cover
Contact Name
AAhmad Zainul Hamdi
Contact Email
ahmadinung@gmail.com
Phone
+6281931787511
Journal Mail Official
religio@uinsby.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani 117 Surabaya, 60237 JAWA TIMUR - INDONESIA
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Religio : Jurnal Studi Agama-agama
ISSN : 20886330     EISSN : 25033778     DOI : 10.15642/religio
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal yang mengeksplorasi gagasan kreatif dan solutif seputar tema agama dan sosial-budaya. Selain sebagai wahana sosialisasi, jurnal Religio diharapkan bisa menjadi ruang publik (public sphere) bagi masyarakat, khususnya bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi. Substansi isi tulisan jurnal, lebih menitikberatkan pada agenda pengembangan pola pikir keberagamaan yang moderat, yang berpijak pada nilai-nilai demokrasi, pluralisme, multikulturalisme dan toleransi agama. Jurnal Religio didedikasikan untuk mewujudkan paradigma masyarakat agama yang harmonis, pluralis dan transformatif, baik dalam konteks lokal, nasional maupun internasional. Dengan demikian, kehadiran di tengah-tengah masyarakat, diharapkan dapat bermanfaat bagi pencapaian cita-cita bersama, yaitu membangun kehidupan beragama yang menjunjung tinggi nilai-nilai persamaan, keadilan dan perdamaian.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 347 Documents
STRUKTUR NALAR ARAB-ISLAM MENURUT ‘ÂBID AL-JâBIRî Faishol, M.
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 2 (2013): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.037 KB)

Abstract

The project of ?Âbid Al-Jâbirî?s thoughts has become epistemological critic to traditional frame of Islam-Arab knowledge through analyzing socio-political background on the logic of Arab formulation. According to Al-Jâbirî, the logic of Arabic thought could be devised into three methods: bayâni, ?irfâni and burhâni. Therefore, the structure of Islam-Arab culture has occurred based on: (1) authoritative texts?because the logic of Arab is exceedingly based on religious texts, (2) authoritative salaf, that is, focused on ?ulama?s considerations, and (3) authoritative permissivism along with anti-causality (sult}ah at-tajwîz al-lâsababiyyah). Hence, Arabic culture becomes unproductive, poor of concept and theory. As a solution, Al-Jâbirî invites to contextualize the spirit of critic such as rational-empiricism of Ibn H{azm and al-Shât}ibî on fiqh, Ibn Rushd on philosophy, Ibn Khaldûn on sociology, etc. This article will probe specifically about ?Âbid Al-Jâbirî?s reform thought. Al-Jâbirî?s thinking distinctiveness lies in the epistemological critique conducted on the science that develops in the Arab-Islamic civilization. The epistemological critique becomes a realm of science that not much attention, especially by Muslim thinkers. Al-Jâbirî?s epistemological critique offers to the Muslim world an attempt to reconstruct the building of reason-epistemic knowledge to keep pace and change its Islamic world towards the progress of civilization.
AGAMA DI TENGAH JARING-JARING DUNIA MODERN Hamdi, Ahmad Zainul
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 2 (2013): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.775 KB)

Abstract

Modernism believes that reason will eventually push over religion. Knowledge is considered capable to answer various mysteries that have enforced human to rely on religion. Modernism then is marked by the world that is more unified for the exchanging information stream and economical material. The transnational company and information technology play a pivotal role in shaping into global village. In this circumstance, religion deals with such unbelievable challenge. Religion which claims as the savior of human life is finally replaced by media. But, since 70s decade, a kind of new religious movement tries to challenge this modernization flow. This is what so called religious fundamentalism. This movement leans everything on the holy scripture as the only truth; therefore, it has exclusive and militant character. If modernism is suspected as the one that has thought out any kind of human crisis, then, does religion provide the solution? Although religion is expected to answer all crisis of modernity, its irrationality and exclusivism do not fit with modernism. Religion that is needed by modern society is religion that could be heard by modern ear and in the same time could affirm the affection to human being. Rationalism without love will drag people in a tragic humanism.
THE LIGHT HISTORY OF PROTESTANTISM AND THE EMERGING OF NATIONALISM AND PROTESTANTISM IN SOUTH KOREA Hakam, Saiful
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 2 (2013): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.531 KB)

Abstract

Artikel ini mengulas kebangkitan Kristen Protestan di Korea untuk mengukur sejauh mana hubungan antara agama dan nasionalisme di Korea, serta mencoba untuk mengkaji hubungan kuat antara agama dan nasionalismnasionalisme. Untuk mengulas hal tersebut, artikel ini memfokuskan diri pada telaah historis masa pendudukan Jepang, yakni pada rentang waktu antara tahun 1910 hingga 1945. ArikelArtikel ini berusaha untuk menjawab pertanyaan sederhana: mengapa Kristen Protestan berhasil menjadi agama yang kuat dan penting di Korea? Jawaban atas pertanyaan tersebut juga akan mengantarkan kita untuk bisa memahami nasionalisme Korea. Dengan kata lain, jelas bahwa perkembangan Protestan di Korea adalah sangat terkait dengan ketidakpuasan yang mendalam dan keputusasaan yang dirasakan oleh orang-orang Korea diakibatkan oleh masa pendudukan Jepang. Selain dikarenakan faktor nasionalisme, berkembangnya agama Protestan di Korea juga sangat terkait dengan pendidikan. Para misionaris bertindak cepat untuk melibatkan diri dalam pendidikan. Hal tersebut dikarenakan mereka memahami tentang semangat Korea dalam hal pendidikan dan juga keterbukaan mereka terhadap ide-ide Barat. Selain itu, artikel ini juga mengkaji mengenai dampak dari adanya para missionarismisionaris untuk menyebarkan agama protestanProtestan. Salah satunya adalah dalam hal ekonomi. Beberapa orang di Korea menegaskan bahwa konversi ke Protestan menyebabkan peningkatan ekonomi. Mereka percaya bahwa peningkatan ini disebabkan penolakan mereka terhadap kebiasaan merokok dan minum, judi, serta hal yang berbau kemewahan
DINAMIS-RASIONALIS DALAM PEMIKIRAN THAHA HUSAIN PADA PROBLEMATIKA PERADABAN ISLAM DAN BARAT Wasid, Wasid
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 2 (2013): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.609 KB)

Abstract

The inter-civilization dialogue is necessary: unavoidable. There is no civilization can improve its self without an interaction with other civilization. This phenomenon brings Thaha Husain to review how the civilization of Egypt could be ?out of date? compared with the Western civilization. He assumes that it was because of traditional thinking of Muslims. In his opinion, Muslims believe that Islamic tradition is the perfect one: no need to learn from other tradition. Husain talks that to realize this decline is better than to feel perfect (apology). According to Husain, Muslims should learn from history, learn from Western civilization?which is more advanced. In this context, academic fairness is very important for Muslim intellectual to create an academic tradition. Husain supposes that imitating the tradition of the West doesn?t mean imitating its religion. Humanity is the key. From Thaha Husain?s thinking, there are two lessons that can be contemplated. First, life in the tradition is a necessity as life in modern culture. Therefore, there is no tradition which does not accept change and debate in line with the dynamics of humanity. Second, rational approach, scientific and historical criticism is of capital importance to catch up with Western civilization
THE QUANDARY OF THE SAFFRON’S INVOLVEMENT IN POLITICS IN BURMA Yulianti, Yulianti
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 2 (2013): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.871 KB)

Abstract

Artikel ini tidak bermaksud untuk tidak mengindahkan instruksi dari pemerintah agar tidak melibatkan diri dalam aksi protes, pada bulan Agustus 2008, para biksu di Arakan ikut dalam sebuah aksi protes terhadap pemerintah atas dasar kondisi perekonomian yang terus terpuruk di Burma. Aksi tersebut, pada akhirnya berujung pada sebuah bentrokan di Pakokku yang melibatkan antara pihak kepolisian dengan para demonstran. Dari insiden tersebut, dikabarkan bahwa Satu bikku terbunuh dan tiga lainnya terluka. Insiden tersebut bukannya membuat para bikku untuk mundur dalam aksinya, sebaliknya, peristiwa tersebut malah menyulut lebih besar keberanian dari para bikku untuk melakukan aksi demonstrasi. Dalam hal ini, sejarah mencatat bahwa pada dasarnya bikku memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Burma, termasuk juga dalam ruang lingkup politik. Realitas seperti ini tak pelak memunculkan beragam kontroversi di kalangan umat Buddha. Masyarakat mulai bertanya-tanya, apakah aktivitas politik memiliki justifikasi dalam ajaran Buddha?, dan Bukankah dalam tradisi lama Buddha komunitas Biksu justru ?diasingkan? dari arena politik?. Dari pertanyaan kontroversial tersebut, tulisan ini ingin melihat bagaimana para Biksu mulai menjadi sensitif dengan isu-isu sosial, termasuk soal-soal politik. Selain itu, tulisan ini juga berusaha untuk menelisik lebih jauh lagi pengaruh agama Buddha dalam gerakan mereka.
THE CHANGING PATTERN OF TERRORISM Khairi, Akhmad Najibul
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 1 (2013): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.707 KB)

Abstract

Tidak dapat dipungkiri bahwa perang melawan terorisme dipercaya sebagai salah satu bentuk perang dunia yang imbasnya merambah ke berbagai negara. Hal ini dapat dipahami setelah apa yang sudah terjadi apalagi pasca tragedi 9/11 yang semakin mengkristalkan perlawanan terhadap aksi terorisme. Sekilas melihat perkembangan persoalan tersebut, terorisme diyakini lahir dari ketidakpuasan dan ketidakadilan di masyarakat. Namun, pada perkembangan selanjutnya, terorisme juga diartikan sebagai suatu bentuk simbol dari kebencian terhadap Barat. Menurut analisa Peter Berger, gerakan terorisme semakin hari semakin sulit untuk dilacak dan diantisipasi karena sifatnya yang sering kali berubah-ubah. Artikel ini ingin mengulas perubahan-perubahan yang terjadi dalam gerakan terorisme dunia, sekaligus mengurai evolusi tujuan dan misi dari gerakan tersebut. Kesimpulan yang diperoleh dari artikel ini adalah bahwa gerakan terorisme itu mempunyai banyak bentuk dari gerakan teroris non-Negara, kelompok-kelompok ideologis, kelompok-kelompok politik berbasis agama. Semua gerakan ini mempunyai taktik, strategi, organisasi, dan garis komando yang terdesentralisasi dengan baik. Temuan dalam artikel ini juga menunjukkan bahwa gerakan konter-terorisme dengan membombardir pusat-pusat teroris seperti Afganistan, dan Iraq dan menangkap dan atau membunuh petinggi-petinggi teroris seperti Al-Qaeda ataupun JI tidak menghentikan gerakan terorisme karena mereka akan bermetamorfosis ke dalam bentuk gerakan lain.
IDEOLOGI DAN POLITIK DALAM PROSES AWAL KODIFIKASI HADIS Zamzami, Mohammad Subhan
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 1 (2013): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.333 KB)

Abstract

The problem of Hadits is more complex than al-Qur?ân in the perspective of Islamic theological sect. Al-Qur?ân had been codified in the early Islamic era which is in the period of Abu Bakar as Siddîq, initiated by Umar Bin Khat}t}âb under the command of Zayd Bin Thâbit. Meanwhile, the writing text and hadith codification in Khawârij, Shî?ah and Sunni tradition is still leaving the contradicted theological-political claims. This claim constitutes a common phenomenon that often happened and found in comparative study of religious sect. it is because every religious sect wants to legalize their religious ritual validity by finding a base of religious primer resources which is al-Qur?ân as the first Islamic holy text and hadith as the second one. This article highlights the politics and ideology in the early hadith codification period. It attempts to see the conflict interest of the Sunnite, Shî?ites, and Khârijities groups in which they were composing prophet traditions based on their doctrine and ideological biases. Based on their authoritative hadith books, hadith sciences, and historical literatures with regard to the historical-comparative methodology, this article suggests that they have different traditions of hadith codification which are influenced by ideological and political rivalry among them; and they also produce different hadith, authoritative hadith books, and religious traditions.
PRAN-SOEH RESISTANCE TO THE STATE HEGEMONY Nasruddin, Nasruddin
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 1 (2013): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.071 KB)

Abstract

Munculnya gerakan keagamaan lokal (the emergence of new local religion) adalah fenomena yang lazim dan tak bisa dihindarkan. Di Jawa, misalnya, terdapat beberapa agama lokal yang lahir dari rahim budaya setempat dan kemudian disebut sebagai Javanese religion atau religion of Java. Di antara agama-agama lokal ini, ada sebuah gerakan keagamaan yang dikenal sebagai Agama Pran-Soeh. Embrio dari kemunculan Agama Pran-Soeh bisa ditelaah pada masa kolonialisme Belanda dan penjajahan Jepang. Seperti agama lokal lainnya, pendiri agama Pran-Soeh juga yakin bahwa dia menerima wahyu dari Tuhan. Kemudian, ia merasa bahwa memiliki tugas untuk menyebarkan wahyu untuk komunitasnya. Dari sinilah, agama lokal Pran-Soeh mulai muncul. Keberadaan aliran keagamaan ini belum banyak diteliti. Menggunakan perspektif historis, artikel ini bermaksud meneliti kemunculan dan keberadaan aliran ini, bagaimana hubungannya dengan pemerintahan politik, serta responsnya terhadap problematika sosial, terutama sosial Islam. Lebih jauh, artikel ini akan mengupas resistensi Pran-Soeh terhadap hegemoni negara. Keberadaan agama Pran-Soeh itu sendiri tidak tumbuh pesat di masyarakat, tetapi harus menghadapi hambatan baik dari dalam dan luar. Kendala dari dalam adalah bentuk konflik di antara mereka. Sementara kendala dari luar salah satu khususnya di Orde Baru adalah hegemonik negara dan kecemasan dan kekhawatiran agama yang mainstream. Jadi, kelangsungan hidup dan kematian agama Pran-Soeh tergantung pada keputusan negara dan kebijaksanaan agama yang mainstream.
POLA RELIGIOSITAS MUSLIM KELAS MENENGAH DI PERKOTAAN Rofhani, Rofhani
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 1 (2013): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.156 KB)

Abstract

A city, modern in culture, offers variety of happiness, pleasures that similar with the paradise in the world as mentioned in the holy scriptures. People think that such condition commonly lead to a negative assumption referring to people religious moral ethic. In one occasion, such condition effect to the fundamental movement that offers Islamic culture. However, it does not work on a certain group of people. In one hand, those who are called as urban middle class Muslim mostly refuse any fundamental culture that have believed as ways, ancient, traditional or even a backward. On the other hand, they also reject western culture since some assess that it can harm Islamic religion internally and externally. In this regard, this article aims to describe religious patterns of middle class society which is living in the city, where chronicles of modernity have appeared with their very artificial forms. For some people, living in the city is assumed as a threatening life to weaken morality. This creates such as fundamental movements with their imaginative Islamic objectives. They offer to acknowledge a modern and Islamic style of live. Exploring academic discourse of modernity, religion, and culture, this article elucidates the modern Islamic pattern of life within middle class Muslim in the city.
PERSPEKTIF KHALED ABOU EL-FADL DALAM MEMBENDUNG OTORITARIANISME TAFSIR KEAGAMAAN MELALUI HERMENEUTIKA NEGOSIATIF Qudsi, Saifudin
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 1 (2013): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.919 KB)

Abstract

Leading authoritarianism on religious interpretation which is almost practiced by religious organizations or religious groups, in the name of God, is one of Khaled Abou El-Fadl?s academic questions. By using hermeneutical method, Khaled attempts to reconstruct contemporary despotism and authoritarianism in the field of religious interpretation. The main focus of Khaled?s idea is that authority in Islamic law is different from authoritarianism. It is to avoid tyranny within authoritative interpretation. Khaled offers a negotiative hermeneutics which notices that meaning is an interactive result between the author, text and reader. The negotiative hermeneutics a la Khaled tries to connect the limitless opening of the text and the arbitrary closing of the text. This method suggests the dialog between traditions, communities of interpreters, scientific disciplines, and civilizations. The result of this concept is that to counter religious authoritarianism, exclusivism, puritanism, and anarchy. This article aims for looking Khaled Abou El-Fadl?s way of thinking in relation with religious interpretation which is almost used by religious organization or group. The main frame of this paper is to look on how hermeneutical method proposed by Khaled gives a new innovation in seeing the development of Islamic studies

Page 2 of 35 | Total Record : 347


Filter by Year

2011 2020


Filter By Issues
All Issue Vol. 10 No. 2 (2020): September Vol. 10 No. 1 (2020): March Vol. 10 No. 1 (2020): JUNI Vol. 9 No. 2 (2019): September Vol. 9 No. 1 (2019): March Vol. 9 No. 1 (2019): JUNI Vol. 8 No. 2 (2018): September Vol. 8 No. 1 (2018): March Vol. 8 No. 1 (2018): JUNI Vol 8 No 1 (2018): JUNI Vol. 7 No. 2 (2017): September Vol. 7 No. 2 (2017): DESEMBER Vol. 7 No. 1 (2017): March Vol. 7 No. 1 (2017): JUNI Vol 7 No 2 (2017): DESEMBER Vol 7 No 1 (2017): JUNI Vol. 6 No. 2 (2016): September Vol. 6 No. 2 (2016): DESEMBER Vol. 6 No. 1 (2016): March Vol. 6 No. 1 (2016): JUNI Vol 6 No 2 (2016): DESEMBER Vol 6 No 1 (2016): JUNI Vol. 5 No. 2 (2015): September Vol. 5 No. 2 (2015): DESEMBER Vol. 5 No. 1 (2015): March Vol. 5 No. 1 (2015): JUNI Vol 5 No 2 (2015): DESEMBER Vol 5 No 1 (2015): JUNI Vol. 4 No. 2 (2014): September Vol. 4 No. 2 (2014): DESEMBER Vol. 4 No. 1 (2014): March Vol. 4 No. 1 (2014): JUNI Vol 4, No 2 (2014): MUTAWATIR Vol 4 No 2 (2014): DESEMBER Vol 4 No 1 (2014): JUNI Vol. 3 No. 2 (2013): September Vol. 3 No. 2 (2013): DESEMBER Vol. 3 No. 1 (2013): March Vol. 3 No. 1 (2013): JUNI Vol 3 No 2 (2013): DESEMBER Vol 3 No 1 (2013): JUNI Vol. 2 No. 2 (2012): September Vol. 2 No. 2 (2012): DESEMBER Vol. 2 No. 1 (2012): March Vol. 2 No. 1 (2012): JUNI Vol 2 No 2 (2012): DESEMBER Vol 2 No 1 (2012): JUNI Vol. 1 No. 2 (2011): September Vol. 1 No. 2 (2011): DESEMBER Vol. 1 No. 1 (2011): March Vol. 1 No. 1 (2011): JUNI Vol 1, No 2 (2011): MUTAWATIR Vol 1 No 2 (2011): DESEMBER Vol 1 No 1 (2011): JUNI More Issue