cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tegal,
Jawa tengah
INDONESIA
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
ISSN : 20895313     EISSN : 25495062     DOI : -
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi (PJIF) invites manuscripts in the various topics include, Health Sciences, Life Sciences, Social Sciences and Humanities .
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 4 (2013): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi" : 7 Documents clear
PENGARUH PERBANDINGAN KADAR CMC Na SEBAGAI SUSPENDING AGENT TERHADAP SIFAT FISIK SUSPENSI ANTASIDA ., Ivalia
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 2, No 4 (2013): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit maag merupakan kondisi yang sangat mengganggu aktivitas bila tidak ditangani dengan tepat dan dapat berakibat fatal. Masalah penelitian ini adalah : Adakah pengaruh penggunaan CMC Na sebagai suspending agent terhadap sifat fisik suspensi antasida dan berapa kadar CMC Na yang baik sebagai suspending agent terhadap sifat fisik suspensi antasida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penggunaan CMC Na sebagai suspending agent yang baik sebagai suspending agent terhahadap sifat fisik suspensi antasida dan mengetahui kadar CMC Na yang baik sebagai suspending agent terhadap sifat fisik suspensi antasida.Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan uji organoleptik meliputi bentuk : cair agak kental, warna : putih tulang, bau : khas mint dan rasa : manis. Rata-rat uji pH menunjukkan pH 6. Rata-rata uji berat jenis formula I : 1,1749 ; formula II : 1,1725 dan formula III : 1,066. Rata-rata uji viskositas formula I : 154,4198 ; formula II : 150,2577 dan formula III : 137,5771. Rata-rata uji sedimentasi formula I : 0,19 ; formula II : 0,03 dan formula III : 0,11. Kata kunci : Antasida, suspensi dan CMC Na
PENGARUH PERBANDINGAN CMC-NA, KARBOMER DAN TRAGAKAN SEBAGAI SUSPENDING AGENT TERHADAP SIFAT FISIK SUSPENSI PIRANTEL PAMOAT Ade, Bagus
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 2, No 4 (2013): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Masalah dalam penelitian ini adalah adakah pengaruh CMC-Na, karbomer, tragakan sebagai suspending agent dan manakah yang paling baik digunakan sebagai suspending agent terhadap sifat fisik suspensi pirantel pamoat ? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh CMC-Na, karbomer, tragakan dan mengetahui mana yang paling baik digunakan terhadap sifat fisik suspensi pirantel pamoat. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasetika Politeknik Harapan Bersama Tegal, obyek yang diteliti adalah pengaruh CMC-Na, karbomer dan tragakan sebagai suspending agent terhadap sifat fisik suspensi pirantel  pamoat. Suspending agent yang digunakan dari golongan berbeda-beda dengan konsentrasi yang sama  masing – masing 1%.Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan uji organoleptik dan uji  pH tidak menunjukan perbedaan yang signifikan, sedangkan pada uji berat jenis, viskositas, serta sedimentasi selama 1 hari penyimpanan menunjukan adanya perbedaan yang signifikan..Kata kunci : Pirantel pamoat, Suspensi, CMC, Karbomer dan Tragakan, Sifat Fisik
PENGARUH PGA, TRAGAKAN DAN KOMBINASI PGA DENGAN TRAGAKAN SEBAGAI SUSPENDING AGENT TERHADAP SIFAT FISIK SUSPENSI IBUPROFEN Atikoh, Nurul
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 2, No 4 (2013): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ibuprofen mempunyai khasiat sebagai analgetik, antipiretik dan antiinflamasi. Kelarutan ibuprofen praktis tidak larut dalam air, sehingga dalam pembuatan diperlukan cairan pembawa untuk melarutkannya, oleh karena itu untuk mendapatkan bentuk sediaan yang stabil ibuprofen dapat dibuat dalam bentuk suspensi. Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap, jika dikocok perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi kembali.    Penelitian dilakukan di laboratorium PoliTeknik Harapan Bersama Tegal, mengenai pengaruh PGA, tragakan dan kombinasi PGA dengan tragakan sebagai suspending agent terhadap sifat fisik suspensi ibuprofen. Suspensi ibuprofen ini dibuat sebanyak tiga formula yaitu formula I PGA 10%, formula II tragakan 1%, formula III kombinasi PGA 10% dengan tragakan 1%. Suspensi yang dibuat diuji sifat fisiknya yang meliputi uji organoleptik, uji pH, uji berat jenis, uji viskositas, dan uji sedimentasi. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan SPSS 15 One Way Anova.                 Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga formula pada uji organoleptik suspensi berbentuk cairan kental, bau khas, warna putih keruh dan rasa yang manis. Pada uji pH, pada formula I, II, III diperoleh pH 6. Kemudian pada uji berat jenis, uji viskositas dan uji sedimentasi dari hasil analisa One Way Anova dengan taraf kepercayaan 95% menunjukkan signifikansi < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh PGA, tragakan dan kombinasi PGA dengan tragakan sebagai suspending agent terhadap sifat fisik suspensi ibuprofen. Kata Kunci : PGA dan tragakan, suspensi ibuprofen, sifat fisik suspensi.
PENGARUH CARA PENGERINGAN TERHADAP RENDEMEN HASIL SOXHLETASI RIMPANG TEMU GIRING (Curcuma heyneana Val. & V. Zijp) -, Mutmainah
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 2, No 4 (2013): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Temu Giring merupakan salah satu dari jenis tanaman obat yang digunakan masyarakat. Temu Giring banyak di tanam di perkarangan rumah dan biasanya tanaman ini dikenal masyarakat dapat untuk lulur. Pengeringan merupakan  suatu cara yang dilakukan untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak dan dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama.                Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasi Politeknik Harapan Bersama Tegal, mengenai pengaruh cara pengeringan terhadap rendemen hasil soxhletasi rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Val. & V. Zijp). Temu Giring dikeringkan dengan tiga cara pengeringan yaitu dengan cara sinar matahari langsung, dengan cara diangin-anginkan, dan dengan cara oven. Pengambilan ekstrak dilakukan dengan metode soxhletasi menggunakan pelarut etanol 96%. Berdasarkan penelitian diperoleh rendemen hasil soxhletasi sebesar 18,14% untuk simplisia dengan cara pengeringan sinar matahari langsung, 7,57% untuk simplisia dengan cara pengeringan diangin-anginkan dan 4,45% untuk simplisia dengan cara pengeringan oven.Kata kunci: Temu Giring , Cara Pengeringan, Soxhletasi, Rendemen Hasil Soxhletasi.
PERBANDINGAN RENDEMEN SENYAWA PIPERIN PADA LADA HITAM (Piperis nigri fructus) DAN LADA PUTIH (Piperis albi fructus) DENGAN METODE SOXHLETASI ., Suriti
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 2, No 4 (2013): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lada diperlukan untuk industri makanan, industri obat-obatan dan kosmetika. Butir-butir lada yang kita kenal, baik lada hitam (Piperis nigri fructus) maupun lada putih adalah buah dari tanaman Piper nigrum L. Lada yang biasa digunakan sebagai bumbu dapur mempunyai khasiat sebagai stimulan pengeluaran keringat, pengeluaran angin, peluruhan air kencing, peningkatan nafsu makan, peningkatan aktivitas kelenjar-kelenjar pencernaan, dan percepatan pencernaan zat lemak.Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasi Politeknik Harapan Bersama Tegal, mengenai perbandingan hasil rendemen piperin hasil soxhletasi pada lada hitam (Piperis nigri fructus) dan lada putih (Piperis albi fructus). Pada penetapan rendemen senyawa piperin simplisia lada hitam (Piperis nigri fructus) dan lada putih (Piperis albi fructus) ini digunakan metode soxhletasi. Metode ini dipilih dengan alasan cairan penyari yang digunakan lebih sedikit dan dapat diperoleh hasil yang lebih pekat.Penelitian ini menghasilkan bahwa pada lada hitam (Piperis nigri fructus) lebih banyak menghasilkan kristal piperin. Ini dapat dilihat dengan rata-rata rendemen kristal sebesar 2,44% dari pada lada putih (Piperis albi fructus) yang memperoleh rata-rata rendemen kristal lebih sedikit yaitu sebesar 0,54%. Rata-rata hasil Rf dari piperin yang didapat adalah pada lada hitam (Piperis nigri fructus) 0,57 dengan hRf 57 dan lada putih (Piperis albi fructus) 0,61 dengan hRf 61. Kata kunci : Lada Hitam (Piperis nigri fructus), Lada Putih (Piperis albi fructus), Piperin, Soxhletasi, Kromatografi Lapis Tipis.
PENGARUH CARA PENGERINGAN TERHADAP RENDEMEN HASIL SOXHLETASI RIMPANG TEMU KUNCI (Boesenbergia pandurata, Roxb) Aminah, Siti
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 2, No 4 (2013): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Temu kunci merupakan tanaman sejenis rempah-rempah yang rimpangnya dipakai sebagai bumbu dalam masakan Asia Tenggara. Tumbuhan ini dapat ditemukan di hutan lebat hingga ketinggian 1000m. Penyebaran dari Yunnan ke selatan hingga Indonesia dan ke barat hingga India dan Sri Lanka, dibudidayakan di Indonesia dan Cina. Bentuk temu kunci agak berbeda dengan temu-temuan yang lain karena tumbuhnya yang vertikal ke bawah.Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasi Politeknik Harapan Bersama Tegal, mengenai pengaruh cara pengeringan terhadap rendemen hasil soxhletasi rimpang temu kunci (Boesenbergia pandurata,Roxb). Temu kunci  dikeringkan dengan tiga cara pengeringan yaitu dengan cara sinar matahari langsung, dengan cara diangin-anginkan, dan dengan cara dioven. Pengambilan ekstrak dilakukan dengan metode soxhletasi menggunakan pelarut etanol 96%.Berdasarkan penelitian diperoleh rendemen hasil soxhletasi sebesar 27,33 % untuk simplisia dengan cara pengeringan sinar matahari langsung, 15,44 % untuk simplisia dengan cara pengeringan diangin-anginkan dan 7,63 % untuk simplisia dengan cara pengeringan dioven. Jadi hasi yang paling baik di peroleh dari pengeringan sinar matahari langsung. Kata kunci: Temu kunci (Boesenbergia pandurata,Roxb), Cara Pengeringan,  Soxhletasi, Rendemen Hasil   Soxhletasi.
PENGARUH CMC, KARBOMER DAN TRAGAKAN SEBAGAI SUSPENDING AGENT TERHADAP SIFAT FISIK SUSPENSI METRONIDAZOL Yuliana, Etti
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 2, No 4 (2013): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKarboksimetilselulosa (CMC), karbomer dan tragakan merupakan golongan derivat selulosa, polimer sintetik dan polisakarida yang dapat digunakan sebagai suspending agent. Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah apakah karboksimetilselulosa (CMC), karbomer dan tragakan dengan masing – masing konsentrasi 1% mempunyai pengaruh terhadap sifat fisik suspensi metronidazol dan suspending agent manakah yang memiliki pengaruh paling baik sebagai pensuspensi terhadap sifat fisik suspensi metronidazol.Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasetika PoliTeknik Harapan Bersama Tegal. Suspensi yang akan dibuat menggunakan zat aktif metronidazol. Metode yang digunakan dalam pembuatan sediaan suspensi adalah metode dispersi. Sediaan suspensi dibuat sebanyak 3 botol masing – masing 60 ml. Ketiga sediaan yang dibuat dilakukan pengamatan terhadap sifat fisik organoleptik, pH, bobot jenis, viskositas dan sedimentasi.Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukan bahwa ketiga zat pensuspensi yang digunakan memberikan sifat fisik suspensi metronidazol yang berbeda. Dari ketiga formula yang dibuat menunjukkan bahwa formula III yang menggunakan suspending agent tragakan menunjukkan hasil yang paling berpengaruh dibandingkan dengan formula yang menggunakan suspending agent CMC dan Karbomer, dilihat dari uji bobot jenis dan uji viskositasnya. Hasil uji organoleptik untuk Formula I, Formula II dan Formula III menghasilkan bentuk yang seragam yaitu bentuk cair kental, berwarna orange, mempunyai bau khas jeruk dan berasa manis. Hasil pH untuk semua formula adalah 6. Untuk uji bobot jenis dari Formula 1 sebesar 1,10 g/ml, Formula 2 sebesar 1,09 g/ml dan untuk Formula 3 sebesar 1,20 g/ml. Hasil uji viskositas untuk Formula 1 sebesar 129,50 cp, Formula 2 sebesar 95,60 cp dan untuk Formula 3 sebesar 198,59 cp, sedangkan untuk hasil uji sedimentasi untuk Formula I adalah 0,62, untuk Formula II yaitu 0,84 dan untuk hasil sedimentasi Formula III adalah 0,91.Kata Kunci : Karboksimetilselulosa (CMC), Karbomer Dan Tragakan, Suspensi Metronidazol, Sifat Fisik Suspensi.

Page 1 of 1 | Total Record : 7