cover
Contact Name
Isnen Fitri
Contact Email
isnen@usu.ac.id
Phone
+62911-323382
Journal Mail Official
kapata.arkeologi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Namalatu-Latuhalat, Kec. Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku 97118, Indonesia
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Kapata Arkeologi
Published by Balai Arkeologi Maluku
Kapata Arkeologi is aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. All papers are peer-reviewed by at least two referees. Kapata Arkeologi is managed to be issued twice in every volume. Kapata Arkeologi publish original research papers, review articles, case studies and conceptual ideas or theories focused on archaeological research and other disciplines related to humans and culture. The Scope of Kapata Arkeologi is: Archaeology Anthropology History Cultural Studies
Articles 302 Documents
Recent Rock Art Research on East Seram, Maluku: A key site in the rock art of West Papua and South East Maluku Oktaviana, Adhi Agus; Lape, Peter Van; Ririmasse, Marlon NR
Kapata Arkeologi Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v14i2.534

Abstract

Gambar cadas di Indonesia mulai diteliti sejak sebelum abad 20. Sejumlah publikasi ilmiah sebelumnya mencatat keberadaan situs gambar cadas di Pulau Seram, Provinsi Maluku yaitu di tebing Sawai dan Sungai Tala. Survei arkeologi terkini di kawasan Seram Timur dan Seram Laut yang dilakukan oleh gabungan Tim Peneliti Indonesian-American berhasil menemukan Situs gambar cadas baru di pesisir Seram Timur. gambar cadas ini terlukiskan di permukaan dinding tebing bernama lokal tebing Watu Sika. Gambar cadas di Situs Watu Sika tampak mirip dengan sejumlah situs gambar cadas lainnya di Indonesia Timur yang sebagian besar terlukis di dinding tebing karst sepanjang wilayah pesisir. Penelitian ini menggunakan metode perekaman verbal dan piktorial dibantu aplikasi Dstretch untuk memperjelas gambar-gambar agar mudah diidentifikasi. Penelitian ini menganalisis sejumlah pola figuratif dan non figuratif pada motif-motif gambar cadas di Situs Watu Sika. Hasil identifikasi terhadap sejumlah motif gambar cadas di situs ini diketahui terdapat motif gambar cadas berbentuk figur manusia, hewan, ikan, perahu, hand stencils negatif, dan pola geometris. Penelitian ini juga membahas analisis latar belakang konteks sosial terhadap tradisi gambar cadas di wilayah sekitarnya, yaitu wilayah Laut Banda. Berdasarkan jaringan persebaran temuan gambar cadas di Indonesia Timur, maka menghasilkan pengetahuan baru bahwa analisis data sementara ini menunjukkan Situs Watu Sika merupakan kunci penghubung jalur persebaran gambar cadas yang berasal dari wilayah barat ke dua jalur, pertama jalur ke arah Timur Laut, yaitu wilayah Papua dan Jalur ke Selatan, yaitu ke arah Kepulauan di sekitar Laut Banda.Rock art in Indonesia has been investigated before the 20th century. A number of previous scientific publications noted the existence of rock art sites on Seram Island, Maluku Province, which was on the cliff of Sawai and Tala River. Recent archaeological surveys in the area of East Seram and Seram Laut conducted by a joint Indonesian-American Research Team discovered a new rock art site in the coast of East Seram. The rock art is painted on the cliff wall which is called by the locals as Watu Sika. Rock art on the Watu Sika Site is similar to a number of rock art at other sites in Eastern Indonesia which were mostly painted on karstic cliffs along the coast. This study used verbal and pictorial recording methods using the Dstretch application to clarify images to support identification. This study analyzed a number of figurative and non-figurative patterns of rock art motifs at Watu Sika Site. The results of the identification of a number of rock art motifs on this site show that there are several patterns including figures of human, animal, fish, boats, negative hand stencils, and geometric patterns. This study also discussed an analysis of the social context background of rock art tradition in the surrounding region, particularly at the Banda Sea region. Based on the distribution network of rock art findings in eastern Indonesia, new insights are generated that this interim data analysis show that Watu Sika Site is the key to connecting the distribution path of rock art originating from the western region into two lanes. The first lane to the Northeast, which is the Papua region and South Lane, expanding towards the Islands around the Banda Sea.
Varieties and Origins of Kampai Island Glass Beads Soedewo, Ery
Kapata Arkeologi Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v14i2.532

Abstract

Manik-manik kaca yang ditemukan di berbagai situs arkeologi di Asia Selatan dan Asia Tenggara antara abad 1 dan 13 umumnya disebut sebagai manik-manik kaca Indo-Pasifik. Berbagai bentuk dan warna manik-manik kaca ditemukan di Pulau Kampai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Data yang dikumpulkan dari manik-manik kaca diperoleh dari penggalian arkeologi di Pulau Kampai. Dalam menganalisis varietas manik-manik kaca, penelitian ini mengkarakterisasi varietas manik-manik kaca Pulau Kampai berdasarkan tipologi dan frekuensi, yaitu manik-manik kaca polos dan manik-manik kaca berlekuk. Sejumlah manik-manik kaca ini dianalisis di laboratorium untuk mengidentifikasi komposisi bahan. Dalam menentukan asal produksi manik-manik kaca, penelitian ini menggunakan metode komparatif pada beberapa penelitian yang terpublikasi. Melalui perbandingan temuan limbah manik-manik kaca dari pusat produksi Arikamedu dan manik-manik kaca di Papanaidupet (India) dan Gudo (Indonesia), hasilnya diketahui bahwa Pulau Kampai adalah tempat produksi manik-manik kaca di wilayah Selat Malaka antara abad ke-11 hingga ke-14. Munculnya pulau Kampai sebagai tempat produksi manik-manik kaca pada abad ke-11 kemungkinan disebabkan oleh kondisi geopolitik. Tradisi pembuatan manik-manik kaca menyebar ke Pulau Kampai karena pengaruh Kerajaan Caka meningkat di wilayah Selat Malaka setelah ekspansinya ke beberapa tempat di wilayah tersebut.The glass beads discovered in various archaeological sites in South Asia and Southeast Asia between the 1st and 13th centuries were generally referred to as Indo-Pacific glass beads. Various shapes and colors of glass beads are found on Kampai Island, Langkat Regency, Sumatera Utara. Collected data of glass beads were obtained from archaeological excavations in Kampai Island. In analyzing varieties of glass beads, this study characterizes the variety of Kampai Island glass beads based on their typology and frequency, i.e., drawn glass beads and wound glass beads. A number of these glass beads were analyzed in the laboratory to identify the composition of the ingredients. In determining the origin of glass beads production, this study used a comparative method on some published research. Through comparison of the findings of glass beads wastes from Arikamedu and glass beads production centers in Papanaidupet (India) and Gudo (Indonesia), the result finds that Kampai Island was a glass beads production site in the Malacca Strait region between 11th–14th centuries. The emergence of Kampai island as a glass beads production site in the 11th century was likely a result of geopolitical conditions. Glass bead making traditions spread to Kampai Island as Cōla Kingdom influences rose in Malacca Strait region after its expansion to several places in that region.
Kaimear Island Rock Art Site at Kur Island in West Kei Islands Region, A New Discovery in Eastern Indonesia Handoko, Wuri; Peseletehaha, Godlief Arsthen; Huwae, Andrew; Rumaf, Tofan Gayum
Kapata Arkeologi Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v14i2.531

Abstract

Situs Rock art di Pulau Kaimear, Kepulauan Kur yang berada di kawasan Kepulauan Kei adalah temuan situs rock art terbaru, dan untuk pertama kalinya dicatat dan dilaporkan oleh Tim Penelitian Balai Arkeologi Maluku pada tahun 2018. Situs rock art di Pulau Kaimear sebelumnya tidak pernah dicatat dan dilaporkan oleh arkeolog di dunia. Temuan rock art Kaimear menambah deretan sejumlah rock art di Kepulauan Maluku yang sebelumnya dilaporkan oleh para arkeolog dari negara luar. Penelitian ini merupakan publikasi terkini terkait dengan penemuan lokasi situs rock art baru di wilayah Maluku. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif berdasarkan penelitian arkeologi melalui survei dan observasi didukung oleh studi pustaka. Penelitian ini juga bersifat penelitian eskploratif yang menindaklanjuti informasi dari masyarakat lokal. Pengumpulan data penelitian ini dengan cara mengambil gambar sejumlah panel rock art dan catatan lapangan yang berisi deskripsi singkat. Berdasarkan hasil analisis data, rock art di Pulau Kaimear termasuk temuan rock art yang masif, dengan jumlah gambar diperkirakan mencapai 400-500 motif gambar pada satu lokasi ceruk tebing cadas yang terjal. Selain bentuk figur manusia dalam berbagai variasi gaya, juga ditemukan bentuk hand stencil, foot stencil, perahu, hewan, lingkaran, dan masih banyak jenis gambar-gambar lain yang belum teridentifikasi. Hasil penelitian cukup menunjukkan pentingnya temuan situs ini, maka perlu ditindaklanjuti penelitian yang lebih sistematis dan intensif guna menunjang upaya pelestarian situs di masa yang akan datang.The Rock art site on Kaimear Island, the Kur Islands in the Kei Islands region was for the first time recorded and reported by the Balai Arkeologi Maluku Research Team in 2018. Archaeologists have never recorded and reported any rock art site on Kaimear Island before. The discovery of Kaimear's rock art adds to the rock art sites in Maluku, which were previously reported by archaeologists from outside the country. This study uses a qualitative descriptive approach based on archaeological research through surveys and observations supported by literature studies. It is also exploratory research that follows up information from local communities. Data collection for this study consisted of taking images of a number of rock art panels and field notes containing a brief description. Rock art on Kaimear Island includes many panels of rock art, with the number of images estimated at 400-500 patterns in a steep rocky niche location. In addition to human figure shapes in various styles, there are also hand stencils, foot stencils, boats, animals, circles, and many other unidentified images. The results of the study establish the importance of the discovery of this site, and that it is necessary to follow up with more systematic and intensive research to support the preservation of the site in the future.
Local Community Participation in Establishing the Criteria for Heritage Significance Assessment of the Cultural Heritage in Medan Fitri, Isnen; Ahmad, Yahaya; Ratna, nfn
Kapata Arkeologi Vol. 15 No. 1 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v15i1.523

Abstract

Nilai penting adalah satu-satunya alasan yang mendasari pelestarian cagar budaya. Terbukti bahwa tidak ada masyarakat yang berupaya melestarikan aset bersejarah yang tidak mengandung nilai. Sejak penerbitan Burra Charter pada tahun 1979, banyak negara mengakui pentingnya mengidentifikasi makna atau nilai penting objek warisan budaya untuk mengembangkan kebijakan dan perencanaan dalam pengelolaannya. Saat ini, asesmen nilai penting objek warisan budaya adalah bagian dari proses penetapan aset sejarah menjadi cagar budaya. Meskipun wacana konservasi cagar budaya di Kota Medan telah berkembang sejak 1980-an, tetapi asesmen nilai penting budaya masih merupakan konsep baru untuk komunitas cagar budaya Indonesia karena tidak terdapat uraian yang jelas dalam Undang-Undang Cagar Budaya No. 11 tahun 2010. Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu seperangkat kriteria yang mengandung prinsip, karakteristik, kategori, dan panduan untuk membantu menetapkan apakah aset bersejarah mengandung nilai warisan budaya atau tidak dan untuk menghasilkan penilaian yang lebih akuntabel, transparan, dan konsisten. Menetapkan daftar kriteria selayaknya menjadi wilayah para akademisi dan para ahli yang dikoordinasikan oleh pihak berwenang di daerah setempat. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penetapan kriteria untuk penilaian signifikansi dapat dilakukan dengan melibatkan 33 orang masyarakat lokal melalui tiga fase pengumpulan data dan analisis antara lain survei lapangan; wawancara mendalam; pertemuan kelompok; dan kuesioner kepada 33 peserta. Akhirnya, penelitian ini menghasilkan enam kriteria untuk penilaian penetapan cagar budaya di Kota Medan yang berasal dari lima nilai: sejarah, desain atau arsitektur fisik, budaya dan spiritual, ilmiah, dan sosial. Value is the sole reason underlying heritage conservation. It is self-evident that no society makes an effort to conserve a historic asset what it does not value. Since the publication of the Burra Charter in 1979, many countries recognized the importance of identifying the cultural heritage significance or values to develop the policy and planning in heritage management. Today, the cultural significance assessment is part of the listing process of a historical asset as heritage. Although the discourse of cultural heritage conservation in Medan had evolved since the 1980s, cultural significance assessment is still a new concept for Indonesia heritage community with the absence of its description within the Indonesian Heritage Act No. 11 of 2010. For that reason, we need a set of criteria which contain principles, characteristics, categories, and guidance to help decide whether a historic asset has heritage value or not and to make the assessment results more accountable, transparent, and consistent as well. Establishing criteria for listing have traditionally been the territory of academics and experts coordinated by the authorities of the region. However, this study has shown that establishing criteria for significance assessment could be done by involving 33 local people through three phases of data collections and analyses such as field survey; in-depth interview; group meeting; and questionnaire to the 33 participants. Finally, the research revealed six criteria for the significance assessment of cultural heritage in Medan derived from five values: history, physical design or architecture, cultural and spiritual, scientific, and social.
Assessment of Old Buildings in Lasem City Based on Tiered Quantitative Analysis Method with Weighting Factors Putranto, Andi; Pradnyawan, Dwi
Kapata Arkeologi Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v14i2.522

Abstract

Bangunan tua di Kota Lasem merupakan peninggalan sejarah dari masa Kolonial. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, bangunan-bangunan tersebut dapat dikategorikan sebagai Bangunan Cagar Budaya jika telah melalui proses pendaftaran dan penilaian hingga pada akhirnya dilakukan penetapan oleh pemerintah sesuai dengan peringkatnya. Kegiatan penilaian terhadap bangunan tua di Kota Lasem yang dinilai memiliki ciri sebagai bangunan cagar budaya harus dilakukan terlebih dahulu sebagai dasar untuk membuat rekomendasi bagi pemerintah dalam melakukan penetapan sebagai bangunan cagar budaya sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penilaian cagar budaya khususnya dari jenis objek bangunan selama ini telah dilakukan terutama dalam rangka penyusunan rekomendasi untuk penetapan namun tidak diketahui mekanisme penilaian yang diterapkan. Oleh karena itu, penelitian ini mengenalkan mekanisme model penilaian yang menerapkan metode analisis kuantitatif berjenjang dengan faktor pembobot. Metode ini biasa digunakan dalam berbagai penelitian di bidang ilmu eksakta khususnya dalam penilaian evaluasi lahan. Metode ini merupakan adaptasi dari metode analisis spasial yang berbasis pada algoritma. Hasil penilaian dengan model ini akan mampu menyusun formula yang diharapkan serta dapat menghasilkan nilai akhir untuk sebuah objek bangunan agar memperoleh kelas dalam kaitannya dengan rekomendasi untuk penetapan sebagai bangunan cagar budaya. Dalam penelitian ini diajukan empat kelas rekomendasi, yaitu kelas bangunan dengan tidak atau kurang direkomendasikan, kelas bangunan direkomendasikan dengan level cukup, kelas bangunan direkomendasikan dengan level kuat, dan kelas bangunan yang direkomendasikan dengan level mendesak. Keempat level ini berkaitan erat dengan skala prioritas dalam rangkaian kegiatan penetapan sebagai bangunan cagar budaya. Hasil penelitian ini diharapkan akan memperoleh suatu nilai kuantitatif dan terukur secara ilmiah dalam tata cara penilaian bangunan untuk penetapan sebagai bangunan cagar budaya.Old buildings in Lasem City are a historical heritage from the colonial period. Based on Law Number 11 of 2010 on Cultural Heritage, these buildings can be categorized as Cultural Buildings if they have gone through the process of registration and assessment and finally designated by the government according to their rank. The assessment of old buildings in Lasem City which are considered to have the characteristics of a cultural heritage building must be performed first as a basis for making recommendations for the government in making the designation as cultural heritage buildings following applicable laws and regulations. The assessment of cultural heritage, especially from the types of building objects has been performed mainly in the context of preparing recommendations for designation, but the assessment mechanism applied is unknown. Therefore, this research introduces the mechanism of assessment model that applies tiered quantitative analysis methods with weighting factors. This method is commonly used in various research in the exact sciences, especially in evaluating land. This method is an adaptation of the spatial analysis method based on the algorithm. The results of the assessment with this model will be able to formulate the expected formula as well as can produce the final value for building object in order to obtain a class in relation to recommendations for designation as cultural heritage buildings. In this research, four recommendation classes were proposed, namely building which is not suitable or not recommended, recommended building with sufficient level, recommended building with strong level, and recommended building with urgent level. These four levels are closely related to the priority scale in a series of designation as cultural heritage buildings. The results of this research are expected to obtain a quantitative value and scientifically measured in the procedure for assessing buildings for designation as cultural heritage buildings.
Cultural Heritage Digitization in Indonesia: A New Perspective on Preserving Depok Colonial Heritage Lukman, Alqiz; Assilmi, Ghilman; Imandiharja, Ide Nada
Kapata Arkeologi Vol. 15 No. 1 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v15i1.15-24

Abstract

Teknologi terkini, seperti fotografi digital, pemindai 3D, dan augmented reality, memberikan alternatif dalam upaya pelestarian situs warisan budaya. Fokus pembahasan dalam artikel ini adalah kelanjutan wacana tentang manfaat pelestarian berbasis digital berdasarkan penerapan pada Proyek Depok Lama. Depok adalah kota yang terletak di Provinsi Jawa Barat yang memiliki beragam jenis bangunan masa kolonial, antara lain permukiman penduduk, gereja, dan jembatan. Namun, studi terbaru menunjukkan hampir 75% bangunan kolonial telah dihancurkan sepanjang satu dasawarsa terakhir akibat aktivitas pembangunan kota dan modernisasi yang cepat. Kami membangun proyek untuk melakukan digitalisasi sejumlah objek warisan budaya di Depok untuk mencegah perusakan lebih lanjut dan membangun informasi tentang pentingnya objek bangunan kolonial kepada publik melalui media digital. Proyek ini merupakan kegiatan multidisiplin yang melibatkan arkeolog, sejarawan, pakar IT, dan masyarakat setempat dalam menciptakan database sistem interaktif mengenai bangunan cagar budaya di Depok. Empat studi dilakukan untuk mengembangkan Proyek Depok Lama, yaitu studi informasi konten, studi perspektif pengguna, konstruksi kerangka desain situs web, dan studi evaluasi. Studi pertama dilakukan untuk mengumpulkan informasi mengenai bangunan bersejarah di Depok Lama. Studi kedua dilakukan untuk menyelidiki presentasi informasi yang disukai oleh pengguna. Studi ketiga berkaitan dengan pengembangan prototipe situs web berdasarkan data dari studi sebelumnya. Studi terakhir adalah untuk mengevaluasi dan meningkatkan prototipe situs web. Hasil menunjukkan bahwa digitalisasi warisan budaya tidak hanya berguna untuk pelestarian tetapi juga mendorong keterlibatan publik dan memfasilitasi materi pengetahuan budaya. New technologies, such as digital photography, 3D scanner, and augmented reality, provide an alternative to preserve heritage sites. The focal point for this article is to continue the discourse on the advantages of digital preservation based on our work in Depok, called Depok Lama Project. Depok is a city located in West Java Province that has many colonial buildings, such as residential settlements, churches, and bridges. However, a recent study shows almost 75% of colonial buildings have been demolished over the last decade due to city development and rapid modernization. We created a project to digitize the cultural heritage in Depok to prevent further destruction and encourage the importance of the buildings to the public through digital media. This project is a multidisciplinary project that involved archaeologists, historians, IT experts, and the local community in creating an interactive system database regarding heritage buildings in Depok. Four studies were carried out to develop the Depok Lama Project, namely content information study, end-user perspective study, website design framework construction, and evaluation study. The first study was used to collect information regarding the historical buildings at the Old Depok. The second study was conducted to investigate the information presentation preferred by the end-users. The third study concerned the development of a website prototype based on data from previous studies. The final study was to evaluate and enhance the website prototype. The results show that the cultural heritage digitization is not only useful for preservation but also for public engagement and facilitate cultural learning.
Cover Vol. 14 Iss. 1 (2018) Arkeologi, Kapata
Kapata Arkeologi Vol. 14 Iss. 1, July 2018
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v14i1.512

Abstract

Appendix Vol. 14 Iss. 1 (2018) Arkeologi, Kapata
Kapata Arkeologi Vol. 14 Iss. 1, July 2018
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v14i1.513

Abstract

Back Cover Vol. 14 Iss. 1 (2018) Arkeologi, Kapata
Kapata Arkeologi Vol. 14 Iss. 1, July 2018
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v14i1.514

Abstract

Prehistoric Occupation at Sakkarra Site as Early Metal Phase Tradition and Neolithic Culture Along the Karama Drainage, West Sulawesi Suryatman, nfn; Hakim, Budianto; Fakhri, nfn; Saiful, Andi Muhammad; Hasliana, nfn
Kapata Arkeologi Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v14i2.515

Abstract

Situs Lembah Karama adalah kawasan hunian prasejarah, yang mengandung banyak data arkeologis untuk mengungkap sejarah kedatangan dan perkembangan budaya penutur Austronesia di Sulawesi. Mereka bermukim di sepanjang Lembah Karama sejak 3.800 tahun yang lalu, terus bertahan dan menyebar untuk mengembangkan pengetahuan logam ke daerah lain, baik hilir dan pedalaman Sulawesi. Lapisan budaya in situ ditemukan pada penggalian tahun 2014 dengan penanggalan sekitar 172 cal BCE hingga 55 CE. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan budaya fase logam awal di Situs Sakkarra berdasarkan data penelitian terkini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis lapisan budaya berdasarkan pengamatan stratigrafi, konteks, dan temuan artefak dari beberapa data ekskavasi yang dilakukan pada tahun 2014, 2016 dan 2017. Hasil penelitian menunjukkan ada indikasi hunian yang lebih tua, yaitu fase Neolitik, hingga berlanjut ke fase logam awal di Sakkarra. Namun, periode ini tidak berlangsung lama, sebelum akhirnya memasuki tahap hunian intensif 2.000 tahun yang lalu. Tradisi budaya neolitik belum menghilang dan masih melekat dalam tatanan budaya mereka ketika pengetahuan logam mulai hadir di kawasan Lembah Karama. Kesinambungan budaya tercermin dalam pemeliharaan tradisi teknologi Neolitik seperti pembuatan tembikar dan alat-alat batu yang diupam. Lapisan budaya di Situs Sakkara menunjukkan adanya hunian penutur Austronesia yang berlanjut dari fase Neolitik ke fase logam awal di Lembah Karama. Bahkan mereka secara aktif terlibat dalam interaksi perdagangan yang telah terjalin di antara pulau-pulau di Asia Tenggara pada waktu itu.The Karama drainage region is a prehistoric occupation site, which contains many archaeological data to uncover the history of the arrival and development of the Austronesian-speakers culture in Sulawesi. They have occupied along the Karama drainage since 3,800 years ago, continue to persist and spread to develop of metal knowledge to other areas, both downstream and inland Sulawesi. The in situ cultural layers found on excavations of 2014 with dating around 172 cal BCE to 55 CE. The aim of the study is described of early metal phase culture in Sakkarra Site based on the latest research data. This study used qualitative methods to analyses of cultural layers based on stratigraphic observations, contexts, and artifact findings from several data of excavation conducted in 2014, 2016 and 2017. The research result shows there is an indication of older occupation, which is the Neolithic phase, continued unabated into the Early Metal Phase at Sakkarra. However, this period does not last long, before finally entering the stage of intensive occupancy by 2,000 years ago. Neolithic cultural traditions have not disappeared and still inherent in their cultural order when metal knowledge begins to present in Karama Drainage. Cultural continuity is reflected in the maintenance of Neolithic technological traditions such as the manufacture of earthenware pottery and polished stone tools. The cultural layer in Sakkara Site indicates the existence of Austronesian speakers' occupation that continues from the Neolithic phase to the initial metal phase in Karama Drainage. Even they are actively involved in the shipping and trade that had intertwined among the islands in Southeast Asia at that time.

Page 1 of 31 | Total Record : 302