into destructive social conflict??, this study found that there are two main factors that make religious life among believers in Bojonegoro keep running in balance and harmonious way, namely cultural and structural factors. The most important cultural factor is the existence of cross-cutting affiliation where there are neutral social spaces that make people from different backgrounds meet without being troubled by their primordial identity. Meanwhile, structural factors that prevent radical action and religious conflict are the presence of the State as a neutral and decisive party; institutionalization of assurance of freedom of faith; and the activeness of the State in early prevention and conflict mediation. [ Studi ini bertujuan untuk melihat mengapa di wilayah Bojonegoro kekerasan dan konflik keagamaan nyaris tidak pernah meledak secara berarti. Berangkat dari pertanyaan mendasar, faktor-faktor apakah yang menyebabkan tidak terjadi proses radikalisasi keagamaan, sekalipun terdapat beberapa potensi konflik yang sebetulnya bisa meledak menjadi kekerasan atau konflik sosial yang destruktif, penelitian ini menemukan bahwa ada dua faktor penting yang mampu menjaga kehidupan keagamaan masyarakat Bojonegoro tetap seimbang, yaitu kultural dan struktural. Faktor kultural terpenting adalah bekerjanya cross-cutting affiliation. Terdapat ruang-ruang sosial netral yang mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda, tanpa dibebani oleh identitas-identitas primordial. Sementara, faktor struktural yang mencegah radikalisasi dan konflik keagamaan adalah hadirnya negara sebagai pihak yang netral dan tegas; institusionalisasi jaminan kebebasan berkeyakinan; dan keaktifan negara dalam melakukan pencegahan dini dan memediasi konflik.]
DISCOURSE ON PENISTAAN AGAMA OF BASUKI TJAHAJA PURNAMA’S BLASPHEMY TRIAL IN TWITTER Imamah, Fardan Mahmudatul
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 7 No. 1 (2017): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.889 KB) | DOI: 10.15642/religió.v7i1.880

Abstract

This study was conducted to map and elaborate how blasphemy was understood in social media, mainly Twitter. Beginning with the origins of the blasphemy law and some conflicts triggered by the law, this paper will explain the chronology of Ahok?s case and how it becomes popular within netizen. The questions of the study are how the Indonesian netizen in social media understand the blasphemy case of Ahok and how they try to construct discourse with it. The findings are interrelated the hashtags that led in five issues, (1) the action of defending Islam, (2) defending ulama, (3) Muslim leader, (4) national security, (5) imprisoning Ahok, (6) election of the regional head. The network of actors is exposing the complexity of reactions of netizen. Indonesian netizen in social media understands blasphemy in two ways, using religious discourse and political discourse. The first constructs blasphemy as a threat for religion and state security. The second argues the religious discourse by proving blasphemy as a tool for achieving political power. Various issues are tried to identify ?blasphemy? that at the same time used to identify certain groups/actors as enemies or allies. In the process of identification, there emerges similar solidarity in interpreting the ?blasphemy? based on a single interpretation of the religious source. However, there also emerges the discussion of how religious interpretation of blasphemy should not be used for political reason. [Studi ini bertujuan untuk memetakan dan menjelaskan bagaimana penistaan agama dipahami dalam media sosial, khususnya Twitter. Penelitian ini dimulai dengan menjelaskan hukum penistaan agama dan beberapa konflik yang terjadi di Indonesia terkait penistaan agama, yang kemudian secara khusus fokus pada kasus Gubernur DKI Basuki (Ahok) Tjahaya Purnama. Ahok dianggap telah memicu kemarahan Muslim Indonesia karena pernyataanya terkait ayat Al Maidah 51 di pertengahan September 2016. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana netizen Indonesia memahami penistaan agama dalam kasus Ahok dan bagaimana mereka membangun diskursus tentangnya. Dengan menggunakan analisis hashtag dalam Twitter,  terdapat beberapa enam isu yang paling mendominasi terkait diskursus kasus Ahok, yakni (1) aksi bela Islam, (2) bela Ulama, (3) kepemimpinan muslim, (4) keamanan nasional, (5) memenjarakan Ahok, (6) pemilihan kepala daerah. Jejaring aktor dalam diskursus ini menunjukkan kompleksitas reaksi netizen. Secara, terdapat dua cara dalam memahami penistaan agama, yakni dengan menggunakan diskursus agama dan diskursus politik. Diskursus yang pertama memahami penistaan agama sebagai ancaman terhadap agama dan negara. Sedangkan diskursus yang kedua memahami penistaan agama sebagai alat politik. Berbagai isu digunakan untuk mengidentifikasi penistaan agama, yang secara bersamaan juga digunakan untuk mengidentifikasi seseorang atau kelompok tertentu sebagai musuh atau sekutu. Dalam proses mengidentifikasi, muncul cara memahami bahwa penistaan agama terjadi karena rendahnya toleransi terhadap pemahaman berbeda atas penafsiran agama yang tunggal. Meskipun, terdapat juga diskusi tentang interpretasi sumber agama yang seharusnya tidak digunakan untuk kepentingan politik.]  

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol. 10 No. 2 (2020): September Vol. 10 No. 1 (2020): March Vol. 10 No. 1 (2020): JUNI Vol. 9 No. 2 (2019): September Vol. 9 No. 1 (2019): March Vol. 9 No. 1 (2019): JUNI Vol. 8 No. 2 (2018): September Vol. 8 No. 1 (2018): March Vol. 8 No. 1 (2018): JUNI Vol 8 No 1 (2018): JUNI Vol. 7 No. 2 (2017): September Vol. 7 No. 2 (2017): DESEMBER Vol. 7 No. 1 (2017): March Vol. 7 No. 1 (2017): JUNI Vol 7 No 2 (2017): DESEMBER Vol 7 No 1 (2017): JUNI Vol. 6 No. 2 (2016): September Vol. 6 No. 2 (2016): DESEMBER Vol. 6 No. 1 (2016): March Vol. 6 No. 1 (2016): JUNI Vol 6 No 2 (2016): DESEMBER Vol 6 No 1 (2016): JUNI Vol. 5 No. 2 (2015): September Vol. 5 No. 2 (2015): DESEMBER Vol. 5 No. 1 (2015): March Vol. 5 No. 1 (2015): JUNI Vol 5 No 2 (2015): DESEMBER Vol 5 No 1 (2015): JUNI Vol. 4 No. 2 (2014): September Vol. 4 No. 2 (2014): DESEMBER Vol. 4 No. 1 (2014): March Vol. 4 No. 1 (2014): JUNI Vol 4, No 2 (2014): MUTAWATIR Vol 4 No 2 (2014): DESEMBER Vol 4 No 1 (2014): JUNI Vol. 3 No. 2 (2013): September Vol. 3 No. 2 (2013): DESEMBER Vol. 3 No. 1 (2013): March Vol. 3 No. 1 (2013): JUNI Vol 3 No 2 (2013): DESEMBER Vol 3 No 1 (2013): JUNI Vol. 2 No. 2 (2012): September Vol. 2 No. 2 (2012): DESEMBER Vol. 2 No. 1 (2012): March Vol. 2 No. 1 (2012): JUNI Vol 2 No 2 (2012): DESEMBER Vol 2 No 1 (2012): JUNI Vol. 1 No. 2 (2011): September Vol. 1 No. 2 (2011): DESEMBER Vol. 1 No. 1 (2011): March Vol. 1 No. 1 (2011): JUNI Vol 1, No 2 (2011): MUTAWATIR Vol 1 No 2 (2011): DESEMBER Vol 1 No 1 (2011): JUNI More Issue