cover
Contact Name
Dzikrulloh
Contact Email
dzikrulloh@trunojoyo.ac.id
Phone
+62817772001
Journal Mail Official
dinarjurnal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Telang PO. BOX. 2 Kamal Bangkalan Madura
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
Dinar: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam
ISSN : 24609889     EISSN : 25803565     DOI : https://doi.org/10.21107/dinar
Core Subject : Religion, Social,
Dinar adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Ekonomi dan Keuangan Islam Universitas Trunojoyo Madura. Terbit pertama kali Agustus 2015. Jurnal ini memfokuskan pada kajian Ekonomi Islam dalam berbagai sudut pandang keilmuan. Redaksi mengundang para ahli dan segenap sivitas akademika untuk menulis artikel sesuai dengan tema besar jurnal ini. Artikel yang dimuat tidak selalu mencerminkan redaksi ataupun institusi lain terkait dengan penerbitan jurnal.
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1: Januari 2015" : 7 Documents clear
PEMASARAN BATIK MADURA DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN BISNIS SYARIAH (Studi Kasus pada Batik “Jokotole” di Bangkalan Madura) Zunaidi, Arif
Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 2, No 1: Januari 2015
Publisher : Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Today erratic trading era demands companies to conduct any activities as efficient and effective as possible. Meanwhile, as Indonesian cultural heritage which is is also internationally recognized, Indonesian batik has special and diverse patterns in each area. Together with the more improving nowadays technological advancement, it is very possible to expand business network and introduce the product of Indonesian Batik, as what happens in batik Jokotole company operating at Tanjung Bumi, Bangkalan. Through a good and right marketing strategy, this batik company has earned dollars from international networking business.            This study uses qualitative descriptive approach. The result reveals that in marketing the product, Jokotole batik company uses mixed marketing technique while paying attention more to the aspect of producs, price, promotion and distribution strategy and keeping each part work well. Meanwhile, the marketing technique used still accords to and obeys Islamic rules. Keywords: marketing management, shariah business management.    AbstrakDi era perdagangan yang tidak pasti saat ini, menuntut perusahaan untuk dapat melakukan aktifitasnya seefektif dan seefisien mungkin. Sebagai warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia, batik Indonesia memiliki corak yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Dengan semakin berkembangnya dunia digital saat ini, maka tidak mustahil jika batik bisa semakin dikenal, tak terkecuali batik “Jokotole” yang ada di Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Melalui pemasaran yang tepat, batik ini sudah berhasil mendulang dollar dari batik. Dalam penelitian ini pendekatan yang dipergunakan adalah deskriptif  kualitatif. Hasil penelitiannya menghasilkan bahwa batik “Jokotole” dalam pelaksanaan pemasarannya menggunakan strategi marketing mix (bauran pemasaran) yaitu memperhatikan dan menjaga perpaduan antara  produk, harga, promosi dan distribusi. Sedangkan pemasaran yang dilakukan oleh batik Jokotole, maka dapat disimpulkan bahwa pemasaran yang dilakukan masih sesuai dengan kaidah islam.Kata kunci: Batik, Manajemen pemasaran, manajemen bisnis syariah
Al-Ijarah al-A’mal Al-Mustarakah dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Urunan Buruh Tani Tembakau di Desa Totosan Kecamatan Batang-batang Kabupaten Sumenep Madura) setiawan, Firman
Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 2, No 1: Januari 2015
Publisher : Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractIjarah is turning over the beneficial values of a legal product or good in the certain period of time using the iwadh system. People like to practice it in two ways, which are ijarah manfaat, such as leasing or renting a product and ijarah amal, typically called as farming workers or simply workers. At the village of Totosan, local people have a practice of ijarah amal in the sector of farming in which the farming workers are not regularly paid as usual. As a consequence, landlords will also work in the field of farming workers when it is needed. This practice is conducted in a small group of farmers so that each member has same right and responsibilities one another.The description leads my interest and curiosity to examine it further. The study is conducted particularly to know how the transaction really is on the perspective of Islamic law. Additionally, the proper right and responsibilities of each member is also another thing to search by studying the topic.This study is descriptive quantitatively presented. Meanwhile, the information of the practice is obtained through transcript of interview and observation. Afterward, the practice is studied on the perspective of Islamic law particularly using ijarah theory as found at authoritative legal books on daily practices and transactions (al-kutub fiqh muamalah mu’tabarah).The analysis of this case results a conclusion that cooperation in the farming practice is not legal according to ‘aqad al-ijarah al-a’mal al-musytarakah since it does not fulfill requirements on exact rules of contract, object and the fee. However, it can still be practiced using the basic value of helping each other or through cultural cooperation among farmers.Keyword: Ijarah al-A’mal, farming workers.AbstrakIjarah adalah memilikkan manfaat sesuatu yang mubah pada jangka waktu tertentu dengan adanya iwadh. Ada dua jenis ijarah yang biasa dilakukan oleh masyarakat, yakni ijarah manfaat, seperti sewa pada suatu barang, dan ijarah amal yang biasa disebut buruh atau tenaga kerja.Di desa totosan, terdapat sebuah praktek ijarah al-a’amal di bidang pertanian, di mana buruh tani tidak diberikan upah atas apa yang dia kerjakan, tetapi sebagai gantinya pemilik lahan juga akan bekerja di lahan buruh tersebut ketika sudah dibutuhkan. Dan praktek ini dilakukan oleh sekelompok petani, sehingga sama-sama memiliki hak dan kewajiban antara petani yang satu dengan petani yang lain.Berdasarkan gambaran tersebut, penulis tertarik untuk membahas dan mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana sebenarnya akad yang dilakukan oleh masyarakat tersebut, apa hak dan kewajiban yang mereka tanggung untuk kemudian dilihat dari perspektif hukum islam.Artikel ini disajikan secara deskriptif kualitatif. Praktek buruh tani yang informasinya diperoleh melalui wawancara dan observasi ini kemudian dilihat dari perspektif hukum islam yang dalam hal ini menggunakan teori ijarah yang terdapat dalam kitab-kitab fiqh muamalah al-mu’tabarah.Analisis terhadap kasus ini menghasilkan kesimpulan bahwa jika kerja sama di bidang pertanian ini dilakukan dengan menggunakan akad al-ijarah al-a’mal al-musytarakah, maka akadnya tidak sah, karena tidak memenuhi persyaratan pada kepastian akad, objek dan ujrahnya. Namun kerja sama ini bisa tetap dilanjutkan tetapi tidak menggunakan akad ijarah melainkan hanya sebatas tolong menolong atau gotong-royong antar petani.Kata kunci : Ijarah al-A’mal, buruh tani.
Peningkatan Produksi dalam Sistem Ekonomi Islam sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Umat Gufron, Moh Idril
Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 2, No 1: Januari 2015
Publisher : Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The main cause of the emergence of economics and the reason why people need it is the condition that the needs of people are unlimited while the resources to meet them are limited. Dealing with this, economics offers two main things as its orientation, which are choosing and creating process. Choosing process relates to consumption and distribution activities, while creating is all about the process of production or creating a new product. Therefore, those three activities, production, distribution and consumption, play very important role in coping with economic problems.In its universal and comprehensive teachings, Islam also examines how those three practices, production, distribution and consumption should be properly conducted. However, in this article, I will only explain about how Islamic perspective on the increase of production as an effort in empowering people or ummat’s economy is.Islamic economy empowerment could be conducted by raising income as a result of the production increase in the sector of useful goods through the utilization of resources (natural and human resources, capital and organization) at its maximum level. The process of resource utilization should be conducted according to moral and ethical values. Meanwhile, the improvement of production system on the perspective of Islam does not only mean the increase of income monetarily, but also the improvement of fulfillment of people’s need using minimum effort while still paying attention to Islamic rules about consumption. Additionally, improving production could also be conducted by optimizing various sources or driving factors of people production which possibly work well in increasing people economic level at general such as zakat, tax, bait al mal wa al tamwil, shariah bank etc. Keywords: production, empowerment, people economy. AbstrakPenyebab yang paling mendasar kenapa ilmu ekonomi muncul dan dibutuhkan oleh manusia, yaitu karena kebutuhan manusia yang tidak terbatas sementara sumber daya untuk memenuhi kebutuhan itu terbatas. Untuk mengatasi hal itu, ada dua hal pokok yang menjadi orientasi ilmu ekonomi, yaitu memilih dan menciptakan. Memilih berkaitan dengan konsumsi dan distribusi, dan menciptakan berkaitan dengan produksi.Dengan demikian, ketiga aktivitas tersebut (produksi, distribusi, dan konsumsi) memiliki peranan yang sangat penting dalam menyelesaikan persoalan ekonomi.Islam dalam ajarannya yang universal dan komprehensif juga membahas tentang bagaimana produksi, distribusi dan konsumsi seharusnya dilakukan. Namun di dalam artikel ini, penulis hanya menjelaskan tentang bagaimana pandangan islam terhadap peningkatan produksi sebagai upaya pemberdayaan ekonomi umat.Pemberdayaan ekonomi umat dalam Islam dapat dilakukan dengan menaikkan pendapatan sebagai akibat meningkatnya produksi dari barang-barang yang berfaedah melalui pemanfaatan sumber-sumber daya (tenaga alam, tenaga manusia, modal, dan organisasi) secara maksimum. Proses pemanfaat sumber daya tersebut harus dilakukan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai moral dan etika. Perbaikan sistem produksi dalam Islam tidak hanya berarti meningkatnya pendapatan yang diukur dari segi uang, tetapi juga perbaikan dalam memaksimalkan terpenuhinya kebutuhan dengan usaha minimal tetapi tetap memperhatikan tuntutan Islam tentang konsumsi. Selain itu, meningkatkan produksi juga dilakukan dengan mengoptimalkan sumber-sumber atau penggerak produksi umat yang bisa meningkatkan ekonomi masyarakat banyak, seperti zakat, pajak, bait al-mal wa al-tamwil, bank syari’ah dan lain sebagainya.Keywords : Produksi, pemberdayaan, ekonomi umat.
Peran Pemerintah di Bidang Perekonomian Dalam Islam Hidayatullah, Indra
Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 2, No 1: Januari 2015
Publisher : Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Government is the authorized party in making and applying basic rules to support and protect economic activities and improvement. In the structure of a society, the role and responsibility of government is an inseparable part in creating an order and prosperous society. On the prospective of Islam, government’s responsibility is relatively flexible based on the premise that Islam aims to create prosperity for public.Among some of government’s important tasks in the economic sector are to examine and control the main driving factors in mobilizing the economy, stop any forbidden transaction and regulate the standard price when it is needed. Control and intervention of government are conducted through some ways. Some of which are regulation prohibiting the transaction of forbidden or restricted products, regulation prohibiting any type and form of manipulation in the whole economic activity, regulation prohibiting the distribution of healthy-endangering food, drink and other products, regulation prohibiting any game related to interest and property of people at general, regulation prohibiting works in any forbidden sector and regulation limiting production of commodity which is not the main need of people. Keywords: monitoring, intervention, role of government AbstrakNegara merupakan pihak yang memiliki kewenangan dalam meletakkan dasar-dasar aturan yang mendukung dan dapat melindungi pertumbuhan  dan aktifitas ekonomi. Dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab pemerintah yang berusaha melakukan penertiban dan mensejahterakan masyarakat. Tanggung jawab pemerintah dalam persepektif  Islam memiliki fleksibilitas yang luas didasarkan pada premis bahwa islam bertujuan untuk mensejahterakan umum masyarakat.Di antara tugas-tugas penting pemerintah dalam perekonomian adalah mengawasi faktor utama penggerak perekonomian, menghentikan muamalah yang diharamkan, dan mematok harga kalau dibutuhkan. Pengawasan dan intervensi yang dilakukan oleh pemerintah tersebut dapat melalui beberapa hal, di antaranya adalah Regulasi yang melarang jual beli barang yang diharamkan, regulasi yang melarang semua bentuk dan jenis manipulasi dalam semua aktivitas ekonomi, regulasi yang melarang peredaran makanan, minuman atau bahan lainnya yang membahayakan kesehatan umum, regulasi yang melarang permainan terhadap kepentingan dan harta manusia secara umum, regulasi yang melarang pekerjaan sektor-sektor yang diharamkan, dan regulasi yang membatasi produksi komoditi yang tidak terlalu dibutuhkan masyarakat.Keywords : pengawasan, intervensi, peran pemerintah.
URGENSI KEMAMPUAN BAHASA ARAB DALAM DUNIA KERJA SEKTOR PERBANKAN SYARIAH (STUDI KASUS PADA BRI SYARIAH CABANG BANGKALAN) Suaiba, Lilis
Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 2, No 1: Januari 2015
Publisher : Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The improvement of MES, Masyarakat Ekonomi Syariah, (Shariah Economic Society) spreading across the Indonesia as well as GRES, Gerakan Ekonomi Shariah (Shariah Economic Movement) accords with the improvement of shariah banking concept based on shariah principles. Unsurprisingly, terminologies of shariah banking are generally from Arabic language. This condition interests me to investigate the urgency of Arabic language proficiency required in the sector of shariah banking work sphere. This research aims to know more about (1) which skill of Arabic language required at most in working sphere is, particularly at shariah banking sector, BRI Shariah Bangkalan (2) how important the urgency of Arabic language proficiency in the work sphere at shariah banking sector is. (3) what the Arabic terminologies used and applied at shariah BRI Bangkalan district are. This research is a qualitative one using the process of data collection, classification, arrangement, analysis and then interpretation. Data for this research has two types of category. First is the primary data and the second is the secondary one. Primary data is obtained from the result of transcript of in depth interview to the leader and officers of Shariah BRI Bangkalan, Madura district. Meanwhile, secondary data is from various sources including shariah banking dictionary (ies), booklet (s) of shariah banking, Arabic-Indonesia dictionary (ies) and other references with relevance to the research topic.Keywords: Arabic language proficiency, shariah banking, BRI shariah.AbstrakBerkembangna MES ( Masyarkat Ekonomi Syariah ) yang tersebar diseluruh daerah yang ada di Indonesia dan GRES ( Gerakan Ekonomi Syariah ) seiring dengan berkembangnya dunia perbankan Syariah yang lahir berdasarkan prinsip Syariah. Dimana dalam perbankan Syariah istilah-istilah yang digunakan menggunakan bahasa Arab. Hal ini menarik perhatian peneliti untuk mengetahui bagaimana urgensi kemampuan bahasa Arab yang dibutuhkan dalam dunia kerja sector perbankan Syariah. Tujuan dalam penelitian ini , yaitu : (1) Kemampuan apa saja dalam berbahasa Arab yang dibutuhkan dalam dunia kerja sektor Perbankan Syariah di BRI Syariah Cabang Bangkalan. (2) Seberapa besar tingkat urgensi kemampuan bahasa Arab dalam dunia kerja sektor Perbankan Syariah. (3) Istilah-istilah bahasa Arab apa saja yang diterapkan pada BRI Syariah Cabang Bangkalan. Penelitian ini adalah bersifat kualitatif, melalui metode pengumpulan data, mengklasifikasi, menyusun, menganalisis dan memberikan interpretasi terhadap data yang ada. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data skunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara mendalam (indept interview) dengan pimpinan dan pegawai BRI Syariah Cabang Bangkalan-Madura. Adapun data skunder yang dikumpulkan oleh peneliti bersumber dari kamus Perbankan Syariah, buku saku Perbankan Syariah, kamus bahasa Arab dan referensi lainnya yang memiliki relevansi dengan topik penelitian.Keyword: Kemampuan Bahasa Arab, Perbankan Syariah, BRI Syariah
ANALISIS PERILAKU KONSUMSI DALAM ISLAM Septiana, Aldila
Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 2, No 1: Januari 2015
Publisher : Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This paper discusses the growing consumption behavior in the life of our society today? How suggestion in Islam about consumer behavior? As well as, how the analysis of consumer behavior in Islam. Based on the results of the analysis presented in this paper, it can be concluded, as follows: 1) In essence, man is homo economicus which is a human figure that is rational and berkebebasan in determining the options that exist to achieve certain goals, 2) Prompts in Islam about consumer behavior that maximizes maslahah. Maslahah is the nature of the goods and services or capabilities that support elements and the basic purpose of human life on this earth, and 3) the consumption behavior in Islam is not only for the material but also include social consumption formed in zakat and alms. In addition, the term “Maslahah”. Consumers who feel maslahah and love will still be willing to do an activity even though the physical benefits of these activities for itself no longer exists.Keywords: Consumption Behavior, Islam, MaslahahAbstrak: Tulisan ini membahas tentang perilaku konsumsi yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat kita saat? Bagaimana anjuran dalam Islam tentang perilaku konsumsi? Serta, bagaimana analisis perilaku konsumsi dalam Islam. Berdasarkan hasil analisis yang telah dipaparkan dalam tulisan ini, maka dapat diperoleh kesimpulan, yaitu sebagai berikut: 1) Pada hakikatnya manusia adalah homo economicus yang merupakan sosok manusia yang rasional dan berkebebasan dalam menentukan pilihan-pilihan yang ada untuk mencapai tujuan tertentu, 2) Anjuran dalam Islam tentang perilaku konsumsi yaitu memaksimalkan maslahah. Maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini, serta 3) Perilaku konsumsi dalam Islam tidak hanya untuk materi saja tetapi juga termasuk konsumsi sosial yang terbentuk dalam zakat dan sedekah. Selain itu, mengenal istilah “Maslahah”. Konsumen yang merasakan adanya maslahah dan menyukainya akan tetap rela melakukan suatu kegiatan meski manfaat fisik dari kegiatan tersebut bagi dirinya sudah tidak ada.Kata Kunci: Perilaku Konsumsi, Islam, Maslahah 
Al-Ijarah al-A’mal Al-Mustarakah dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Urunan Buruh Tani Tembakau di Desa Totosan Kecamatan Batang-batang Kabupaten Sumenep Madura) setiawan, Firman
Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 2, No 1: Januari 2015
Publisher : Dinar Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractIjarah is turning over the beneficial values of a legal product or good in the certain period of time using the iwadh system. People like to practice it in two ways, which are ijarah manfaat, such as leasing or renting a product and ijarah amal, typically called as farming workers or simply workers. At the village of Totosan, local people have a practice of ijarah amal in the sector of farming in which the farming workers are not regularly paid as usual. As a consequence, landlords will also work in the field of farming workers when it is needed. This practice is conducted in a small group of farmers so that each member has same right and responsibilities one another.The description leads my interest and curiosity to examine it further. The study is conducted particularly to know how the transaction really is on the perspective of Islamic law. Additionally, the proper right and responsibilities of each member is also another thing to search by studying the topic.This study is descriptive quantitatively presented. Meanwhile, the information of the practice is obtained through transcript of interview and observation. Afterward, the practice is studied on the perspective of Islamic law particularly using ijarah theory as found at authoritative legal books on daily practices and transactions (al-kutub fiqh muamalah mu’tabarah).The analysis of this case results a conclusion that cooperation in the farming practice is not legal according to ‘aqad al-ijarah al-a’mal al-musytarakah since it does not fulfill requirements on exact rules of contract, object and the fee. However, it can still be practiced using the basic value of helping each other or through cultural cooperation among farmers.Keyword: Ijarah al-A’mal, farming workers.AbstrakIjarah adalah memilikkan manfaat sesuatu yang mubah pada jangka waktu tertentu dengan adanya iwadh. Ada dua jenis ijarah yang biasa dilakukan oleh masyarakat, yakni ijarah manfaat, seperti sewa pada suatu barang, dan ijarah amal yang biasa disebut buruh atau tenaga kerja.Di desa totosan, terdapat sebuah praktek ijarah al-a’amal di bidang pertanian, di mana buruh tani tidak diberikan upah atas apa yang dia kerjakan, tetapi sebagai gantinya pemilik lahan juga akan bekerja di lahan buruh tersebut ketika sudah dibutuhkan. Dan praktek ini dilakukan oleh sekelompok petani, sehingga sama-sama memiliki hak dan kewajiban antara petani yang satu dengan petani yang lain.Berdasarkan gambaran tersebut, penulis tertarik untuk membahas dan mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana sebenarnya akad yang dilakukan oleh masyarakat tersebut, apa hak dan kewajiban yang mereka tanggung untuk kemudian dilihat dari perspektif hukum islam.Artikel ini disajikan secara deskriptif kualitatif. Praktek buruh tani yang informasinya diperoleh melalui wawancara dan observasi ini kemudian dilihat dari perspektif hukum islam yang dalam hal ini menggunakan teori ijarah yang terdapat dalam kitab-kitab fiqh muamalah al-mu’tabarah.Analisis terhadap kasus ini menghasilkan kesimpulan bahwa jika kerja sama di bidang pertanian ini dilakukan dengan menggunakan akad al-ijarah al-a’mal al-musytarakah, maka akadnya tidak sah, karena tidak memenuhi persyaratan pada kepastian akad, objek dan ujrahnya. Namun kerja sama ini bisa tetap dilanjutkan tetapi tidak menggunakan akad ijarah melainkan hanya sebatas tolong menolong atau gotong-royong antar petani.Kata kunci : Ijarah al-A’mal, buruh tani.

Page 1 of 1 | Total Record : 7