cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 157 Documents
Mortalitas Larva Litopenaeus vannamei Pada Penerapan Perbedaan Sistem Filtrasi Air Media Pemeliharaan Sunaryo, Sunaryo; Widiasa, I Nyoman; Djunaedi, Ali; Sasmoko, Priyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.771 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.3089

Abstract

Mortality of Litopenaeus vannamei larvae with the different filtration system of seawater as media for rearingMortality of Litopenaeus vannamei larvae in shrimp hatcheries centers is commonly high. Therefore, innovation to solve the problem through water quality management improvement in necessary by applying ultrafiltration system to shrimp hatchery. This experiment aims to determine larval mortality rate in response to the application of different filtration systems. Experiments were conducted using 4 milions larvae of L. vannamei shrimp. Shrimp larvae were kept in 4 tanks, each volume was 8 m3. Two reservoirs tank were equipped with ultrafiltration and other systems used sand-filter as controls. Implementation of experimental activities used action research method with two repetitions. Observation were conducted on mortality of shrimp larvae and water quality, i.e., temperature, salinity, pH, TSS, dissolved O2, NH3 and NO3-2. The result showed the shrimp larvae reared with the application of ultrafiltration system had significantly lower percentage of mortality (55,02 %) compared with filtering using sand-filter (59,58 %). Concentrations of Ammonia (NH3-N) and TSS content increased along with longer period of larval rearing.Mortalitas  larva udang Litopenaeus vannamei di sentra pembenihan masih tinggi. Inovasi sistem pengendalian kualitas air pada media pembenihan udang perlu dilakukan. Percobaan dilakukan untuk mengetahui respon tingkat mortalitas larva Litopenaeus vannamei denan penerapan perbedaan sistim filtrasi. Pelaksanaan percobaan menggunakan metode action research dengan pengulangan 2 kali. Percobaan dilakukan dengan menggunakan larva Udang Litopenaeus vannamei stadia larva sebanyak 4 juta ekor. Larva Udang dipelihara dalam 4 buah bak. Dua buah bak  dilengkapi dengan sistem ultrafiltrasi dan bak lainnya menggunakan sandfilter sebagai kontrol. Pengamatan dilakukan terhadap mortalitas larva udang, suhu, salinitas, pH, MPT, O2 terlarut, NH3 dan NO3-2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata mortalitas Larva udang Vannamei yang dipelihara dengan pola pemeliharaan dengan penerapan sistim ultrafiltrasi adalah 55.02% yang berbeda sangat nyata (p>0,01) dibandingkan dengan penerapan pola pemeliharaan menggunakan sandfilter yaitu 59,58% . Kualitas air media pemeliharaan larva udang Vannamei, terutama: kandungan Ammoniak (NH3-N) dan MPT menunjukkan semakin meningkat dengan semakin lamanya waktu pemeliharaan.
The Effect of Ultrasonic Wave Exposure on The Chlorophyll-a, b And Carotene Content of Nannochloropsis sp. Endrawati, Hadi; Zainuri, Muhammad; Widianingsih, Widianingsih; Hartati, Retno; Mahendrajaya, Robertus Triaji; Redjeki, Sri; Riniatsih, Ita; Azizah, Ria
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.502 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.3093

Abstract

Determination of chlorophyll-a, b and carotene content in microalgae is strongly dependent on the destruction of its cell wall during extraction process.  Harvesting of microalgae is important  because it will influence the nutrition content. The objective of present work is to optimize harvesting of Nannochloropsis sp by application of ultrasonic wave with frequency of 40 KHz under different exposure time.  There were 3 treatments, i.e. exposure time of 5, 10 and 15 minutes.  The chlorophyll-a, b, and carotene content were measured to gauge the effect of treatments. The result revealed that the cell wall of Nannochloropsis sp which made from carbohydrate were successfully broken by ultrasonic source equipment. It showed that the exposure time of  5, 10 and 15 minutes affected cell wall’s breaking percentage of Nannochloropsis sp cell by 10,35;  32,15; and 72,09 %, respectively. The longer exposure time of ultrasonic wave, the higher content of  chlorophyll-a, b, and carotene.
Intrusi Air Laut Berdasarkan Resistiviti dan Hidrokimia di Pesisir Tugu Kota Semarang Indonesia Widada, Sugeng; Rochaddi, Baskoro; Suryono, Chrisna Adhi; Irwani, Irwani
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.618 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.3610

Abstract

Sea Water Intrusion Based on Resistivity and Hydrochemical in Tugu Coastal Area of Semarang City  Tugu Coastal Area is one of the coastal areas in Semarang City, Central Java Province that continues to grow. Although the clean water network from the  Local Water Supply Utility is available, groundwater is still used to meet the water needs of the community.  Some of the groundwater in the area is brackish to salty conditions as the result of sea water intrusion process. The research aims to determine configuration of aquifers which have been intruded with sea water in Tugu Coastal Area, Semarang City, so that groundwater exploitation from the aquifer can be avoided. The method used in this study was descriptive analysis, in which the condition of aquifers was based on interpretation of resistivity data. Simple hydrochemical facies analysis using the Trilinier Piper Diagram method is carried out to detect sea water intrusion. The results of the study indicated that aquifers in the Coastal area consisted of several layers. Aquifer which has been intruded with seawater is located on the north side of the Semarang - Kendal highway, both for confined and unconfined aquifers. The depth of confined aquifer which is intruded by sea water reaches 50 - 75 m below the local land surface. While the unconfined aquifer depth is up to a depth of 6 m below the local land surface. Wilayah Pesisir Tugu, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah pesisir di Kota Semarang yang terus berkembang. Meskipun jaringan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum telah tersedia, namun pemanfaatan air tanah masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat. Sebagian air tanah di daerah tersebut dalam kondisi payau hingga asin yang diduga akibat proses intrusi air laut.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konfigurasi akuifer yang telah terintrusi air laut Wilayah Pesisir Tugu, Kota Semarang, sehingga dapat dihindari pengambilan air tanah dari akuifer tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptis analisis untuk menggambarkan kondisi akuifer berdasarkan hasil interpretasi data geolistrik resistiviti.  Analisa fasies hidrokimia secara sederhana dengan metode Diagram Triliner Piper dilakukan untuk mendeteksi adanya intrusi air laut. Hasil penelitian menujukan bahwa akuifer di daerah Pesisir Tugu terdiri dari beberapa lapisan. Akuifer yang telah terintrusi air laut adalah yang berada di sebelah utara jalan raya Semarang – Kendal, baik untuk akuier bebas maupun akuifer tertekan. Kedalaman akuifer tertekan yang terintrusi adalah hingga mencapai 50 sampai dengan 75 m di bawah muka tanah setempat. Sedangkan kedalaman akuifer bebasnya berada hingga kedalaman 6 m di bawah muka tanah setempat
Identifikasi dan Analisis Filogenetik Portunus trituberculatus Dari Perairan Cirebon Menggunakan Barkode Gen COI Mitokondrial Subagiyo, Subagiyo; Handayani, Retna; Rahayu, Rahayu; Sibero, Triandala Mada
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.681 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.3091

Abstract

Phylogenetic Identification and Analysis Portunus trituberculatus from Cirebon Coast Using the COI Barcode  Mitochondrial Portunus trituberculatus spesimen from Cirebon coast were successfully identified using mitochondrial DNA cytochrome c oxydase subunit I (COI) genes. Analysis of haplotype distribution of P. trituberculatus along with the same species from China, Korea, India and the Philippines obtained from NCBI gene banks resulted 17 haplotypes from 25 specimens. Haploid diversity was 0.943 + 0.031 and nucleotide diversity was 0.04821 + 0.0139. The Cirebon specimen is in separated haplotipe from the others. The results of phylogenetic analysis showed that the 25 specimens were clustered into 3 clusters in 2 different lineages with percentages genetic distance were 12.76%, 14.24% and 14.33% respectively. The genetic distance within each cluster ranges from 0 - 2.92%. The Cirebon crab specimen is in the same cluster as the Philippine specimen with 1% genetic distance.  Spesimen rajungan Portunus trituberculatus dari perairan Cirebon berhasil diidentifikasi menggunakan gen  mitochondrial DNA cytochrome c oxidase subunit I (COI). Analisis distribusi haplotipe dengan data P trituberculatus yang berasal dari China, Korea, India dan Filipina yang diperoleh dari data genebank NCBI didapatkan 17 haplotipe dari 25 spesimen, dengan keragaman haploid 0,943 +0.031 dan keragaman nukleotida 0,04821+0.0139. Spesimen Cirebon merupakan haplotipe yang terpisah dari yang lainnya. Hasil kajian filogenetik menunjukkan 25 spesimen mengelompok ke dalam 3 kluster dari 2 garis keturunan yang berbeda dengan jarak genetik berturut turut  12,76 %, 14,24 % dan 14,33 %. Jarak genetik di dalam masing-masing kluster berkisar antara 0 – 2,92 %.  Spesimen rajungan Cirebon berada pada garis keturunan dan kluster yang sama dengan spesimen Filipina dengan jarak genetik 1%. 
Kontaminasi Arsen, Merkuri dan Magnesium pada Air Laut Sedimen dan Anadara inaequivalvis (Mollusca: Bivalvia, Bruguiera, 1792) di Perairan Brebes, Indonesia Suryono, Chrisna Adhi; Widada, Sugeng; Rochaddi, Baskoro; Subagiyo, Subagiyo; Setyati, Wilis Ari; Susilo, Endang Sri
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.698 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.3850

Abstract

Contamination of Arsen, Mercury and Magnesium in the Seawater, Sedimen and Anadara inaequivalvis (Mollusca: Bivalvia, Bruguiera, 1792) in Brebes, Indonesia Brebes coastal areas have been developed into industrial areas and human settlement.  It has been causing effect on coastal environmental.  Heavy metal is one of many source of pollution in coastal environmental.  In order to assess As, Hg and Mg contaminant on the Brebes coast, Central Java, samples of marine water, sediment and Anadara inaequivalvis specimens were collected for analyzed by Inductively Coupled Plasma-Mass Spectrometer (ICPMS).  The result showed that the heavy metal As, Hg and Mg were found in the sea water, sediment, and in the tissue of A. inaequivalvis.  The concentration of Mg was the highest compared to As and Hg in all samples.  Meanwhile As and Hg had the lowest concentration.  We concluded that Brebes coastal areas has been contaminated by heavy metals.  The bio-ability of bivalves to accumulate heavy metals depends on many factors such as geochemical and biological factors. Pesisir Brebes telah berkembang menjadi daerah industri dan tempat tinggal.  Hal tersebut tentunya akan memberi dampak pada lingkungan pesisir.  Logam berat perupakan salah satu penyebap pencemaran di lingkungan pesisir.  Untuk mengetahui kontaminasi As, Hg dan Mg di pesisir Brebes, maka beberapa sampel air laut, sedimen dan kerang A. inaequivalvis dianalisa menggunakan ICPMS.  Hasil penelitian menunjukan bahwa logam berat As, Hg dan Mg ditemukan dalam air laut, sedimen dan kerang A. inaequivalvis.  Konsentrasi Mg menunjukan nilai yang paling tinggi di semua sampel yang dianalisa.  Sedangkan konsentrasi As dan Hg menunjukan nilai yang rendah secara berurutan.  Hal ini dapat disimpulkan bahwa pesisir Brebes talah terkontaminasi oleh logam berat.  Kemampuan bivalvia unuk mengakumulasi logam tergantung banyak faktor seperti kondisi geokimiawi dan biologis. 
Karakteristik Habitat Siput Gonggong Strombus turturella di Ekosistem Padang Lamun Supratman, Okto; Syamsudin, Tati Suryati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.639 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.2969

Abstract

Characteristic of Dog Conch Strombus turturella Habitat on The Seagrass Ecosystem  Strombus turturella or commonly known as dog conch is one of marine shellfish which has important ecological role, as well as high economical value as fisheries commodity. The objectives of the study were to determine the density and biomass of the shellfish, as well as to observe the distribution pattern and the characteristics of dog conch habitat in the seagrass ecosystem. The research was conducted at Tukak Island and Anak Air Island, Bangka Belitung Islands. Density of the shellfish, seagrass coverage, seagrass density as well as water chemistry and physical parameters, while data collection in laboratory, measurement of dog conch biomass, substrate texture test and organic matter content. Habitat characteristics were determined using principal component analysis (PCA), which connects between dog conch  density variables, seagrass vegetation and chemical physics parameters. The average density of dog conch in all locations is 2312 ind / ha. The pattern of distribution of dog conch at the study site there is a pattern of uniform distribution and clumping, but the overall pattern of distribution is clustering. The PCA results show dog conch, with habitat characteristics that is very low seagrass cover (1-5%), overgrown species of Halophila minor seagrass, with the condition of muddy sand substrate and low content of organic matter. Result of the correlation matrix dog conch was correlated with H. Minor seagrass (0.88), very low seagrass cover (0.86) and muddy sand substrate (0.9). This is aimed at dog conch keeping specific microhabitat in the seagrass ecosystem.  Siput gonggong memiliki peranan ekologis yang penting di habitatnya. Nilai ekonomis siput gonggong yang tinggi sebagai komoditas perikanan telah menyebabkan eksploitasi berlebihan terhadap spesies tersebut. Tujuan penelitian yaitu 1)menentukan kepadatan dan biomassa siput gonggong, 2)Pola sebaran dan 3)Karakteristik habitat siput gonggong di ekosistem padang lamun. Penelitian dilakukan di Pesisir Tukak dan Pulau Anak Air, Kepulauaan Bangka Belitung. Pengambilan data di lapangan melputi pengukuran kepadatan, perhitungan tutupan lamun, kerapatan lamun dan pengukuran parameter fisika kimia perairan, sedangkan pengambilan data di laboratorium meiputi, pengukuran biomassa siput gonggong, uji tekstur substrat dan kandungan bahan organik. Karakteristik habitat ditentukan menggunakan analisis komponen utama (PCA), yang menghubungkan antar variabel kepadatan siput gonggong, vegetasi lamun dan parameter fisika kimia perairan. Kepadatan rata-rata siput gonggong di semua stasiun yaitu 2312 ind/ha. Pola sebaran siput gonggong di stasiun penelitian ada pola sebaran seragam dan mengelompok, tetapi secara keseluruhan pola sebaran yaitu mengelompok. Hasil PCA menujukan  siput gonggong, dengan karakteristik habitat yaitu tutupan lamun sangat rendah (1-5 %), ditumbuhi spesies lamun Halophila minor, dengan kondisi substrat pasir berlumpur dan rendah kandungan bahan organik. Selain itu berdasarkan hasil matrik korelasi bagian dari output PCA siput gonggong berkorelasi positif dengan lamun H. Minor (0,88), tutupan lamun sangat rendah (0,86) dan substrat pasir berlumpur (0,9). Hal ini menujukan siput gonggong menepati mikrohabitat yang spesifik di ekosistem padang lamun. 
Pemanfaatan Jamur Simbion Sponge dalam Bioisomerasi Asam Lemak pada Dedak untuk Menghasilkan Asam Lemak Cis Trianto, Agus; Sedjati, Sri; Radjasa, Ocky Karna; Afriyanto, Rachmat; Muchlisin, Sakti Imam; Radjasa, Septhy Kusuma; Bahry, Muhammad Syaifudien
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.209 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.3559

Abstract

Utilization of Sponges Symbiotic Fungus in the Bioisomeration  of Fatty Acids in Brans to Produce Cis Fatty Acid  Trans fatty acids are known to have a negative impact on human health such as triggering the coronary heart and blood vessel related diseases. However, many food and animal feed contain trans fatty acids.  Bran, which is widely used as animal feed has high fatty acid content and the majority are trans fatty acids. This study aims to determine the potential of Trichoderma harzanum, a sponge symbiont fungus, in the process of fatty acid bioconversion in bran. Bran was fermented in saline and non-salin condition for 15 days in the room temperature. Both fermented and not bran was extracted with methanol, and the extracts were concentrated with rotary evaporator. Fatty acid extracts were analyzed on the GC with hydrolysis and methylation as pre-treatments. The test results showed the fatty acid composition changed, and the was formation of new fatty acids. The bioisomeration process occurs in the Trans-9-Elaidic acid Methyl esther into Cis-9-Oleic Methyl ester. Cis-9-oleic acid is known as oleic acid which is widely found in olive and sunflowers oil. The fungus has potential as biocatalys for production of cis fatty acid. Asam lemak trans dikenal mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan manusia seperti memicu terjadinya penyakit jantung koroner dan penyakit terkait pembuluh darah. Namun asam lemak trans banyak terkandung dalam berbagai jenis bahan makanan maupun pakan ternak diantaranya adalah dedak.  Dedak banyak digunakan sebagai pakan ternak mempunyai kandungan asam lemak yang tinggi dan mayoritas adalah asam lemak trans.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi jamur simbion spons Trichoderma harzanum dalam proses biokonversi asam lemak pada dedak.  Fermentasi dedak dilakukan dalam kondisi salin dan unsalin selama 15 hari pada suhu ruang. Dedak yang difermentasi maupun tidak kemudian diekstrak dengan metanol kemudian dipekatkan dengan rotari eveporator.  Ekstrak asam lemak degan GC dengan pre-treatment meliputi hidrolisis dan metilasi. Hasil uji menunjukan adanya perubahan komposisi dan terbentuknya asam lemak baru. Proses bioisomerasi terjadi pada Trans-9-Elaidic acid Methyl estermenjadi Cis-9-Oleic Methyl ester. Cis-9-oleic acid yang dikenal dengan asam oleat yang banyak terdapat dalam minyak zaitun dan bunga matahari. Jamur T. Harzianum mempunyai potensi sebagai biokatalis untuk memproduksi asam lemak cis.
Kandungan Timbal Pada Air, Sedimen, Dan Rumput Laut Sargassum sp. Di Perairan Jepara, Indonesia Azizah, Ria; Malau, Rotua; Susanto, AB; Santosa, Gunawan Widi; Hartati, Retno; Irwani, Irwani; Suryono, Suryono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.65 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.3010

Abstract

Concentration of Lead in the Seawater, Sediment, and the Seaweed Sargassum sp. in Jepara waters, Indonesia The increasing human activities led to an increase in waste disposal which eventually accumulates and decrease the water quality of rivers and seas. One of the pollutant resulted by human activities is heavy metal. The presence of heavy metals in the waters could directly harm the bioorganisms and indirectly affect human health by food chains. The purpose of this research is to investigate the lead content (Pb) in the water, sediment, and seaweed Sargassum sp., as well as to determine the status of pollution in Teluk Awur waters, Jepara. The research was conducted in November 2017 and January 2018 using descriptive method. Sampling sites were decided by Purposive Sampling Method. Analysis of lead content was conducted using AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry). The results showed that the lead content of seawater in Teluk Awur, Jepara, was within 0.003 mg/L and not on the level of concern, according to KepMen LH No. 51/2004. The range of lead content in the sediment was 47- 68,35 mg/kg and considered as polluted, according to NRCC GBW07313. The range of lead content in the seaweed Sargassum sp. was 0.22-0.79 mg/kg and has exceeded the quality standard  specified by PerBPOM No. 23/2017. Meningkatnya  kegiatan  manusia  menyebabkan  peningkatan  pembuangan  limbah  yang pada akhirnya bermuara ke sungai maupun laut, yang mengakibatkan perairan laut menjadi tercemar. Salah satu pencemar akibat aktivitas   manusia   adalah   logam   berat   timbal yang dapat membahayakan kehidupan organisme perairan secara langsung, maupun tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan logam berat Pb pada air, sedimen, dan rumput laut Sargassum sp. serta untuk mengetahui status pencemaran di Perairan Teluk Awur, Jepara. Penelitian dilakukan pada bulan November 2017 dan Januari 2018. Metode penelitian yang digunakan  adalah  metode  deskriptif.  Penentuan  lokasi  penelitian  dilakukan dengan Purposive Sampling Method. Analisis logam berat Pb dilakukan dengan menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry). Hasil penelitian menunjukan kandungan logam berat Pb di Perairan Teluk Awur, Jepara, pada air laut yaitu 0,003 mg/L dan masih belum tercemar menurut KepMen LH No.51/2004. Kandungan logam berat Pb pada sedimen yaitu berkisar 47 - 68,35 mg/kg dan telah tercemar menurut NRCC GBW07313. Kandungan logam berat Pb pada rumput laut Sargassum sp. yaitu berkisar 0,22 - 0,79 mg/kg dan telah melebihi baku mutu yang ditentukan oleh PerBPOM No. 23 Tahun 2017 
Kontaminasi Tembaga pada Mugil dussumieri (Actinopterygii: Mugilidae, Forsskål, 1775) yang Ditangkap di Perairan Semarang, Indonesia Suryono, Chrisna Adhi; Susilo, Endang Sri; Arinianzah, Aldo Rizqi; Setyati, Wilis Ari; Irwani, Irwani; Suryono, Suryono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.214 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.2402

Abstract

Contamination of Copper in Mugil dussumeri (Actinopterygii: Mugilidae, Forsskål, 1775) which was caught in Semarang waters, Indonesia The marine environment in Semarang waters are highly polluted by heavy metals such as copper (Cu).  On the other side, these areas have become producers of fishery commodities such as mullet fish Mugil dussumieri. The aims of this study was to determine the heavy metal content of Cu in mullet fish during wet monsoon (December 2017 and February 2018). Atomic Absorption Spectrophotometer were used to analysis of Cu concentration in marine water and fish meat.  The results show that the Cu content in marine water was not detected while in the meat of mullet fish during December 2017 and February 2018 were 0.66 ± 0.07 mg/kg and 0,604 ± 0.217 mg/kg, respectively. The results were still within the quality standard for maximum limit of Cu content allowed in seafood by FAO/WHO. Lingkungan perairan laut di sekitar Semarang berpeluang sangat tinggi untuk terpolusi logam berat tembaga.  Di lain sisi perairan ini menjadi daerah produksi perikanan seperti ikan belanak Mugil dussumieri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan logam Cu dalam daging ikan belanak yang ditangkap selama musim penghujan (Desember 2017 dan Februari 2018). Untuk mengetahui konsentrasi Cu dalam air laut dan ikan belanak digunakan Atomic Absorption Spectrophotometer.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi logam Cu selama bulan Desember 2017 adalah 0.66 ± 0.07/kg dan selama bulan Februari 0,604 ± 0.217 mg/kg, sedangkan konsentrasi Cu dalam air laut tidak terdeteksi.  Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kandungan Cu dalam ikan belanak masih berada pada konsentrasi yang diperbolehkan oleh FAO/WHO.
Kemampuan Biosorpsi Dan Pertumbuhan Rumput Laut Gracilaria sp. Pada Media Mengandung Logam Berat Kadmium (Cd) Yulianto, Bambang; Pramesti, Rini; Hamdani, Rozi; Sunaryo, Sunaryo; Santoso, Adi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.027 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.3849

Abstract

Biosorption Capacity and Growth of Seaweed Gracilaria sp. In Media Containing Heavy Metal Cadmium (Cd) Contamination of coastal and marine waters by heavy metals in significant concentrations will threaten the lives of biota inhabitant. One of the dangerous heavy metals due to its potential toxicity is cadmium (Cd). The purpose of this study was to find out: biosorption ability of Gracilaria sp. against Cd in seawater media, the effect of exposure time on Cd content absorbed by Gracilaria sp., and growth of Gracilaria sp. in Cd-contaminated media with different concentrations. This study used a laboratory experimental method, by exposing Gracilaria sp. to three different concentration treatments and one control treatment (A: Control; B: 0.1 mg/L; C: 1 mg/L; and D: 10 mg/L) for 4 weeks. Observation of biosorption ability and growth of Gracilaria sp. was done every week. The results of the research on biosorption ability showed that Gracilaria sp. was able to absorb Cd dissolved in seawater. The concentrations of Cd absorbed by Gracilaria sp., respectively in treatment B were 1.81 mg/kg (first week), 2.33 mg/kg (second week), 4.51 mg/kg (3rd week), and 1.47 mg/kg (4th week); in treatment C were 8.07 mg/kg (first week), 11.67 mg/kg (second week), 9.86 mg/kg (3rd week), and 8.67 mg/kg (4th week); and in treatment D were 52.59 mg/kg (first week), 56.66 mg/kg (second week), 78.01 mg/kg (3rd week), and 87.67 mg/kg (4th week). It is concluded that Gracilaria sp was capable of absorbing cadmium dissolved in seawater. However, the growth of Gracilaria sp. (absolute and specific growth rate) showed a decrease in biomass weight due to exposure to Cd-contaminated media, making Gracilaria sp. was not as a good species to be used as a Cd-metal hyperaccumulator. Kontaminasi perairan pesisir dan laut oleh logam berat dalam konsentrasi yang signifikan akan mengancam bagi kehidupan biota yang ada di dalamnya. Salah satu logam berat yang berbahaya karena sifat toksisitasnya adalah Kadmium (Cd). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui: 1) kemampuan biosorpsi  rumput laut Gracilaria sp. terhadap logam berat Cd dalam media air laut dengan konsentrasi yang berbeda, 2) mengetahui pengaruh perbedaan waktu pendedahan (exposure time) terhadap kandungan logam Cd terabsorpsi oleh Gracilaria sp., dan 3) mengetahui pertumbuhan Gracilaria sp. pada media terkontaminasi logam berat Cd dengan konsentrasi yang berbeda. Penelitian menggunakan metode eksperimental laboratoris, dengan melakukan pemaparan rumput laut Gracilaria sp. pada tiga perlakuan konsentrasi yang berbeda dan satu perlakuan kontrol (A: Kontrol; B: 0,1 mg/L; C; 1 mg/L; dan D 10 mg/L) selama 4 minggu masa pemeliharaan. Pengamatan kemampuan bioabsorpsi dan pertumbuhan Gracilaria sp. dilakukan setiap minggu. Hasil penelitian kemampuan bioabsorpsi  menunjukkan bahwa Gracilaria sp. mampu menyerap logam  Cd yang terlarut dalam air laut. Konsentrasi logam berat Cd yang diserap Gracilaria sp. pada perlakuan B = 1,81 mg/kg (minggu ke-1), 2,33 mg/kg (minggu ke-2), 4,51 mg/kg (minggu ke-3), 1,47 mg/kg (minggu ke-4); Perlakuan C = 8,07 mg/kg (minggu ke-1), 11,67 mg/kg (minggu ke-2), 9,86 mg/kg (minggu ke-3), dan 8,67 mg/kg (minggu ke-4); Perlakuan D = 52,59 mg/kg (minggu ke-1), 56,66 mg/kg (minggu ke-2), 78,01 mg/kg (minggu ke-3), dan 87,67 mg/kg (minggu ke-4). Dapat disimpulkan bahwa Gracilaria sp mampu menyerap Cd terlarut dalam air laut. Namun demikian, pertumbuhan Gracilaria sp. (pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik) mengalami penurunan berat biomassa akibat pemaparan pada media mengandung logam Cd, sehingga menjadikan spesies Gracilaria sp. bukan sebagai spesies hiperakumulator yang baik untuk logam Cd.

Page 1 of 16 | Total Record : 157